<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-30616562</id><updated>2011-12-14T10:58:52.734+07:00</updated><title type='text'>Atas Nikmat-Nya Kuberbagi Hikmah</title><subtitle type='html'>Jika kau merasa lelah dan tak berdaya dari usaha yang sepertinya sia-sia..Allah tahu betapa keras engkau sudah berusaha. Ketika kau sudah menangis sekian lama dan hatimu masih terasa pedih..Allah sudah menghitung airmatamu..Jika kau pikir bahwa hidupmu sedang menunggu sesuatu dan waktu serasa berlalu begitu saja..Allah sedang menunggu bersama denganmu...Dengan segala kerendahan hati, saya persembahkan blog ini untuk anda, semoga bermanfaat...</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://syahroni.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syahroni.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>syahroni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09874525640202597696</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://i154.photobucket.com/albums/s273/pksejahtera/ngantuknih.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>95</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30616562.post-3605835390468114983</id><published>2009-07-10T08:45:00.002+07:00</published><updated>2009-07-10T08:58:36.567+07:00</updated><title type='text'>Andaikan Lebih Panjang Lagi...</title><content type='html'>&lt;div style="color: rgb(153, 153, 255);" class="fullpost"&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="snap_preview"&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(153, 51, 153);"&gt;Andaikan Lebih Panjang Lagi...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seperti yang telah biasa dilakukannya ketika salah satu sahabatnya meninggal dunia Rosulullah mengantar jenazahnya sampai ke kuburan. Dan pada saat pulangnya disempatkannya singgah untuk menghibur dan menenangkan keluarga almarhum supaya tetap bersabar dan tawakal menerima musibah itu.Kemudian Rosulullah berkata,”tidakkah almarhum mengucapkan wasiat sebelum wafatnya?” Istrinya menjawab, saya mendengar dia mengatakan sesuatu diantara dengkur nafasnya yang tersengal-sengal menjelang ajal”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Apa yang di katakannya?” “saya tidak tahu, ya Rosulullah, apakah ucapannya itu sekedar rintihan sebelum mati, ataukah pekikan pedih karena dasyatnya sakaratul maut. Cuma, ucapannya memang sulit dipahami lantaran merupakan kalimat yang terpotong-potong.” “Bagaimana bunyinya?” desak Rosulullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div style="text-align: justify;"&gt;Istri yang setia itu menjawab,”suami saya mengatakan “Andaikata lebih panjang lagi….andaikata yang masih baru….andaikata semuanya….” hanya itulah yang tertangkap sehingga kami bingung dibuatnya. Apakah perkataan-perkataan itu igauan dalam keadaan tidak sadar,ataukah pesan-pesan yang tidak selesai?”&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Rosulullah tersenyum.”sungguh yang diucapkan suamimu itu tidak keliru,”ujarnya. Kisahnya begini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada suatu hari ia sedang bergegas akan ke masjid untuk melaksanakan shalat jum’at. Ditengah jalan ia berjumpa dengan orang buta yang bertujuan sama. Si buta itu tersaruk-saruk karena tidak ada yang menuntun. Maka suamimu yang membimbingnya hingga tiba di masjid. Tatkala hendak menghembuskan nafas penghabisan, ia menyaksikan pahala amal sholehnya itu, lalu iapun berkata “andaikan lebih panjang lagi”.Maksudnya, andaikata jalan ke masjid itu lebih panjang lagi, pasti pahalanya lebih besar pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ucapan lainnya ya Rosulullah?”tanya sang istri mulai tertarik. Nabi menjawab,”adapun ucapannya yang kedua dikatakannya tatkala, ia melihat hasil perbuatannya yang lain. Sebab pada hari berikutnya, waktu ia pergi ke masjid pagi-pagi, sedangkan cuaca dingin sekali, di tepi jalan ia melihat seorang lelaki tua yang tengah duduk menggigil, hampir mati kedinginan. Kebetulan suamimu membawa sebuah mantel baru, selain yang dipakainya. Maka ia mencopot mantelnya yang lama, diberikannya kepada lelaki tersebut. Dan mantelnya yang baru lalu dikenakannya. Menjelang saat-saat terakhirnya, suamimu melihat balasan amal kebajikannya itu sehingga ia pun menyesal dan berkata, “Coba andaikan yang masih baru yang kuberikan kepadanya dan bukan mantelku yang lama, pasti pahalaku jauh lebih besar lagi”.Itulah yang dikatakan suamimu selengkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kemudian, ucapannya yang ketiga, apa maksudnya, ya Rosulullah?” tanya sang istri makin ingin tahu. Dengan sabar Nabi menjelaskan,”ingatkah kamu pada suatu ketika suamimu datang dalam keadaan sangat lapar dan meminta disediakan makanan? Engkau menghidangkan sepotong roti yang telah dicampur dengan daging. Namun, tatkala hendak dimakannya, tiba-tiba seorang musyafir mengetuk pintu dan meminta makanan. Suamimu lantas membagi rotinya menjadi dua potong, yang sebelah diberikan kepada musyafir itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Dengan demikian, pada waktu suamimu akan nazak, ia menyaksikan betapa besarnya pahala dari amalannya itu. Karenanya, ia pun menyesal dan berkata ‘ kalau aku tahu begini hasilnya, musyafir itu tidak hanya kuberi separoh. Sebab andaikata semuanya kuberikan kepadanya, sudah pasti ganjaranku akan berlipat ganda. Memang begitulah keadilan Tuhan. Pada hakekatnya, apabila kita berbuat baik, sebetulnya kita juga yang beruntung, bukan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Lantaran segala tindak-tanduk kita tidak lepas dari penilaian Allah. Sama halnya jika kita berbuat buruk. Akibatnya juga akan menimpa kita sendiri.Karena itu Allah mengingatkan: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“kalau kamu berbuat baik, sebetulnya kamu berbuat baik untuk dirimu. Danjika kamu berbuat buruk, berarti kamu telah berbuat buruk atas dirimu pula.&lt;/span&gt;”(surat Al Isra’:7)&lt;/div&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30616562-3605835390468114983?l=syahroni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syahroni.blogspot.com/feeds/3605835390468114983/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30616562&amp;postID=3605835390468114983&amp;isPopup=true' title='53 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/3605835390468114983'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/3605835390468114983'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syahroni.blogspot.com/2009/07/andaikan-lebih-panjang-lagi.html' title='Andaikan Lebih Panjang Lagi...'/><author><name>syahroni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09874525640202597696</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://i154.photobucket.com/albums/s273/pksejahtera/ngantuknih.jpg'/></author><thr:total>53</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30616562.post-6189993068764364127</id><published>2009-07-10T08:43:00.001+07:00</published><updated>2009-07-10T08:45:02.203+07:00</updated><title type='text'>Doa Seorang Kekasih</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_W_Ey7thhhOw/SladCpOjuCI/AAAAAAAAACc/wI3qfFiYKlU/s1600-h/5.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 86px; height: 91px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_W_Ey7thhhOw/SladCpOjuCI/AAAAAAAAACc/wI3qfFiYKlU/s320/5.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5356641475555997730" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;" class="fullpost"&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Doa Seorang Kekasih&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Oh Tuhan, seandainya telah Kau catatkan&lt;br /&gt;Dia milikku, tercipta untuk diriku&lt;br /&gt;Satukanlah hatinya dengan hatiku&lt;br /&gt;Titipkanlah kebahagiaan&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;Ya Allah, ku mohon&lt;br /&gt;Apa yang telah Kau takdirkan&lt;br /&gt;Ku harap dia adalah yang terbaik buatku&lt;br /&gt;Kerana Engkau tahu segala isi hatiku&lt;br /&gt;Pelihara daku dari kemurkaan-Mu&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;Ya Tuhanku, yang Maha Pemurah&lt;br /&gt;Beri kekuatan jua harapan&lt;br /&gt;Membina diri yang lesu tak bermaya&lt;br /&gt;Semaikan setulus kasih di jiwa&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;Ku pasrah kepadaMu&lt;br /&gt;Kurniakanlah aku&lt;br /&gt;Pasangan yang beriman&lt;br /&gt;Bisa menemani aku&lt;br /&gt;Supaya ku dan dia&lt;br /&gt;Dapat melayar bahtera&lt;br /&gt;Ke muara cinta yang Engkau redhai&lt;/em&gt;&lt;em&gt;….   Yaa Alloh..&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;Ya Tuhanku, yang Maha Pengasih&lt;br /&gt;Engkau sahaja pemeliharaku&lt;br /&gt;Dengarkan rintihan hambaMu ini&lt;br /&gt;Jangan Engkau biarkan ku sendiri&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;Agarku bisa bahagia&lt;br /&gt;Walau tanpa bersamanya&lt;br /&gt;Gantikanlah yang hilang&lt;br /&gt;Tumbuhkan yang telah patah&lt;br /&gt;Ku inginkan bahagia&lt;br /&gt;Di dunia dan akhirat&lt;br /&gt;PadaMu Tuhan ku mohon segala &lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;em&gt;*) Doa Seorang Kekasih by In Team&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30616562-6189993068764364127?l=syahroni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syahroni.blogspot.com/feeds/6189993068764364127/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30616562&amp;postID=6189993068764364127&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/6189993068764364127'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/6189993068764364127'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syahroni.blogspot.com/2009/07/doa-seorang-kekasih.html' title='Doa Seorang Kekasih'/><author><name>syahroni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09874525640202597696</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://i154.photobucket.com/albums/s273/pksejahtera/ngantuknih.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_W_Ey7thhhOw/SladCpOjuCI/AAAAAAAAACc/wI3qfFiYKlU/s72-c/5.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30616562.post-5613983938415846342</id><published>2009-07-10T08:27:00.003+07:00</published><updated>2009-07-10T08:43:04.681+07:00</updated><title type='text'>Pesan Terakhir Suami Tercinta</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_W_Ey7thhhOw/SlacmZlI_1I/AAAAAAAAACU/gNDrgBgA7mM/s1600-h/15.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 130px; height: 97px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_W_Ey7thhhOw/SlacmZlI_1I/AAAAAAAAACU/gNDrgBgA7mM/s320/15.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5356640990319411026" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="snap_preview"&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 153, 0);"&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 0, 0);font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pesan Terakhir Suami Tercinta&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Barangsiapa yg mengharapkan mati syahid dgn sepenuh hati, maka ALLAH akan memberikan&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt; mati syahid kepadanya meskipun ia mati ditempat tidur (hadis)&lt;/span&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(51, 0, 153);"&gt;Dunia hanya satu terminal dari seluruh fase kehidupan. Hanya Allah yang tahu rentang usia seorang manusia.&lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(51, 0, 153);"&gt;Saya, Khadijah sebut saja demikian, menikah dengan Muhammad, 3 Oktober 1993. Muhammad adalah kakak kelas saya di IPB. Selama menikah, suami sering mengingatkan saya tentang kematian, tentang syurga, tentang syahid, dan sebagainya. Setiap kami bicara tentang sesuatu, ujung2nya bicara tentang kematian dan indahnya syurga itubagaimana. Kalau kita bicara soal nikmatnya materi, suami mengaitkannya dengan kenikmatan syurga yang lebih indah. Bahkan, berulang-ulang dia mengatakan, nanti kita ketemu lagi di syurga. Itu mempunyai makna yg dalam bagi saya.&lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(51, 0, 153);"&gt;Hari itu, 16 Januari 1996, kami ke rumah orang tua di Jakarta. Seolah suami mengembalikan saya kepada orang tua. Malam itu juga, suami saya mengatakan harus kembali ke Bogor, karena harus mengisi diklat besok paginya. Menurutnya, kalau berangkat pagi dari Jakarta khawatir terlambat.&lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(51, 0, 153);"&gt;Mendekati jam 12 malam, saya bangun dari tidur, perut saya sakit, keringat dingin mengucur, rasanya ingin muntah. Saya bilang pada ibu saya, untuk diobati. Saya kira maag saya kambuh. Saya sempat berpikir suami saya di sana sudah istirahat, sudah senang, sudah sampai karena berangkat sejak maghrib. Saya juga berharap kalau ada suami saya mungkin saya dipijitin atau bagimana. Tapi rupanya pada saat itulah terjadi peristiwa tragis menimpa suami saya.&lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(51, 0, 153);"&gt;Jam tiga malam, saya terbangun. Kemudian saya shalat. Entah kenapa, meskipun badan kurang sehat, saya ingin ngaji. Lama sekali saya menghabiskan lembar demi lembar mushaf kecil saya. Waktu shubuh rasanya lama sekali. Badan saya sangat lelah dan akhirnya tertidur hingga subuh. Pagi harinya, saya mendapat berita dari seorang akhwat di Jakarta, bahwa suami saya dalam kondisi kritis. Karena angkutan yang ditumpanginya hancur ditabrak truk tronton di jalan raya Parung. Sebenarnya waktu itu suami saya sudah meninggal. Mungkin sengaja beritanya dibuat begitu biar saya tidak kaget. Namun tak lama kemudian, ada seorang teman di Jakarta yang memberitahukan bahwa beliau sudah meninggal. Inna lillahi wainna ilaihi rajiun.&lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(51, 0, 153);"&gt;Entah kenapa, mendengar berita itu hati saya tetap tegar. Saya sendiri tidak menyangka bisa setegar itu. Saya berusaha membangun keyakinan bahwa suami saya mati syahid. Saya bisa menasihati keluarga dan langsung ke Bogor. Disana, suami saya sudah dikafani. Sambil menangis saya menasihati ibu, bahwa dia bukan milik kita. Kita semua bukan milik kita sendiri tapi milik ALLAH.&lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(51, 0, 153);"&gt;Alhamdulillah ALLAH memberi kekuatan. Kepada orang2 yang bertakziah waktu itu, saya mengatakan : “Doakan dia supaya syahid.. doakan dia supaya syahid”. Sekali lagi ketabahan saya waktu itu semata datang dari ALLAH, kalau tidak, mungkin saya sudah pingsan.&lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(51, 0, 153);"&gt;Seperti tuntunan Islam, segala hutang orang yang meninggal harus ditunaikan. Meski tidak ada catatannya, tapi tanpa disadari, saya ingat sekali hutang2 suami. Saya memang sering bercanda sama suami, “Mas kalau ada hutang, catat. Nanti kalau Mas meninggal duluan saya tahu saya harus bayar berapa.” Canda itu memang sering muncul ketika kami bicara masalah kematian. Sampai saya pernah bilang pada suami saya, “kalau mas meninggal duluan, saya yang mandiin. Kalau mas meninggal duluan, saya kembali lagi ke ummi, jadi anaknya lagi.” Semua itu akhirnya menjadi kenyataan.&lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(51, 0, 153);"&gt;Beberapa hari setelah musibah itu, saya harus kembali ke rumah kontrakan di Bogor untuk mengurus surat2. Saat saya buka pintunya, tercium bau harum sekali. Hampir seluruh ruangan rumah itu wangi. Saya sempat periksa barangkali sumber wangi itu ada pada buah-buahan, atau yang lainnya. Tapi tidak ada. Ruangan yg tercium paling wangi, tempat tidur suami dan tempat yg biasa ia gunakan bekerja.&lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(51, 0, 153);"&gt;Beberapa waktu kemudian, dalam tidur, saya bermimpi bersalaman dengan dia. Saya cium tangannya. Saat itu dia mendoakan saya: “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Zawadakillahu taqwa waghafara dzanbaki, wa yassara laki haitsu ma kunti&lt;/span&gt;” (Semoga Allah menambah ketakwaan padamu, mengampuni dosamu, dan mempermudah segala urusanmu di manasaja). Sambil menangis, saya balas doa itu dengan doa serupa.&lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(51, 0, 153);"&gt;Semasa suami masih hidup, doa itu memang biasa kami ucapkan ketika kami akan berpisah. Saya biasa mencium tangan suami bila ia ingin keluar rumah. Ketika kami saling mengingatkan, kami juga saling mendoakan.&lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(51, 0, 153);"&gt;Banyak doa-doa yang diajarkan suami saya. Ketika saya sakit, suami saya menulis doa di white board. Sampai sekarang saya selalu baca doa itu. Anak saya juga hafal. Saya banyak belajar darinya. Dia guru saya yang paling baik. Dia juga bisa menjelaskan bagaimana indahnya syurga. Bagaimana indahnya syahid.&lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(51, 0, 153);"&gt;Waktu saya wisuda, 13 Januari 1996 saya sempat bertanya pada suami, “Mas nanti saya kerja di mana?” Suami diam sejenak. Akhirnya suami saya mengatakan supaya wanita itu memelihara jati diri. Saya bertanya, “Maksudnya apa?”, “Beribadah, bekerja membantu suaminya, dan bermasyarakat”. Saya berpikir bahwa saya harus mengurus rumah tangga dengan baik. Tidak usah memikirkan pekerjaan. Sekarang, setiap bulan saya hidup dari pensiun pegawai negeri suami. Meskipun sedikit, tapi saya merasa cukup. Dan rejeki dari ALLAH tetap saja mengalir. ALLAH memang memberi rejeki pd siapa saja, dan tidak tergantung kepada siapa saja. Katakanlah meski suami saya tidak ada,tapi rejeki ALLAH itu tidak akan pernah habis.&lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(51, 0, 153);"&gt;Insya ALLAH saya optimis dengan anak2 saya. Saya ingat sabda Nabi : “Aku dan pengasuh anak yatim seperti ini”, sambil mendekatkan kedua buah jari tangannya. Saya bukan pengasuh anak yatim, tapi ibunya anak yatim. Meski masih kecil-kecil, saya sudah merasakan kedewasaan mereka. Kondisi yang mereka alami, membuat mereka lebih cepat mengerti tentang kematian, neraka, syurga bahkan tentang syahid. Rezeki yg saya terima, tak mustahil lantaran keberkahan mereka.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;sumber: blogmuslimah.com&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30616562-5613983938415846342?l=syahroni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syahroni.blogspot.com/feeds/5613983938415846342/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30616562&amp;postID=5613983938415846342&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/5613983938415846342'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/5613983938415846342'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syahroni.blogspot.com/2009/07/pesan-terakhir-suami-tercinta.html' title='Pesan Terakhir Suami Tercinta'/><author><name>syahroni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09874525640202597696</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://i154.photobucket.com/albums/s273/pksejahtera/ngantuknih.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_W_Ey7thhhOw/SlacmZlI_1I/AAAAAAAAACU/gNDrgBgA7mM/s72-c/15.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30616562.post-1913625325153841655</id><published>2009-07-10T08:21:00.002+07:00</published><updated>2009-07-10T08:27:12.821+07:00</updated><title type='text'>Akhwat Sejati</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_W_Ey7thhhOw/SlaY2IzZA2I/AAAAAAAAACM/FCsqs9154r4/s1600-h/1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 76px; height: 105px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_W_Ey7thhhOw/SlaY2IzZA2I/AAAAAAAAACM/FCsqs9154r4/s320/1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5356636862647173986" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; &lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(102, 0, 204);font-family:georgia;" &gt;Akhwat Sejati&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(204, 51, 204);" class="snap_preview"&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Seorang gadis cilik bertanya pada Ayahnya&lt;br /&gt;“Abi…ceritakan padaku tentang Akhwat Sejati”&lt;br /&gt;Sang Ayah pun menoleh dan tersenyum seraya menjawab&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Akhwat Sejati bukanlah dilihat dari kecantikan paras wajahnya, tetapi dari&lt;br /&gt;kecantikan hati yang ada dibaliknya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Akhwat Sejati bukan dilihat dari bentuk tubuhnya yang mempesona, tapi dilihat dari&lt;br /&gt;sejauh mana Ia menutupi bentuk tubuhnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Akhwat Sejati bukan dilihat dari begitu banyak kebaikan yang diberikan, tetapi dari&lt;br /&gt;keikhlasan Ia memberikan kebaikan itu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Akhwat Sejati bukan dilihat dari seberapa indah lantunan suaranya, tetapi dari&lt;br /&gt;apa yang sering mulutnya bicarakan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Akhwat Sejati bukan dilihat dari keahlIannya berbahasa, tetapi dilihat dari bagaimana caranya berbicara.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sang Ayah terdIam sembari menatap putrinya&lt;br /&gt;“Lantas apa lagi Abi…?”&lt;br /&gt;Ketahuilah putriku….&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Akhwat Sejati bukan dilihat dari keberaniannya berpakaian, tetapi dilihat dari&lt;br /&gt;sejauh mana Ia berani mempertaruhkan kehormatannya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Akhwat Sejati bukan dilihat dari kekhawatirannya digoda orang di jalan, tetapi dilihat dari&lt;br /&gt;kekhawatirannya yang mengundang orang jadi tergoda.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Akhwat Sejati bukanlah dilihat dari seberapa banyak dan besarnya ujIan yang Ia jalani, tetapi dilihat dari&lt;br /&gt;sejauh mana Ia menghadapi ujian itu dengan Syukur.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dan Ingatlah…!!!&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Akhwat Sejati bukanlah dilihat dari sifat supelnya dalam bergaul, tetapi dilihat dari&lt;br /&gt;sejauh mana Ia bisa menjaga kehormatannya dalam bergaul.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Setelah itu Sang anak kembali bertanya&lt;br /&gt;“Siapakah yang dapat menjadi kriteria seperti itu Abi…?”&lt;br /&gt;Sang Ayah memberikan sebuah buku dan berkata&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Pelajarilah mereka!!”&lt;br /&gt;Sang anak pun mengambil buku itu dan terlihat sebuah tulisan&lt;br /&gt;“ISTRI PARA NABI”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Meski kita bukanlah salah satu dari Istri Nabi&lt;br /&gt;Tapi meneladaninya adalah sebuah bentuk kecintaan kita terhadap&lt;br /&gt;Allah SWT&lt;/p&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30616562-1913625325153841655?l=syahroni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syahroni.blogspot.com/feeds/1913625325153841655/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30616562&amp;postID=1913625325153841655&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/1913625325153841655'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/1913625325153841655'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syahroni.blogspot.com/2009/07/akhwat-sejati.html' title='Akhwat Sejati'/><author><name>syahroni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09874525640202597696</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://i154.photobucket.com/albums/s273/pksejahtera/ngantuknih.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_W_Ey7thhhOw/SlaY2IzZA2I/AAAAAAAAACM/FCsqs9154r4/s72-c/1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30616562.post-4862508728253140537</id><published>2007-12-03T15:48:00.000+07:00</published><updated>2008-11-19T14:20:26.026+07:00</updated><title type='text'>Di Jalan Dakwah Aku Menikah</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_W_Ey7thhhOw/R1PEMXyGRjI/AAAAAAAAABU/8z0WHSrH0Ps/s1600-R/dijalan_dakwah.gif"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5139667316581484082" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 160px; CURSOR: hand; HEIGHT: 251px" height="203" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_W_Ey7thhhOw/R1PEMXyGRjI/AAAAAAAAABU/UOtdy82ehlA/s320/dijalan_dakwah.gif" width="168" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost" align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Di Jalan Dakwah Aku Menikah&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost" align="center"&gt;Oleh : Cahyadi Takariawan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;Atribut yang diberikan Islam kepada kita, salah satunya adalah dai ilallah. Kita dituntut untuk merealisasikan dakwah dalam seluruh waktu kehidupan kita. Setiap langkah kita sesungguhnya adalah dakwah kepada Allah, sebab dengan itulah Islam terkabarkan kepada masyarakat. Bukankah dakwah bermakna mengajak manusia merealisasikan ajaran-ajaran Allah dalam kehidupan keseharian? Sudah selayaknya kita sebagai pelaku yang menunaikan pertama kali, sebelum mengajak kepada yang lainnya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;Pernikahan akan bersifat dakwah apabila dilaksanakan sesuai dengan tuntunan Islam di satu sisi, dan menimbang berbagai kemaslahatan dakwah dalam setiap langkahnya, pada sisi yang lain. Dalam memilih jodoh, dipilihkan pasangan hidup yang bernilai optimal bagi dakwah. Dalam menentukan siapa calon jodoh tersebut, dipertimbangkan pula kemaslahatan secara lebih luas. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;Selain kriteria umum sebagaimana tuntunan fikih Islam, pertimbangan lainnya adalah : apakah pemilihan jodoh ini memiliki implikasi kemaslahatan yang optimal bagi dakwah, ataukah sekedar mendapatkan kemaslahatan bagi dirinya? mari saya beri contoh berikut. diantara sekian banyak wanita muslimah yang telah memasuki usia siap menikah, mereka berbeda-beda jumlah bilangan usianya yang oleh karena itu berbeda pula tingkat kemendesakan untuk menikah. Beberapa orang bahkan sudah mencapai usia 35 tahun, sebagian yang lain antara 30 hingga 35 tahun, sebagian berusia 25 hingga 30, dan yang lainnya di bawah usia 25 tahun. Mereka semua ini siap menikah, siap menjalankan fungsinya dan peran sebagai isteri dan ibu di rumah tangga.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a id="more-55"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;Anda adalah laki-laki muslim yang telah berniat melaksanakan pernikahan. Usia anda 25 tahun. Anda dihadapkan pada realitas bahwa wanita muslimah yang sesuai kriteria fikih Islam untuk anda nikahi ada sekian banyak jumlahnya. Maka siapakah yang lebih anda pilih, dan dengan pertimbangan apa anda memilih dia sebagai calon isteri anda? &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;Ternyata anda memilih si A, karena ia memiliki kriteria kebaikan agama, cantik, menarik, Pandai, dan usia masih muda, 20 tahun atau bahkan kurang dari itu. Apakah pilihan anda itu salah? Demi Allah, pilihan anda ini tidak salah! anda telah memilih calon isteri dengan benar karena berdasarkan kriteria kebaikan agama, dan memenuhi sunnah kenabian. Bukankah Rasulullah bertanya kepada Jabir ra : &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;“&lt;em&gt;Mengapa tidak menikah dengan seorang gadis yang bisa engkau cumbu dan bisa mencumbuimu” (Riwayat Bukhari dan Muslim)&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;Dan inilah jawaban dakwah seorang Jabir ra,&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;Wahai Rasulullah, saya memiliki saudara-saudara perempuan yang berjiwa keras, saya tidak mau membawa yang keras juga kepada mereka. janda ini saya harapkan mampu menyelesaikan permasalahan tersebut.” kata Jabir “&lt;/em&gt;benar katamu” jawab Nabi saw. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;Jabir tidak hanya berfikir untuk kesenangan dirinya sendiri. Ia bisa memilih seorang gadis perawan yang cantik dan muda belia. Namun ia memiliki kepekaan dakwah yang amat tinggi. kemaslahatan menikahi janda tersebut lebih tinggi dalam pandangan Jabir, dibandingkan dengan menikahi gadis perawan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;Nah, apabila semua laki-laki muslim berpikiran dan menentukan calon isterinya harus memiliki kecantikan ideal, berkulit putih, usia 5 tahun lebih muda dari dirinya, maka siapakah yang akan datang melamar para wanita muslimah yang usianya diatas 25 tahun, atau usia diatas 30 tahun atau bahkan diatas usia 35 tahun ? &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;Siapakah yang akan datang melamar para wanita muslimah yang dari segi fisik tidak cukup alasan untuk dikatakan sebagai cantik menurut ukuran umum? mereka, wanita tadi adalah para muslimah yang melaksanakan ketaatan, mereka adalah wanita shalihah, menjaga kehormatan diri, bahkan mereka aktif terlibat dalam kegiatan dakwah dan sosial. Menurut anda, siapakah yang harus menikahi mereka? &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;Ah, mengapa pertanyaannya “harus” ? Dan mengapa pertanyaan ini hanya dibebankan kepada seseorang ? kita bisa saja mengabaikan dan melupakan realitas ini. Jodoh ditangan Allah, kita tidak memiliki hak menentukan segala sesuatu, biarlah Allah memberikan keputusan agungNya. Bukan, bukan dalam konteks itu saya berbicara. Kita memang bisa melupakan mereka, dan tidak peduli dengan orang lain, tapi bukankah Islam tidak menghendaki kita berperilaku demikian? &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;Kendatipun nabi saw menganjurkan Jabir agar beristeri gadis, kita juga mengetahui bahwa hampir seluruh isteri Rasulullah adalah janda.&lt;br /&gt;Kendatipun nabi saw. menyatakan agar Jabir beristeri gadis, pada kenytaannya Jabir telah menikahi janda. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;Demikian pula permintaan mahar Ummu Sulaim terhadap laki-laki yang datang melamarnya, Abu Thalhah. Mahar keislaman Abu Thalhah menyebabkan Ummu Sulaim menerima pinangannya. Inilah pilihan dakwah. Inilah pernikahan barakah, membawa maslahat bagi dakwah. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;Sebagaimana pula pikiran yang terbersit di benak Sa’ad bin Rabi saat ia menerima saudaranya seiman, Abdurahman bin Auf. “&lt;em&gt;Saya memiliki dua isteri sedangkan engkau tidak memiliki isteri. Pilihlah seorang diantara mereka yang engkau suka, sebutkan mana yang engkau pilih, akan saya ceraikan dia untuk engkau nikahi. Kalau iddahnya sudah selesai maka nikahilah dia” (riwayat Bukhari)&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;Ia tidak memiliki maksud apapun kecuali memikirkan kondisi saudaranya seiman yang belum memiliki istri. Keinginan berbuat baiknya itulah yang sampai memunculkan ide aneh tersebut. Akan tetapi sebagaimana kita ketahui, Abdurrahman bin Auf menolak tawaran itu, dan ia sebagai orang baru di Madinah hanya ingin ditunjukkan jalan ke pasar. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;Ini hanya satu contoh saja, bahwa dalam konteks pernikahan, hendaknya dikaitkan dengan proyek besar dakwah Islam. Jika kecantikan gadis harapan anda bernilai 100 poin, tidakkah anda bersedia menurunkan 20 atau 30 poin untuk bisa mendapatkan kebaikan dari segi yang lain? ketika pilihan itu membawa maslahat bagi dakwah, mengapa tidak ditempuh? Jika gadis harapan anda berusia 20 tahun, tidakkan anda bersedia sedikit memberikan toleransi dengan masalahat kepada wanita yang lebih mendesak untuk segera menikah disebabkan desakan usia? Jika anda adalah wanita muda usia, dan ditanya ? dalam konteks pernikahan ? oleh seorang lelaki yang sesuai kriteria harapan anda, mampukah anda mengatakan kepada dia, “saya memang telah siap menikah, akan tetapi si B sahabat saya, lebih mendesak untuk segera menikah”. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;Atau kita telah sepakat untuk tidak mau melihat realitas itu, karena bukanlah tanggung jawab kita ? Ini urusan masing-masing. Keberuntungan dan keidakberuntungan adalah soal takdir yang tidak berada di tangan kita. Masya Allah, seribu dalil bisa kita gunakan untuk mengabsahkan pikiran individualistik kita. Akan tetapi hendaknya kita ingat pesan kenabian berikut: &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost" align="center"&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;“&lt;em&gt;Perumpamaan orang-orang mukmin dalam cinta, kasih sayang dan kelembutan hati mereka adalah seperti satu tubuh. Apabila satu anggota tubuh menderita sakit, terasakanlah sakit tersebut di seluruh tubuh hingga tidak bisa tidur dan panas” (Riwayat Bukhari dan Muslim)&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;Bisa jadi kebahagiaan pernikahan kita telah menyakitkan dan mengiris-ngiris hati beberapa orang lain. Setiap saat mereka mendapatkan undangan pernikahan, harus membaca, dan menghadiri dengan perasaan yang sedih, karena jodoh tak kunjung datang, sementara usia terus bertambah, dan kepercayaan diri semakin berkurang.&lt;br /&gt;Disinilah perlunya kita berfikir tentang kemaslahatan dakwah dalam proses pernikahan muslim. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sumber : Buku “&lt;a href="http://www.ekuator.com/katalog.see.p?see=katalogsee&amp;amp;id=6065" target="_blank"&gt;Di Jalan Dakwah Aku Menikah&lt;/a&gt;“.&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;Oleh : Cahyadi Takariawan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;Dikutip dari : blog.iqbalir.com&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30616562-4862508728253140537?l=syahroni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syahroni.blogspot.com/feeds/4862508728253140537/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30616562&amp;postID=4862508728253140537&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/4862508728253140537'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/4862508728253140537'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syahroni.blogspot.com/2007/12/di-jalan-dakwah-aku-menikah.html' title='Di Jalan Dakwah Aku Menikah'/><author><name>syahroni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09874525640202597696</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://i154.photobucket.com/albums/s273/pksejahtera/ngantuknih.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_W_Ey7thhhOw/R1PEMXyGRjI/AAAAAAAAABU/UOtdy82ehlA/s72-c/dijalan_dakwah.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30616562.post-3129657451945674438</id><published>2007-12-03T15:28:00.000+07:00</published><updated>2007-12-03T15:30:09.078+07:00</updated><title type='text'>Yang Menjadi Dambaan</title><content type='html'>&lt;div class="fullpost" align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;color:#3333ff;"&gt;Yang Menjadi Dambaan&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Penulis: Syafri Delon Arifin&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;“Baiti jannati” itulah untaian kata indah yang keluar dari bibir mulia Rasulullah SAW, dalam mengilustrasikan kehidupan rumah tangga beliau yang sakinah mawaddah warohamah dan penuh kebahagiaan.&lt;br /&gt;Kebahagiaan dalam rumah tangga seorang muslim tidaklah didasari oleh harta dan kecantikan semata, walau tak dapat dipungkiri, kalau keduanya merupakan salah satu faktor penunjang.&lt;br /&gt;&lt;a id="more-28"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita cermati lebih lanjut dan menghayati kehidupan rumah tangga Rasul SAW, kita akan menemukan dua faktor utama yang menyebabkan rumah beliau seperti syurga. Dua faktor tersebut adalah suami shaleh dan istri yang shalehah, kenapa??, karena keduanya orang yang paham betul bagaimana cara membahagiakan pasangan hidupnya.&lt;br /&gt;Suami shaleh adalah seorang suami yang selalu ingat bahwa Allah memerintahkannya agar ia mempergauli istrinya dengan baik dan ia tahu bahwa istri merupakan amanah yang dititipkan Allah kepadanya, karenanya, membahagiakan istri merupakan ibadah baginya.&lt;br /&gt;Demikian pula dengan istri yang shalehah, ia mengerti betul bahwa ketaatannnya kepada suami adalah perintah Rasul dan merupakan ibadah yang dijanjikan pahala oleh yang Maha Pengasih. Begitulah, suami yang shaleh dan istri shalehah apabila mereka berdua saling mencintai maka keduanya akan selalu berusaha merealisasikan cinta tersebut dengan saling membahagiakan pasangannya. Namun jika keduanya tidak saling mencintai (kayaknya nggak mungkin, ya!!??) atau salah seorang diantara keduanya tidak mencintai yang lain atau pada saat-saat kesel dan sebel, niscaya mereka tidak akan menyakiti satu sama lain.&lt;br /&gt;Pada kesempatan kali ini perkenankanlah penulis lebih menitik beratkan pembahasan tentang wanita shalehah tanpa mengurangi eksistensi pria shaleh, karena pada prinsipnya mereka mempunyai tuntutan dan pahala yang sama. Allah berfirman : “Barang siapa yang mengerjakan amalan-amalan shaleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk kedalam syurga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun”. (Qs 4 : 12). Lihat juga firman Qs 9 : 71 dan Qs 33 : 35.&lt;br /&gt;Rasulullah SAW sangat menganjurkan kepada para pemuda agar mereka lebih mempriorotaskan memilih dzaatuddin (baca : wanita shalihah) untuk dijadikan pendamping hidupnya. Beliau bersabda yang artinya : “Wanita dinikahi karena empat perkara : “karena hartanya, kecantikannya, nasabnya dan agamanya. Maka pilihlah yang beragama (shalehah) niscaya engakau akan bahagia”. (Muttafaqun Alaih)&lt;br /&gt;Wanita shalihah…..Ia merupakan sosok makhluk lembut yang menjadi idaman bagi setiap muslim yang shaleh. Karena pada dirinya terdapat perhiasan terindah di dunia ini sebagaimana disinyalir oleh Sang pembawa kabar gembira Rasulullah SAW dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim yang artinya : “Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baiknya perhiasan dunia adalah wanita shalehah”. Lantas seperti apasih wanita shalehah itu???.&lt;br /&gt;Wanita shalehah adalah wanita yang benar-benar mengahambakan diri kepada Allah dan beribadah hanya kepadaNya. Ia menjauhkan diri dari perbuatan syirik baik kecil apalagi besar, tidak menyembah kecuali kepada Allah, tidak minta kepada kuburan atau pohon beringin, tidak memberi sesaji kepada Ratu Laut Selatan atau ratu-ratu lainnya, tidak kedukun, nggak make jimat dan banyak lagi perbuatan syirik yang dapat meluluh lantakan amal shaleh Allah berfirman yang artinya : “Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada Nabi-nabi sebelummu : “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tetulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. Karena itu, maka hendaklah Allah saja yang kamu sambah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur”.&lt;br /&gt;Lebih gawat lagi Allah tidak akan mengampuni dosa syirik sebagaimana termaktub dalam firmanNya yang artinya : “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa selain dari syirik itu bagi siapa saj yang di kehendakiNya. Barang siapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka ia telah tesesat sejauh-jauhnya”.(QS 4 : 116)&lt;br /&gt;Wanita shalehah adalah wanita yang taat, patuh dan berbakti kepada kedua orang tuanya, Allah SWT menyelaraskan perintah beribadah hanya kepadanya dengan perintah berbuat baik dengan orang tua. Perhatiakan firman Allah dalam Qs Al-Israa’ ayat 23-24 yang artinya : “Dan Tuhanmu telah memrintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah : “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. Lihat juga Qs 31 : 13-15&lt;br /&gt;Wanita shalihah adalah wanita yang menjadikan shalat sebagai kebahagian tersendiri baginya, seperti yang dilalkukan oleh idolanya, Rasulullah SAW bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Nasa’i dari Anas Ra : “Dan kujadikan shalat sebagai permata hatiku”. Ia tidak lalai mendirikan shalat tepat pada waktunya, khusu’ dalam shalat-shalatnya, gemar berpuasa dan bersedekah, sungguh-sungguh dalam do’anya antara takut dan penuh harap.&lt;br /&gt;Wanita shalehah…..Jilbab adalah pakaiannya, busana muslimah yang menutup rapat seluruh auratnya, pakaian yang disyariatkan oleh Sang Penguasa jagad raya kepadanya. Allah berfirman yang artinya : “Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin : “hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Jilbab adalah syi’ar islam, hanya jilbab yang menjadi pembeda antara muslimah dan wanita kafir di tempat umum. Wanita shalehah tahu apapun yang disyari’atkan Allah kepada manusia, tidak lain untuk kebaikan mereka.&lt;br /&gt;Wanita shalehah….Dalam dirinya terkumpul kebaikan akhlak, adab baginya lebih baik dari zahab (emas), penghias bibirnya adalah zikrullah dan bacaan Al-Qur’an, pemerah pipinya adalah rasa malu, eye shadawnya gahdul bashar dan ia selalu menjaga kesuciannya sebagai aplikasi dari firman Allah yang artinya : “Katakanlah kepada wanita yang beriman : “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudungnya kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasanya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudar-saudara leleki mereka, atau putra- putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak memiliki keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”. (Qs 24 : 31).&lt;br /&gt;Ia juga menjaga dirinya dari sentuhan laki-laki yang bukan muhrim, baik melalui bersalaman apalagi diraba-raba. (Iiii ngeriii).Rasul SAW bersabda yang artinya : “Sekiranya ditusukkan jarum besi ke kepala salah seorang diantara kamu, itu lebih baik dari pada ia menyentuh wanita yang tidak halal baginya”. (HR At-Thabroni dan Baihaqi dari mi’qol bin yasaar)&lt;br /&gt;Wanita shalehah adalah wanita yang terdidik dengan tarbiyah islamiyah, terus memperdalam ilmu syar’i, aktif dalam kegiatan dakwah beramar makruf nahi mungkar.&lt;br /&gt;Wanita shalehah.….Ia senantisa berusaha menghindari ikhtilat, berkhalwat, apalagi pacaran. Pacaran? makhluk apaan tuh???…. Tidak la yau. Rasulullah SAW bersabda yang artinya : “’Tidaklah laki-laki dan perempuan berkhalwat (berdua-duaan) kecuali yang ketiganya adalah setan”.(Hr. Tirmizi)&lt;br /&gt;Wanita shalehah….Hari-hari libur dari ritualnya ia ganti dengan dangan hal-hal yang bermanfaat, membaca buku-buku islam, mendengar kaset-kaset ceramah, memperbanyak sedekah dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;Pendeknya, wanita shalehah adalah sosok wanita yang taat melaksanakan perintah Allah, sungguh-sungguh terhadap kewajiban dan hirs terhadap nawafil, sehingga ia dapat menggapai cintaNya sebagaimana yang dijanjikan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadits qudsy yang dirwayatkan oleh Imam Bukhary dari Abi Hurairah yang artinya : “Rasul bersabda : “Allah berfirman : “Barang siapa yang menjadikan selain Ku sebagai sekutu, Aku telah mengizinkan agar ia diperangi, tidaklah seorang hamba mendekatkan diri kepadaKu dengan sesuatu yang lebih dari yang Aku wajibkan, dan hambaku itu selalu mendekatkan diri kepadaKu dengan nawafil (amalan sunnah) sehingga Aku mencintainya, apabila Aku telah mencintainya, Akulah pendengaranya yang ia gunakan untuk mendengar dan pengelihatannya yang ia gunakan untuk melihat dan tangannya yang ia gerakan dan kakinya yang ia gunakan untuk berjalan, apabila ia meminta kepadaKu niscaya Aku beri dan apabila ia meminta perlindungan niscaya Aku lindungi (Hr Bukhary)&lt;br /&gt;Dan meninggalkan laranganNya, berusaha menghindari yang makhruh dan sungguh-sungguh menjauhi yang haram. Namun bukan berarti ia tak pernah melakukan kesalahan dan dan luput dari perbuatan dosa, tidak, karena tidak ada di muka bumi ini orang yang tak penah berdosa sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi SAW yang artinya : “Setiap anak Adam pernah melakukan perbuatan dosa, dan sebaik-baiknya orang yang yang berbuat dosa adalah orang-orang yang bertaubat”. Sebagai manusia biasa, ia terkadang terjerumus pada perbuatan maksiat, akan tetapi ia akan cepat bertaubat dari kesalahannya tersebut dan bersegera menuju ampunan Allah sebagaimana termaktub dalam firmanNya yang artinya : “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapalagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah?. Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui”. (Qs 3 : 135).&lt;br /&gt;Seluruh hari-harinya adalah ibadah, praktis dari bangun tidur sampai tidur lagi dipenuhi dengan ibadah, no time withouth ibadah begitulah mottonya. Maka jadilah ia seorang muslimah yang berakidah bener, ibadah seeur, akhlak bageur, berbadan seger dan otaknya pun pinter. So pemuda muslim akan ngiler, trus ngincer untuk selanjut nguber. Nah lho…..&lt;br /&gt;Wanita shalehah….Ketika di khitbah oleh seorang muslim yang shaleh dan multazim, ia tidak menolaknya. Rasulullah SAW bersabda yang artinya : “Jika datang kepadamu (mengkhitbah) orang yang kamu ridha dien dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia, bila tidak, akan terjadi fitnah dan kerusakan yang besar”. Ia memprioritaskan dua syarat dien dan akhlak, namun tidak terlalu ghulu (berlebihan) dalam menyaring dan menentukan pilihan, sebab ia tahu tidak ada orang zaman sekarang yang imannya setaraf dengan Abu Bakar atau Umar. Cukuplah baginya pemuda yang shaleh dan multazim, itulah yang ia nantikan.&lt;br /&gt;Suami…, ah gadis mana yang tidak mengenangkan suami, pendamping dan pasangan hidup, yang akan memberikan kebahagiaan dan keceriaan? Rasanya semua gadis mengimpikannya. Akan dinantinya saat-saat kedatangan sang pujaan hati dengan debar bahagia di dada, dengan rona memerah dipipi, terlambunglah angan dan teruntailah harapan : “Akankah kumiliki suami idaman nan shaleh?, suami yang dapat dijadikan tempat berbagi, tempat belajar, tempat mencurahkan isi hati , tempat bermanja, juga tempat menyerahkan ketaatan agar tercapai ridha Ilahi, suami yang menjadi qowam yang dapat menggandeng tangan pasangannya menuju syurga Allah, suami yang menjadi teladan, suami yang menjadi pendidik, suami yang menjadi kecintaan, aah pantas kiranya tak boleh sembar angan memilih suami……&lt;br /&gt;Wanita shalehah…..Saat memasuki jenjang pernikahan, terbetik azam dalam hatinya, untuk mengoptimalkan diri dalam mencurahkan ketaatan kepada suaminya, terngiang di telinganya nasehat seorang ibu Umamah binti Harits kepada putrinya dimalam pernihkahan sang putri tercinta : “Wahai putriku tersayang… Sesungguhnya nasehat ini jika ditinggalkan karena keagungan adab maka kutinggalkan ia untukmu. Nasehat ini merupakan peringatan bagi orang yang lalai (lupa) dan petunjuk bagi yang berakal, jika seorang wanita tidak butuh terhadap pernikahan, niscaya kedua orang tuanya lebih tidak membutuhkannya, akan tetapi keduanya sangat membutuhkannya, karena wanita diciptakan untuka lelaki dan laki-laki diciptakan untuk wanita. Putriku sayang… kini engkau akan berpisah dari udara dan dunia remaja yang akupun telah melaluinya. Kini engkau akan menjalani hidup baru yang juga pernah kujalani, menuju kehidupan yang belum engkau ketahui dan teman yang belum engkau pahami, dia akan menjadi raja dan pelindung bagimu. Jadilah engkau budaknya, niscaya dia akan menjadi budak yang dekat denganmu, ingat dan peliharalah sepuluh point yang akan menjadi modal dan simpanan bagimu.&lt;br /&gt;Yang pertama dan kedua adalah : Tunduk berkhidmat kepadanya disertai dengan qona’ah. Memperhatikan ucapannya disertai dengan to’ah (taat).&lt;br /&gt;Yang ketiga dan ke empat : menjaga persaan mata dan hidungnya, jangan sampai matanya melihat sesuatu yang jelek darimu dan jangan tercium olehnya kecuali sesuatu yang harum dan wangi.&lt;br /&gt;Adapun yang kelima dan enam : perhatikanlah watu makan dan tidurnya, karena rasa lapar dapat menimbulkan emosi dan kurang tidur bisa mengundang amarah.&lt;br /&gt;Yang ke tujuh dan delapan : menjaga hartanya serta menaruh hormat terhadap keluarganya, aturlah hartanya dengan baik dan pergauilah keluarganya sebaik mungkin.&lt;br /&gt;Dan yang ke sembilan dan sepuluh : jangan engkau maksiat dan menentangnya, jangan pula engkau beberkan rahasianya, bila engkau menentangnya maka engkau telah mengobarkan kemarahannya dan jika engkau membeberkan rahasianya niscaya engkau tidak akan merasa aman akan kepergiannya. Kemudian jangan sampai engkau menampakkan kegembiraan jika ia sedang bersedih dan jangan pula menampakkan kesedihan bila ia sedang gembira.&lt;br /&gt;Wanita shalehah…..Ia tahu bahwa kehidupan rumah tangga tidak melulu berjalan mulus, berbentangkan permadani.Kehidupan rumah tangga tak ubahnya sebuah kapal yang berlayar di tengah samudra, terkadang tenang dengan ombak dan riak-riak kecil, namun dilain waktu angin kencang melanda, badai menghantam, ombak bergulung seakan ingin menenggelamkan kapal dan seluruh isinya. Saat seperti itulah peranan suami istri teruji, jika mereka kompak, bahu-membahu dengan saling pengertian, InsyaAllah biduk akan selamat sampai ketepian.&lt;br /&gt;Wanita shalehah…..Ia menjadi sesuatu yang paling berharga bagi suaminya setelah ketakwaannya kepada Allah, bila dipandang oleh sang suami menimbulkan rasa bahagia dihati. Sebagaimana termaktub dalam sebuah hadits yang artinya : “tidak ada yang lebih bermanfaat bagi seorang muslim setelah takwa kepada Allah dan lebih baik baginya selain dari istri yang shalehah, apabila ia memerintahnya dia akan mentaatinya, jika ia melihat kepadanya dia membahagiakannya, jika bersumpah kepadanya dia menepatinya dan bila ia tidak berada di dekatnya dia menjaga dirinya juga harta suaminya”. (HR Ibnu Majah). Ia tidak memasukkan lelaki kerumahnya tanpa seizin sang suami dan selalu menjaga harga diri dan kepercayaan suaminya. Allah berfirman yang artinya : “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan kerena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang shaleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara mereka”. (Qs 4 : 34). Ia selalu ridha dengan apa yang diberikan suami, betapapun kecilnya pemberian itu dan tidak pernah menuntut sesuatu yang tidak tergapai oleh penghasilan sang suami.&lt;br /&gt;Wanita shalehah…..Ia sabar saat-saat sang suami meninggalkannnya untuk menuntut ilmu, mencari rizki, atau kepentingan dakwah dan menyambut kepulangan suami dengan senyum mengembang dan wajah ceria.&lt;br /&gt;Wanita shalehah…..Apabila suaminya dilanda futur, semangatnya mengendur, ia tampil menegur “Mas kok loyyo”, memberikan motivasi dan mengobarkan semangat juangnya.&lt;br /&gt;Wanita shalehah…..Ia selalu melahirkan generasi robbani, mengenalkan putra-putrinya kepada Allah sejak dini, bahkan sebelum sang anak itu terlahir kedunia. Mengasuhnya dengan sabar dan penuh keibuan mendidiknya dengan pendidikan islami, mengajari Sunnah-sunnah Nabi, akhlakul karimah dan lain sebagainya. Ibu adalah madrasatul Ula bagi putra-putrinya.&lt;br /&gt;Dengan demikian ia akan menjadi mar’ah shalehah, zaujah muti’ah dan ummu madrasah. Singkatnya, wanita shalehah adalah gambaran sosok hamba Allah, pengikut Rasul, anak, istri, ibu dan anggota masyarakat yang baik dan menjadi uswah hasanah bagi orang lain.&lt;br /&gt;Indah nian alunan nasyid yang berbunyi : “Sungguh indah permata dunia, intan mutu manikam, emas dan berlian yang memikat hati. Namun tiada seindah bunga wanita shalehah harapan agama…….&lt;br /&gt;Demikianlah beberapa sifat dan karakter wanita shalehah yang kudambakan, dan juga oleh setiap pemuda muslim yang berakal sehat.&lt;br /&gt;Akankah aku mendapatkannya?&lt;br /&gt;Wallahu A’la wa A’lam&lt;br /&gt;Bahan Bacaan1. Al Qur’an Al Karim2. Yusuf Qordhawy. Dr. Malamih Al-Mujtama’ Al-Muslim. Muassasah Ar-Risaralah, Bairut. Cet I 1996.3. Syaikh Muhammad Husain Ya’qub. Sifaat Al-Muslimah Al-Multazamah. Maktabah Syuqul Akhirah. Cairo. Cet III 19984. Ibnu Rojab Al-Hambaly. Jami’ul U’lum wal Hikam. Daarul Khair Bairut. Cet II 19965. Abdul Aziz Muh. Azzam. Dr dan Abd. Wahab Sayid Hawas. Dr. Al Ushrah wa Ahkamuha fi Tasyri’ Al Islamy. Cairo 99-20006. Majalah UMMI Edisi 9/IX/97&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30616562-3129657451945674438?l=syahroni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syahroni.blogspot.com/feeds/3129657451945674438/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30616562&amp;postID=3129657451945674438&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/3129657451945674438'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/3129657451945674438'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syahroni.blogspot.com/2007/12/yang-menjadi-dambaan.html' title='Yang Menjadi Dambaan'/><author><name>syahroni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09874525640202597696</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://i154.photobucket.com/albums/s273/pksejahtera/ngantuknih.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30616562.post-4245107935480300501</id><published>2007-11-28T08:05:00.000+07:00</published><updated>2008-11-19T14:20:26.349+07:00</updated><title type='text'>Hamba Mencari Istri Sempurna</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_W_Ey7thhhOw/R0zFUSxFpdI/AAAAAAAAABA/fQMhLlN8PjQ/s1600-h/FL3.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5137698227348678098" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_W_Ey7thhhOw/R0zFUSxFpdI/AAAAAAAAABA/fQMhLlN8PjQ/s320/FL3.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Hamba mencari istri sempurna. Lelah hati dan jiwa. Hamba mencari kemana-mana, alhasil hamba tak sanggup temukan belahan jiwa itu. Setiap hari hamba berdoa, namun belum juga terkabul. Mungkin inilah perjuangan. Lama-lama hamba mulai menikmati kehidupan ini. Walaupun jemu pernah hinggap dalam kamus kehidupan hamba, meraung-raung dalam sunyi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Sungguh, di dunia yang maya ini, hamba mencoba menghindar dari gundukan dosa, namun laron-laron dosa itu sesekali berduyun mendekati hamba. Sekuat ruh hamba berlari-berlari menuju cahaya, dan konon, salah satu kendaraan untuk mendekatkan diri dengan cahaya itu adalah mendapatkan seorang istri. Ya, hamba mencari istri sempurna, agar hamba bisa menyempurnakan niat hamba, bercengkrama dengan cahaya sejati. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Hamba bergelut dengan hari-hari, mencari secercah cahaya untuk bisa hamba huni dari kegelapan yang semakin gandrung menyelimuti hati hamba lagi. Hamba akui di setiap arah jam yang bergulir ada terpendam berjuta rahasia yang tak bisa hamba singkap keberadaannya, tak mampu hamba kuliti satu persatu apa gerangan yang diinginkan Allah. Tadinya hamba berpikir bahwa hamba telah mampu meredam satu niatan hamba itu, mengubur riak-riak kehidupan yang hamba bangun dengan pondasi rapuh. Rupanya detak suara jarum jam semakin besar menghentak-hentak dan memekakan telinga hamba, lalu hamba kembali terpuruk, pikiran hamba terhuyung-huyung melangkahkan kaki tak tentu arah. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Suatu hari, hamba bertemu dengan mawar. Di taman itu ia hidup sendiri. Warnanya yang merah merekah membuat mata terkagum-kagum. Ingin rasanya hamba mempersuntingnya, memetik segala hasrat yang mulai basah kuyup dengan segala keinginan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Sang mawar tak sadar bahwa ada yang mengamatinya. Ya Tuhan harum sekali. Ya, ketika pagi merambat, hamba merasakan keharuman yang luar biasa. Merambat ke seluruh ubun-ubun, keharuman yang menakjubkan. Hamba memberanikan diri untuk menyapanya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;"Selamat pagi, Mawar." Mawar tersenyum, senyum yang menyejukkan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;"Selamat pagi. Ada apakah gerangan, sehingga pagi-pagi begini anda bertamu ke taman yang sepi ini?" &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;"Hamba berniat mencari istri yang sempurna. Setiap hari tanpa sepengetahuan anda, hamba mengamati anda, lalu tumbuhlah sejumput rasa tertentu yang tak bisa terdefinisi. Anda telah menyampaikan keharuman itu lewat wewangian yang disampaikan angin. Hamba pikir andalah yang hamba cari, belahan jiwa yang sekian lama memikat hamba untuk hidup dalam kembara." &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;"Betulkah aku yang anda cari? Tak malukah anda menikah dengan bunga sederhana sepertiku? Apa yang membuat anda terkagum? Tak banyak yang bisa aku berikan untuk anda." &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;"Mawar, sudah lama hamba mencari istri yang sempurna. Mungkin inilah harapan terakhir. Melihat warnamu yang memerah, hamba terkesima. Jika anda mengizinkan, hamba ingin melamar anda. Mari kita arungi bahtera hidup ini." &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;"Kalau betul itu yang anda inginkan, baiklah. Tunggu barang satu minggu, setelah itu jenguklah aku kembali." &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;"Terimakasih mawar. Ternyata hamba tak salah pilih. Seminggu lagi hamba akan kesini." &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Hamba lantas meninggalkannya sendiri di taman itu. Hamba pergi diiringi senyum yang dramatis. Hati hamba seketika terbang ke langit. Sebentar lagi penantian hamba berakhir, hamba akan mendapatkan istri yang sempurna. Seminggu berlalu, hamba mendatangi taman itu. Langkah kaki bersijingkat dengan sempurna, cepat dan gemulai. Ketika hamba tiba di tempat itu, tiba-tiba hati hamba melepuh, berterbanganlah harapan yang sempat mewarnai relung hati yang basah dengan tinta penantian. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Mawar yang akan hamba persunting, yang akan hamba petik ternyata tak lagi berada di tangkainya. Ia telah luruh ke tanah merah, beserakan tak karuan, tak jelas lagi juntrungannya. Hamba tak habis mengerti, mengapa semua ini harus terjadi? Warna yang tadinya memerah, kini berubah kecoklat-coklatan, menjadi keriput, tak sesegar seperti minggu kemarin. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Hamba menghampirinya, duduk termenung seperti seorang bocah yang merengek meminta mainan yang telah rusak. Dengan terbata-bata hamba berusaha menyusun kata-kata, menuai kalimat-kalimat. Namun mulut hamba teramat kelu, tak bisa lagi dengan sporadis menelurkan deretan huruf. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;"Selamat pagi. Masihkah ada keinginan untuk menikah dengan ketidaksempurnaanku? Inilah aku, sang mawar yang sempat membuatmu terkagum. Mengapa wajah anda tercengang dan seolah tak memahami hakikat hidup?" &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;"Mengapa anda menjadi seperti ini? &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Apakah gerangan yang salah?" &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;"Tak ada yang patut disalahkan. Ini adalah siklus kehidupan. Hamba hanya bisa bertabah menghadapi takdir yang membelenggu. Ini jalan yang harus hamba jalani." &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;"Tapi hamba mencari istri yang sempurna, Mawar." &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;"Jika demikian, aku bukanlah belahan jiwamu." Hamba beranjak dari tempat itu. Kekecewaan menghantui setiap langkah yang hamba bangun. Air mata menderas. Mawar yang sempat mencengkram jiwa, kini hanya onggokan ketakutan yang tak pernah hamba mimpikan sebelumnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;*** &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Kini hamba berjalan lagi menyusuri waktu, mencari istri yang sempurna. Di tengah perjalanan, hamba melihat merpati yang terbang, menari di udara. Sayap-sayapnya ia sombongkan ke seluruh penjuru alam. Sungguh cantik ia, membuat cemburu para petualang. Lagi-lagi terbersit sebuah keinginan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Keinginan klasik: Inilah istri yang sempurna, semoga hamba bisa mendapatkannya. Merpati itu hinggap di ranting pohonan. Hamba memberanikan diri untuk memulai percakapan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;"Wahai merpati, tadi hamba melihatmu bercengkrama dengan angin. Bulu putihmu yang kudus, menjadikan harapan dalam batin kembali tumbuh." &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;"Apa yang hendak anda inginkan?" "Hamba mencari istri yang sempurna. Andalah yang hamba cari." &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;"Betulkah aku yang anda cari?" &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;"Ya tentu. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Hamba ingin anda terbang bersama hamba, membangun sebuah keindahan, mengarungi bahtera kehidupan." &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;"Jika demikian, silahkan tangkap aku. Apabila anda berhasil menangkap diriku, aku berani menjadi belahan jiwa anda. Aku akan belajar menjadi apa yang anda inginkan."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;"Tapi bagaimana mungkin hamba bisa menangkap anda? Anda mempunyai dua sayap yang indah dan memesona, sedangkan hamba hanya manusia yang bisa menerbangkan imajinasi saja, selebihnya hamba adalah pemimpi yang takut dengan kehidupan." &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;"Segala sesuatu mungkin saja terjadi, asalkan ada maksud yang jelas dan lurus. Lebih baik anda pikirkan kembali niatan anda itu. Betulkah aku pasangan yang anda cari? Maaf, hamba aku bercengkrama dulu dengan angin, sampai jumpa." &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Hamba tak bisa berkata banyak, merpati telah terbang bersama angin. Angin, oh...rupanya kekasih sejati merpati adalah angin. Hamba tak mau merusak takdir mereka. Bagaimana kata dunia kalau hamba dengan paksa menikahi sang merpati? Dunia akan mencemooh hamba sebagai manusia paling bodoh yang pernah dilahirkan. Tapi kemanakah lagi hamba harus mencari pasangan jiwa? &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Itulah kabar hamba dulu. Meniti berbagai penderitaan untuk menyempurnakan segala beban yang melingkar di dasar palung jiwa hamba. Itulah gelagat hamba dulu, seperti seorang pecinta yang berkelana tak jelas arah dan tujuan, menghujani kulit lepuh para bidadari, menjadikan mereka gundah, berenang di atas lautan hampa. Begitu juga hamba. Ya, kabar hamba dulu! &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Memekik cinta yang bergemuruh, membadai, bercengkrama, meraja, bersengketa, meracau seperti burung kondor yang rindu bangkai-bangkai kematian. Dulu hamba tersesat dalam labirin sunyi tanpa nama. Hamba nyaris seperti mayat yang bergentayangan di siang hari, diperbudak angan-angan, bertubi-tubi mulut hamba memukul angin. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Sampai suatu malam, ketika keheningan mengambang di udara, berderinglah sebuah telepon selular yang teronggok di atas sajadah harapan. Kala itu hamba tidur lelap, mencipta mimpi yang samar. Hamba dibangunkan oleh gemuruh suara ring tone. Anehnya, suara selular itu tidak lagi menggelayutkan melodi seperti biasanya. Suaranya aneh tapi nikmat dan menyejukkan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Kalau tidak salah seperti ini: Allahuakbar....Allahuakbar...Allahuakbar... Kontan saja hamba terhenyak dan sempat kaget. Hamba mencoba memicingkan mata yang berat seperti terbebani satu ton serbuk besi. Di dinding kamar hamba melihat detak jam yang mengarah pada nomor tiga. Masih sepertiga malam. Siapa gerangan yang berani mengusik persemayaman indah ini? Lalu hamba mulai merunut kata-kata. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;"Halo, siapa anda? Mengapa membangunkan hamba? Biarkan hamba beristirah barang sejenak." &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Hening, tak ada jawaban. Hamba pikir, ini pasti gelagat orang jahil yang mencoba berimprovisasi. Tapi ketika hamba mau menutup telepon selular, hamba mendengar suara yang menggelegar. Bukan, suara ini bukan dari telepon selular, tapi dari segala penjuru mata angin. Keringat mulai menghujan, ketakutan bersalaman di batin, air mata tak bisa hamba bendung, dan rasa rindu mencengkram hamba dari belakang, rindu yang tak terdefinisi. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Mungkinkah doa-doa hamba yang terdahulu akan terkabul? Siapakah gerangan yang bicara? Setelah bermilyar doa berjejalan di udara, hamba harap seuumpt cahaya itu yang bicara Ya, semoga bukan kepalsuan yang bicara. Suara itu makin keras terdengar. Suara itu berkata seperti ini. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;"Betulkah kau mencari istri yang sempurna?" Dengan terbata-bata hamba bilang, "Ya...ya..hamba mencari istri yang sempurna. Mampukah anda mengabulkan keinginan hamba yang belum terwujud ini?" Suara itu kembali berujar. "Berbaringlah, lalu tutuplah matamu. Bukalah ketika suaraku tak terdengar lagi." Hamba ikuti keinginannya. Hamba tutup mata hamba, dan berbaringlah. Riangnya hati hamba, sebentar lagi hamba akan berjumpa dengan istri sempurna. Jodoh hamba akan hadir. Ah, suara itu hening.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Hamba mulai memicingkan mata. Hamba lihat di sekeliling. Mengapa yang terlihat hanya gumpalan-gumpalan tanah yang kecoklatan? Mengapa begitu sejuk? Kemudian hamba melihat pakaian hamba. Putih! Semua serba putih. Bukankah ini kain kafan? Alam barzah, pikir hamba. Lalu hamba melihat sesosok tubuh datang menghampiri, begitu bercahaya, cantik rupawan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;"Siapa anda?" "Hamba adalah amalan anda. Hamba tercipta dari anda, istri sempurna yang anda ciptakan sendiri. Menikahlah dengan hamba, sambil menunggu semua manusia kembali ke alam sunyi ini."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;kiriman : kangmas anom &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30616562-4245107935480300501?l=syahroni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syahroni.blogspot.com/feeds/4245107935480300501/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30616562&amp;postID=4245107935480300501&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/4245107935480300501'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/4245107935480300501'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syahroni.blogspot.com/2007/11/hamba-mencari-istri-sempurna.html' title='Hamba Mencari Istri Sempurna'/><author><name>syahroni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09874525640202597696</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://i154.photobucket.com/albums/s273/pksejahtera/ngantuknih.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_W_Ey7thhhOw/R0zFUSxFpdI/AAAAAAAAABA/fQMhLlN8PjQ/s72-c/FL3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30616562.post-2307798002903375795</id><published>2007-11-28T07:50:00.000+07:00</published><updated>2008-11-19T14:20:26.473+07:00</updated><title type='text'>Keinginan Bertemu Pasangan Jiwa</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_W_Ey7thhhOw/R0y8fyxFpcI/AAAAAAAAAA4/E23xE_qUyIs/s1600-h/buhaira.gif"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5137688529312523714" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 100px; CURSOR: hand; HEIGHT: 116px" height="114" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_W_Ey7thhhOw/R0y8fyxFpcI/AAAAAAAAAA4/E23xE_qUyIs/s320/buhaira.gif" width="100" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kegelisahan, kedukaan dan air mata adalah bagian dari sketsa hidup di dunia. Tetesan air mata yang bermuara dari hati dan berselaputkan kegelisahan jiwa terkadang memilukan, hingga membuat keresahan dan kebimbangan. Kedukaan karena kerinduan yang teramat sangat dalam menyebabkan kepedihan yang menyesakkan rongga dada. Jiwa yang rapuh pun berkisah pada alam serta isinya, bertanya, dimanakah pasangan jiwa berada. Lalu, hati menciptakan serpihan kegelisahan, bagaikan anak kecil yang hilang dari ibunya di tengah keramaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keinginan bertemu pasangan jiwa, bukankah itu sebuah fitrah? Semua itu hadir tanpa disadari sebelumnya, hingga tanpa sadar telah menjadi bagian hidup yang tak terpisahkan. Sebuah fitrah pula bahwa setiap wanita ingin menjadi seorang istri dan ibu yang baik ketimbang menjalani hidup dalam kesendirian. Dengan sentuhan kasih sayang dan belaiannya, akan terbentuk jiwa-jiwa yang sholeh dan sholehah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duhai...&lt;br /&gt;Betapa mulianya kedudukan seorang wanita, apalagi bila ia seorang wanita beriman yang mampu membina dan menjaga keindahan cahaya Islam hingga memenuhi setiap sudut rumahtangganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta'ala pun telah menciptakan wanita dengan segala keistimewaannya, hamil, melahirkan, menyusui hingga keta'atan dan memenuhi hak-hak suaminya laksana arena jihad fii sabilillah. Karenanya, yakinkah batin itu tiada goresan saat melihat pernikahan wanita lain di bawah umurnya? Pernahkah kita menyaksikan kepedihan wanita yang berazam menjaga kehormatan diri hingga ia menemukan kekasih hati? Dapatkah kita menggambarkan perasaannya yang merintih saat melihat kebahagiaan wanita lain melahirkan? Atau, tidakkah kita melihat kilas tatapan sedih matanya ketika melihat aqiqah anak kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Letih...&lt;br /&gt;Sungguh amat letih jiwa dan raga. Sendiri mengayuh biduk kecil dengan rasa hampa, tanpa tahu adakah belahan jiwa yang menunggu di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duhai ukhti sholehah...&lt;br /&gt;Dalam Islam, kehidupan manusia bukan hanya untuk dunia fana ini saja, karena masih ada akhirat. Memang, setiap manusia telah diciptakan berpasangan, namun tak hanya dibatasi dunia fana ini saja. Seseorang yangbelum menemukan pasangan jiwanya, insya Allah akan dipertemukan di akhirat sana, selama ia beriman dan bertaqwa serta sabar atas ujian-Nya yang telah menetapkan dirinya sebagai lajang di dunia fana. Mungkin sang pangeran pun tak sabar untuk bersua dan telah menunggu di tepi surga, berkereta kencana untuk membawamu ke istananya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keresahan dan kegelisahan janganlah sampai merubah pandangan kepada Sang Pemilik Cinta. Kalaulah rasa itu selalu menghantui, usah kau lara sendiri, duhai ukhti. Taqarrub-lah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Kembalikan segala urusan hanya kepada-Nya, bukankah hanya Ia yang Maha Memberi dan Maha Pengasih. Ikhtiar, munajat serta untaian doa tiada habis-habisnya curahkanlah kepada Sang Pemilik Hati. Tak usah membandingkan diri ini dengan wanita lain, karena Allah Subhanahu wa Ta'ala pasti memberikan yang terbaik untuk setiap hamba-Nya, meski ia tidak menyadarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usahlah dirimu bersedih lalu menangis di penghujung malam karena tak kunjung usai memikirkan siapa kiranya pasangan jiwa. Menangislah karena air mata permohonan kepada-Nya di setiap sujud dan keheningan pekat malam. Jadikan hidup ini selalu penuh dengan harapan baik kepada Sang Pemilik Jiwa. Bersiap menghadapi putaran waktu, hingga setiap gerak langkah serta helaan nafas bernilai ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Tausyiah-lah selalu hati dengan tarbiyah Ilahi hingga diri ini tidak sepi dalam kesendirian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah kalau sudah saatnya tiba, jodoh tak akan lari kemana. Karena sejak ruh telah menyatu dengan jasad, siapa belahan jiwamu pun telah dituliskan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabarlah ukhti sholehah... Bukankah mentari akan selalu menghiasi pagi dengan kemewahan sinar keemasannya. Malam masih indah dengan sinar lembut rembulan yang dipagar bintang gemintang. Kicauan bening burung malam pun selalu riang bercanda di kegelapan. Senyumlah, laksana senyum mempesona butir embun pagi yang selalu setia menyapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hapuslah air mata di pipi dan hilangkan lara di hati. Terimalah semua sebagai bagian dari perjalanan hidup ini. Dengan kebesaran hati dan jiwa, dirimu akan menemukan apa rahasia di balik titian kehidupan yang telah dijalani. Hingga, kelak akan engkau rasakan tak ada lagi riak kegelisahan dan keresahan saat sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga.&lt;br /&gt;WaLlahua'lam bi shawab&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kiriman : Feydy B&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30616562-2307798002903375795?l=syahroni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syahroni.blogspot.com/feeds/2307798002903375795/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30616562&amp;postID=2307798002903375795&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/2307798002903375795'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/2307798002903375795'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syahroni.blogspot.com/2007/11/keinginan-bertemu-pasangan-jiwa.html' title='Keinginan Bertemu Pasangan Jiwa'/><author><name>syahroni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09874525640202597696</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://i154.photobucket.com/albums/s273/pksejahtera/ngantuknih.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_W_Ey7thhhOw/R0y8fyxFpcI/AAAAAAAAAA4/E23xE_qUyIs/s72-c/buhaira.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30616562.post-1119438608100737023</id><published>2007-11-28T07:25:00.000+07:00</published><updated>2007-11-28T07:26:29.992+07:00</updated><title type='text'>Karena Kau Cintaku</title><content type='html'>Meniti hari meniti waktu / Membelah langit belah samudra&lt;br /&gt;Ikhlaslah sayang kukirim kembang / Tunggu aku... tunggu aku...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ingin segera melepaskan pelukan. Erat, dan semakin kuat merengkuh. Lalu dielusnya dengan lembut wajah teduh yang dihiasi jilbab berwarna pudar itu. Kedua pasang mata saling menatap mesra, penuh selaksa cinta. Tangan pun perlahan takzim diciumnya, berharap kelak merengkuh surga. Kemudian kaki tegap melangkah dengan iringan senyum serta do'a adinda. Sosok tubuh itu tampak semakin menjauh, namun hati akan selalu menautkan bulir-bulir rindu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki biasa itu sesungguhnya sosok yang begitu sederhana. Dirinya hadir untuk mengisi rongga jiwa yang dahaga setelah tiba pertemuan yang ditentukan Sang Pemilik Cinta. Kala itu, memang tak ada mahar intan permata atau janji sebuah istana nan megah. Ikatan suci pun hanya diikrarkan dalam bingkai kesederhanaan di mata manusia. Penuh harapan, menyulam pinta keridho'an Sang Pencipta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosok tegarnya memang tak pernah ragu mencari rezeki walau hanya sekadar sesuap nasi. Hatinya teguh, bahkan ketika semburat merah belum sempurna karena sang surya masih meringkuk di peraduan. Demi keluarga, jiwa serta raga rela digadang dengan kerasnya kehidupan. Meniti hari dan waktu, dibelahnya langit serta samudra. Berharap kelak dapat mengirim kembang untuk yang disayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masya Allah...&lt;br /&gt;Sungguh teramat indah kehidupan dua anak manusia yang saling mencinta. Dan bukankah dengan cinta itu telah menjadikan sepasang manusia rela bersatu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rinduku dalam semakin dalam / Perjalanan pasti kan sampai&lt;br /&gt;Penantianmu semangat hidupku / Kau cintaku kau intanku&lt;br /&gt;Do'akanlah sayang / Harapkanlah manis&lt;br /&gt;Suamimu segera kembali / Suamimu, suami yang baik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selalu...&lt;br /&gt;Penantian yang tercinta di rumah akan membangkitkan jutaan harapan. Sehingga, lahirlah dua hati yang saling merindukan. Karenanya pula semangat semakin&lt;br /&gt;meluap dan sekujur tubuh terasa lebih bergelora. Impian pun menyelimuti jiwa hingga menggerakkan raga untuk menjadikannya sebuah kenyataan. Kerinduan memang&lt;br /&gt;senantiasa melahirkan kebahagiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali dipatrinya di lubuk hati, lelaki perkasa adalah seseorang yang mendapatkan sedikit harta dengan cucuran keringat sendiri. Kemudian dengan itu&lt;br /&gt;diberikannya makanan dan pakaian untuk dirinya serta orang-orang terkasih. Wanita yang senantiasa menunggu kepulangannya di rumah juga tak pernah meminta lebih. Sabar menerima apa saja yang diberikan, apatah lagi itu semua adalah tanda cinta sang belahan jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketangguhannya mencari nafkah sungguh menyemburatkan bangga. Keikhlasan membanting tulang demi keluarga, bahkan walau dengan bergenang air mata darah&lt;br /&gt;menunjukkan jati dirinya sebagai qawwam. Tak heran, bau keringatnya setelah seharian mencari nafkah selalu menebarkan aroma kerinduan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duhai Pemilik Cinta...&lt;br /&gt;Betapa sujud panjang dan tetesan air mata kesyukuran seakan tak ada arti dengan apa yang selama ini telah Engkau berikan. Lelaki itu sesungguhnya bukanlah&lt;br /&gt;Nabiullah Daud yang juga senantiasa mencari makan dari hasil usahanya sendiri. Namun, semoga pula jerih payahnya menuai pahala tiada jeda dan henti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, ketika untuk kesekian kalinya bola mata sang istri menyorotkan tanya di saat sosok itu pulang di malam yang larut. Bahkan rasa capainya belum lagi&lt;br /&gt;enggan hilang, sang suami pun menjawab dengan lembut, "Karena kau cintaku..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selalu, dan senantiasa hanya karena itu. &lt;br /&gt;Wallahu a'lamu bish-shawaab. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*MERENGKUH CINTA DALAM BUAIAN PENA*&lt;br /&gt;Al-Hubb FiLlah wa LiLlah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Aufa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan:&lt;br /&gt;Lirik di atas dikutip sebagian dari lagu Ikrar, Iwan Fals.&lt;br /&gt;Sumber : www.abuaufa.net&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30616562-1119438608100737023?l=syahroni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syahroni.blogspot.com/feeds/1119438608100737023/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30616562&amp;postID=1119438608100737023&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/1119438608100737023'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/1119438608100737023'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syahroni.blogspot.com/2007/11/karena-kau-cintaku.html' title='Karena Kau Cintaku'/><author><name>syahroni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09874525640202597696</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://i154.photobucket.com/albums/s273/pksejahtera/ngantuknih.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30616562.post-1945980087345870670</id><published>2007-11-27T07:51:00.000+07:00</published><updated>2007-11-27T07:53:21.857+07:00</updated><title type='text'>Aku Ingin Mencintaimu Dengan Sederhana</title><content type='html'>"De'... de'... Selamat Ulang Tahun..." bisik seraut wajah tampan tepat di hadapanku. "Hmm..." aku yang sedang lelap hanya memicingkan mata dan tidur kembali setelah menunggu sekian detik tak ada kata-kata lain yang terlontar dari bibir suamiku dan tak ada sodoran kado di hadapanku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shubuh ini usiaku dua puluh empat tahun. Ulang tahun pertama sejak pernikahan kami lima bulan yang lalu. Nothing special. Sejak bangun aku cuma diam, kecewa. Tak ada kado, tak ada black forest mini, tak ada setangkai mawar seperti mimpiku semalam. Malas aku beranjak ke kamar mandi. Shalat Subuh kami berdua seperti biasa. Setelah itu kuraih lengan suamiku, dan selalu ia mengecup kening, pipi, terakhir bibirku. Setelah itu diam. Tiba-tiba hari ini aku merasa bukan apa-apa, padahal ini hari istimewaku. Orang yang aku harapkan akan memperlakukanku seperti putri hari ini cuma memandangku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alat shalat kubereskan dan aku kembali berbaring di kasur tanpa dipanku. Memejamkan mata, menghibur diri, dan mengucapkan. Happy Birthday to Me... Happy Birthday to Me.... Bisik hatiku perih. Tiba-tiba aku terisak. Entah mengapa. Aku sedih di hari ulang tahunku. Kini aku sudah menikah. Terbayang bahwa diriku pantas mendapatkan lebih dari ini. Aku berhak punya suami yang mapan, yang bisa mengantarku ke mana-mana dengan kendaraan. Bisa membelikan blackforest, bisa membelikan aku gamis saat aku hamil begini, bisa mengajakku menginap di sebuah resor di malam dan hari ulang tahunku. Bukannya aku yang harus sering keluar uang untuk segala kebutuhan sehari-hari, karena memang penghasilanku lebih besar. Sampai kapan aku mesti bersabar, sementara itu bukanlah kewajibanku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"De... Ade kenapa?" tanya suamiku dengan nada bingung dan khawatir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menggeleng dengan mata terpejam. Lalu membuka mata. Matanya tepat menancap di mataku. Di tangannya tergenggam sebuah bungkusan warna merah jambu. Ada tatapan rasa bersalah dan malu di matanya. Sementara bungkusan itu enggan disodorkannya kepadaku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Selamat ulang tahun ya De'..." bisiknya lirih. "Sebenernya aku mau bangunin kamu semalam, dan ngasih kado ini... tapi kamu capek banget ya? Ucapnya takut-takut. &lt;br /&gt;Aku mencoba tersenyum. Dia menyodorkan bungkusan manis merah jambu itu. Dari mana dia belajar membukus kado seperti ini? Batinku sedikit terhibur. Aku buka perlahan bungkusnya sambil menatap lekat matanya. Ada air yang menggenang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maaf ya de, aku cuma bisa ngasih ini. Nnnng... Nggak bagus ya de?" ucapnya terbata. Matanya dihujamkan ke lantai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubuka secarik kartu kecil putih manis dengan bunga pink dan ungu warna favoritku. Sebuah tas selempang abu-abu bergambar Mickey mengajakku tersenyum. Segala kesahku akan sedikitnya nafkah yang diberikannya menguap entah ke mana. Tiba-tiba aku malu, betapa tak bersyukurnya aku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jelek ya de'? Maaf ya de'... aku nggak bisa ngasih apa-apa.... Aku belum bisa nafkahin kamu sepenuhnya. Maafin aku ya de'..." desahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tahu dia harus rela mengirit jatah makan siangnya untuk tas ini. Kupeluk dia dan tangisku meledak di pelukannya. Aku rasakan tetesan air matanya juga membasahi pundakku. Kuhadapkan wajahnya di hadapanku. Masih dalam tunduk, air matanya mengalir. Rabbi... mengapa sepicik itu pikiranku? Yang menilai sesuatu dari materi? Sementara besarnya karuniamu masih aku pertanyakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"A' lihat aku...," pintaku padanya. Ia menatapku lekat. Aku melihat telaga bening di matanya. Sejuk dan menenteramkan. Aku tahu ia begitu menyayangi aku, tapi keterbatasan dirinya menyeret dayanya untuk membahagiakan aku. Tercekat aku menatap pancaran kasih dan ketulusan itu. "Tahu nggak... kamu ngasih aku banyaaaak banget," bisikku di antara isakan. "Kamu ngasih aku seorang suami yang sayang sama istrinya, yang perhatian. Kamu ngasih aku kesempatan untuk meraih surga-Nya. Kamu ngasih aku dede'," senyumku sambil mengelus perutku. "Kamu ngasih aku sebuah keluarga yang sayang sama aku, kamu ngasih aku mama...." bisikku dalam cekat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbayang wajah mama mertuaku yang perhatiannya setengah mati padaku, melebihi keluargaku sendiri. "Kamu yang selalu nelfon aku setiap jam istirahat, yang lain mana ada suaminya yang selalu telepon setiap siang," isakku diselingi tawa. Ia tertawa kemudian tangisnya semakin kencang di pelukanku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rabbana... mungkin Engkau belum memberikan kami karunia yang nampak dilihat mata, tapi rasa ini, dan rasa-rasa yang pernah aku alami bersama suamiku tak dapat aku samakan dengan mimpi-mimpiku akan sebuah rumah pribadi, kendaraan pribadi, jabatan suami yang oke, fasilitas-fasilitas. Harta yang hanya terasa dalam hitungan waktu dunia. Mengapa aku masih bertanya. Mengapa keberadaan dia di sisiku masih aku nafikan nilainya. Akan aku nilai apa ketulusannya atas apa saja yang ia berikan untukku? Hanya dengan keluhan? Teringat lagi puisi pemberiannya saat kami baru menikah... Aku ingin mencintaimu dengan sederhana... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;www.eramuslim.com &lt;br /&gt;http://iqbalir.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30616562-1945980087345870670?l=syahroni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syahroni.blogspot.com/feeds/1945980087345870670/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30616562&amp;postID=1945980087345870670&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/1945980087345870670'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/1945980087345870670'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syahroni.blogspot.com/2007/11/aku-ingin-mencintaimu-dengan-sederhana.html' title='Aku Ingin Mencintaimu Dengan Sederhana'/><author><name>syahroni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09874525640202597696</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://i154.photobucket.com/albums/s273/pksejahtera/ngantuknih.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30616562.post-4760578436920717735</id><published>2007-11-27T07:39:00.000+07:00</published><updated>2007-11-27T07:45:21.896+07:00</updated><title type='text'>Meminang Bidadari</title><content type='html'>"Menikah ?" &lt;br /&gt;"Ya.." &lt;br /&gt;"Tentu", jawab Ayesha tanpa ragu. &lt;br /&gt;"Pertimbangkan dulu. Jangan cepat ambil keputusan." Bibinya berkata benar. Ayesha sedikit tersipu, tangannya membenahi abaya yang dipakainya dengan rikuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dengan siapa, Ammah ?" &lt;br /&gt;Wajah lembut itu tiba-tiba mengeras. Kedua matanya mendadak meyembung. Mungkin karena air mata yang siap turun, entah kenapa. Luapan bahagiakah, karena keponakannya yang diurus sejak kecil ini akhirnya ada yang meminang ? Ayesha menunggu jawaban dari ammahnya. Tapi beberapa kejap hanya dilalui gelombang senyap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ammah....dengan siapa ?" &lt;br /&gt;Pandangan tajam wanita berumur itu menembus bola mata Ayesha. Seperti menimbang-nimbang kesiapan keponakan yang dicintainya itu, menikah. Ayesha membalas pandang, lebih karena ia tak mengerti kenapa pernikahan, kalau memang itu yang akan terjadi padanya, tak disambut ammah dengan riang, seperti pernikahan pada umumnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dengan Ayyash !" &lt;br /&gt;Ayyash ? &lt;br /&gt;Ammah mengangguk. Wajahnya pucat, namun terkesan lega. Biarlah.....biarlah Ayesha yang memutuskan....ini hidupnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara hati wanita itu bicara. &lt;br /&gt;Di depannya tubuh Ayesha seperti kaku. Seolah tak percaya. Senang, tapi juga tahu apa yang akan dihadapinya. Berita itu mungkin benar. Yang jadi pertanyaan, siapakah dia ? "Kau pikirkan dulu, ya ? Ia memberi waktu sampai tiga hari. Katanya lebih cepat lebih baik." Ayesha masih tak bergerak. Pandangannya menembus jendela, meyisiri rumah- rumah di lingkungannya, dan debu tebal yang terembus di jalan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernikahan....sungguh penantian semua gadis. Dengan Ayyash pula, siapa yang keberatan ? Tapi semua pun tahu, apa arti sebuah pernikahan di Palestina. Tantangan, perjuangan lain yang membutuhkan kesiapan lebih besar. Terutama bagi setiap gadis, yang menikahi pemuda pejuang macam Ayyash! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*** &lt;br /&gt;Dulu sekali, sewaktu kecil, ia tak memungkiri, kerap memperhatikan Ayyash dan teman-temannya dari balik kerudung yang biasa ditutupkan ke wajah, jika mereka kebetulan berpapasan. Mereka bertetangga. Begitulah Ayesha mengenal Ayyash, dan melihat bocah lelaki yang usianya lebih tua lima tahun darinya, tumbuh dewasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah Ayyash salah satu pemegang pimpinan tertinggi di Hamas, sebelum tewas dalam aksi penyerangan markas tentara Israel. Ibunya, memimpin para wanita Palestina dalam berbagai kesempatan, mencegat, dan mengacaukan barisan tentara Yahudi, yang sedang melakukan pengejaran atas pejuang intifadah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka biasa muncul tiba-tiba dari balik tikungan yang sepi, atau memadat di pasar-pasar, dan menyulitkan pasukan Israel yang mencari penyusup. Bukan tanpa resiko, karena semua pun tahu, para tentara itu tak menaruh kasihan pada perempuan, atau anak-anak. Para perempuan yang bergabung, menyadari betul apa yang mereka hadapi. terkena tamparan atau tendangan, bahkan popor senapan, hingga tubuh mengucurkan darah, bahkan terlepas nyawa, adalah taruhannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayesha sejak lima tahun yang lalu, tak pernah meninggalkan satu kalipun aksi yang diadakan. Ia iri dengan para lelaki yang mendapat kesempatan lebih memegang senjata. Itu sebabnya gadis berkulit putih kemerahan itu, tak ingin kehilangan kesempatan jihadnya, sejak usia belia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga tahun lalu, ketika ibunda Ayyash syahid, dalam satu aksinya, setelah sebuah peluru mendarat di dahinya, mereka semua datang, juga Ayesha, untuk menyalatkan wanita pejuang itu. Pedihnya kehilangan ummi, Ayesha menyadari perasaan berduka yang bagaimanapun memang manusiawi. Begitu kagumnya ia melihat ketegaran Ayyash, mengatur semua prosesi, hingga tanah menutup dan memisahkannya dari ibunda tercinta. Tak ada sedu sedan, tak ada air mata. Hanya doa yang terucap tak putus. begitulah Ayyash menghadapi kehilangan abi, saudara-saudara lelakinya, adik perempuannya yang paling kecil, lalu terakhir ummi yang dikasihi. Begitu pula yang dipahami Ayesha, cara pejuang menghadapi kematian keluarga yang mereka cintai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kini, Ayesha dua puluh dua tahun. masih menyimpan pendar kekaguman dan simpati yang sama bagi Ayyash. Bocah lelaki bermata besar itu sudah menjelma menjadi lelaki gagah, dengan kulit merah kecoklatan, hidung bangir, dan mata setajam elang. Semangat perjuangan dan ketabahan lelaki itu sungguh luar biasa. Sewaktu kedua abangnya melakukan aksi bom bunuh diri, meledakkan gudang logistik Israel, ia hanya mengucapkan innalillahi, sebelum bangkit dan menggemakan Allahu Akbar, saat memasuki rumah, dan mengabarkan berita itu pada umminya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu ketika Fatimah, adiknya yang berpapasan dengan tentara, diperkosa, dan dibunuh sebelum dilemparkan ke jalan dengan tubuh tercabik-cabik. Ayyash masih setabah sebelumnya. Padahal siapapun tahu, cintanya pada Fatimah, bungsu di keluarga mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayesha tak mengerti terbuat dari apa hati lelaki itu. Setelah semua kehilangan, tak ada dendam yang lalu membuatnya membabi buta atau meluapkan amarah dengan makian kotor. Ayyash menerima semua itu dengan keikhlasan luar biasa. Hanya matanya yang sesekali masih berkilat, saat ada yang menyebut nama adiknya. Di luar itu, hanya keshalihan, dan ketaatannya pada koordinasi gerak Hamas, yang kian bertambah. Begitu, dari hari ke hari. &lt;br /&gt;*** &lt;br /&gt;Mereka berhadapan. Pertama kali dalam hidupnya ia bisa bebas menatap wajah lelaki itu dari jarak dekat. Ayyash yang tenang. Hanya bibirnya yang menyunggingkan senyum lebih sering, sejak ijab kabul diucapkan, meresmikan keberadaan keduanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayyash yang tenang dan hati Ayesha yang bergemuruh. Bukan saja karena kebahagiaan yang meluap-luap, tapi oleh sesuatu yang lain. Sebetulnya hal itu ingin disampaikannya pada lelaki yang kini telah menjadi suaminya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun saat terbayang apa yang telah dihadapi Ayyash, dan senyum yang dilihatnya pertama kali begitu cerah. Batin Ayesha urung. Biarlah....nanti-nanti saja, atau tidak sama sekali, pikirnya. Ia tak mau ada yang merisaukan hati lelaki itu, terlebih karena waktu yang mereka miliki tak banyak. Bahkan sebentar sekali. Dua hari lalu, Ayyash sendiri yang meyampaikan kebenaran berita itu, niatan lelaki berusia dua puluh tujuh tahun, yang sudah selama dua pekan ini dibicarakan dari mulut ke mulut. &lt;br /&gt;"Ayyash mencari istri ?" &lt;br /&gt;"Ia akan menikah secepatnya, akhirnya " &lt;br /&gt;"Tapi siapa yang akan menerima pernikahan berusia sehari semalam ?" Percakapan gadis-gadis di lingkungan mereka. Awalnya Ayesha tak mengerti. &lt;br /&gt;"Kenapa sehari semalam ?", tanyanya pada ammahnya. &lt;br /&gt;"Sebab, lelaki itu sudah menentukan hari kematiannya, Ayesha. Kini tinggal sepekan lagi. Waktunya hampir habis." Ayesha ingat ia tiba-tiba menggigit bibir menahan sesak yang tiba-tiba melanda. Ayyash pasti sudah menyanggupi melakukan aksi bom bunuh diri, seperti dua saudaranya dahulu. Cuma itu alasan yang bisa diterima, kenapa pejuang yang selama ini terkesan tak peduli dan tak pernah memikirkan untuk menikah, tiba-tiba seolah tak sabar untuk segera menikah. "Saya ingin menghadap Allah, yang telah memberi begitu banyak kemuliaan pada diri dan keluarga saya, dalam keadaan sudah menyempurnakan separuh agama. Kalimat panjang lelaki itu, wajahnya yang menunduk, dan rahangnya yang terkatup rapat. Menunggu jawaban darinya. Ayesha merekam semua itu dalam ingatannya. Dua hari lalu, saat khitbah dilangsungkan. "Ya...."jawabannya memecah kesunyian. Ammah serta merta memeluknya dengan wajah berurai air mata. Bahagia berbaur kesedihan atas keputusan Ayesha. Membayangkan keponakannya yang selalu dibanggakan karena semangatnya yang tak pernah turun, akan menjalani pernikahan. Yang malangnya, bahkan lebih pendek dari umur jagung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berganti-ganti Ayesha melihat wajah ammah yang basah air mata, lalu senyum dari bibir Ayyash yang tak henti melantunkan hamdalah. Di depan Ayesha, Ayyash tampak begitu bahagia, karena tiga hari, sebelum tugas itu dilaksanakan, ia berhasil menemukan pengantinnya. Seorang bidadari dalam perjuangan yang ia hormati, dan kagumi kekuatan mental maupun fisiknya. Ya, Ayesha. Mereka masih bertatapan. Saling menyunggingkan senyum. Ayesha yang &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajahnya masih sering bersemu dadu, tampak sangat cantik di mata Ayyash. Pengantinnya, bidadarinya.....kata-kata itu diulangnya berkali-kali dalam hati. Namun betapapun cantiknya Ayesha, Ayyash tak hendak melanggar janji yang ditekadkan jauh dalam sanubarinya. "Ayesha.....saya tak menginginkanmu, bukan karena saya tak menghormatimu." Senyum Ayesha surut. Matanya yang gemintang menatap Ayyas tak berkedip, menunggu kelanjutan kalimat lelaki itu. Ini malam pertama mereka, dan setelah ini, tak akan ada malam-malam lain. Besok selepas waktu dhuha, lelaki itu akan menemukan penggal akhir hidupnya, menemui kekasih sejati. Allah Rabbul Izzati. Tak layakkah Ayesha memberikan yang terbaik baginya ? &lt;br /&gt;Bagi ia yang akan menjelang syahid ? Pendar di mata Ayesha luluh. Ayyash mendongakkan dagunya, tangannya yang lain menggenggam jari-jari panjang Ayesha, seakan mengerti isi hati &lt;br /&gt;istrinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya mencintaimu, Ayesha. Dan saya meridhai semua yang telah dan akan Ayesha lakukan selama kebersamaan ini dan setelah saya pergi. Saya percaya dan berdoa, Allah akan memberimu seorang suami yang lebih baik, selepas kepergian saya." Ayesha tersenyum. Menyembunyikan hatinya yang masih gemuruh. Seandainya ia bisa menceritakannya pada Ayyash. Tapi ia tak sanggup. "Tak apa. Saya mengerti." Cuma itu yang bisa dikatakannya pada Ayyash. Suasana sekitar hening. Langit tanpa bulan tak mempengaruhi kebahagiaan di hati Ayyash. Bulan, baginya, malam ini telah menjelma pada kerelaan dan keikhlasan istrinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya ingin, Ayesha bisa mendapatkan yang terbaik." Lelaki itu melanjutkan kalimatnya. "Dan karenanya saya merasa wajib menjaga kehormatanmu. Kita bicara saja, ya ? Ceritakan sesuatu yang saya tak tahu, Ayesha." Ayesha menatap mata Ayyash, lagi. Disana ia bisa melihat kegarangan dan keteduhan melebur satu. Sambil ia berpikir keras apa yang bisa ia ceritakan pada lelaki itu ? Tak lama dari bibir wanita itu meluncur cerita-cerita lucu tentang masa kecil mereka. Canda teman-teman mainnya, dan kegugupannya saat pertama berhadapan dengan Ayyash. Juga jari-jari tangannya yang berkeringat saat ia mencium tangan Ayyash pertama kali. &lt;br /&gt;Betapa ia hampir terjatuh karena kram, akibat duduk terlalu lama, ketika mencoba bangun menyambut orang-orang yang datang menyalami mereka tadi pagi. Di antara senyum dan derai tawa suaminya, Ayesha masih berpikir tentang lelaki yang duduk di hadapannya. Sungguh, ia ingin membahagiakan Ayyash, dengan cara apapun. Melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah Ayyash, membuat Ayesha tak habis pikir. Kenapa kebahagiaan orang lain, bisa membuatnya begitu bahagia ? Tapi inilah kebahagiaan itu, bisiknya sesaat setelah mereka menyelesaikan sholat malam dan tilawah bersama. Kali pertama dan terakhir. Kebahagiaan bukan pada umurnya, tapi pada esensi kata bahagia. Dan Ayesha belum pernah sebahagia itu sebelumnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka masih belum bosan menatap satu sama lain, dan berpegangan tangan. Saat ia merebahkan diri di dada Ayash setelah sholat subuh, lelaki itu tak menolak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Biarkan saya berbakti padamu, Ayyash" &lt;br /&gt;Ia ingat Ayyash menundukkan wajah dalam, seperti berpikir keras, sebelum kemudian mengangguk dan menerimanya. Beberapa jam lagi, Ayesha menghitung dalam hati. Kedua matanya memandangi wajah Ayyash yang pulas di depannya. Tinggal beberapa jam lagi, dan mereka akan tinggal kenangan. Dirinya dalam kenangan Ayyash, Ayyash dalam kenangan orang-orang sekitarnya. Ketika fajar mulai menampakkan diri, Ayesha yang telah rapi, kembali menatap Ayyash yang tertidur pulas, mencium kening dan tangan lelaki itu, sebelum meninggalkan rumah dengan langkah pelan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*** &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia terbangun oleh gedoran di pintu. Pukul setengah tujuh pagi. Kerumunan di depan rumahnya. pagi pertama pernikahan mereka. Ada apa ? "Ayyash....istrimu, Ayesha." Ada titik air meruah di wajah ammah Ayesha. Lalu suara-suara gemang berdengung. Saling meningkahi, semua seperti tak sabar menyampaikan berita itu padanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Setengah jam yang lalu, Ayyash. Ledakan...Ayesha yang melakukannya..." &lt;br /&gt;"Gudang peluru itu. Bunyi...bagaimana kau bisa tak mendengar ?" &lt;br /&gt;Ayyash merasa tubuhnya mengejang. Istrinya.....Ayesha mendahuluinya ? Kepalan tangannya mengeras. Mengenang semua keceriaan dan kejenakaannya, serta upaya Ayesha membahagiakannya semalam. Jadi....Masya Allah ! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istrinya kini....benar-benar bidadari. &lt;br /&gt;Pikiran itu menghapuskan rasa sedih yang sesaat tadi mencoba menguasai hatinya. meski senyum kehilangan belum lepas dari wajah lelaki itu, sewaktu ia undur diri, dari kerumunan di depan rumah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keramaian yang sama masih menantinya dengan sabar, ketika tak lama kemudian lelaki itu berkemas, lalu dengan ketenangan yang tak terusik, melangkahkan kakinya meninggalkan rumah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktunya tinggal sebentar. Tentara Israel pasti akan melakukan patroli kemari, sesegera mungkin, setelah apa yang dilakukan Ayesha. Ia harus segera pergi. Ayyash mempercepat langkahnya. teman-temannya sudah menunggu di dalam jip terbuka yang membawa mereka berempat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang jalan, tak ada kata-kata. semua melarutkan diri dalam zikir dan memutihkan niatan. Opearsi hari ini rencananya akan menghancurkan salah satu pusat militer Israel di daerah perbatasan. Memimpin paling depan, langkah Ayyash sedikitpun tak digelayuti keraguan, saat diam-diam mereka menyusup. Allah memberinya bidadari, dan tak lama lagi, ia akan menyusulnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiran bahagianya bicara. Ayyash tersenyum, mengaktifkan alat peledak yang meliliti badannya. Ini, untuk perjuangan... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan bumi yang terharu atas perjuangan anak-anaknya, pun meneteskan air mata. &lt;br /&gt;Hujan pertama pagi itu, untuk Ayyash dan Ayesha. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asma Nadia, Sabili No. 01 Th X Juli 2002.  dikutip dari blog: iqbalir.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30616562-4760578436920717735?l=syahroni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syahroni.blogspot.com/feeds/4760578436920717735/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30616562&amp;postID=4760578436920717735&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/4760578436920717735'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/4760578436920717735'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syahroni.blogspot.com/2007/11/meminang-bidadari.html' title='Meminang Bidadari'/><author><name>syahroni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09874525640202597696</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://i154.photobucket.com/albums/s273/pksejahtera/ngantuknih.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30616562.post-6396700890384147173</id><published>2007-11-20T07:50:00.000+07:00</published><updated>2007-11-20T07:51:56.204+07:00</updated><title type='text'>Untuk Mantan pacarku Yang Disayangi Allah</title><content type='html'>&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Untuk mantan pacarku yang disayangi Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puji dan syukur hanya dan milik Allah swt semata,&lt;br /&gt;sholawat seiring salam semoga tetap tercurahkan&lt;br /&gt;kepada junjungan dan idola kita semua yaitu Nabi&lt;br /&gt;besar Muhammad SAW. dan tak henti-hentinya aku&lt;br /&gt;berdoa semoga apa-apa yg tengah dan akan kita&lt;br /&gt;lakukan selalu dalam pengampunan-Nya yang mendapat&lt;br /&gt;ridho setra selalu dalam naungan rahman dan&lt;br /&gt;rahinNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sebelummya aku minta maaf apabila selama ini mungkin&lt;br /&gt;kata-kataku baik pada waktu di telpon atau dirumahmu&lt;br /&gt;telah menyinggung perasaanmu, sebenarnya aku ingin&lt;br /&gt;ngomong banyak sekali tetapi entah aku tak tahu pada&lt;br /&gt;waktu kata-kataku sudah siap aku lontarkan&lt;br /&gt;didepanmu, kata-kata ini hilang tak karuan begitu&lt;br /&gt;saja setiap kali seperti ini dalam fikiranku selalu&lt;br /&gt;terlintas kata-kata, "apa yang sudah kamu lakukan&lt;br /&gt;itu telah menghalangi hak-haknya,&lt;br /&gt;jangan...jangan...urungkan saja niatmu!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian setelah lama aku yakinkan, aku sadar bahwa&lt;br /&gt;setiap muslim satu dengan yang lain adalah seperti&lt;br /&gt;satu tubuh yang saling sambung menyambung dan tak&lt;br /&gt;akan pernah dilepaskan. Sungguh aku yg hanya sebagai&lt;br /&gt;mantan pacar, tiada niat dalam hati 'n' selain tiada&lt;br /&gt;kerelaanku jika seseorang yang pernah namanya&lt;br /&gt;bersemayam dalam dihatiku masih terjerat dalam&lt;br /&gt;lingkaran-lingkaran syaiton, tahukah engkau hati ini&lt;br /&gt;terasa ngilu dan sakit jika aku mengingat akan hal&lt;br /&gt;itu, maka dari itu aku luangkan waktu untuk&lt;br /&gt;mengungkapkan isi hatiku, untuk itu aku mohon&lt;br /&gt;kesedianmu untuk membaca dan lebih-lebih engkau mau&lt;br /&gt;meresapi dan memahami kata-kataku berikut ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[jangan didelete dulu , suratnya puanjang]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mantan pacarku, engkau adalah kaum yang terhormat&lt;br /&gt;seperti halnya Ibuku dan saudara-saudara&lt;br /&gt;perempuanku. Kau adalah tiang negara ini yang&lt;br /&gt;mana... dengan akhlakmu, engkau dapat menghancurkan&lt;br /&gt;dan mengokohkan negara ini. Engkau adalah pendidik&lt;br /&gt;masa depan yang selalu mejadi harapan bangsa dan&lt;br /&gt;agama kita yaitu Islam yang telah meninggikan&lt;br /&gt;derajat dan memuliakan kedudukanmu. Agama yg lurus&lt;br /&gt;ini juga telah mewajibkan kaum hawa untuk menutup&lt;br /&gt;aurat agar supaya terjaga kehormatan dan kesucianmu&lt;br /&gt;sehingga engkau tidak diganggu oleh orang-orang yang&lt;br /&gt;ingin menodai kesucianmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mantan pacarku......, Engkau adalah makhluk Allah&lt;br /&gt;yang mulia, yang diciptakan dengan segala keindahan,&lt;br /&gt;bagai bunga yang harum semerbak yang selalu&lt;br /&gt;mengundang banyak kumbang untuk selalu mendekat&lt;br /&gt;seperti sebuah ungkapan : "dunia adalah perhiasan&lt;br /&gt;dan seindah-indahnya perhiasan adalah wanita&lt;br /&gt;salihah". Untuk itulah keindahanmu hanya pantas&lt;br /&gt;dimiliki seseorang yang telah dihalalkan oleh Allah&lt;br /&gt;untukmu lewat syariatNya yang suci dan akan selalu&lt;br /&gt;menjaga kesucian dan kehormatanmu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ukhti...., Engkau seharusnya tidak boleh dilihat&lt;br /&gt;sembarang mata, tak boleh disentuh oleh sembarang&lt;br /&gt;tangan, tak boleh diajak dan dibawa bermain&lt;br /&gt;sembarang laki-laki. Sungguh hati kecilku ini&lt;br /&gt;sebenarnya tidak pernah terima jika engkau tidak&lt;br /&gt;diperlakukan secara sewajarnya sebagai seorang&lt;br /&gt;muslimah, karena kau adalah saudaraku di jalan Allah&lt;br /&gt;yang harus terjaga kesuciannya agar wanginya tetap&lt;br /&gt;semerbak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mantan pacarku yang diridhoi Allah. cintaKu sekarang&lt;br /&gt;hanya milik Allah, RosulNya dan agamaNya. Telah&lt;br /&gt;dituntunnya kita dalam syariatnya yang amat sangat&lt;br /&gt;lengkap tentang kehidupan ini, tentang bagaimana&lt;br /&gt;kita harus bergaul, bermasyarakat, dll. Seperti&lt;br /&gt;halnya... "Berlalulah masa dari hari ke hari sedang&lt;br /&gt;dosa kita terus menumpuk dan kemuadian datanglah&lt;br /&gt;utusan maut. Sedang hati kita dalam keadaan lengah.&lt;br /&gt;Dan sesungguhnnya kenikmatan dunia hanyalah tipuan&lt;br /&gt;dan penyesalan serta kemegahan dunia hanyalah&lt;br /&gt;kemustahilan dan kebatilan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;....sungguh apabila mau bercermin pada ayat diatas,&lt;br /&gt;rasanya sangat tidak pantas kalau kita maupun&lt;br /&gt;saudara-saudara kita masih memelihara cinta semu&lt;br /&gt;yang hakikatnya adalah luapan nafsu yang selalu&lt;br /&gt;ditunggangi oleh musuh kita "Sayton La'natullah".&lt;br /&gt;kita hanya boleh mencintai sebagai saudara dalam&lt;br /&gt;Islam, saling menyayangi hanya karena ikatan aqidah&lt;br /&gt;yang bersih dan ukhuwah kita. Seiring sejalan untuk&lt;br /&gt;tetap istiqomah didalam aturanNYa, tentu dengan&lt;br /&gt;cara-cara yg diridhoi Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku... mungkin untuk itu tidak ada salahnya&lt;br /&gt;kalau kita mau berfikir sedikit lebih tenang, lebih&lt;br /&gt;dewasa dan berpikir jauh kedepan. Mari kita&lt;br /&gt;jernihkan fikiran, mensucikan hati, jauhkan&lt;br /&gt;kebencian dan dahulukan cinta. Dengan demikian aku&lt;br /&gt;yakin kita bisa menatap kebaikan dengan hati yang&lt;br /&gt;lapang, tenang dan damai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku terlalu panjang sudah suratku untukmu,&lt;br /&gt;semoga Allah mangampuni dosaku dan dosamu serta dosa&lt;br /&gt;saudara-saudara kita semua yang selama ini masih&lt;br /&gt;selalu menyalahi Syariat-Nya karena kita telah&lt;br /&gt;merajut benang-benang kasih Sayitoni dalam&lt;br /&gt;kebersamaan kita. Maka dari itu marilah kita&lt;br /&gt;sama-sama bertekad untuk menyemai benih-benih cinta&lt;br /&gt;kita dilahan yang telah disediakan Allah untuk kita.&lt;br /&gt;Marilah kita tumbuhkan dan kita pupuk rasa cinta&lt;br /&gt;kita hanya untuk kekasih abadi kita yaitu Allah swt&lt;br /&gt;yang selalu membelai kita dengan Rahman dan RahimNya&lt;br /&gt;agar kita selalu siap untuk berjihad di jalanNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh...ya...mungkin perlu ukhti ketahui bahwa surat&lt;br /&gt;ini kutulis untukmu bukannya aku sekarang sudah&lt;br /&gt;tidak mencintaimu lagi atau aku takut sama ortu,&lt;br /&gt;atau aku sudah mendapat penggantimu, ...tidak sama&lt;br /&gt;sekali tidak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi hidayah dariNya yang membuatku jadi begini.&lt;br /&gt;Aku berharap semoga hidayah yang amat mahal dan&lt;br /&gt;terindah ini dapat terus kita jaga dan kita&lt;br /&gt;pertahankan keberadaannya. Aku berlindung kepada&lt;br /&gt;Allah dari segala bujuk rayu syaiton dan&lt;br /&gt;kerabat-kerabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mohon maaf atas segala kekhilafan yang pernah&lt;br /&gt;aku lakukan terhadapmu dan semoga yang maha kuasa&lt;br /&gt;mau menerima taubatku dan taubatmu, amin.....&lt;br /&gt;seperti dalam firman Allah "setiap anak adam pasti&lt;br /&gt;bersalah dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah&lt;br /&gt;mereka yang lekas-lekas menyadari kesalahannya untuk&lt;br /&gt;bertaubat".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TIADA MASA YANG INDAH SELAIN MASA REMAJA&lt;br /&gt;TIADA REMAJA YANG PALING MULIA SELAIN REMAJA YANG&lt;br /&gt;BERTAQWA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;source : alumnus University of Attaqwa Al-Islamiyah&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30616562-6396700890384147173?l=syahroni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syahroni.blogspot.com/feeds/6396700890384147173/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30616562&amp;postID=6396700890384147173&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/6396700890384147173'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/6396700890384147173'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syahroni.blogspot.com/2007/11/untuk-mantan-pacarku-yang-disayangi.html' title='Untuk Mantan pacarku Yang Disayangi Allah'/><author><name>syahroni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09874525640202597696</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://i154.photobucket.com/albums/s273/pksejahtera/ngantuknih.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30616562.post-6081977558791082174</id><published>2007-11-17T17:15:00.000+07:00</published><updated>2007-11-17T17:41:19.884+07:00</updated><title type='text'>Aku Akan Menikah !!</title><content type='html'>&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Aku akan menikah&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Tahun ini juga&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Meski belum ada tanda darinya&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Aku akan menikah&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Bulan ini juga&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Meski belum jelas kepastian darinya&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Aku tetap ingin menikah&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Meski banyak hal yang masih samar&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Aku akan selalu optimis&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Karena keyakinan yang kan membuktikan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Suatu saat ku pasti kan menikah&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Baca Qur'an Saja,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Ketika kita merasa jenuh&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Baca Qur'an saja, &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;bisa hilang jenuhnya&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Ketika kita merasa sepi&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Baca Qur'an saja, &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;bisa hilang rasa sepinya&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Ketika kita tak bergairah&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Baca Qur'an saja, &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;bisa semangat lagi&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Ketika segala sesuatu terasa membosankan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Baca Qur'an saja, &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;bisa jadi lain&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Ketika kita kebingungan memutuskan sesuatu&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Baca Qur'an saja, &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;bisa lebih tenang&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Ketika banyak ketidaknyamanan dalam hati kita rasakan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Baca Qur'an saja, &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;beda rasanya...&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Baca Qur'an saja bisa merubah semuanya&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Bisa buat diri jadi lebih baik&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Bisa buat diri jadi yang terbaik&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Bisa menghantarkan diri ke kebaikan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Baca Qur'an saja sudah begitu berarti&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Belum menghapalkannya&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Apalagi mengamalkannya&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Subhanallah !&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Kupikir..... . pasrah saja&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Waktu aku datang ke sebuah undangan silaturahmi&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Ku pikir calon suamiku ada di sana&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Ternyata tidak ada...&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Waktu aku gabung ke dalam kegiatan tarbiyah&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Ku pikir calon suamiku ada di situ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Ternyata tidak ada juga...&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Ketika aku ta'aruf&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Ku pikir dia calon suamiku&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Ternyata bukan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Ketika segala upaya tlah dikerahkan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Ketika berbagai ikhtiar tlah dilalui&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Seolah-olah sudah tidak ada jalan lagi&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Ya sudah, pasrah saja !&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Demi Engkau, ya Robb...&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Ya Robb, aku mohon pada Mu&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Karena ku tahu hanya EngkauYang paling bisa kupercaya&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Betapa sayangnya Engkau padaku&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Engkau sengaja menunda masa khitbahku&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Karena Engkau ingin aku dekat dengan Mu&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Hanya dengan Mu saja.....&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Engkau sengaja menunda hari bahagia itu&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Karena Engkau tahu&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Kesendirianku membuat diriku&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Akan semakin mengingat Mu&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Terima kasih ya Robb...&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Engkau memang segalanya bagiku&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Dan akan selalu begitu&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Sampai tidak ada batas waktu&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Bahkan jika akhirnya hari yang kutunggu itu datang&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Aku akan tetap memohon&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Semoga Kau jodohkan aku dengan seorang&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Yang buat aku makin mudah tuk dekat dengan Mu&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Lebih mudah untuk istiqomah di jalan Mu&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Lebih banyak kebaikan yang kutebarkan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Lebih banyak manfaat yang kupersembahkan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Demi Engkau, ya Robb Aamiin....&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Ikhlas, Sabar, Ridho&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Keikhlasan itu datang dalam hatiku&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Disaat ku nanti khitbahnya&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Kesabaran hadir dalam hatiku&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Di saat ku tunggu kepastiannya&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Keridhoan itu ada dalam hatiku&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Ketika sampai sekarang belum ada kejelasan darinya&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Keikhlasan, kesabaran, keridhoan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Semuanya itu tak kan pernah muncul di hatiku&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Tanpa kehendak Mu&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Ya Allah, semuanya kini terserah pada Mu&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Karena ku yakin Engkau tahu jalan yang terbaik&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Hanya Engkau yang berhak memberikan yang terbaik&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Dan hanya Engkau &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Maha Menguasai hati&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Buat apa tarbiyah ?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Katanya tarbiyah,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Tapi kenapa selalu mengeluh&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Merasa tidak enak, mengeluh&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Merasa tidak puas, mengeluh&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Katanya tarbiyah,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Tapi selalu saja sibuk&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Sibuk mengingat kekurangan orang lain&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Sibuk menceritakan keburukan orang lain&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Alasannya cuma sekedar curhat&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Tidak bermaksud negatif, apa bedanya?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Kalau curhat cuma ke satu orang&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Tapi kenapa semua orang jadi tahu?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Bukankah tarbiyah itu seharusnya menambah ilmu?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Bukankah kita yang bertarbiyah ini seharusnya berilmu?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Bukankah tarbiyah mengajarkan supaya jadi lebih pemaaf?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Bukankah tarbiyah mendidik supaya jadi lebih solutif?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Ternyata yang penting bukan tarbiyahnya&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Tapi kemauan merubah diri tuk selalu menjadi lebih baik&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Jadi, buat apa tarbiyah &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;kalau akhirnya orang lain jadi sakit?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Terserah kamu...&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Aku ada di sini, &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;kamu ngga ada&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Aku cari kamu di sana, tapi kamu ngga ada&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Aku sampai datang ke sana, kamu ngga ada&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Aku jauh-jauh ke sana, kamu ngga ada&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Kamu jauh sih...&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Lalu, kapan kita ketemunya?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Maunya aku hari ini juga&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Sekarang juga, &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;saat ini juga&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Siap kah kamu ?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Walau hanya silaturahmi saja?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Syukur-syukur kalau jadi khitbah&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Kalau ngga, tidak jadi masalah, bukan?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Kamu takut ditolak?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Kamu masih minder?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Kamu masih mikir finansial?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Kamu masih ragu?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Pasti segudang alasan yang akan kamu buat&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Pasti banyak alasan yang akan kamu beri&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Pasti kamu lagi bingung mana alasan yang tepat&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Terserah kamu saja...&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Yang penting aku sudah kasih kamu kesempatan ikhtiar&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Moga ALLAH memudahkan langkah ikhtiar &amp;amp; kemantapan hati&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;sumber: unknown (semoga Allah berikan yang terbaik buat ukhti)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30616562-6081977558791082174?l=syahroni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syahroni.blogspot.com/feeds/6081977558791082174/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30616562&amp;postID=6081977558791082174&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/6081977558791082174'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/6081977558791082174'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syahroni.blogspot.com/2007/11/aku-akan-menikah.html' title='Aku Akan Menikah !!'/><author><name>syahroni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09874525640202597696</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://i154.photobucket.com/albums/s273/pksejahtera/ngantuknih.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30616562.post-1540439083402600349</id><published>2007-11-17T17:04:00.000+07:00</published><updated>2007-11-17T17:09:54.580+07:00</updated><title type='text'>Jangan Tangisi Apa Yang Bukan Milikmu</title><content type='html'>&lt;div class="fullpost" align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Jangan Tangisi Apa Yang Bukan Milikmu!&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;oleh: Firmansyah&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#663366;"&gt;Dalam perjalanan hidup ini seringkali kita merasa kecewa. Kecewa sekali. Sesuatu yang luput dari genggaman, keinginan yang tidak tercapai, kenyataan yang tidak sesuai harapan. Akhirnya angan ini lelah berandai-andai ria. Sungguh semua itu telah hadirkan nelangsa yang begitu menggelora dalam jiwa. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#663366;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#663366;"&gt;Dan sungguh sangat beruntung andai dalam saat-saat terguncangnya jiwa masih ada setitik cahaya dalam kalbu untuk merenungi kebenaran. Masih ada kekuatan untuk melangkahkan kaki menuju majelis-majelis ilmu, majelis-majelis dzikir yang akan mengantarkan pada ketentraman jiwa. Hidup ini ibarat belantara. Tempat kita mengejar berbagai keinginan. Dan memang manusia diciptakan mempunyai kehendak, mempunyai keinginan. Tetapi tidak setiap yang kita inginkan bisa terbukti, tidak setiap yang kita mau bisa tercapai. Dan tidak mudah menyadari bahwa apa yang bukan menjadi hak kita tak perlu kita tangisi. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#663366;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#663366;"&gt;Banyak orang yang tidak sadar bahwa hidup ini tidak punya satu hukum : harus sukses, harus bahagia atau harus-harus yang lain. Betapa banyak orang yang sukses tetapi lupa bahwa sejatinya itu semua pemberian Allah hingga membuatnya sombong dan bertindak sewenang-wenang. Begitu juga kegagalan sering tidak dihadapi dengan benar. Padahal dimensi tauhid dari kegagalan adalah tidak tercapainya apa yang memang bukan hak kita. Padahal hakekat kegagalan adalah tidak terengkuhnya apa yang memang bukan hak kita. Apa yang memang menjadi jatah kita di dunia, entah itu Rizki, jabatan, kedudukan pasti akan Allah sampaikan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#663366;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#663366;"&gt;Tetapi apa yang memang bukan milik kita, ia tidak akan bisa kita miliki, meski ia nyaris menghampiri kita, meski kita mati-matian mengusahakannya. &lt;/span&gt;&lt;span style="color:#006600;"&gt;"&lt;em&gt;Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakanya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berdukacita terhadap apa yang luput dari kamu dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikaNya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri." (QS. Al-Hadid : 22-23).&lt;/em&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#663366;"&gt;Demikian juga bagi yang sedang galau terhadap jodoh. Kadang kita tak sadar mendikte Allah tentang jodoh kita, bukannya meminta yang terbaik dalam istikharah kita tetapi benar-benar mendikte Allah : Pokoknya harus dia Ya Allah… harus dia, karena aku sangat mencintainya. Seakan kita jadi yang menentukan segalanya, kita meminta dengan paksa. Dan akhirnya kalaupun Allah memberikanya maka tak selalu itu yang terbaik. Bisa jadi Allah tak mengulurkannya tidak dengan kelembutan, tapi melemparkanya dengan marah karena niat kita yang terkotori. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#663366;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#663366;"&gt;Maka wahai jiwa yang sedang gundah, dengarkan firman dari Allah : &lt;/span&gt;&lt;span style="color:#003333;"&gt;"… &lt;em&gt;Boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagi kalian. Dan boleh jadi kalian mencintai sesuatu, padahal ia amat buruk bagi kalian. Allah Maha mengetahui kalian tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah : 216).&lt;/em&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#663366;"&gt;Maka setelah ini wahai jiwa, jangan kau hanyut dalam nestapa jiwa berkepanjangan terhadap apa-apa yang luput darimu. Setelah ini harus benar-benar dipikirkan bahwa apa-apa yang kita rasa perlu di dunia ini harus benar-benar perlu bila ada relevansinya dengan harapan kita akan bahagia di akhirat. Karena seorang mukmin tidak hidup untuk dunia tetapi menjadikan dunia untuk mencari hidup yang sesungguhnya : hidup di akhirat kelak! Maka sudahlah, jangan kau tangisi apa yang bukan milikmu!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#663366;"&gt;Allahu'alam&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30616562-1540439083402600349?l=syahroni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syahroni.blogspot.com/feeds/1540439083402600349/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30616562&amp;postID=1540439083402600349&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/1540439083402600349'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/1540439083402600349'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syahroni.blogspot.com/2007/11/jangan-tangisi-apa-yang-bukan-milikmu.html' title='Jangan Tangisi Apa Yang Bukan Milikmu'/><author><name>syahroni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09874525640202597696</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://i154.photobucket.com/albums/s273/pksejahtera/ngantuknih.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30616562.post-2668509053324038074</id><published>2007-11-17T16:58:00.000+07:00</published><updated>2007-11-17T17:02:14.471+07:00</updated><title type='text'>Untuk Calon Istriku</title><content type='html'>&lt;div class="fullpost" align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Untuk Calon Istriku&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Karya : Cucuk Hariyanto&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Apa kabar calon istriku? Hope u well and do take care...&lt;br /&gt;Allah selalu bersama kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ukhtiku...&lt;br /&gt;Masihkah menungguku...?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hm... menunggu, menanti atau whatever-lah yang sejenis dengan itu kata orang membosankan. Benarkah?!&lt;br /&gt;Menunggu...&lt;br /&gt;Hanya sedikit orang yang menganggapnya sebagai hal yang 'istimewa'&lt;br /&gt;Dan bagiku, menunggu adalah hal istimewa&lt;br /&gt;Karena banyak manfaat yang bisa dikerjakan dan yang diperoleh dari menunggu&lt;br /&gt;Membaca, menulis, diskusi ringan, atau hal lain yang bermanfaat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menunggu bisa juga dimanfaatkan untuk mengagungkan-Nya,&lt;br /&gt;melihat fenomena kehidupan di sekitar tempat menunggu,&lt;br /&gt;atau sekadar merenungi kembali hal yang telah terlewati&lt;br /&gt;Eits, bukan berarti melamun sampai angong alias ngayal dengan pikiran kosong&lt;br /&gt;Karena itu justru berbahaya, bisa mengundang makhluk dari 'dunia lain' masuk ke jiwa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak hal lain yang bisa kau lakukan saat menunggu&lt;br /&gt;Percayalah bahwa tak selamanya sendiri itu perih&lt;br /&gt;Ngejomblo itu nikmat, jenderal!&lt;br /&gt;Ups, itu judul tulisanku beberapa waktu lalu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwa di masa penantian, kita sebenarnya bisa lebih produktif&lt;br /&gt;Mumpung waktu kita masih banyak luang&lt;br /&gt;Belum tersita dengan kehidupan rumah tangga&lt;br /&gt;Jadi waktu kita untuk mencerahkan ummat lebih banyak&lt;br /&gt;Karena permasalahan ummat saat ini pun makin banyak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya wahai bidadari dunia...&lt;br /&gt;Maklumilah bila sampai saat ini aku belum datang&lt;br /&gt;Bukan ku tak ingin, bukan ku tak mau, bukan ku menunda&lt;br /&gt;Tapi persoalan yang mendera bangsa ini kian banyak dan kian rumit&lt;br /&gt;Begitu banyak anak tak berdosa yang harus menderita karena busung lapar, kurang gizi, lumpuh layuh hingga muntaber&lt;br /&gt;Belum lagi satu per satu kasus korupsi tingkat tinggi yang membuktikan bahwa negeri ini 'sarang tikus'&lt;br /&gt;Ditambah lagi bencana demi bencana yang melanda negeri ini&lt;br /&gt;Meski saat ini hidup untuk diri sendiri pun rasanya masih sulit&lt;br /&gt;Namun seperti seorang ustadz pernah mengatakan bahwa hidup untuk orang lain adalah sebuah kemuliaan Memberi di saat kita sedang sangat kesusahan adalah pemberian terbaik&lt;br /&gt;Bahwa kita belumlah hidup jika kita hanya hidup untuk diri sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ukhtiku...&lt;br /&gt;Di mana pun engkau sekarang, janganlah gundah, janganlah gelisah&lt;br /&gt;Telah kulihat wajahmu dan aku mengerti,&lt;br /&gt;betapa merindunya dirimu akan hadirnya diriku di dalam hari-harimu&lt;br /&gt;Percayalah padaku aku pun rindu akan hadirmu&lt;br /&gt;Aku akan datang, tapi mungkin tidak sekarang&lt;br /&gt;Karena jalan ini masih panjang&lt;br /&gt;Banyak hal yang menghadang&lt;br /&gt;Hatiku pun melagu dalam nada angan&lt;br /&gt;Seolah sedetik tiada tersisakan&lt;br /&gt;Resah hati tak mampu kuhindarkan&lt;br /&gt;Tentang sekelebat bayang, tentang sepenggal masa depan&lt;br /&gt;Karang asaku tiada 'kan terkikis dari panjang jalan perjuangan, hanya karena sebuah kegelisahan&lt;br /&gt;Lebih baik mempersiapkan diri sebelum mengambil keputusan&lt;br /&gt;Keputusan besar untuk datang kepadamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ukhtiku...&lt;br /&gt;Jangan menangis, jangan bersedih, hapus keraguan di dalam hatimu&lt;br /&gt;Percayalah pada-Nya, Yang Maha Pemberi Cinta,&lt;br /&gt;bahwa ini hanya likuan hidup yang pasti berakhir&lt;br /&gt;Yakinlah...saat itu pasti 'kan tiba&lt;br /&gt;Tak usah kau risau karena makin memudarnya kecantikanmu&lt;br /&gt;Karena kecantikan hati dan iman yang dicari&lt;br /&gt;Tak usah kau resah karena makin hilangnya aura keindahan luarmu&lt;br /&gt;Karena aura keimananlah yang utama&lt;br /&gt;Itulah auramu yang memancarkan cahaya syurga,&lt;br /&gt;merasuk dan menembus relung jiwa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai perhiasan terindah...&lt;br /&gt;Hidupmu jangan kau pertaruhkan, hanya karena kau lelah menunggu. Apalagi hanya demi sebuah pernikahan. Karena pernikahan tak dibangun dalam sesaat, tapi ia bisa hancur dalam sedetik. Seperti Kota Iraq yang dibangun berpuluh tahun, tapi bisa hancur dalam waktu sekian hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan pernah merasa, hidup ini tak adil&lt;br /&gt;Kita tak akan pernah bisa mendapatkan semua yang kita inginkan dalam hidup&lt;br /&gt;Pasrahkan inginmu sedalam qalbu, pada tahajjud malammu&lt;br /&gt;Bariskan harapmu sepenuh rindumu, pada istikharah di shalat malammu&lt;br /&gt;Pulanglah pada-Nya, ke dalam pelukan-Nya&lt;br /&gt;Jika memang kau tak sempat bertemu diriku,&lt;br /&gt;sungguh...itu karena dirimu begitu mulia, begitu suci&lt;br /&gt;Dan kau terpilih menjadi Ainul Mardhiyah di jannah-Nya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ukhtiku...&lt;br /&gt;Skenario Allah adalah skenario terbaik&lt;br /&gt;Dan itu pula yang telah Ia skenariokan untuk kita&lt;br /&gt;Karena Ia sedang mempersiapkan kita untuk lebih matang,&lt;br /&gt;merenda hari esok seperti yang kita harapkan nantinya&lt;br /&gt;Untuk membangun kembali peradaban ideal seperti cita kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ukhtiku...&lt;br /&gt;Ku tahu kau merinduiku, bersabarlah saat indah 'kan menjelang jua&lt;br /&gt;Saat kita akan disatukan dalam ikatan indah pernikahan&lt;br /&gt;Apa kabarkah kau disana?&lt;br /&gt;Lelahkah kau menungguku berkelana?&lt;br /&gt;Lelahkah menungguku kau disana?&lt;br /&gt;Bisa bertahankah kau disana?&lt;br /&gt;Tetap bertahanlah kau disana...&lt;br /&gt;Aku akan segera datang, sambutlah dengan senyum manismu&lt;br /&gt;Bila waktu itu telah tiba,&lt;br /&gt;kenakanlah mahkota itu,&lt;br /&gt;kenakanlah gaun indah itu...&lt;br /&gt;Masih banyak yang harus kucari, 'tuk bahagiakan hidup kita nanti...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ukhtiku...&lt;br /&gt;Malam ini terasa panjang dengan air mata yang mengalir&lt;br /&gt;Hatiku terasa kelu dengan derita yang mendera,&lt;br /&gt;kutahan derita malam ini sambil menghitung bintang&lt;br /&gt;Cinta membuat hati terasa terpotong-potong&lt;br /&gt;Jika di sana ada bintang yang menghilang,&lt;br /&gt;mataku berpendar mencari bintang yang datang&lt;br /&gt;Kalau memang kau pilihkan aku, tunggu sampai aku datang...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ku awali hariku dengan tasbih, tahmid dan shalawat&lt;br /&gt;Dan mendo'akanmu agar kau selalu sehat, bahagia,&lt;br /&gt;dan mendapat yang terbaik dari-Nya&lt;br /&gt;Aku tak pernah berharap, kau 'kan merindukan keberadaanku yang menyedihkan ini&lt;br /&gt;Hanya dengan rasa rinduku padamu, kupertahankan hidup&lt;br /&gt;Maka hanya dengan mengikuti jejak-jejak hatimu, ada arti kutelusuri hidup ini&lt;br /&gt;Mungkin kau tak pernah sadar betapa mudahnya kau 'tuk dikagumi&lt;br /&gt;Akulah orang yang 'kan selalu mengagumi, mengawasi, menjaga dan mencintaimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ukhtiku...&lt;br /&gt;Saat ini ku hanya bisa mengagumimu,&lt;br /&gt;hanya bisa merindukanmu&lt;br /&gt;Dan tetaplah berharap, terus berharap&lt;br /&gt;Berharap aku 'kan segera datang&lt;br /&gt;Jangan pernah berhenti berharap,&lt;br /&gt;Karena harapan-harapanlah yang membuat kita tetap hidup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kau jadi istriku kelak,&lt;br /&gt;jangan pernah berhenti memilikiku&lt;br /&gt;dan mencintaiku hingga ujung waktu&lt;br /&gt;Tunjukkan padaku kau 'kan selalu mencintaiku&lt;br /&gt;Hanya engkau yang aku harap&lt;br /&gt;Telah lama kuharap hadirmu di sini&lt;br /&gt;Meski sulit, harus kudapatkan&lt;br /&gt;Jika tidak kudapat di dunia...&lt;br /&gt;'kan kukejar sang Ainul Mardhiyah yang menanti di surga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ku akui cintaku tak hanya hinggap di satu tempat,&lt;br /&gt;aku takut mungkin diriku terlalu liar bagimu&lt;br /&gt;Namun sejujurnya, semua itu hanyalah persinggahan egoku,&lt;br /&gt;pelarian perasaanku&lt;br /&gt;dan sikapmu telah meluluhkan jiwaku&lt;br /&gt;Waktu pun terus berlalu dan aku kian mengerti...&lt;br /&gt;Apa yang akan ku hadapi&lt;br /&gt;Dan apa yang harus kucari dalam hidup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurangkai sebuah tulisan sederhana ini,&lt;br /&gt;untuk dirimu yang selalu bijaksana&lt;br /&gt;Aku goreskan syair sederhana ini,&lt;br /&gt;untuk dirimu yang selalu mempesona&lt;br /&gt;Memahamiku dan mencintaiku apa adanya&lt;br /&gt;Semoga Allah kekalkan nikmat ini bagiku dan bagimu&lt;br /&gt;Semoga...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau terindah di antara bunga yang pernah aku miliki dahulu&lt;br /&gt;Kau teranggun di antara dewi yang pernah aku temui dahulu&lt;br /&gt;Kau berikan tanda penuh arti yang tak bisa aku mengerti&lt;br /&gt;Kau bentangkan jalan penuh duri yang tak bisa aku lewati&lt;br /&gt;Begitu indah kau tercipta bagi Adam&lt;br /&gt;Begitu anggun kau terlahir sebagai Hawa&lt;br /&gt;Kau terindah yang pernah kukagumi meski tak bisa aku miliki&lt;br /&gt;Kau teranggun yang pernah kutemui meski tak bisa aku miliki&lt;br /&gt;......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dewi Khayalan - Daun Band)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah...&lt;br /&gt;ringankanlah kerinduan yang mendera&lt;br /&gt;kupanjatkan sepotong doa setiap waktu,&lt;br /&gt;karena keinginan yang menyeruak di dalam diriku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah...&lt;br /&gt;ampuni segala kekhilafan hamba yang hina ini&lt;br /&gt;ringankan langkah kami&lt;br /&gt;beri kami kekuatan dan kemampuan&lt;br /&gt;tuk melengkapkan setengah dien ini,&lt;br /&gt;mengikuti sunnah RasulMu&lt;br /&gt;jangan biarkan hati-hati kami&lt;br /&gt;terus berkelana tak perpenghujung&lt;br /&gt;yang hanya sia-sia dengan waktu dan kesempatan&lt;br /&gt;yang telah Engkau berikan&lt;br /&gt;Aamiin...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalamu'alaikum Wr... Wb...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penuh Cinta Selalu Untuk Selamanya, Fillah... &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30616562-2668509053324038074?l=syahroni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syahroni.blogspot.com/feeds/2668509053324038074/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30616562&amp;postID=2668509053324038074&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/2668509053324038074'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/2668509053324038074'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syahroni.blogspot.com/2007/11/untuk-calon-istriku.html' title='Untuk Calon Istriku'/><author><name>syahroni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09874525640202597696</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://i154.photobucket.com/albums/s273/pksejahtera/ngantuknih.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30616562.post-2562236548941708410</id><published>2007-11-16T14:54:00.000+07:00</published><updated>2007-11-16T14:56:43.988+07:00</updated><title type='text'>Hadiah Cinta Untuk Melati</title><content type='html'>Bergaullah dengan mereka (istri) secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak. (QS. An Nisaa' 4:19) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan oleh Ibnu Maajah, Bab Husnu Ma'aasyaratun Nisaa' Aisyah mengabarkan bahwa Rasulullah Saw pernah berkata, "Yang terbaik di antara kamu ialah yang terbaik terhadap istrinya, dan saya adalah orang yang terbaik terhadap istri saya". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***** &lt;br /&gt;Dari yang pernah dan akan s'lalu mencintaimu. Berulangkali kubaca untaian kata di kartu lebaran yang menutupi parcel itu. Tanpa nama!, Siapa gerangan yang mengirimkannya? aku tak sabar membuka isinya. &lt;br /&gt;Seketika aku terkejut!, karena semua yang ada di dalamnya adalah sesuatu yang kuimpikan selama ini!. perasaanku tak menentu, Ya Allah.. bagaimana jika suamiku tahu?! betapa Engkau Maha Menyaksikan bahwa selama ini aku senantiasa menjaga diri. &lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Kemarin malam kami sempat berselisih paham, bahkan sempat bertengkar hebat! itu merupakan peristiwa pertama dalam sejarah perkawinan kami!, seharusnya hal itu tak boleh terjadi. Aku menyesal atas kesalahanku!.. oh suamiku.. maafkan aku!. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian aku bergegas mengambil wudhu, shalat dan mengaji, selalu itu yang kukerjakan jika tak mampu mengatasi diri. Berdo'a dan memohon bantuan Ilahi Rabbi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Assalaamu'alaikum warahmatullaah..". suara yang tak asing lagi menyadarkanku, aku beranjak membukakan pintu, seraya membalas salamnya. Tak ada rona kemarahan lagi di sana, melainkan senyum ketulusan. Tiba-tiba ia membalas pandanganku, jadi malu!.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada apa Ummi Syifa?" sapanya ramah, Syifa adalah nama anak kami yang diberikannya sebagai do'a agar kelak tumbuh menjadi seorang dokter wanita yang selalu ikhlas mengobati hamba Allah yang membutuhkan pertolongan. Aku jadi salah tingkah, terbata-bata aku berkata padanya, "Abi Syifa ja..ngan ma..rah ya..?!". Sejenak kutinggalkan ia, bergegas mengambil sesuatu yang sedari tapi menghimpit bathinku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba air mata ini mengalir, hari ini aku sensitif sekali. Tetapi.. kenapa &lt;br /&gt;Abi Shifa tersenyum?, aku bingung!. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sengaja kukirim kejutan itu untukmu, sayang.. sebagai tanda syukurku pada Allah atas kebersamaan yang telah kau berikan selama ini. Aku sadar kita hanyalah sepasang insan yang punya keterbatasan!. Kekurangan bukanlah suatu cela melainkan celah yang harus kita perindah dengan melengkapinya supaya sempurna guna mewujudkan sorga kecil kita. Atas dasar Cinta pada Allah! kita tak akan pernah lelah membinanya!". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangisku semakin deras, ungkapan kebahagiaan namanya, ternyata bingkisan indah ini dari suamiku sendiri!, betapa sayangnya Allah telah menganugerahiku seorang pendamping hidup yang berakhlak mulia!, dalam hati aku bertekad menyempurnakan diri, menjadi wanita shalehah di dunia ini!. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jazakallah suamiku!" Kuciumi tangannya seraya mendekap lembut pemberiannya. Seperangkat pakaian shalat dan gaun muslimah hijau yang indah, Subhanallah.. betapa bahagia hatiku, ia memberikanku hadiah Cinta di penghujung Tahun ini, Nisa..!". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nisa tersenyum mendengar cerita Gayatri (sahabatnya), turut merasakan kebahagiaan Melatinya. Memang tiada ada wanita sempurna di bumi ini!, namun perhiasan yang terindah itu adalah wanita yang shaleh, yang taat pada Allah dan suaminya. Demikian pula sebaliknya, laki-laki yang terbaik itu adalah yang paling baik terhadap istrinya!. Selamat menerima hadiah cinta, Melati!, Semoga yang masih sendiri akan dianugerahi-Nya kejutan yang tak terduga-duga!. Apakah itu?! Hmm.. Suami yang berakhlak Qur'ani!, aamiin, Ya Rabbal 'aalamiin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oleh: Ratna Dewi (wiwi_praty, Qalbu)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30616562-2562236548941708410?l=syahroni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syahroni.blogspot.com/feeds/2562236548941708410/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30616562&amp;postID=2562236548941708410&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/2562236548941708410'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/2562236548941708410'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syahroni.blogspot.com/2007/11/hadiah-cinta-untuk-melati.html' title='Hadiah Cinta Untuk Melati'/><author><name>syahroni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09874525640202597696</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://i154.photobucket.com/albums/s273/pksejahtera/ngantuknih.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30616562.post-6461824567111290147</id><published>2007-11-16T14:31:00.000+07:00</published><updated>2007-11-16T14:42:01.639+07:00</updated><title type='text'>Bertukar Biodata Di Masa Taaruf; Perlukah ?</title><content type='html'>&lt;div class="fullpost"&gt; Bertukar Biodata Di Masa Taaruf; Perlukah ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Irwan minta bantuan ustadznya, Zainuddin, untuk mencarikan calon istri. Istri sang ustadz yang sudah mempunyai data akhwat-akhwat yang sudah siap menikah menyodorkan biodata Fitri, salah satu binaan dalam jaringannya, kepada suaminya. Pada saat yang sama Zainuddin memberikan biodata Irwan kepada istrinya. Irwan dan Fitri telah mendapatkan biodata calonnya masing-masing. Mereka membaca dan mencermati biodata itu dengan sangat serius. Mulai dari tanggal lahir, riwayat pendidikan, pengalaman organisasi, pekerjaan, penghasilan, hingga foto berwarna ukuran postcard yang dilampirkan dalam biodata itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Irwan sangat tertarik dengan biodata Fitri. Usia masih muda, dari keluarga yang sudah haji semua, sarjana dari PTN terkemuka, bekerja sebagai PNS di pemda, berpengalaman sebagai pimpinan harian di beberapa organisasi kampus, dan yang paling menarik hatinya adalah foto Fitri yang tampak sangat cantik dengan jilbab putihnya. Ia hampir tak berkedip memandang foto itu. Angan-angannya melayang jauh membayangkan Fitri menjadi istrinya. Hidup berbahagia, mempunyai empat atau lima anak yang lucu-lucu. Keluarga samara menjadi cita-cita yang rasanya sudah pasti akan ia raih. Tinggal tunggu waktu saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat yang sama dengan saat Irwan membayangkan kehidupan indahnya, Fitri merasa kesulitan menemukan hal yang menarik dari Irwan. Ia sulit mencari alasan apa yang membuatnya merasa perlu menerima Irwan. Ia cermati biodata dengan sedikit menahan nafas. Usia Irwan jauh di atasnya. Terlahir dari keluarga yang biasa-biasa saja. Bukan tokoh masyarakat, bukan pula orang kaya. Irwan lulusan sebuah akademi yang belum pernah ia dengar namanya, bekerja sebagai penjaga sebuah toko buku kecil di pinggir kota – tepatnya di sebuah gang sempit yang sama sekali tidak bisa dilalui mobil. Pengalaman organisasi ataupun kepanitiaan kegiatan hanya ada beberapa. Itu pun semuanya sebagai seksi perlengkapan. Tidak ada pula daftar prestasi dalam biodata Irwan. Sama sekali tidak ada karya tulis terkait dakwah yang telah ia hasilkan. Foto berwarna ia lihat terakhir. Fitri sempat berharap, semoga Irwan masih punya kelebihan dalam aspek fisik. Barangkali saja wajah Irwan mirip Keanu Reves atau Bradd Pit, bintang film manca yang pernah menjadi idolanya sebelum Fitri mendapatkan hidayah dan serius mengaji Islam. Namun lagi-lagi Fitri harus menelan ludah kekecewaan. Irwan sama sekali jauh dari bayangannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat satu minggu setelah acara tukar biodata, Irwan kembali menemui Ustadz Zainuddin. Waktu setelah pengajian ia manfaatkan untuk menyampaikan niatnya untuk segera mengkhitbah Fitri, akhwat yang sekarang sudah menjadi pujaan hatinya. Ustadz Zainuddin mendengarkan dengan serius ucapan Irwan yang sangat bersemangat menyampaikan citanya. “Ehem-ehem”. Ustadz Zainuddin berdehem dua kali. “Akhi. Saya telah menerima jawaban dari Fitri. Ia mengatakan bahwa ia merasa senang menerima biodata antum. Tapi ternyata ia berubah pikiran. Ia ingin melanjutkan kuliah lagi. Jadi, ia tidak bisa menerima pinangan antum sekarang”. Ustadz Zainuddin menyampaikan jawaban dari Fitri dengan hati-hati. “Aduh, bagaimana sih Ustadz? Masak sudah bertukar biodata, tapi kemudian membatalkan? Kalau belum siap, mengapa ia kemarin mau bertukar biodata?” Irwan memprotes jawaban itu. “Afwan ya akhi. Tetapi itulah jawaban Fitri. Ya antum sabar saja. Insya Allah masih banyak akhwat lain yang sudah siap menikah. Antum tinggal pilih saja yang mana”. Irwan tidak terlihat tertarik pada biodata-biodata baru yang disodorkan ustadznya. Ia hanya membaca sekilas, kalau tidak mau disebut tidak membaca sama sekali. Parahnya, perhatian Irwan justru langsung difokuskan pada foto-foto akhwat yang dilampirkan dalam setiap biodata. Semuanya tampak tidak menarik baginya. Tidak ada satupun yang secantik Fitri.&lt;br /&gt;Segera setelah ia sampai di rumahnya, ia langsung menelepon ke hp Fitri. Nomor hp tersebut ia dapatkan dalam biodata Fitri yang telah ia kembalikan. Akan tetapi Irwan sempat mencatat nomor hp itu dalam memory sim cardnya. “Tuut-tuut-tuut”. Tidak terdengar tanda-tanda hp di seberang sana diangkat. Ia coba beberapa kali. Tetap saja tidak ada respon. Akhirnya ia menulis sebuah sms&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Engkaulah bidadariku. Yang akan mengisi baitijannati harapanku. Tetapi mengapa tiba-tiba dikau batalkan niat suci itu (Irwan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa menit telah berlalu. Tidak ada jawaban sms itu. Hampir dua jam setelahnya baru Irwan mendapatkan sms balasan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Afwan akhi. Saya telah bersalah kepada antum. Saya telah berlaku dzalim. Namun saya memutuskan memenuhi harapan orang tua untuk kuliah lagi. Dan saya pikir akan sulit jika saya kuliah sekaligus mengurus rumah tangga. Semoga antum segera mendapatkan jodoh akhwat yang cantik, cerdas, sholihah, dan mabdai, serta semangat seperti yang antum harapkan. Afwan katsir. Terus berjuang, Khilafah dan Ridho-Nya menanti kita. (Fitri)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata manis dalam sms itu sama sekali tidak bisa memaniskan suasana hatinya. Segera ia tulis lagi sms balasan. Isinya tentu saja PROTES.&lt;br /&gt;Maka hari-hari setelah hari itu ada kesibukan baru antara Irwan dengan Fitri. Tiap hari Irwan mengirimkan sms kepada Fitri. Ada-ada saja akalnya untuk mengirim sms kepada Fitri. Mulai dari bertanya masalah tsaqofah, minta pendapat, sampai curhat. Awalnya Fitri masih membalas sms-sms itu. Tetapi lama-lama ia tidak tahan. Sms Irwan sudah tidak pada tempatnya lagi. Isinya melantur dan tidak ada gunanya. Bukan lagi tsaqofah yang ditanyakan, tetapi justru kiriman puisi-puisi cinta yang justru memuakkan hati Fitri.&lt;br /&gt;Kejadian lain yang membuat Fitri sebal, Irwan mengetahui password email pribadinya. Dan dengan email itu Irwan mengirim beberapa email kepada sahabat-sahabatnya. Isinya, cerita fiktif semua tentang hubungan Fitri dengan Irwan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu-mingu setelah itu pun akhirnya menyita waktu Ustadz Zainuddin dan istrinya. Mereka pusing bagaimana menyadarkan Irwan untuk tidak mengirim sms aneh kepada Fitri. Juga bagaimana menyadarkan agar Irwan tidak menyebar-nyebarkan kegagalan taarufnya dengan Fitri. Kegagalan yang akhirnya diketahui banyak orang ini memang sangat menyudutkan Fitri. Ia seakan menyandang gelar baru “pengkhianat cinta”. Bahkan yang lebih menyedihkan, muncul juga julukan baru “bekas Irwan”. Ikhwan-ikhwan lain pun menjadi berpikir 100 kali terlebih dahulu jika akan bertaaruf dengan Fitri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, Fitri yang merasa stres dengan kejadian itu curhat kepada teman-teman dekatnya yang masih satu kelompok pengajian. Tingkah laku dan perbuatan Irwan pun menjadi diketahui banyak akhwat. Walhasil, nama Irwan akhirnya masuk ke dalam black list para akhwat. Seakan menjadi sebuah kesepahaman para akhwat untuk tidak usah menerima pinangan Irwan sampai kapan pun. Lebih parah lagi, seandainya ada salah satu akhwat yang akan taaruf dengan Irwan, mereka akan mengatakan : “Hati-hati dengan Irwan. Sebaiknya cari ikhwan lain aja deh !”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah selanjutnya bak sinetron yang tidak akan habis dalam 100 episode. Dan tidak penting bagi kita menyimak keseluruhan isi kisah itu. Cukuplah menjadi pelajaran bagi kita bahwa ikhwan dan akhwat adalah manusia yang walau bagaimanapun tetap memiliki nafsu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa pelajaran dari kejadian semi fiktif dan semi nyata dalam kisah tadi :&lt;br /&gt;Pertama. Tidak perlu jatuh cinta pada calon yang disodorkan. Calon belumlah pasti akan menjadi pasangan kita kelak. Mendapatkan biodata barulah langkah awal sebelum menempuh langkah-langkah selanjutnya. Oleh karena itu, jangan terlalu dini jatuh cinta. Jatuh cintalah pada saat ia sudah menjadi suami/istri anda yang sah.&lt;br /&gt;Kedua. Mak comblang (MC) tidak perlu memberikan biodata masing-masing calon. Walaupun kedua belah pihak yaitu ikhwan dan akhwat memang didesain untuk dijodohkan, tidak berarti dalam proses awal masing-masing pihak mengetahui cukup dalam dan detail calon pasangannya. Cukuplah MC memberikan data-data umum. Apabila data-data umum tersebut menarik perhatian keduanya, barulah data yang lebih detail diberikan. Apabila ketertarikan hanya muncul dari salah satu pihak, maka proses taaruf tidak perlu dilanjutkan. Misalnya si ikhwan tertarik, tetapi si akhwat tidak. Maka ikhwan yang ditolak tetap tidak mengetahui siapa yang menolaknya. Begitu juga akhwat yang menolak, tidak mengetahui siapa ikhwan yang ditolaknya. Maka posisi keduanya tetap aman. Tidak ada label “BEKAS” pada keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga. Komunikasi ikhwan-akhwat hendaknya tetap melalui MC. Oleh karena itu, memberikan nomor hp pada awal proses taaruf belum tentu tepat. Lebih baik jika dalam proses-proses awal semua komunikasi dijembatani oleh MC. Hal ini untuk menjaga agar komunikasi mereka tetap dalam koridor syariah. Selain itu adalah untuk mendeteksi secara dini apabila ada masalah dalam proses taaruf mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat. Seseorang yang sudah ditolak tidak perlu mencari-cari alasan untuk berkomunikasi dengan “mantan” calonnya. Ketika sang calon sudah menolak, maka tidak perlu lagi berkomunikasi dengan topik “khusus”. Kalaulah ada komunikasi, itu bukan karena sempat ada proses taaruf sebelumnya, tetapi murni karena adanya kebutuhan yang sama sekali tidak terkait dengan taaruf yang pernah dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima. MC hendaknya tidak asal menjodohkan. Sebaiknya memperhatikan bagaimana kriteria dari masing-masing pihak. Jangan hanya karena salah satu pihak sudah lama menitipkan biodata, kemudian MC mendahulukannya. Stok biodata tidaklah sama dengan stok barang dalam toko buah yang menerapkan standar FIFO (First In First Out; barang yang masuk lebih dahulu harus dikeluarkan lebih dahulu). Biodata itu berisi data ikhwan dan akhwat yang ingin membangun keluarga samara dalam baiti jannati. Tentu saja tidak mungkin tatanan ideal itu dapat terwujud jika MC hanya berperan bak penjual buah yang hanya menargetkan dagangannya cepat laku. Stok lama memang perlu diperhatikan, tetapi bukan berarti harus mengorbankan stok baru yang bisa jadi hanya cocok untuk orang tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keenam. Rahasiakan aib saudara. Perbuatan ikhwan yang meneror akhwat yang menolaknya memang bukan perbuatan terpuji. Akan tetapi sebisa mungkin dijaga berita itu jangan sampai diketahui orang lain. Kalau toh ada perasaan tertekan dan membutuhkan curhat, sebisa mungkin hanya disampaikan pada orang-orang tertentu yang dipercaya mampu memberikan solusi serta mampu menjaga rahasia. Dalam curhat sebisa mungkin juga tidak usah menyebut nama. Walau bagaimanapun, seseorang yang error pada saat ini, sangat mungkin akan menjadi baik di masa mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketujuh. Hindari memasukkan nama seseorang ke dalam black list. Terkait dengan poin keenam. Seorang ikhwan yang saat ini error, besok bisa menjadi baik. Oleh karena itu jangan anda tutup peluang dia untuk mendapatkan akhwat lain. Adalah tidak adil apabila ia masuk ke dalam black list (sehingga tidak ada satu pun akhwat yang bersedia taaruf dengannya) padahal mungkin saja sekarang ia telah menjadi ikhwan yang baik. Begitu pula sebaliknya. Jangan karena seorang akhwat pernah gagal bertaaruf dengan seorang ikhwan, maka ikhwan-ikhwan lain ikut-ikutan mempermasalahkan akhwat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian beberapa usulan saya terkait tata cara dalam proses taaruf. Semoga bermanfaat. Selamat bertaaruf. Dan semoga anda segera mendapatkan jodoh. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oleh: Faridh Ma'ruf&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30616562-6461824567111290147?l=syahroni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syahroni.blogspot.com/feeds/6461824567111290147/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30616562&amp;postID=6461824567111290147&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/6461824567111290147'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/6461824567111290147'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syahroni.blogspot.com/2007/11/bertukar-biodata-di-masa-taaruf.html' title='Bertukar Biodata Di Masa Taaruf; Perlukah ?'/><author><name>syahroni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09874525640202597696</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://i154.photobucket.com/albums/s273/pksejahtera/ngantuknih.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30616562.post-5842103994837151169</id><published>2007-11-16T14:15:00.000+07:00</published><updated>2007-11-16T14:22:06.165+07:00</updated><title type='text'>Ta'aruf gagal terus..??</title><content type='html'>&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Fenomenaaa yang sering terjadi dikalangan muslim dan muslimah yang&lt;br /&gt;sedang mempersiapkan diri ke gerbang pernikahan biasanya akan melalui “fase ta’aruf”. Suatu usaha atau ikhtiar untuk mengetahui hakikat calon pasangan kita. Bagaimana sifat dan karakternya, keluarganya, gaya hidupnya, dan seabreg-abreg “rahasia si dia” yang&lt;br /&gt;ingin kita ketahui dengan detail dalam ta’aruf adalah di bolehkan dalam islam. Agar mantap sebelum terjadi pinangan/lamaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, sering terjadi dari pihak wanita kurang jeli dalam memanfaatkan moment ini, banyak diantara mereka yang melihat beberapa nilai plus dari calonnya langsung mengatakan “iya”, terburu-buru menjatuhkan pilihan. Dengan alasan bahwa lamaran bisa di batalkan atau dengan kata lain mudah dibatalkan maka ketika ditengah perjalanan sering kita temui “korban-korban” berjatuhan, baik dari pihak wanita maupun laki-lakinya. Banyak di pihak lelaki kecewa atau juga mungkin dari pihak laki-laki yang menarik pinangannya sehingga pihak wanita juga kecewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gagal dalam ta’aruf? jangan terlalu bersedih dan kecewa. Tapi juga ingat dan sadari berapa banyak pilihan yang kita inginkan dari calon pasangan kita. Ingatlah,…bahwa sosok yang kita harapkan menjadi pendamping hidup kita tidak akan bisa sempurna total!! bagi pihak wanita biasanya figure yang diharapkan adalah seperti Rasulullah&lt;br /&gt;shalallahu alaihi wassalam dan bagi pihak lelaki sudah sering penulis dengar menginginkan sosok yang cerdas seperti Aisyah atau mungkin yang berhati mulia seperti Khadijah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlalu tinggi memasang target?? Iya,..karena itulah banyak yang mengharapkan calon pasangannya mampu begini dan begitu, harus bisa ini dan itu dan sebagainya. Sehingga sebenarnya kegagalan dalam melewati fase ta’aruf adalah karena tingginya target yang di&lt;br /&gt;harapkan dari calon pasangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat dengan jujur apa yang ada dalam diri kita, mengaca dan menggali kembali kemampuan, kelebihan dan kekurangannya adalah sangat perlu di perhatikan bagi muslim dan muslimah yang berniat akan menikah. Sehingga apabila memang hatinya “khalisan lillah li wajhillah” benar-benar ingin menikah karena Allah, ikhlas karena&lt;br /&gt;Allah semata, karena mengharapkan wajah-Nya semata maka dia tidak akan memasang target atau impian yang terlalu tinggi dan muluk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena sesungguhnya Allah sendiri telah menjamin hal itu bagi hamba-hamba-Nya yang baik yang shalih akan mendapatkan pasangan yang shalihah juga sebagaimana firman-Nya: “Wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik pula.” (An-Nuur: 26)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berfikir positif dan selalu berhusnudzan (berbaik sangka/ positive thinking- pen) kepada Allah harus selalu ada dalam pikiran kita ketika menghadapi kegagalan dalam ta’aruf. Boleh jadi ketika kita sangat menginginkan calon pasangan kita itu ternyata ia adalah bukan yang terbaik di sisi Allah Azza wa jalla, dan kemungkinan lain Allah akan menggantikannya dengan calon lain yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cobalah renungkan pula firman-Nya berikut ini : “boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahuinya.” (Al-Baqarah :216)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetaplah berdoa dan berusaha sesuai dengan kemampuan kita dan janganlah terlalu memasang target yang terlalu tinggi sebagaimana penulis ungkapkan diatas agar kita tidak selalu “gagal” dalam ta’aruf .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat saudariku muslimah yang masih “gagal” dalam ta’aruf perbanyaklah doa kepada-Nya. Mintalah yang terbaik bagi kehidupanmu di dunia dan akhirat nanti. Janganlah karena omongan kanan-kiri, karena usiamu yang terus bertambah membuat engkau tak sabar. Ingatlah bahwa pernikahan bukanlah hanya untuk satu hari atau dua hari dan berapa banyak tanggung jawab yang akan engkau emban setelah engkau menikah tentu akan membuatmu berfikir dengan akalmu bukan dengan perasaanmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan menyerah,..wahai saudariku !! Usaha ta’aruf lagi sampai Allah pertemukan engkau dengan calon pasanganmu. Sesungguhnya IA tidak akan menyia-nyiakan amal usahamu dan juga doamu. Wallahu `alam bish-shawwab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber: baitijannati&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30616562-5842103994837151169?l=syahroni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syahroni.blogspot.com/feeds/5842103994837151169/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30616562&amp;postID=5842103994837151169&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/5842103994837151169'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/5842103994837151169'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syahroni.blogspot.com/2007/11/taaruf-gagal-terus.html' title='Ta&apos;aruf gagal terus..??'/><author><name>syahroni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09874525640202597696</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://i154.photobucket.com/albums/s273/pksejahtera/ngantuknih.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30616562.post-8588110642099481030</id><published>2007-11-13T15:27:00.000+07:00</published><updated>2007-11-13T15:48:35.719+07:00</updated><title type='text'>Perkenankan aku mencintai- MU Semampuku</title><content type='html'>&lt;div class="fullpost" align="center"&gt;&lt;span style="color:#999900;"&gt;Perkenankan aku mencintai- MU Semampuku&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="center"&gt;&lt;span style="color:#999900;"&gt;Tuhanku,&lt;br /&gt;Aku masih ingat, saat pertama dulu aku beLajar mencintaiMu&lt;br /&gt;Lembar demi lembar kitab ku pelajari&lt;br /&gt;Untai demi untai kata para ustadz kuresapi&lt;br /&gt;Tentang cinta para nabi&lt;br /&gt;Tentang kasih para sahabat&lt;br /&gt;Tentang mahabbah para sufi&lt;br /&gt;Tentang kerinduan para syuhada&lt;br /&gt;Lalu kutanam di jiwa dalam-dalam&lt;br /&gt;Kutumbuhkan dalam mimpi-mimpi dan idealisme yang mengawang di awan&lt;br /&gt;Tapi Rabbii,&lt;br /&gt;Berbilang detik, menit, jam, hari, pekan, bulan dan kemudian tahun berlalu&lt;br /&gt;Aku berusaha mencintaiMu dengan cinta yang paling utama, tapi…&lt;br /&gt;Aku masih juga tak menemukan cinta tertinggi untukMu&lt;br /&gt;Allahu Rahiim, Ilaahi Rabii&lt;br /&gt;Perkenankanlah aku mencintaiMu, Semampuku&lt;br /&gt;Allahu Rahmaan, Ilaahi Rabii&lt;br /&gt;Perkenankanlah aku mencintaiMu Sebisaku&lt;br /&gt;Dengan segala kelemahanku Ilaahi,&lt;br /&gt;Aku tak sanggup mencintaiMu&lt;br /&gt;Dengan kesabaran menanggung derita&lt;br /&gt;Umpama Nabi Ayyub, Musa, Isa hingga Al musthafa&lt;br /&gt;Karena itu izinkan aku mencintaiMu&lt;br /&gt;Melalui keluh kesah pengaduanku padaMu&lt;br /&gt;Atas derita batin dan jasadku&lt;br /&gt;Atas sakit dan ketakutanku&lt;br /&gt;Rabii,&lt;br /&gt;Aku tak sanggup mencintaiMu seperti Abu Bakar, yang menyedekahkan seluruh hartanya Atau layaknya Utsman yang menyerahkan 1000 ekor kuda untuk syiarkan dienMu. Izinkan aku mencintaiMu, melalui seratus-dua ratus perak yang terulur pada tangan-tangan kecil di perempatan jalan, pada wanita-wanita tua yang menadahkan tangan di pojok-pojok jembatan. Pada makanan-makanan sederhana yang terkirim ke handai taulan&lt;br /&gt;Ilaahi, aku tak sanggup mencintaiMu dengan khusyuknya shalat salah seorang shabat NabiMu hingga tiada terasa anak panah musuh terhujam di kakinya. Karena itu Ya Allah, perkenankanlah aku tertatih menggapai cintaMu dalam shalat yang coba kudirikan terbata-bata meski ingatan kadang melayang ke berbagai permasalahan dunia&lt;br /&gt;Ya rabbii, aku tak dapat beribadah ala para sufi dan rahib, yang membaktikan seluruh malamnya untuk bercinta denganMu. Maka izinkanlah aku untuk mencintaimu dalam satu-dua rekaat lailku. Dalam satu sua sunnah nafilahku. Dalam desah nafas kepasrahan tidurku&lt;br /&gt;Yaa, Maha Rahmaan,&lt;br /&gt;Aku tak sanggup mencintaiMu bagai para al hafidz dan hafidzah, yang menuntaskan kalamMu dalam satu putaran malam. Perkenankanlah aku mencintaiMu, melalui selembar dua lembar tilawah harianku. Lewat lantunan seayat dua ayat hafalanku&lt;br /&gt;Yaa, Rahiim&lt;br /&gt;Aku tak sanggup mencintaiMu semisal Sumayyah, yang mempersembahkan jiwa demi tegaknya DienMu&lt;br /&gt;Seandainya para syuhada, yang menjual dirinya dalam jihadnya bagiMu. Maka perkenankanlah aku mencintaiMu dengan mempersembahkan sedikit bakti dan pengorbananku untuk dakwahMu. Maka izinkanlah aku mencintaiMu dengan sedikit pengajaran bagi tumbuhnya generasi baru&lt;br /&gt;Allahu Kariim, aku tak sanggup mencintaiMu di atas segalanya, bagai Ibrahim yang rela tinggalkan putra dan zaujahnya,, Maka izinkanlah aku mencintaiMu di dalam segalanya. Izinkanlah aku mencintaiMu dengan mencintai kelaurgaku, dengan mencintai sahabat-sahabatku, dengan mencintai manusia dan alam semesta&lt;br /&gt;Allaahu Rahmaanurrahiim, Ilaahi Rabbii&lt;br /&gt;Perkenankanlah aku mencintaiMu semampuku&lt;br /&gt;Agar cinta itu mengalun dalam jiwa&lt;br /&gt;Agar cinta ini mengalir di sepanjang nadiku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#3333ff;"&gt;&lt;em&gt;kiriman: inge sembiring (kafe muslimah)&lt;/em&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30616562-8588110642099481030?l=syahroni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syahroni.blogspot.com/feeds/8588110642099481030/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30616562&amp;postID=8588110642099481030&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/8588110642099481030'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/8588110642099481030'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syahroni.blogspot.com/2007/11/perkenankan-aku-mencintai-mu-semampuku.html' title='Perkenankan aku mencintai- MU Semampuku'/><author><name>syahroni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09874525640202597696</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://i154.photobucket.com/albums/s273/pksejahtera/ngantuknih.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30616562.post-1190959219070900524</id><published>2007-10-09T07:03:00.000+07:00</published><updated>2007-10-09T07:13:36.301+07:00</updated><title type='text'>Cintaku Yang Hilang Kini Tumbuh Lagi</title><content type='html'>&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#6600cc;"&gt;Matahari mulai tergelincir kearah barat, sedikit ada warna merah di sana. Subhanallah, indahnya sore ini. Alhamdulillah, selesai juga acara masak-memasak untuk berbuka puasa nanti. Pepes udang hasil tangkapan suamiku tadi siang sudah matang, nasi sudah ku angkat dari tungku. Alhamdulillah, Engkau berikan kepadaku suami yang punya kekurangan tetapi banyak kelebihan dan kebaikkannya. Walaupun ekonomi kami di bawah standar, setidaknya kami masih bisa makan dan juga menyekolahkan kedua anakku yang sudah besar, ya…walaupun harus meminta keringanan biaya karena kami tidak mampu membayar penuh.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#6600cc;"&gt;Semua masakkan sudah ku siapkan di meja makan, tinggal membeli es di warung sebelah. Sambil menunggu waktu berbuka, aku duduk2 di belakang rumah mengawasi keempat anakku yang sedang bermain. Mereka gemuk dan lucu2. Mereka berkejar2an, sambil sesekali tertawa, bahkan bahkan kadang menangis karena dijahili kakaknya. melihat hal itu, aku terkenang masa kecilku banyak terkekang dengan aturan2 orang tua, jarang kami bisa jajan, kalaupun itu bisa karena belas kasih orang lain. Bapakku lebih suka beli rokok dari pada untuk jajan anak2nya. Karena kami sering dimarahi, bahkan di pukul, ada juga sedikit dendam di hati ini pada ayahku. Terbesit juga penyesalan itu, kenapa kami lahir jadi anaknya? sedari kecil kami jauh dari agama, karena orang tuaku tidak bisa mengajarkannya kepada kami. Bagaimana mau mengajari jika mereka sendiri tak tahu agama? yang mereka yakini bahwa Allah ada pada mereka. Mereka adalah penganut kejawen. Aku di sekolahkan di sekolah Katholik waktu itu, itu pun atas biaya saudara ibuku.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#6600cc;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#6600cc;"&gt;&lt;em&gt;”Umi….Umi….&lt;/em&gt;’suara anakku yang tertua membuyarkan kenangan itu &lt;em&gt;”jadi beli es ga Um&lt;/em&gt;?”Tanya anakku. Aku pun mengngguk mengiyakan sambil ku rogoh saku, kuberikan uang seribu untuknya .”&lt;em&gt;Beli di tempat pakde aja ya&lt;/em&gt;!’kataku…..Anak terbesarku sudah kelas 4 SD, sudah bisa disuruh ini itu. Berbahagialah anakku, engkau telah mengenal agama sejak kecil…tak seperti ibu mu ini.&lt;br /&gt;Aku mendapatkan hidayah waktu bekerja di sebuah pabrik ,dari seorang teman yang ku kenal waktu itu .Aku mulai berjilbab dan mulai ngaji hingga seiring berjalan nya waktu ada ikhwan yang mau menikahiku. Proses pernikahan kami banyak masalah. soal calon suamiku hingga acara pernikahan yang syar’I tidak disetujui orang tuaku. Namun akhirnya berhasil juga kami menikah, meskipun mungkin orang tuaku menyimpan kekecewaan. Setelah kelahiran anakku yang pertama dan hubungan dengan ayahku membaik, aku mulai berusaha menasehatinya agar mau sholat. Sullit memang, karena pemahaman &lt;em&gt;wihdatul wujud&lt;/em&gt; itu seakan sudah mendarah daging dihatinya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#6600cc;"&gt;Hampir aku putus asa, sudah sejak awal aku di cap sebagai anak yang tak berbakti. Perkataanku tak pernah di dengar. Ayahku selalu bilang orang hidup yang penting budi pekerti, hormat pada orang tua dan sebagainya….”Ayahku klo bicara tidak bisa di sela. Beliau memang pandai bicara. Bagaimanapun di jelaskan, kalau hidayah belum sampai,ya…. Begitulah. Aku harus sabar,apalagi sejak menikah aku tak lagi bisa membantu soal materi, jadi tak ada uang omongan tak di dengar…. Itu mungkin persoalannya. Aku hanya bisa mendoakan keduanya, semoga mereka mendapat hidayah Allah. Alhamdulillah adikku mau mengaji dan berjilbab, sekarang aku punya teman untuk mendakwahi orang tuaku. Walaupun belum lima waktu ia mengerjakan sholatnya.adikku sudah mulai menyukai jilbab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari adikku mengutarakan niatnya untuk berhenti bekerja, karena mau ke pondok. Agak marah dan kecewa juga ayahku, karena dia adikku satu2nya yang selama ini membantu ekonomi keluargaku, akhirnya setelah di jelaskan berulang kali mereka mengijinkan. Setelah keberangkatan adikku ke pondok ayahku jadi sering marah dan uring2an. Keluargaku memang tergolong ekonomi lemah. Hari ini sudah makan sudah syukur karena bapakku lebih suka membeli rokok dan pasang togel dari pada makan, Duhai bapakku bilakah engkau berubah…?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2007 lahirlah anakku yang ke 5, keadaan keluargaku mulai ada perubahan. Alhamdulillah ayah ku tidak main judi lagi. ibuku sudah mulai tanya2 tentang sholat. Alhamdulillah hidayah itu datang pada ibuku. Beliau mulai mengerjakan sholat walaupun belum lima waktu. Beliau juga mulai membujuk ayah untuk mengerjakan sholat, tapi jawabannya malah ngawur. Dia bilang dia juga sholat tapi sholat nya lain, tak sama dengan kami……Semoga kami di beri kesabaran menghadapinya……Kami hampir putus asa, hingga suatu hari adikku datang mengabarkan kalau ayah mau sholat, beliau minta di ajari cara2 sholat. Alhamdulillah akhirnya hidayah Allah datang juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya aku tak sabar menunggu datangnya esok. Ingin rasanya aku pulang dan ku peluk ayahku. Allahu akbar….karena limpahan rahmatMu ya Allah, orang tua yang selama ini hatinya sekeras batu akhirnya luluh juga. Wahai ayahku….cintaku padamu yang dulu sempat luntur, kini tumbuh kembali. Aku mencintaimu karena Allah.semoga perubahan mu untuk selamanya hingga akhir hayatmu. Esok aku datanng kerumah, benar juga ayahku mau sholat. Ia minta diajari bacaan2 sholat. Namanya juga sudah tua, lidahnya kaku untuk mengucapkan ayat2 Allah. Tapi Alhamdulillah beliau mau bersabar.satu persatu ayat2 di tirukan. Rasanya aku tidak lagi menyesali jadi anakmu, bapak. Rasa sakit hati karena perlakuanmu kepada ibu dan juga saudara2 ku kini hilang. Kekecewaan yang dalam sudah terobati sudah. kini ada kebahagiaan dan kebanggaan menjadi seorang anakmu. Terima kasih Ya Allah Engkau masih berkenan memberikan hidayah untuk orang tuaku yang banyak berbuat dosa dan maksiat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kiriman: Ulfa istiqamah&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30616562-1190959219070900524?l=syahroni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syahroni.blogspot.com/feeds/1190959219070900524/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30616562&amp;postID=1190959219070900524&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/1190959219070900524'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/1190959219070900524'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syahroni.blogspot.com/2007/10/cintaku-yang-hilang-kini-tumbuh-lagi.html' title='Cintaku Yang Hilang Kini Tumbuh Lagi'/><author><name>syahroni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09874525640202597696</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://i154.photobucket.com/albums/s273/pksejahtera/ngantuknih.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30616562.post-5504025092025987268</id><published>2007-10-02T11:28:00.000+07:00</published><updated>2007-10-03T07:19:21.282+07:00</updated><title type='text'>Surat Cinta Terbuka</title><content type='html'>&lt;div class="fullpost" align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;strong&gt;Sahabat,&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah Sang kekasih sejati senantiasa memayungimu dengan rahmat-Nya. Sesungguhnya limpahan cinta-Nya kepada segenap makhluk begitu melimpah…tiada batas. Oleh karena itu, letakkan jemari pada jantungmu, rasakan degubnya setiap waktu. Adakah asma-Nya berdegub bersama aliran darahmu? Ia telah melukis kuasa-Nya pada wajahmu sehingga tercipta sebaik-baiknya rupa. Letakkan jemari pada hatimu dan akalmu, rasakan pelita ilmu dan hikmah yang menyala setiap waktu sehingga tercipta dunia yang indah tiada tara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapakah Ia Sang Pencipta? Yang telah &lt;/span&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;meletakkan jantung hati dalam rongganya dan meniupkan ruh-Nya.&lt;br /&gt;Siapakah Ia Sang Pencipta? Yang telah meletakkan hikmah dan ilmu dalam wadahnya dan meniupkan cahaya-Nya.&lt;br /&gt;Ia sungguh tak terbandingkan dengan seseorang yang kau letakkan padanya cinta sematimu.&lt;br /&gt;Ia sungguh tak tertandingi dengan seseorang yang telah merampas rindumu setiap waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resapilah salah satu nasyid Raihan ini,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hatiku merayu rindu..&lt;br /&gt;Kasihku pada-Mu syahdu..&lt;br /&gt;Munajat hamba pada-Mu&lt;br /&gt;Mengharap kasih saying-Mu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah yang mengalir dalam nadimu saat menyandingkannya dengan-Nya? Degub nafsu dan keinginan meluap untuk memiliki, untuk menguasai, sepenuh-penuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabat,&lt;br /&gt;Cinta pada selain-Nya adalah semu belaka. Seperti fatamorgana. Benarkah ia sepenuhnya mencintaimu? Menerimamu apa adanya? Mendambamu walau engkau mengecewakannya?&lt;br /&gt;Benarkah cintanya setinggi gunung Fujiyama sehingga untuk mendapatkan balas kasihmu, lautan berapi rela ia sebrangi? Benarkah janji-janjinya, bahwa ia ingin tetap berada di sisimu apapun yang akan terjadi, meskipun kerentaan telah mendatangimu, meskipun topaan badai menghadangmu walau kan senantiasa menyakitinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu tidak. Sebab ia sebagaimana dirimu, hanya menginginkan jasad dan duniamu belaka. Ia hanya menginginkan sepenggal kesemuan yang terpancar indah dari ragamu. Percayalah semua itu hanya angan belaka!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakah cinta sejati ada padamu dan dia tanpa karunia dari-Nya? Tentu tidak. Sebab cinta sejati adalah cinta dalam rangka ketaatan kepada-Nya. Cinta sejati adalah menyatukan rasa dalam syari’atnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percayakah engkau bahwa Ia selalu menatap kita penuh cinta walau kita tak sedetikpun bersujud kepada-Nya.&lt;br /&gt;Sesungguhnya kegembiraan-Nya menyambut seorang hamba yang bertaubat, lebih marak rasa yang terpancar dari seorang pengembara yang menemukan kembali keledai dan perbekalannya, sementara ia dalam kondisi letih, lapar dan mengantuk. Selangkah kita mendekat pada-Nya, seribu langkah Ia mendekat pada kita. Subhanallah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabat,&lt;br /&gt;Inilah janji-Nya pada kita makhluknya:&lt;br /&gt;“Wahai anak adam, kenapa engkau tidak memperhatikan Aku? Tahukah engkau bahwa engkau berada dalam pengawasan mata-Ku dalam kesepianmu, dan kala nafsumu bergejolak. Ingatlah Aku dan mintalah kepada-Ku agar Aku cabut nafsu itu dari hatimu dan Aku pelihara engkau dari berbuat maksiat kepada-Ku dan Aku jadikan engkau benci kepada perbuatan itu. Akan aku mudahkan engkau mentaati-Ku. Akan Aku jadikan engkau cinta kepada ketaatan itu serta Aku jadikan dia indah dalam pandanganmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai anak adam, Aku hanya menyuruhmu agar supaya engkau meminta pertolongan kepada-Ku dan berpegang erat kepada tali agamu-Ku. Dan jika tidak begitu Aku akan menjauhkan diri darimu. Aku sebenarnya tidak memerlukan engkau dan engkaulah yang memerlukan Aku. Aku telah menciptakan dunia ini dan Aku memudahkan di untuk memenuhi keinginanmu, tidak lain supaya engkau bersiap-siap untuk menemui-Ku dan engkau membawa perbekalan darinya agar supaya engkau jangan berpaling dari-Ku dan kekal di atas bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketahuilah olehmu, bahwa negeri akhirat itu adalah lebih baik bagimu daripada dunia ini. Oleh sebab itu, janganlah engkau pilih yang lain dari yang telah Aku pilihkan untukmu, dan janganlah engkau benci menemui Aku, karena siapa saja yang benci menemui-Ku, Akupu akan benci menemuinya dan siapa saja yang rindu bertemu dengan-Ku, Aku pun rindu menemuinya.” (Hadits Qudsi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabat,&lt;br /&gt;Betapa indah janji cinta-Nya. Jauh sekali dari cinta syahwat yang kerap kali kita rasakan ketika melihat seorang berwajah indah di dekat kita. Jauh sekali dari cinta ragawi yang kadangkali lebih banyak menyakiti hati, jiwa dan raga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usia kita terbatas, Sahabat&lt;br /&gt;Alangkah merugi jika kita memberikan cinta kita seluruhnya pada seseorang yang tak semestinya.&lt;br /&gt;Cinta manusia yang kamu cinta secara sederhana.&lt;br /&gt;Cinta bunga-bunga yang menawan secara sederhana. Sederhana..&lt;br /&gt;Cinta apapun secara sederhana&lt;br /&gt;Karena masih ada cinta yang teramat istimewa, yakni cinta pada Sang Pemberi CINTA, Allah Subhanahu Wa Ta’ala.&lt;br /&gt;Teramat rugi jika kita mengabaikannya…&lt;br /&gt;Semoga kita menjadi pecinta sejati yang cintanya penuh kepada pemberi cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;oleh: Izzatul Jannah&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30616562-5504025092025987268?l=syahroni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syahroni.blogspot.com/feeds/5504025092025987268/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30616562&amp;postID=5504025092025987268&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/5504025092025987268'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/5504025092025987268'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syahroni.blogspot.com/2007/10/surat-cinta-terbuka.html' title='&lt;strong&gt;Surat Cinta Terbuka&lt;/strong&gt;'/><author><name>syahroni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09874525640202597696</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://i154.photobucket.com/albums/s273/pksejahtera/ngantuknih.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30616562.post-1934241840336655757</id><published>2007-09-19T08:13:00.000+07:00</published><updated>2007-09-19T09:00:28.443+07:00</updated><title type='text'>Langgam Dari Tanaku</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Langgam Dari Tanaku&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Langgam satu: Curahan Hati&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dalam ingatan ombak laut ganas masalembo dan kecintaan pada tanah leluhur, aku mencoba masuk dalam bingkai alam pikiranmu. Kurenungi titik-titik keresahan dan berharap sebelumnya niatku tak lebur. Awalnya kukira ini hanya usikan dari perjumpaan kita yang singkat. Suara hatimu ternyata terekam dan mengisi misel-misel terkecil di otakku. Memberiku suatu pengalaman batin yang mungkin luput dari jangkauan ilmu pengetahuan positif.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku, maaf jika curahan hati ini mengusik pahit di hatimu. Aku hanya berpikir kita sedarah. Sekembalinya kau ke tanah Jawa, kurenungi semua kata-katamu, tentang Rambu Sollo atau Aluk Tedolo yang selama ini kubanggakan bahkan kujual pada turis-turis yang terpana kagum. Namun, semua itu sirna. Dan entah darimana aku berharap takkan lagi kutemukan ratapan kematian yang dibuat-buat, namun seperti yang kau ceritakan kematian adalah perjumpaan terindah untuk menuju perjumpaan menemui sang Khalik. Engkau masih ingat ayat-ayat sucimu yang kau perdengarkan padaku kala teriakan kegembiraan mengantar sang mati ke gua? &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;“Allah yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;”. Ayat-ayat itu mengisi gendang telingaku. Ayouuu...aihik, teriakan meoli yang dikumandangkan penduduk itu kini ibarat sepi walaupun mereka pasukan seribu orang pun. “Maka, mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan, padahal kamu ketika itu melihat, dan kami lebih dekat kepadanya daripada kamu, ...”&lt;br /&gt;Itulah awal aku mengingat makna. Ternyata hidup adalah awal dari suatu perjalanan panjang. Dan kala bayangmu hilang, ingatan itu menjadi pemberat rasa. Kini sejalan waktu, aku mengumpulkan semua ingatanku untuk memenuhi tujuan akhir pembicaraan kita. Aku mencoba bicara lewat langgam ini, dan itu ternyata tidak sulit. &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku, ingatkah saat kau melantunkan kecintaanmu di antara kesibukan kerabat bergembira di atas kematian nenek kita? “Kemudian sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati. Kemudian, sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di hari kiamat...”. Aku terbahak mendengarnya, namun hatiku tertegun. Apakah ini syair? Daya khayalku tak mampu menembusnya. Kutinggalkan engkau yang masih mengisi pijakan kaki-kaki penduduk desa pengusung mayat. Peluh apa ini? Dan untuk siapa? Bisakah kegembiraan mereka mengantarkan jenazah ke haribaan pemiliknya? Itulah yang berulang kali kau gumamkan. Aku muak sekali. Kau telah berani hujat adat tanamu sendiri. &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sejak awal aku menyadari perbedaanmu dengan saudara kita yang lain. Bukan saja karena kau jauh dibesarkan di tanah jawa, tapi kurasakan pemikiran dan kata-katamu senantiasa penuh makna. Dan kemudian aku takut kebenaran kata-katamu. “Nenek kita sudah mati, tapi kita dipaksa menganggapnya masih hidup. Apakah ada orang hidup disuntik formalin sebanyak dua botol kecap? Itu pembedahan pertama yang diajarkan turun-temurun”, ujarmu menguraikan analisa. Aku diam saja dan menganggap kau hanya mengigau. Engaku pun menyingkir dan duduk di pematang sawah. Kepergianmu semakin membuatku penasaran mengetahui kata-katamu lebih lanjut. Tapi tindakanku malah berlawanan. Aku menyiapkan penganan kesukaan nenek. Pembodohan kedua yang diajarkan. Siapa yang sesungguhnya mati? Siapa yang berakal? Pertanyaan-pertanyaan itu terus mengejarku. &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sejak engkau datang, hari-hariku tersiksa. Ini akibat dari dosa melanggar aturan Aluk Tedalo, ujar hatiku berkali-kali meyakinkan. Aku pun minum tuak sepuasnya, mengumpulkan kekuatan menyingkirkanmu. Genaplah sudah nafsu panjang kesombonganku. Aku bertolak pinggang, tetapi lagi-lagi hanya kedalaman suaramu dan luas mata hati yang kian membayangi pikiran.&lt;br /&gt;“Aku kasihan pada tana ini. Rumput-rumput disini tumbuh bersama peradaban tanpa dzikir. Dan aku lebih menyayangkan karena aku tak dapat menerjemahkan ketundukan alam dan tasbih-tasbih penghuninya, agar mereka bisa belajar memahami hakikat dirinya”, gumam engkau berkali-kali. Miris. Teruslah, teruskan pembicaraanmu. Aku rindu sudut-sudut hatimu yang membasah, teriakku memohon. Engkau hanya menggeleng berkali-kali. Katamu, diriku tak bisa mengerti tasbih ini jik adalam keadaan tak sadar. Persetan! Teriakku putus asa. Aku pun menyesal menemuimu, dan kutinggalkan waktu agar pikiranku kembali jernih. Melupakan setiap ucapanmu, mengisi kidung hatiku yang gundah. &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Keesokan hari, matahari menyembul menghias hariku. Aku bersiap dengan pesta kematian. Teriakan kegaduhan, dan kerbau-kerbau yang siap berlaga menghentikan hati untuk berpindah. Inilah kegembiraan seluruh kampung, menyambut pesta kematian yang mengorbankan seluruh kekayaan. Kain hitam yang kupakai tanda berkabung melilit badan. Pikiranku terpusat melantunkan mabadong di depan jenazah nenek yang disimpan di Tongkonan kecil. Kulirik tau-tau disebelahku. Tiba-tiba badanku menggigil. Patung itu melotot mengerikan. Nafasku sesak. &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;“Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;”, suaramu terdengar lagi. Di tanganku, di hati, di telinga penuh. Aku menggeliat resah. Mataku mencari sosok roh nenek moyang yang selama ini kuyakini selalu berada dekat dan melindungi keturunannya, malahan kutemui pendeta. Katanya aku kerasukan roh nenekku yang mati. Agama apa yang tidak punya pendirian. Mereka mengajarkan puji-pujian dan juga membenarkan ketidakteraturan Aluk Telodo. Dimanakah ajaran syurga itu? Di gereja atau di makam-makam batu tempat bersemayam segala roh leluhur? &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertsbih kepada Allah. Dan tidak ada satupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka”. Hatiku mulai bersatu. Kurasakan kebenaranmu. Aku rasakan alunan keindahan dzikir makhluk-Nya Batu cadas gunung yang melingkupi tana ini, pohon-pohon yang meneduhkannya, air sungai maiting, ikan yang berenang, sampai hembusan angin melantunkan langgam yang kurindui. Berkah bagi hidupku. &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku, dzikir mereka sewangi kebenaran yang dibawa. Akhirnya kutemukan syair hatimu. Di sana panggilan yang tak mampu kutolak. Aku semakin haus mencari kebenaran kata-katamu. Terima kasih, tak mungkin kulupa seminggu yang bersejarah dalam hidupku. &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Langgam dua: Menjalin Lautan Cinta&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) kami di segenap ufuk pada diri mereka sendiri sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu”.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku, aku telah menemukan jalanku, agama tauhid sejati. Kutemukan kembali kemerdekaan nurani yang selama ini tak kusadari terpenjara dalam adat kebodohan. Aku bangga dengan darah biru yang mengalir pada aortaku, namun aku lupa siapa yang menciptakannya? Ah, begitu naif. Otakku dan penghuni tana ini telah tercuci oleh sistem yang menguasainya. Sistem ajaran gembala yang harus diterima sejak pendidikan dasar (missi-nissi berhasil mengkristenkan Tana Toraja ini melalui pendidikan), walaupun mereka tak pernah bisa meredam tanya yang diwariskan Rabb. &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku, kebenaran itu ternyata harus diperjuangkan. Tak ada kata mati untuk beramal shaleh agar kelak aku bisa merengkuh cinta Kekasihku. Kumulai dari alif. Akupun menghindari tuak. Dan setelah beralih ke ba’, babi-babi kita telah kuganti dengan jadi ayam dan kerbau. Sabung ayam, kebiasaanku sehari-hari, judi, dan banyak lain yang harus kuhilangkan dari catatan kehidupanku kini, agar kelak doaku sampa ke langit. Aku terus menapak, seperti yang kau ceritakan kerikil-kerikil dan duri lainnya menambah jelas kisah pencarianku mencari cinta. Aku masih sulit merangkai alif, ba, dan huruf lainnya dalam tadarusku, seperti aku membedakan halal dan haram, membedakan nasi jagung dan nasi babi. &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tatkala syair-syair palsu bertiup di telinga, aku kembali merenungi ayat-ayat Tuhan, merenungi gunung dan lembah yang selama ini menyelimuti. Kupandangi kampung dengan sungainya yang mengalir panjang membasahi setiap jengkal tanah yang membuat negeri ini hidup. Ataupun aku ke Nenggala menyaksikan kelelawar pergi ke arah barat ketika matahari tenggelam di ujung batas horison langit. Subhanallah, aku kembali menemukan jejak Khalik. &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;“Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Rabb mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang yang tuli dan buta”. “...dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tentram”.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Wahai saudaraku, ajari terus aku mengenal Tuhanku, agama dan Rasul, hari kiamat, takdir-Nya, surga dan neraka-Nya. Allah, jangan Engkau kembalikan aku ke dalam kesesatan setelah Engkau beri hidayah. Terimalah amalku yang setitik di antara lautan Rahman-Rahim-Mu. Tiada keinginan hamba selain bersatu dalam cinta-Mu, bersujud, ruku, menangis hanya atas nama-Mu. &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Langgan tiga: Menebar Rahmat&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Setiap kutebangun, terpancang azamku agar hari ini lebih baik dari hari kemarin. Jika telah kunikmati iman ini, kurindukan fajar yang mengawali sekaligus membuka kesempatan padaku untuk beribadah. Tundukku hanya pada Yang Satu: “(yaitu) Rabb yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang memimpinku. Dan Rabbku yang Dia memberi makan dan minum kepadaku. Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkanku. Dan yang mematikanku, kemudian akan menghidupkanku kembali”. &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku, aku mulai membagi kenikmatan yang kurasakan. Pada tongkonan dan penghuninya. Bukankah aku pernah memetik hikmah kata-katamu di tana ini. Aku ingin berbagi seperti engkau, menumbuhkan aku-aku lagi. Penunggu zaman, penghias langit agar mencurahkan berkahnya. Tekadku, tana ini harus subur dengan dzikir. Tiada mafasa kerbau yang berakhir di ujung pedang, namun ujung hayat mereka hanyalah ketundukan pada Rabb-Nya. &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Aku terus mencoba. Di sini tempatku mengisi hayat. Menanti masing-masing jarak tumbuhnya generasi. Tidak hanya satu tetapi beribu-ribu “aku”. Mulut mereka wangi kesturi, senantiasa mengumandangkan dzikir dan ketaatan pada yang Esa. Nanti, Tana Toraja ini akan melatih cinta. Mereka besar di sini, di tana toraja, tana panduan keperkasaan alam dalam darah turun temurun. Dan lembah-lembah di sini, memantulkan setiap dzikir yang mereka kumandangkan. Tana ini dihiasi cahaya Allah, Al-Islam. Langit membagi teduhnya, dan bintang-bintang turut melantunkan Al-Qur’an. Doakan setiap langkahku diridhoi-Nya. Semoga dakwah kita sampai.&lt;br /&gt;***** &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kertas kuning itu masih kupegang. Isinya barangkali tak sekedar langgam seseorang, namun kurasakan air mata harapan seorang hamba yang mengalir dari nurani dan hasrat mengubah tanah leluhurku menjadi lebih Islami. Tak terasa aku terhanyut di dalamnya. Seolah-olah aku sendirilah yang menulisnya. Selama ini, aku hanya menikmati keindahan Tana Toraja. Aku tidak pernah memikirkan penciptanya. Kunikmati pesta Rambu Sollo seperti hiburan lainnya. Kegembiraanku menikmati pesta kematian ini, padahal aku seorang muslim. Sesekali kunikmati tuak sebelum berangkat melakukan ma’pallau, mengarak mayat melewati tebing-tebing yang hampir tegak lurus. Aku benar-benar terlarut di dalmnya. Astaghfirullah. &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kupandangi erong yang diturunkan ke gua. Bagaimana rasanya mayat di dalamnya? Kasihan, mayat itu telah hampir satu tahun terbujur menunggu sanak keluarganya mengumpulkan harta hingga pesta ini berlangsung bak pesta pernikahan keluarga raja. Peluhku mengalir menganak sungai. Aku pun merasakan kesunyian di dalam keramaian. Menhir-menhir, darah tedong yang dikorbankan, tebing batu, tau-tau menjadi saksi bisu pesta mubazir ini.&lt;br /&gt;“Zul, kemari, coba kameramu dari sudut sebelah sini”, teriak Rante. Aku hanya membalasnya lesu. Hilang sudah semangat berburuku mengabadikan pesta ini. Burung elang melintas di langit.&lt;br /&gt;“Kenapa kau?” Rante mendekat. Kusodorkan kertas kuning yang tercecer di antara tau-tau di gua bawah. Mata Rante sejenak tercengang, namun akhirnya kertas itu dibacanya.&lt;br /&gt;“Dimana kau temukan?” Tanganku menunjuk gua terbawah. Helaan nafas Rante terdengar kemudian. “Sudah, lupakanlah. Ini hanya tulisan biasa. Ayo, kita mendekat. Nampaknya peti sudah tiba di gua.” Aku mengikuti langkahnya, tapi pikiranku tidak bisa dialihkan. Tiba-tiba otakku menyuruhku meninggalkan semuanya. Teriakan Rante tertiup angin. Kakiku terus melangkah. Tak ada gunanya meneruskan perburuan. Tuhan, maafkan segala khilafku. Biarlah langkahku terlambat daripada tak kutumbuhkan “aku-aku” yang mencari kematian atas nama Rabb-nya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;penjelasan istilah:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;Tau-tau: patung yang dibuat mirip almarhum&lt;br /&gt;Rambu Sollo: pesta kematian di Tana Toraja&lt;br /&gt;Aluk Tedollo: sistem adat istiadat di Tana Toraja&lt;br /&gt;Tongkonan: rumah adat Toraja&lt;br /&gt;Tedong: kerbau&lt;br /&gt;Meoli: teriakan khas&lt;br /&gt;Mabadong: nyanyi pujian yang lirih&lt;br /&gt;Ma’palla: mengarak mayat&lt;br /&gt;Erong: peti mayat&lt;br /&gt;Ma’pasang tedong: upacara adu kerbau&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc6600;"&gt;Sumber: cerpenislami&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30616562-1934241840336655757?l=syahroni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syahroni.blogspot.com/feeds/1934241840336655757/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30616562&amp;postID=1934241840336655757&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/1934241840336655757'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/1934241840336655757'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syahroni.blogspot.com/2007/09/langgam-dari-tanaku.html' title='Langgam Dari Tanaku'/><author><name>syahroni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09874525640202597696</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://i154.photobucket.com/albums/s273/pksejahtera/ngantuknih.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30616562.post-6096859574353342263</id><published>2007-09-11T07:47:00.002+07:00</published><updated>2007-09-11T08:26:41.250+07:00</updated><title type='text'>Berlatih Menjadi Bidadari</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Berlatih Menjadi Bidadari&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Oleh Nurul F. Huda&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;Telah datang seorang "pangeran" dalam hidupku yang mengubah status saya menjadi seorang istri. Perubahan yang sampai saat ini masih terasa gamang, karena menuntut banyak perubahan yang lain. Segala urusan rumah tangga harus saya tangani: dari yang sepele, seperti menyediakan minum, sampai yang saya tidak suka, mencuci. Iya lho. Saat masih sendiri saja, saya ogah-ogahan. Pertama kali saya mencucikan bajunya, saya merasa terbebani. Tapi sekarang, jika dua hari tidak mencuci, bisa-bisa suami saya ke kantor dengan baju yang tidak sedap dilihat. Maklum, seragam dari PT cuma dua stel dan kerjanya 12 jam!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, saya mulai menikmati pekerjaan yang lain. Memasak dan bersih-bersih misalnya. Saya hanya mencoba berpikir tentang sosok Fatimah Az Zahra, sambil menyemangati diri bahwa ini ibadah. Ada konteks amanah dan amal di sana. Maka bismillah, dan saya pun mencuci, memasak, bersih-bersih... begitu seterusnya. Hal lain yang ingin saya bahas lebih panjang adalah soal kekuasaan suami yang baru saya sadari memang besar. Seorang teman laki-laki yang sudah saya anggap adik kandung selama ini kami biasa ngobrol, diskusi dan tukar hadiah perlu minta izin pada suami saya untuk sekedar bicara pada saya. Di akhir pembicaraan ia berpesan, "Sekarang aku nggak bisa seenaknya menemuimu. Yah, but I'm still your little brother.. little brother. That's all' Apa-apaan ini? Bukankah selama ini dia memang adik saya? Tapi rasanya dia ingin mengatakan, kamu punya sesorang yang more than just brother, yang lebih berhak atasmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seketika itu saya mulai merasa kehilangan. Di saat lain Abah saya berpesan, bahwa meskipun penghasilan saya adalah hak saya sepenuhnya, tetaplah minta izin dalam penggunaannya.'Meski saya gunakan untuk keluarga (saya)? kejar saya waktu itu. Abah mengangguk, "Ya. Meskipun uang itu kamu berikan kepada kami ... ..Satu hal lagi yang paling membuat saya sadar betapa posisi suami saya luar biasa adalah ketika perpisahan di stasiun, saat kami hendak menempuh jarak Jakarta-Batam. Abah memberikan sejumlah uang. Saya ingin memberikan uang ini pada anak saya, boleh?"tanya Abah. Suami saya tidak bisa berkata lain kecuali mengangguk. Bayangkan! Memberi uang saja Abah minta izin dulu. Seketika saya berpikir, kalau Abah saja, yang selama ini bukan hanya ayah, tapi juga guru saya, menghargai keberadaan suami saya seperti itu... apalah lagi saya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, itu bukan hal yang mudah saya telan. Saya harus mengunyahnya pelan-pelan, menelan sedikit-sedikit dengan sesekali nyangkut di tenggorokan, dan terkadang dengan rasa pahit ketika melewati kerongkongan. Kadang timbul pikiran nakal, kenapa Allah menganugerahkan "kekuasaan" pada laki-laki sekaligus sense" kekuasaan" itu sendiri? Ah, saya seorang muslimah. Bukankah ketika saya berharap ridho-Nya, saya harus melewati ridho suami? Lagi-lagi saya harus menyemangati diri bahwa ketaatan saya padanya adalah bagian dari ketaatan saya padaNya. Apalagi dia, insya Allah, datang benar-benar karena kekuasaan-Nya dari hasil istikharah saya berdasarkan dua hal, akhlaq dan agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan "kekuasaan" itu pun mulai saya rasakan sekarang. Suami saya anak pertama plus ketua di beberapa lembaga dakwah. Menurut saya, dia punya kecenderungan otoriter yang besar. Bukan hanya gayanya, tapi juga caranya. Saya juga anak pertama dan mantan ketua di beberapa kali kepengurusan lembaga dakwah. Wajar kalau sering keluar bandelnya.Ngeyelan istilah orang Jawa. Tapi ujung-ujungnya saya cium tangannya dan bilang, Mas harus maklum dong. Dede' kan terbiasa jadi leader, dan anak buah Dede' banyak yang laki-laki. Eh, sekarang Dede' harus menurut pada seorang laki-laki.". Tentu saja dengan nada merayu dan merajuk. Biasanya dia hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala. (Maklumlah, dengan Abah pun saya biasa diskusi, bargaining, bukan "diperintah". Juga sparing partner yang kebanyakan putra. Eh, tennyata sekian tahun melanglang buana di berbagai lembaga dakwah kampus... saya belum pernah sekalipun bergabung di bidang keputrian. Lengkaplah sudah fasilitas saya untuk merasa sejajar dengan pria).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata Allah mempertemukan saya dengan seseorang yang membuat saya melihat dengan mata hati, perasaan, bukan sekedar rasionalitas dan sentimen keperempuanan saya. Suami saya menyuruh saya mengubah penampilan: jilbab yang saya pakai diperbesar. Kondisi Batam beda dengan Yogya, De: Ha?! Bahkan untuk urusan sekecil ini pun harus diatur? Tapi toh akhirnya saya menurut juga. Apalagi ketika dia menjelaskan bahwa dia hanya tidak ingin ada sesuatu yang tidak mengenakkan menimpa saya di sana. Deu, jadi terharu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suami saya menyuruh mengurangi ketawa-ketiwi (yang saya memang hobby). Dede' sudah ummahat lho. Jaga wibawalah. Aduuh... emangnya ummahat nggak boleh ketawa-ketiwi, ya? Pun soal interaksi dengan non mahram (saya terhitung moderat untuk urusan satu ini). Bukan hanya dengan "adik-adik" saya,tapi juga partner kerja dalam kepenulisan maupun organisasi. Ada lagi. Soal identitas diri. Di beberapa hari usia pernikahan kami, saya selalu bilang, 'Aku tetap Nurul F Huda, hukan Nyonya Purwanto.Ya... selama ini saya merasa cukup yakin membangun eksistensi. Tapi begitu tiba di Batam, setiapkali bertemu teman baru, ujung-ujungnya, 'Ini lho istrinya Pak Pur!"(meski saya sudah menyebutkan "nama beken" saya!) Begitulah sampai saat ini. Eh, lagi-lagi saya mulai menyukainya. Apalagi rasa-rasanya buku saya lebih laku di Batam karena menikah dengannya. Anak buahnya di Majelis Ta'lim ternyata punya sentimen terhadap istri "bapaknya". Jadi ketika sekarang ini saya dikenalkan dengan orang, 'Ini mbak Nurul..'dan orang menyahut dengan,'Oo..Mbak Nurulnya Pak Pur?"saya akan tersenyum sampai ke dalam relung hati saya.&lt;br /&gt;Suami saya juga seorang supporter yang luar biasa. Dia yang mengejar-ngejar saya untuk menulis lagi. Yah, sejak menikah saya memang agak pemalas. Entah kenapa. Ayo... ko nggak produktif De; bukunya di Counter Fatahillah udah habis, (dia memang sering ngecek kalau mampir ke Plaza Batamindo, di daerah Muka Kuning, tempat dia kerja). Juli mau cetak ulang, lho (buku saya terbit April lalu). Wah, laris juga ya. Ayo dong FLP-nya diurusin, telpon lah ke Riau (FLP Batam memang macet, dan salah satu orientasi dia menikah dengan saya memang menghidupkan dakwah tulisan di Batam, lewat FLP terutama). Katanya mau release di sini, ntar tak bantuin acaranya dan nyari sponsor deh. Gimana Dede' ini.. skripsinya kok nggak selesai-selesai (terutama kalau saya sudah mulai "lupa" dan hanya ribut soal naskah). Nah, tulisan ini adalah hasil paksaan dia. Ya... saya harus belajar menulis sesuatu yang lain, bukan? Selain cerita seperti yang selama ini saya lakukan. Tapi saya pikir-pikir.. jangan-jangan itu juga bagian dari bentuk nyata praktek"kekuasaannya?': Herannya, saya susah untuk menolak, tuh. Kenapa ya? Lalu saya mencoba mencari sebabnya. Perasaan. Ya, kekuatan itulah yang berhasil memaksa saya menjadi orang yang menurut, mau diatur, tidak banyak menolak... de el el.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perasaan bahwa dia adalah orang terdekat saya, bahwa apa yang dia lakukan adalah bentuk pengejewantahan rasa tanggungjawab dan cintanya pada saya. Perasaan saya juga yang mengatakan tidak ada yang dia inginkan selain kebaikan buat saya. Begitulah. Ah, saya jadi ingat 'adik' saya, Aga itu, "Kamu tuh sebetulnya ngeyelan juga, Mbak Tapi.. apa perempuan begitu ya? Dia akan mengalah pada orang yang dekat dengannya (berhasil mendekatinya). "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah... barangkali itulah yang sekarang terjadi pada saya. Saya sedang benar-benar jadi perempuan. Dia memang hampir tidak pernah memuji saya, tapi saya tahu dia bangga pada saya. Belakangan dia suka keceplosan cerita saat bicara dengan teman-temannya. Wah, Bidadarinya sukanya warna biru.. enak lho, ada sarapan dan seorang Bidadari yang menemani Sekarang bukan bayangan Bidadari, tapi sudah jadi Bidadari. Dia juga belum pernah bilang I love you. Tapi saya yakin dia care. Yah, meski saya agak kesal karena dia belum juga menamatkan buku 'Bayangan bidadari' yang saya hadiahkan saat kami menikah. Tapi itulah suami saya. Dan saya harus mengakui...,banyak hal dari makhluk Allah yang satu ini yang membuat saya merasakan arti hidup dan kesyukuran. Sesuatu yang seperti saya sebutkan di atas, membuat saya merasa dekat dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suamiku, pangeranku, ajari aku untuk menjadi benar-benar bidadarimu, bukan hanya di dunia, tapi juga di akhirat kelak. Karena sekali lagi... Dede' benar-benar baru belajar untuk menjadi seorang istri. Lebih-lebih istri yang barangkali terbayang dalam benak Mas selama ini.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30616562-6096859574353342263?l=syahroni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syahroni.blogspot.com/feeds/6096859574353342263/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30616562&amp;postID=6096859574353342263&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/6096859574353342263'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/6096859574353342263'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syahroni.blogspot.com/2007/09/berlatih-menjadi-bidadari.html' title='Berlatih Menjadi Bidadari'/><author><name>syahroni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09874525640202597696</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://i154.photobucket.com/albums/s273/pksejahtera/ngantuknih.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30616562.post-393992048745469945</id><published>2007-09-11T07:47:00.001+07:00</published><updated>2007-09-11T07:51:44.030+07:00</updated><title type='text'>Jangan Takut Bilang Cinta</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:130%;color:#6666cc;"&gt;&lt;strong&gt;Jangan Takut Bilang Cinta&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#999999;"&gt;Tatkala usia terus merangkak naik sementara calon suami tak kunjung datang, segera keresahan mulai melanda. Pada masa-masa yang terbilang cukup rawan ini seringkali tanpa disadari, ada perilaku-perilaku yang mestinya tak layak dilakukan oleh seorang muslimah yang 'kadung' dijadikan teladan dilingkungannya. Ada muslimah yang menjadi sangat sensitif terhadap acara-acara pernikahan ataupun wacana-wacana seputar jodoh dan pernikahan. Atau bersikap seolah tak ingin segera menikah dengan berbagai alasan seperti karir, studi maupun ingin terlebih dulu membahagiakan orang tua. Padahal, hal itu cuma sebagai pelampiasan perasaan lelah menanti jodoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, ada juga muslimah yang cenderung bersikap over acting. terlebih bila sedang menghadiri acara-acara yang juga dihadiri lawan jenisnya. Biasanya, ia akan melakukan berbagai hal agar “terlihat”, berkomentar hal-hal yang tidak perlu yang gunanya cuma untuk menarik perhatian, atau aktif berselidik jika mendengar ada laki-laki shaleh yang siap menikah. Seperti halnya wanita dimata laki-laki, kajian dengan tema “lelaki” pun menjadi satu wacana favorit yang tak kunjung usai dibicarakan dalam komunitas muslimah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haruskah terus menerus bersikap membohongi diri seperti contoh pertama diatas. Betapa lelahnya kita ketika harus berbuat seperti itu sementara seolah tidak ada lagi yang bisa dilakukan selain menunggu dan berharap semoga Allah segera mendatangkan pilihan-Nya. Atau masihkah tidak merasa malu untuk menghinakan diri&lt;br /&gt;dengan aksi over acting dan 'caper'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Fauzil Adhim, banyaknya muslimah yang belum menikah di usianya yang sudah cukup rawan bukannya tidak siap, tetapi karena mereka tidak pernah mempersiapkan diri. Kesiapan disini, termasuk di dalamnya adalah kesiapan untuk menerima calon yang tidak sesuai dengan kriteria yang diinginkan sebenarnya, meski jika ditilik kembali sesungguhnya lelaki tersebut sudah memiliki persyaratan yang 'sedikit' lebih dibanding lelaki biasa. Misalnya, setidaknya sholatnya benar, akhlaqnya baik, tidak berbuat syirik dan pergaulannya tidak jauh dari orang-orang shaleh. Artinya, lanjut Fauzil, tidak usah mematok kriteria terlalu tinggi. Walaupun sebenarnya, sah-sah saja untuk melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada keadaan tertentu, seringkali para muslimah seperti tidak berdaya mengatasi kelelahannya mencari -menunggu- jodoh. Padahal, ada satu hal yang boleh dan sah saja untuk dilakukan oleh seorang muslimah, yakni menawarkan diri untuk dipinang. Hanya saja, selain masih banyak yang malu-malu membicarakannya, banyak pula yang menganggap hal ini sebagai sesuatu yang tabu, karena tidak pernah dicontohkan oleh para orang tua kita. Asalkan pada lelaki yang baik-baik, dalam pandangan Islam sah-sah saja wanita menawarkan diri untuk dipinang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senada dengan Fauzil Adhim, Ustadz Ihsan Tanjung dalam salah satu rubrik konsultasi keluarga pernah mengatakan, seorang muslimah sebaiknya mengungkapkan perasaannya -keinginannya untuk dilamar- kepada seorang lelaki shaleh yang menjadi pilihannya, ketimbang dia lebih mungkin terkena dosa zina hati karena terus menerus mengharapkan si lelaki tanpa kejelasan atau kepastian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja, yang mungkin perlu diperhatikan adalah seberapa tinggi daya tawar yang dimiliki oleh para muslimah itu ketika dia harus mengungkapkan perasaannya. pertanyaan yang sering muncul adalah "seberapa pantas dirinya" saat meminta si lelaki untuk melamar dan menikahinya. Untuk hal ini, sepantasnya bukan kata-kata terlontar dari mulut untuk mengkhabarkan kepantasan diri. Namun, dengan mempertinggi kualitas keshalehahan tanpa mengagungkan kecantikan wajah, mengkedepankan akhlaq yang baik sebagai pakaian sehari-harinya disamping juga ia perlu membenahi penampilannya untuk sekedar meningkatkan kepercayaan diri, dan menjaga mata pandangannya untuk selalu bercermin kepada hati, karena disanalah cinta dapat berkembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi mereka, Kepentingan menghaluskan wajah tidak mengalahkan kepentingannya untuk menghaluskan jiwanya, karena kecantikan yang murni justru terpancar dari jiwa yang cantik (inner beauty). Kecantikan seperti inilah yang senantiasa tumbuh sepanjang waktu. Jika hal-hal itu sudah dipersiapkan sebaik mungkin dan terpatri menjadi hiasan diri, maka melangkahlah untuk menjemput impian. Namun demikian, perlu juga rasanya untuk melatih menata hati dan berjiwa besar jika terpaksa harus bertepuk sebelah tangan atau menerima kenyataan diluar harapan. Wallahu a'lam bishshowaab&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;sumber: eramuslim&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30616562-393992048745469945?l=syahroni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syahroni.blogspot.com/feeds/393992048745469945/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30616562&amp;postID=393992048745469945&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/393992048745469945'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/393992048745469945'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syahroni.blogspot.com/2007/09/jangan-takut-bilang-cinta.html' title='Jangan Takut Bilang Cinta'/><author><name>syahroni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09874525640202597696</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://i154.photobucket.com/albums/s273/pksejahtera/ngantuknih.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30616562.post-1469807119670352223</id><published>2007-09-11T07:47:00.000+07:00</published><updated>2007-09-11T07:49:22.210+07:00</updated><title type='text'>Bidadari Surga Itu...</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:130%;color:#6666cc;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Bidadari Surga Itu…&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc6600;"&gt;Menjelang perang Uhud dimulai, ia bersama suaminya, Zaid bin Ashim dan kedua anaknya, Habib dan Abdullah keluar ke bukit Uhud. Lalu Rasulullah saw bersabda kepada mereka, "Semoga Allah memberikan berkah kepadamu semua." Setelah itu wanita bidadari perang uhud itu berkata kepada beliau, "Berdo'alah kepada Allah semoga kami dapat menemani engkau di surga kelak, ya Rasulullah!" Lalu Nabi saw berdo'a, "Ya&lt;br /&gt;Allah jadikanlah mereka itu teman-temanku di Surga." Maka wanita itupun berkata lantang, "Aku tidak akan mempedulikan persoalan dunia menimpa diriku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dialah Ummu Amarah yang dikenal dengan nama Nusaibah bin Ka'ab Al Maziniay yang menjadi bidadari surga karena perannya membela Rasulullah saat pasukan muslimin terdesak pada perang Uhud. Bersama Mush'ab bin Umair -yang kemudian menemui syahid setelah mendapatkan puluhan tusukan di tubuhnya- Nusaibah menghadang Qam'ah, orang yang dipersiapkan membunuh Rasulullah dalam perang tersebut. Nusaibah sendiri harus menderita dengan dua belas tusukan dan salah satunya mengenai lehernya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata Nusaibah "Aku tidak akan mempedulikan persoalan dunia menimpa diriku" setelah ia mendapati Rasulullah mendoa'kan dirinya dan keluarganya menjadi teman-teman Rasul di surga, terdengar begitu tegar dengan kesan yang amat mendalam. Mungkin karena ketidakpeduliannya terhadap urusan dunia dengan segala apa yang bakal menimpanya itulah yang kemudian menjadikannya salah seorang bidadari di surga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, 15 abad setelah Nusaibah tiada, masihkah ada diantara kita yang berani dengan lantang dan mantap mengucapkan kata-kata seperti yang diucapkan Nusaibah. Masihkah ada diantara kita yang tidak mempedulikan persoalan dunia dan apapun yang dikehendaki Allah selama kita di dunia menimpa diri ini. Mungkin ada, tapi entah dimana dan siapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalaupun ada, yang jelas dia adalah Nusaibah-Nusaibah abad modern. Kalaupun ada juga, ia tentu tidak akan bersaksi bahwa dialah orangnya, karena seperti Nusaibah bin Ka'ab, ia tidak pernah bersaksi bahwa ia adalah pembela Rasulullah dan agama Allah, melainkan Rasulullah lah yang memberikan kesaksian, "Tidaklah aku menoleh ke kanan dan ke kiri pada peperangan Uhud melainkan aku melihat Nusaibah (Ummu Amarah) berperang membelaku." (Al Ishabah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimana Nusaibah kini, yang siap menyerahkan seluruh hidupnya untuk membela Allah dan Rasul-Nya, yang menjadikan seluruh anggota keluarga adalah mujahid pejuang Allah, yang lebih mengutamakan indahnya surga Allah daripada kenikmatan-kenikmatan dunia yang sesaat dan serba semu, yang tidak pernah khawatir dan merasa takut tidak mendapatkan kesenangan di dunia, karena dimatanya, kesenangan menjadi teman Rasulullah di Surga menjadi keutamaannya. Dimana Nusaibah kini, yang Allah dengan segala janjinya lebih ia yakini dari segala kepentingan dan urusan dunianya, yang menikah dengan suami yang juga siap menyerahkan hidupnya untuk Allah semata, yang&lt;br /&gt;siap menjadikan anak-anaknya tameng Rasulullah di setiap medan perang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa jadi, bila ada Nusaibah kini, ia akan siap kehilangan segala kenikmatan dunianya, ia rela menjual kesenangan dunianya untuk harga yang lebih mahal, yakni surga Allah. Ia tak pernah bersedih, murung ataupun marah akan setiap ketentuan Allah atas dirinya, ia percaya bahwa Allah akan bersikap adil dengan segala kehendaknya atas setiap manusia, ia begitu yakin, jika tidak ia dapatkan kenikmatan dunia dengan segala perhiasannya, pasti ia akan mendapatkan yang jauh lebih indah kelak sebagai balasan dari amal dan kesabarannya menerima semua ketentuan-Nya. Tapi, dimanakah Nusaibah kini?&lt;br /&gt;Wallahu a'lam bishshowaab&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Bayu Gautama&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30616562-1469807119670352223?l=syahroni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syahroni.blogspot.com/feeds/1469807119670352223/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30616562&amp;postID=1469807119670352223&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/1469807119670352223'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/1469807119670352223'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syahroni.blogspot.com/2007/09/bidadari-surga-itu.html' title='Bidadari Surga Itu...'/><author><name>syahroni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09874525640202597696</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://i154.photobucket.com/albums/s273/pksejahtera/ngantuknih.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30616562.post-6405200465379644802</id><published>2007-09-03T12:15:00.001+07:00</published><updated>2007-09-03T12:56:02.667+07:00</updated><title type='text'>Di Pagi Hari Ketika Umurku Dua Puluh Sembilan</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;color:#3333ff;"&gt;Di Pagi Hari Ketika Umurku Dua Puluh Sembilan&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Ya Allah Alhamdulillah, umurku beranjak ke angka dua puluh sembilan pagi ini. Tiap kali berulang tahun, renungan demi renungan aku lakukan. Tahun ini, aku terima semua yang terjadi dalam hidupku dengan lapang dada, tanpa perlu kecewa ketika menghadapi kenyataan bahwa keinginanku masih belum dipenuhi Allah. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Ya Allah terima kasih, aku diberi kesempatan untuk memperbaiki diriku dan menangkap hikmah dari semua kejadian. Betapa banyak nikmat yang diberikan Allah dan betapa malunya aku yang kadang tidak menyadarinya hanya karena satu permintaanku sejak beberapa tahun lalu belum dipenuhiNya, yaitu mempunyai suami, pendamping terbaik di sisiku. Ketika akal sehat dikalahkan oleh rasa frustasi, aku bertanya dalam hati apa yang kurang dari diriku. Mungkin ke-takaburanku yang menyebabkan belum datang seorang “arjuna” untukku. Kadang terbersit pikiran, apakah akan ada yang mencintaiku sungguh-sungguh hingga ingin menikahiku. Kadang di tengah keputus-asaan aku mengadu kepada Allah, Ya Allah aku hanya ingin berumah tangga untuk menjalankan sunnah Rasul, untuk menjaga hati dari zina, untuk menyempurnakan ibadahku. Mengapa untuk hal yang begitu sakral dan mulia Rabb belum juga memberikan “arjunaku”?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ketika semuanya menjadi buntu, Rabb memberikan hidayahNya, aku memberanikan diri menggunakan jilbab, hampir setahun yang lalu, ketika aku baru saja berpisah dengan lelaki yang sangat aku cintai. Keputusan yang berat harus aku ambil demi mujahadah menegakkan syariah Islam untuk tidak pacaran, karena lelaki itu belum siap untuk menikah. Aku begitu yakin Allah akan memberikan jalan keluar untukku mendapatkan “arjuna” yang akan meminang dan menikahiku. Aku mencoba untuk membuka hatiku untuk lelaki-lelaki lain. Kemudian beberapa orang kawan berbaik hati mengenalkanku dengan beberapa lelaki tetapi hingga detik ini Allah belum memberikan “arjuna” yang melamarku. Beberapa lelaki kenalan baruku itu ada yang mundur teratur ketika melihatku menggunakan jilbab. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ya Allah ternyata sampai detik ini aku masih dicoba dengan keinginanku ini. Aku dicoba untuk menjadi Muslimah yang sholehah yang teguh menggunakan jilbab di tengah-tengah pencarianku untuk mendapatkan “arjunaku”.Walaupun begitu aku mencoba untuk menangkap hikmah dari semua ini, bahwa Rabb ingin aku memperbaiki diriku sebelum “arjuna”ku datang dan Allah akan memberikan yang terbaik untuk hidupku. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ya Allah aku senang dan bangga Engkau menyayangiku, Engkau akan memberikan yang terbaik untukku. Untuk itu, aku berusaha untuk selalu berlapang dada, pasrah dan bertawakal, bahkan jika Engkau belum mengizinkan aku menikah dalam waktu dekat ini. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sumber: Prayoga.net&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30616562-6405200465379644802?l=syahroni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syahroni.blogspot.com/feeds/6405200465379644802/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30616562&amp;postID=6405200465379644802&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/6405200465379644802'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/6405200465379644802'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syahroni.blogspot.com/2007/09/di-pagi-hari-ketika-umurku-dua-puluh.html' title='Di Pagi Hari Ketika Umurku Dua Puluh Sembilan'/><author><name>syahroni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09874525640202597696</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://i154.photobucket.com/albums/s273/pksejahtera/ngantuknih.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30616562.post-2037824978062249815</id><published>2007-09-03T12:15:00.000+07:00</published><updated>2007-09-03T12:50:25.762+07:00</updated><title type='text'>Bukan Sekedar Wanita Biasa</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Bukan Sekedar Wanita Biasa&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;sumber : Dudung&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;“De’..cariin pendamping buat kakak yaa ?? Mas Rizal udah siap nikah nih !!”, begitu tulis e-mail Mas Rizal, kakakku yang kerja di Batam kepadaku, singkat dan jelas..tapi susah !!&lt;br /&gt;Sebab, aku akhir-akhir ini ngerasa jengah banget dengan kriteria macem-macem dari kakakku. Susah juga punya kakak yang bujang lapuk banget seperti dia..abis usianya sudah bisa dikategorikan tua banget, 27 tahun. Memang, menurut dia belum tua banget, abis temen-temen kakak di Batam, sama juga seperti kakak, belum ada yang nikah di usia segitu..bujang lapuk, gitu aku menyebutnya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Padahal banyak wanita, banyak akhwat yang siap menikah dan tak urung sering mendekatiku agar dikenalkan dengan kakakku. Apalagi didukung postur tubuh dan wajah imut kakakku, yang orang lain takkan menyangka bahwa usia kakakku sudah 27 tahun, kelihatannya sih masih 20 tahunan gitu… Aku sebenarnya mau sih nyariin Kakakku, tapi..dengan kriteria seabreg yang disodorkan kakak padaku, aku jadi nggak tega nyariin buatnya. Pernah kutanya kriteria minimalnya..”Mas, ada kriteria minimalnya nggak ??, coba kusentil dengan pertanyaan seperti itu.. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Jawabnya, “Minimal mirip De’ Rani aja ya ?? Tapi sepuluh kriteria yang Mas Rizal sebutin tempo hari.. minimal harus ada !! Udah yaa..Mas banyak kerjaan nih, kalo bisa dalam satu - dua bulan ini Mas Rizal nggak nelfon-nelfon lagi, dan lebaran nanti pas Mas Rizal pulang, harus ada !!”, nada perintah kakakku terdengar mantap dan jelas, aku sampe terlongong didepan telpon. Tak sadar bahwa Mas Rizal sudah menutup telpon dan mengucapkan salam. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Kubaca lagi kriteria Mas Rizal dalam e-mail yang dikirimkan padaku dua bulan yang lalu. Aku bermaksud akan mencetak e-mail mas Rizal yang panjang tentang “Sepuluh kriteria Mas Rizal itu, diantaranya adalah : Agama dan akhlaknya bagus, Menguasai Fiqh Islam, Bisa sedikit bahasa Arab (minimal Bahasa Arab Pasif, untuk memahami Al Qur’an ) ; Berjilbab ; Sabar ; Cerdas / Smart ; Harus bisa masak, terutama makanan thoyyib dan halal, minimal makanan kesukaan kakak, Sayur Sop ; Mukanya selalu ceria dan bersinar cerah ; Putih ; Tinggi ; Langsing ; dan Menguasai Teknologi (Komputer / Internet), Psikologi, Manajemen. Trus kriteria lain : Kalo bisa matanya bening, dan jernih ; punya lesung pipit yang manis ; pipinya merah delima ; bibirnya merekah ; tubuhnya bersih (tak ada cela) ; bau badannya selalu wangi ; lehernya berjenjang ; mandiri (bisa menghasilkan uang sendiri) ; jari-jemarinya lentik ; dan bisa naek sepeda (sebab di Batam, kemana-mana musti naek sepeda !!) .. entar kalo ada yang kurang, Mas Rizal telfon ade’ lagi deh, ok ? Teman-teman ade’ khan banyak, cariin ya??” Aduuhh..aku sibuk mencari siapa yaa yang cocok untuk Mas Rizal dari kesemua teman wanitaku. Aku lelah, capek.. tanya ke Ustadzah dengan kriteria seabreg gitu..malu banget rasanya.. Mana ada wanita sesempurna seperti pilihannya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Sepatah kalimat muncul di nokia mungilku, “De’, jangan patah semangat yaa..cariin yang terbaik untuk Mas Rizal !!”. Mas Rizal, lagi-lagi dengan sikapnya yang misterius terus mendesakku.. apakah mas Rizal bener-bener siap dengan segala kriteria yang diajukannya ?? Aku sungguh tak mengerti !! Lekas kubalas SMS singkat pula, “Mas Rizal, kalo bisa minta tolong Ustadz - ustadz Mas Rizal sendiri di Batam, yaa..?? Jangan tunggu calon dari ade’..SUSAH !!”. Terus terang, kadang aku minder banget dengan kriteria mas Rizal yang bejibun banyaknya, aku saja tak memenuhi kriterianya. Pusiiiingg !!! Ya Robb, tunjukkan hidayah bagi mas Rizal !! Itu calon Mas Rizal, kakakku satu-satunya, bagaimana juga dengan calon para Ikhwan di luar sana ?? Deuuy..tahu begini aku tak menyuruh Mas Rizal cepat-cepat nikah !! Anganku melayang kemana-mana, sebab memang aku yang mendesak Mas Rizal nikah, karena usiaku yang tak terpaut jauh darinya pun ingin segera menggenapkan setengah Dien juga. Tapi dengan permintaan Mas Rizal dan harus secepat ini ?? Tak tahulah aku !! Malam ba’da Qiyamul Lail, aku sengaja menyeleksi beberapa orang wanita atau akhwat kenalanku yang sekiranya memenuhi persyaratan ideal Mas Rizal yang kesepuluh. Pertama Si Fitri, “Semuanya cocok, tapi..ups.. dia agak tulalit orangnya, dan satu lagi ia suka latah kalo kaget, aku menggumam sendirian. Si Wati, Nita, Via, Risa..Ahh… capek.. tak ada yang memenuhi syarat kesepuluh dari Mas !! ******************************************* &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;“Tiiiiiiiiiiiiiiiitttttttt…”, terkaget aku mendengar suara jam beker memekakkan telingaku..sudah hampir subuh.. Ahh, aku ketiduran semaleman ditemani biodata teman-temanku. Bersijingkat aku dari tempat tidur, segera mengambil air wudlu.. “Alhamdulillah..”, segar pagi itu terasa sangat menyejukkan hatiku. Hampir jam tujuh pagi, sebelum menyiapkan diri untuk berangkat mengajar di sebuah SMU, aku mencari-cari catatan kriteria Mas Rizal yang kemarin sudah kucetak. Kurang sebulan lagi sudah lebaran, aku harus berusaha keras mencari data akhwat ke teman-temanku yang lain, rencanaku sepulang dari mengajar nanti. Kusimpan baik-baik alamat beberapa teman SMU, teman kuliahku dulu, agar nanti tak kerepotan aku mencari sendiri. Aku akan minta tolong mereka juga. Ikhtiarku.. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;“Kring..kring..”, telfon di dekatku langsung kusambar, “Assalammu’alaikum..”, terdengar sahut salam di seberang sana, “Ini De’Rani, yaa ?? De’..ini Mas Rizal.. gimana khabarnya ?? ‘Afwan, Mas Rizal sengaja telfon pagi-pagi gini. Tadi ada acara di rumah Ustadz Mas Rizal, jadi sekalian Mas Rizal telfon ade’, pengen tahu perkembangan pencarian buat mas Rizal, yang memenuhi kriteria ada nggak ?”, intonasi suara Mas Rizal terdengar mantap dan agak riang. “Belum Mas !! ‘Afwan yaa..Ade’ ndak punya temen seperti kriteria Mas Rizal !!”, suaraku mantap. “Ya udah deh, nggak usah repot-repot..Mas Rizal nggak mau ngerepotin ade’ !”. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;“Bener nih ?? Ntar ade’ nggak jadi nikah dong Mas ?? Sebab, Ibunda bilang kalo Ade’ pengen nikah, musti nunggu Mas Rizal nikah dulu, lagipula ade’ nggak mau duluan dari Mas Rizal nikahnya ??”, aku mencoba beri pengertian pada Mas Rizal. Sebab Ibundaku mulai khawatir aku menjadi perawan tua, nggak laku kawin gara-gara nunggu mas Rizal nikah.&lt;br /&gt;“De’, makanya ade’ nggak usah repot-repot nyeleksi akhwat untuk Mas Rizal. Insya Allah, ada khabar baik dari Ustadz Mas Rizal….”. terdiam lama mas Rizal. “Halo..mas Rizal masih disitu ?? Khabar baik apaan mas ??”, ucapku bersemangat. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;“Insya Allah, permata dunia seperti kriteria Mas Rizal sudah tersedia. Dan tadi Mas Rizal udah ta’aruf dengan akhwat itu, jadi ..Mas minta Ade’ kasih tahu sama Ibunda dan Ayah, kalo dalam waktu dekat Mas mau mengkhitbah akhwat pilihan Mas Rizal, sekaligus mohon restu, agar pernikahan Mas Rizal akan diadakan secepatnya di Batam - rumah akhwat calon Mas, kalo di Jakarta, rumah kita, Mas Rizal mau aja, tapi bilang ama Keluarga, Mas Rizal mau secara sederhana saja, sebab waktu cuti kerja buat Mas Rizal cuma seminggu. Kalo Ade’ dan keluarga pengen ikut ke Batam, biayanya Mas Rizal transfer aja ke rekening ade’ dalam waktu dekat.. kasih tahu Mas Rizal yaa..?? gimana ??”. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Aku hanya bisa terpana mendengar tuturan panjang Mas Rizal, jadi..jodoh Mas Rizal sudah ada ?? “Subhanallah.. Barakallah.. Alhamdulillah, ade’ nggak repot-repot nyariin buat Mas Rizal. Mungkin, cuma Ibu ama Bapak, dan Ade’ aja yang ikut, yaa ? Keluarga besar kita ndak ikut ke Batam ?? Trus kesana pake’ uang ade’ dulu aja, entar kalo mas Rizal abis nikah, mas Rizal ganti yaa ??”, ucapku merajuk&lt;br /&gt;“Ya, udah dech De’..By The Way..kriteria Abang yang kemaren itu, semuanya sudah dimiliki oleh Akhwat, calon istri pilihan Abang. Mas Rizal harap Ade’ dan keluarga nggak kaget yaa entar kalo melihat akhwat tersebut !! Ok ?? Eh, udah dulu yaa.. pulsanya jalan terus nih, entar keburu abis pulsa HP Mas Rizal..udah yaa ? Wassalammu’alaykum Wr.Wb”. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Kuletakkan gagang telfon setelah mengucapkan salam. Khabar baik dari Mas Rizal telah menemukan apa yang selama ini dicarinya, akhwat pilihan Mas Rizal, entah sempurna seperti apakah pilihan Mas Rizal, kriteria yang bejibun banyaknya yang membuatku minder, mudah-mudahan wanita, akhwat pilihan mas Rizal memang paket special dari Allah untuk mas Rizalku yang cakepnya juga diatas rata-rata..&lt;br /&gt;Sujud Syukur segera kutunaikan, karena tak perlu hari ini aku berpayah-payah mencari ke beberapa temanku untuk mencari wanita spesial buat mas Rizal, karena toh akhwat itu ternyata tak jauh dari tempat Mas Rizal bekerja di Batam. **************************************&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;br /&gt;Rombongan Mas Rizal, aku, kedua orangtuaku, dan Ustadz Mas Rizal serta beberapa dari teman ikhwan Mas Rizal mendampingi Mas Rizal di hari resepsi pernikahan yang lumayan sederhana. Aku dan pihak keluarga masih belum dikenalkan oleh calon Istri Mas Rizal. Mas Rizal belum mengijinkan, sebab itu surprais dan kejutan manis buat kami sekeluarga. Aku masih berada di belakang mas Rizal, ketika akad nikah berlangsung, akhwat-calon istri Mas Rizal masih di dalam kamar pengantinnya. Setelah resmi akad nikah dilakukan dan kedua calon mempelai dipertemukan serta melakukan sholat sunnah. Tibalah aku dipertemukan dengan istri Mas Rizal yang ternyata.. Subhanallah..Allahu akbar.. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Berdegup jantungku, melihat Mas Rizal memanggilku dan kedua orangtuaku…”De’, sini deket ama Mas Rizal, sama Ibu dan Bapak yaa..Mas Rizal mau kenalin nih ama Istri Mas tercinta”, ucap Mas Rizal sambil berkedip kearah istrinya yang saat itu menggunakan gaun putih pengantin, sementara Mas Rizal mengenakan jas, serasi dengan gaun istrinya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;“Mbak Izzah. De’ Rani..udah kenal ama Mbak khan di Jakarta ??”, suara lembut wanita itu singgah ke otakku. Allahu Robbi..Aku tak percaya melihat sosok wanita dihadapanku..sosok akhwat mulia yang menjadi pendamping Mas Rizal..Allahu Akbar..kiranya inilah bidadari sempurna yang diberikan Allah pada Mas Rizal di dunia, dan lidahku kelu tak bisa berkata apa-apa untuk mengungkapkan semua yang muncul sekilas dihatiku dan ingin segera kukatakan pada Mas Rizal. Tiba-tiba..dari sudut mataku, aku menangis terharu.. bahkan kedua orang tuaku pun demikian, tak percaya dengan wanita pilihan Mas Rizal..yang bukan hanya sempurna, tapi memang bukan sekedar wanita biasa.. Kami telah mengenal wanita itu sejak lama.. Subhanallah.. **************************************** &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Yup..Wanita atau Akhwat Spesial pilihan Mas Rizal, adalah seorang Janda (istri dari salah satu ikhwan yang telah meninggal dalam usahanya berdakwah di Ambon, menegakkan Ad Dien), usianya pun sudah hampir 32 tahun, anak Beliau sudah empat, mirip ketika Nabi SAW menikahi Ibunda Khadijah r.a..yang hingga akhir hayatnya setia mendampingi Rasulullah SAW. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Alhamdulillah..agaknya kedua orangtuaku pun setuju dengan pilihan Mas Rizal, karena sejak dulu Ibundaku sangat menghormati Mbak Izzah Syifana, istri Mas Rizal, bahkan ingin segera menjodohkan Mas Rizal dengan Beliau meski statusnya sudah menjanda. Tetapi Mbak Izzah terlanjur pindah mengikuti kehendak kakaknya yang Ustadz juga di Batam. Tak tahunya..jodoh memang tak kemana, di Batam pula akhirnya Beliau dipertemukan dengan Mas Rizal, Kakakku tercinta. Baru aku tahu, kenapa banyak kriteria yang Mas Rizal ajukan, sebab Mas Rizal memang orang yang spesial, sehingga berbesar hati dan berlapang dada menerima akhwat yang terlampau lebih spesial dari kriteria Mas Rizal sendiri !! Semoga Barakah dan limpahan rahmat senantiasa menyertainya..Amin. Dalam e-mail Mas Rizal, dua bulan sejak resepsi sederhana diJakarta, rumah kami sekeluarga, Mas Rizal baru menerangkan kenapa banyak sekali kriteria yang diajukan Mas Rizal kepadaku, sebab hampir-hampir saat ini memang tak ada akhwat sejenis itu di Jakarta, kecuali akhwat produk jaman kuliah Mas Rizal, yang memang aku mengakui sangat bagus ghirah atau semangatnya dalam berdakwah. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Teman-temanku yang pernah memendam hati pada Mas Rizal serentak ‘agak’ kecewa, setelah kusampaikan kabar terbaik tentang pernikahan Mas Rizal, karena Mas Rizal perfect banget orangnya.Lantas, Mas Rizal menuturkan kembali, tentang kriterianya satu persatu : “De’ Rani, tahu ngga’ kenapa harus banyak kriteria untuk istri Mas ? Mas Rizal ingin ade’ seperti Mbak Izzah, istri Ms untuk meningkatkan kualitas pribadi ade’, diantarannya ialah : Agama dan akhlak ade’ musti bagus, Menguasai Fiqh Islam, Bisa sedikit bahasa Arab (minimal Bahasa Arab Pasif, untuk memahami Al Qur’an) : Mas Rizal pun hingga kini belajar capai semua dengan susah payah, sampai menunda nikah di usia yang ke-27, sebab lelaki yang jadi Qowwam / pemimpin dalam keluarganya dan ketika di rumah, sang Istri wajib kiranya mengajari hafalan Qur’an pada jundi - jundiyahnya.. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Berjilbab : karena ia sering membersihkan / mengeramasi *RAMBUT*nya dengan *JILBAB* yang akan menghilangkan *KETOMBE* dari pandangan lelaki yang belum tentu menjadi *JODOH* nya ! Sudah jelas khan De’ kriteria seperti ini ?? Yang pasti Akhwat dong De’..:).. Istri Mas musti Sabar dan tahan bantingan : he..he.. maksud Mas Rizal, sabar saat suka dan duka .. mendampingi Mas Rizal yang kurang sabar..he.. he.. ketahuan yaa De’..tapi hingga saat ini, Mas Rizal belajar sabar dari..Mbak Izzah ! &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Cerdas / Smart : Ini perlu, untuk kelanjutan visi dakwah Mas Rizal, menegakkan Islam di Bumi Allah dan bisa mengambil kebijakan ketika Mas Rizal mengalami kesulitan..Amin..&lt;br /&gt;Harus bisa masak, terutama makanan yang thoyyib dan halal, minimal makanan kesukaan kakak, Sayur Sop : Ups..yang satu ini musti De’, tapi jangan diketawain yaa, sebab apa gunanya bisa masak doang, tapi nggak taunya ada yang haram dalam bumbu atau gak bergizi tuk perkembangan jundinya kelak..:).. Mukanya selalu ceria dan bersinar cerah : Maksud Abang, Akhwat tersebut harus selalu berhias dan pake’ bedak di *WAJAH*nya dengan *AIR WUDLU*, niscaya akan bercahaya diakhirat, dan menyejukkan pandangan Abang, ketika melihat muka Beliau sepulang Abang dari kerja.. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Putih : Seputih ruhani dan hatinya akibat sering Sholat Sunnah di malam hari, hingga hatinya senantiasa bebas dari penyakit hati, seperti dengki, iri, hasutan, dan lainnya, ade’ pasti tahu mengenai hal ini..&lt;br /&gt;Tinggi : Sebab ia selalu memasang *SEPATU JIHAD* pada *KEDUA KAKI*nya untuk menegakkan Kebenaran dan Keadilan di bumi ?, bukan untuk membuatnya Tinggi hati / sombong !!&lt;br /&gt;Langsing : dengan tubuhnya yang langsing ia mampu QANAAH dalam mengarungi bahtera rumah tangga kami kelak, ini diperlukan, agar ia mampu Zuhud, berkecukupan dengan ma’isyah atau penghasilan dari Mas, baik sedikit maupun banyak, sehingga dan satu lagi..ia biasa Shoum / Puasa sunnah..Alhamdulillah, yang pasti ade’ juga donk !!&lt;br /&gt;Menguasai Teknologi (Komputer / Internet), Psikologi, Manajemen : Untuk mendidik jundi-jundiyah Mas Rizal kelak, agar mampu berkiprah di tengah masyarakat dan mengahadapi tantangan jaman.. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Kalo bisa matanya bening, dan jernih : Akhwat tersebut mampu menjadikan *GHADDUL BASHOR* (Menundukkan Pandangan) sebagai *HIASAN KEDUA MATA*nya, niscaya makin bening dan jernih.&lt;br /&gt;Punya lesung pipit yang manis : sebab ia selalu merawat *LESUNG PIPIT*nya dengan *MASKER SENYUMAN*, niscaya dihadapan Mas Rizal senyum-nya akan semakin berseri-seri menawan hati..ehm&lt;br /&gt;Pipinya berwarna merah delima : Ia harus menggunakan *PEMERAH PIPI* pada pipinya dengan Kosmetika *RASA MALU* yang dijual di *SALON IMAN*, agar ia terlihat anggun di depan Mas Rizal.. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Bibirnya merekah : karena setiap berhias, ia senantiasa mengoleskan *LIPSTIK KEJUJURAN* pada *BIBIR* nya, niscaya akan semakin indah. Tubuhnya bersih (tak ada cela) =&gt; sebab ia senantiasa membaluti *TUBUH*nya dengan *PAKAIAN TAQWA*, niscaya ia makin bersahaja, begitu juga dengan telinganya yang selalu dipakaikan *GIWANG MUSTAMI’ (PENDENGAR)*, agar selalu taat dan patuh kepada ? dan Rasul-Nya, serta nurut pada suami tentunya..yaa De’ ??&lt;br /&gt;Bau badannya selalu wangi : sebab ia selalu memakai *SABUN ISTIGHFAR* untuk meng-hilangkan semua dosa dan kesalahan yang ia lakukan. Lehernya berjenjang : Tak lupa ia selalu mengenakan *KALUNG ‘IFFAH (KESUCIAN)* di*LEHER* jenjangnya, niscaya akan semakin berkilauan. Jari-jemarinya lentik : karena ia menghiasi *KEDUA TANGAN*nya dengan *GELANG TAWADHU’ (RENDAH HATI)*, niscaya orang akan kagum padanya dan memberi *JARI-JARI LENTIK*nya dengan *CINCIN UKHUWAH Islamiyah* (persaudaraan di Jalan Allah - ?), niscaya ia makin disayang banyak orang, terutama Mas Rizal..:).. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Mandiri (bisa menghasilkan uang sendiri) : agar ketika Mas Rizal di PHK atau nggak kerja lagi atau berangkat Jihad atau Dakwah, Beliau - Istri Abang mampu memberi asap untuk dapurnya.. Lagi pula, Mas Rizal rencananya pengen Poligami..ups.. of the record deh ! Tunggu Bulan Madu yang belum selesai..dan nunggu Mas Rizal punya rumah mewah, mobil de el el..eh mungkin ndak yaa De’ ?? J&lt;br /&gt;Dan bisa naek sepeda : yang ini nih belajar tirakat juga, abis kalo di Batam, kemana-mana musti naek sepeda, Mas Rizal kan belum bisa beli Motor / Mobil sendiri !! Biaya hidup di Batam mahal..dua kali lipat di Jakarta De’..jadi musti hemat !! Di Akhir e-mailnya yang terlampau panjang, Mas Rizal menuliskan kata-kata : “Kalo kita berkualitas dan spesial di hadapan Allah, niscaya jodoh yang akan datang kepada kita pun demikian seperti halnya kita”. ***************************************&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30616562-2037824978062249815?l=syahroni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syahroni.blogspot.com/feeds/2037824978062249815/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30616562&amp;postID=2037824978062249815&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/2037824978062249815'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/2037824978062249815'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syahroni.blogspot.com/2007/09/bukan-sekedar-wanita-biasa.html' title='Bukan Sekedar Wanita Biasa'/><author><name>syahroni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09874525640202597696</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://i154.photobucket.com/albums/s273/pksejahtera/ngantuknih.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30616562.post-7330904208281807370</id><published>2007-08-24T13:48:00.001+07:00</published><updated>2007-08-24T14:22:53.469+07:00</updated><title type='text'>Mandikan Aku Bunda</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Mandikan Aku Bunda&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color:#993300;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#993300;"&gt;Sering kali orang tidak mensyukuri apa yang diMILIKInya sampai akhirnya .....&lt;br /&gt;Rani, sebut saja begitu namanya. Kawan kuliah ini berotak cemerlang dan memiliki idealisme tinggi. Sejak masuk kampus, sikap dan konsep dirinya sudah jelas: meraih yang terbaik, di bidang akademis maupun profesi yang akan digelutinya. ''Why not the best,'' katanya selalu, mengutip seorang mantan presiden Amerika. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#993300;"&gt;Ketika Universitas mengirim mahasiswa untuk studi Hukum Internasional di Universiteit Utrecht, Belanda, Rani termasuk salah satunya. Saya lebih memilih menuntaskan pendidikan kedokteran. Berikutnya, Rani mendapat pendamping yang ''selevel''; sama-sama berprestasi, meski berbeda profesi. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#993300;"&gt;Alifya, buah cinta mereka, lahir ketika Rani diangkat sebagai staf diplomat, bertepatan dengan tuntasnya suami dia meraih PhD. Lengkaplah kebahagiaan mereka. Konon, nama putera mereka itu diambil dari huruf pertama hijaiyah ''alif'' dan huruf terakhir ''ya'', jadilah nama yang enak didengar: Alifya. Saya tak sempat mengira, apa mereka bermaksud menjadikannya sebagai anak yang pertama dan terakhir. Ketika Alif, panggilan puteranya itu, berusia 6 bulan, kesibukan Rani semakin menggila. Bak garuda, nyaris tiap hari ia terbang dari satu kota ke kota lain, dan dari satu negara ke negara lain. Setulusnya saya pernah bertanya, ''Tidakkah si Alif terlalu kecil untuk ditinggal-tinggal?'' Dengan sigap Rani menjawab, ''Oh, saya sudah mengantisipasi segala sesuatunya. Everything is OK!'' Ucapannya itu betul-betul ia buktikan. Perawatan dan perhatian anaknya, ditangani secara profesional oleh baby sitter mahal. Rani tinggal mengontrol jadual Alif lewat telepon. Alif tumbuh menjadi anak yang tampak lincah, cerdas dan gampang mengerti. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#993300;"&gt;Kakek-neneknya selalu memompakan kebanggaan kepada cucu semata wayang itu, tentang kehebatan ibu-bapaknya. Tentang gelar dan nama besar, tentang naik pesawat terbang, dan uang yang banyak. ''Contohlah ayah-bunda Alif, kalau Alif besar nanti.'' Begitu selalu nenek Alif, ibunya Rani, berpesan di akhir dongeng menjelang tidurnya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#993300;"&gt;Ketika Alif berusia 3 tahun, Rani bercerita kalau dia minta adik. Terkejut dengan permintaan tak terduga itu, Rani dan suaminya kembali menagih pengertian anaknya. Kesibukan mereka belum memungkinkan untuk menghadirkan seorang adik buat Alif. Lagi-lagi bocah kecil ini ''memahami'' orang tuanya. Buktinya, kata Rani, ia tak lagi merengek minta adik. Alif, tampaknya mewarisi karakter ibunya yang bukan perengek. Meski kedua orangtuanya kerap pulang larut, ia jarang sekali ngambek. Bahkan, tutur Rani, Alif selalu menyambut kedatangannya dengan penuh ceria. Maka, Rani menyapanya ''malaikat kecilku''.&lt;br /&gt;Sungguh keluarga yang bahagia, pikir saya. Meski kedua orangtuanya super sibuk, Alif tetap tumbuh penuh cinta. Diam-diam, saya iri pada keluarga ini. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#993300;"&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, menjelang Rani berangkat ke kantor, entah mengapa Alif menolak dimandikan baby sitter. ''Alif ingin Bunda mandikan,'' ujarnya penuh harap. Karuan saja Rani, yang detik ke detik waktunya sangat diperhitungkan, gusar. Ia menampik permintaan Alif sambil tetap gesit berdandan dan mempersiapkan keperluan kantornya. Suaminya pun turut membujuk Alif agar mau mandi dengan Tante Mien, baby sitter-nya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#993300;"&gt;Lagi-lagi, Alif dengan pengertian menurut, meski wajahnya cemberut. Peristiwa ini berulang sampai hampir sepekan. ''Bunda, mandikan aku!'' kian lama suara Alif penuh tekanan. Toh, Rani dan suaminya berpikir, mungkin itu karena Alif sedang dalam masa pra-sekolah, jadinya agak lebih minta perhatian. Setelah dibujuk-bujuk, akhirnya Alif bisa ditinggal juga.&lt;br /&gt;Sampai suatu sore, saya dikejutkan telponnya Mien, sang baby sitter. ''Bu dokter, Alif demam dan kejang-kejang. Sekarang di Emergency.'' Setengah terbang, saya ngebut ke UGD. But it was too late. Allah swt sudah punya rencana lain. Alif, si malaikat kecil, keburu dipanggil pulang oleh-Nya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#993300;"&gt;Rani, ketika diberi tahu soal Alif, sedang meresmikan kantor barunya. Ia shock berat. Setibanya di rumah, satu-satunya keinginan dia adalah memandikan putranya. Setelah pekan lalu Alif mulai menuntut, Rani memang menyimpan komitmen untuk suatu saat memandikan anaknya sendiri. Dan siang itu, janji Rani terwujud, meski setelah tubuh si kecil terbaring kaku. ''Ini Bunda Lif, Bunda mandikan Alif,'' ucapnya lirih, di tengah jamaah yang sunyi. Satu persatu rekan Rani menyingkir dari sampingnya, berusaha menyembunyikan tangis. Ketika tanah merah telah mengubur jasad si kecil, kami masih berdiri mematung di sisi pusara. Berkali-kali Rani, sahabatku yang tegar itu, berkata, ''Ini sudah takdir, ya kan. Sama saja, aku di sebelahnya ataupun di seberang lautan, kalau sudah saatnya, ya dia pergi juga kan?'' Saya diam saja. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#993300;"&gt;Rasanya Rani memang tak perlu hiburan dari orang lain. Suaminya mematung seperti tak bernyawa. Wajahnya pias, tatapannya kosong. ''Ini konsekuensi sebuah pilihan,'' lanjut Rani, tetap mencoba tegar dan kuat. Hening sejenak. Angin senja meniupkan aroma bunga kamboja. Tiba-tiba Rani berlutut. ''Aku ibunyaaa!'' serunya histeris, lantas tergugu hebat. Rasanya baru kali ini saya menyaksikan Rani menangis, lebih-lebih tangisan yang meledak. ''Bangunlah Lif, Bunda mau mandikan Alif. Beri kesempatan Bunda sekali saja Lif. Sekali saja, Aliiif..'' Rani merintih mengiba-iba. Detik berikutnya, ia menubruk pusara dan tertelungkup di atasnya. Air matanya membanjiri tanah merah yang menaungi jasad Alif. Senja pun makin tua.&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#6633ff;"&gt;Note :Nasi sudah menjadi bubur, sesal tidak lagi menolong. Hal yang nampaknya sepele sering kali menimbulkan sesal dan kehilangan yang amat sangat. Sering kali orang sibuk 'di luaran', asik dengan dunianya dan ambisinya sendiri tidak mengabaikan orang2 di dekatnya yang disayanginya. Akan masih ada waktu 'nanti' buat mereka jadi abaikan saja dulu. Sering kali orang takabur dan merasa yakin bahwa pengertian dan kasih sayang yang diterimanya tidak akan hilang. Merasa mereka akan mengerti karena mereka menyayanginya dan tetap akan ada. Pelajaran yang sangat menyedihkan. Semoga kita bisa mengambil makna yang terkandung dalam kisah tsb. Catch the chance, keep and manage it well&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;sumber: tdk tercatat, afwan.&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30616562-7330904208281807370?l=syahroni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syahroni.blogspot.com/feeds/7330904208281807370/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30616562&amp;postID=7330904208281807370&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/7330904208281807370'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/7330904208281807370'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syahroni.blogspot.com/2007/08/mandikan-aku-bunda.html' title='Mandikan Aku Bunda'/><author><name>syahroni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09874525640202597696</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://i154.photobucket.com/albums/s273/pksejahtera/ngantuknih.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30616562.post-5147052584298233517</id><published>2007-08-24T13:48:00.000+07:00</published><updated>2007-08-24T14:16:42.578+07:00</updated><title type='text'>Raihana</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Raihana&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;(diambil dari buku "Pudarnya Cahaya Cleopatra")&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;Dengan panjang lebar ibu menjelaskan, sebenarnya sejak ada dalan kandunganaku telah dijodohkan dengan Raihana yang tak pernah kukenal." IbunyaRaihana adalah teman karib ibu waktu nyantri di pesantren Mangkuyudan Solo dulu" kata ibu.&lt;br /&gt;"Kami pernah berjanji, jika dikarunia anak berlainan jenis akan besanan untuk memperteguh tali persaudaraan. Karena itu ibu mohon keikhlasanmu" ,ucap beliau dengan nada mengiba. Dalam pergulatan jiwa yang sulit berhari-hari, akhirnya aku pasrah. Aku menuruti keinginan ibu. Aku tak mau mengecewakan ibu. Aku ingin menjadi mentari pagi dihatinya, meskipun untuk itu aku harus mengorbankan diriku.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;Dengan hati pahit kuserahkan semuanya bulat-bulat pada ibu. Meskipun sesungguhnya dalam hatiku timbul kecemasan-kecemasan yang datang begitusaja dan tidak tahu alasannya. Yang jelas aku sudah punya kriteria dan impian tersendiri untuk calon istriku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa berhadapan dengan air mata ibu yang amat kucintai. Saat khitbah (lamaran) sekilas kutatap wajah Raihana, benar kata Aida adikku, ia memang baby face dan anggun.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;Namun garis-garis kecantikan yang kuinginkan tak kutemukan sama sekali.Adikku, tante Lia mengakui Raihana cantik, "cantiknya alami, bisa jadi bintang iklan Lux lho, asli ! kata tante Lia. Tapi penilaianku lain, mungkin karena aku begitu hanyut dengan gadis-gadis Mesir titisan Cleopatra, yang tinggi semampai, wajahnya putih jelita, dengan hidung melengkung indah, mata bulat bening khas arab, dan bibir yang merah. Di hari-hari menjelang pernikahanku, aku berusaha menumbuhkan bibit-bibit cintaku untuk calon istriku, tetapi usahaku selalu sia-sia.&lt;br /&gt;Aku ingin memberontak pada ibuku, tetapi wajah teduhnya meluluhkanku. Haripernikahan datang. Duduk dipelaminan bagai mayat hidup, hati hampa tanpacinta, Pestapun meriah dengan emapt group rebana. Lantunan shalawatNabipun terasa menusuk-nusuk hati. Kulihat Raihana tersenyum manis, tetapi hatikuterasa teriris-iris dan jiwaku meronta. Satu-satunya harapanku adalah mendapat berkah dari Allah SWT atas baktiku pada ibuku yang kucintai. Rabbighfir li wa liwalidayya!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;Layaknya pengantin baru, kupaksakan untuk mesra tapi bukan cinta, hanyasekedar karena aku seorang manusia yang terbiasa membaca ayat-ayatNya.Raihana tersenyum mengembang, hatiku menangisi kebohonganku dankepura-puraanku. Tepat dua bulan Raihana kubawa ke kontrakan dipinggir kota Malang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;Mulailah kehidupan hampa. Aku tak menemukan adanya gairah. Betapa susahhidup berkeluarga tanpa cinta. Makan, minum, tidur, dan shalat bersamadengan makhluk yang bernama Raihana, istriku, tapi Masya Allah bibitcintaku belum juga tumbuh. Suaranya yang lembut terasa hambar, wajahnya yang teduh tetap terasa asing. Memasuki bulan keempat, rasa muak hidup bersamaRaihana mulai kurasakan, rasa ini muncul begitu saja. Aku mencoba membuangjauh-jauh rasa tidak baik ini, apalagi pada istri sendiri yang seharusnya kusayangdan kucintai. Sikapku pada Raihana mulai lain. Aku lebih banyak diam, acuh takacuh, agak sinis, dan tidur pun lebih banyak di ruang tamu atau ruang kerja. Aku merasa hidupku ada lah sia-sia, belajar di luar negeri sia-sia, pernikahanku sia-sia, keberadaanku sia-sia.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;Tidak hanya aku yang tersiksa, Raihanapun merasakan hal yang sama, karenaia orang yang berpendidikan, maka diapun tanya, tetapi kujawab " tidakapa-apa koq mbak, mungkin aku belum dewasa, mungkin masih harus belajar berumah tangga" Ada kekagetan yang kutangkap diwajah Raihana ketika kupanggil'mbak', " kenapa mas memanggilku mbak, aku kan istrimu, apa mas sudahtidak mencintaiku" tanyanya dengan guratan wajah yang sedih. "wallahu a'lam" jawabku sekenanya. Dengan mata berkaca-kaca Raihana diam menunduk, taklama kemudian dia terisak-isak sambil memeluk kakiku, "Kalau mas tidak mencintaiku, tidak menerimaku sebagai istri kenapa mas ucapkan akad nikah?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;Kalau dalam tingkahku melayani mas masih ada yang kurang berkenan, kenapamas tidak bilang dan menegurnya, kenapa mas diam saja, aku harus bersikap bagaimana untuk membahagiakan mas, kumohon bukalah sedikit hatimu untuk menjadi ruang bagi pengabdianku, bagi menyempurnakan ibadahku diduniaini". Raihana mengiba penuh pasrah. Aku menangis menitikan air mata buka karenaRaihana tetapi karena kepatunganku. Hari terus berjalan, tetapi komunikasikami tidak berjalan. Kami hidup seperti orang asing tetapi Raihana tetap melayaniku menyiapkan segalanya untukku.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;Suatu sore aku pulang mengajar dan kehujanan, sampai dirumah habismaghrib, bibirku pucat, perutku belum kemasukkan apa-apa kecuali segelas kopibuatan Raihana tadi pagi, Memang aku berangkat pagi karena ada janji denganteman. Raihana memandangiku dengan khawatir. "Mas tidak apa-apa" tanyanya dengan perasaan kuatir. "Mas mandi dengan air panas saja, aku sedang menggodoknya, lima menit lagi mendidih" lanjutnya. Aku melepas semua pakaian yang basah. "Mas airnya sudah siap" kata Raihana. Aku tak bicara sepatah katapun, aku langsung ke kamar mandi, aku lupa membawa handuk, tetapi Raihana telah berdiri didepan pintu membawa handuk. "Mas aku buatkan wedang jahe" Aku diam saja. Aku merasa mulas dan mual dalam perutku tak bisa kutahan. Dengan cepat aku berlari ke kamar mandi dan Raihana mengejarku dan memijit-mijit pundak dan tengkukku seperti yang dilakukan ibu. " Mas masuk angin. Biasanya kalau masuk angin diobati pakai apa, pakai balsam, minyak putih, atau jamu?" Tanya Raihana sambil menuntunku ke kamar. "Mas jangan diam saja dong, aku kan tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk membantu Mas". " Biasanya dikerokin" jawabku lirih. " Kalau begitu kaos mas dilepas ya, biar Hana kerokin" sahut Raihana sambil tangannya melepas kaosku. Aku seperti anak kecil yang dimanja ibunya. Raihana dengan sabar mengerokin punggungkudengan sentuhan tangannya yang halus. Setelah selesai dikerokin, Raihana membawakanku semangkok bubur kacang hijau. Setelah itu aku merebahkan diri di tempat tidur. Kulihat Raihana duduk di kursi tak jauh dari tempat tidur sambil menghafal Al Quran dengan khusyu. Aku kembali sedih dan ingin menangis, Raihana manis tapi tak semanis gadis-gadis mesir titisan Cleopatra.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;Dalam tidur aku bermimpi bertemu dengan Cleopatra, ia mengundangku untukmakan malam di istananya." Aku punya keponakan namanya Mona Zaki, nanti akan aku perkenalkan denganmu" kata Ratu Cleopatra. " Dia memintaku untuk mencarikannya seorang pangeran, aku melihatmu cocok dan berniat memperkenalkannya denganmu". Aku mempersiapkan segalanya. Tepat puku 07.00 aku datang ke istana, kulihat Mona Zaki dengan pakaian pengantinnya, cantik sekali. Sang ratu mempersilakan aku duduk di kursi yang berhias berlian. Aku melangkah maju, belum sempat duduk, tiba-tiba " Mas, bangun, sudah jam setengah empat, mas belum sholat Isya" kata Raihana membangunkanku. Akuterbangun dengan perasaan kecewa. " Maafkan aku Mas, membuat Mas kurang suka, tetapi Mas belum sholat Isya" lirih Hana sambil melepas mukenanya, mungkin dia baru selesai sholat malam. Meskipun cuman mimpi tapi itu indah sekali, tapi sayang terputus. Aku jadi semakin tidak suka sama dia, dialah pemutus harapanku dan mimpi-mimpiku. Tapi apakah dia bersalah, bukankah dia berbuat baik membangunkanku untuk sholat Isya. Selanjutnya aku merasa sulit hidup bersama Raihana, aku tidak tahu dari mana sulitnya. Rasa tidak suka semakin menjadi-jadi. Aku benar-benar terpenjara dalam suasana konyol. Aku belum bisa menyukai Raihana. Aku sendiri belum pernah jatuh cinta, entah kenapa bisa dijajah pesona gadis-gadis titisan Cleopatra.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;" Mas, nanti sore ada acara qiqah di rumah Yu Imah. Semua keluarga akan datang termasuk ibundamu. Kita diundang juga. Yuk, kita datang bareng, tidak enak kalau kita yang dieluk-elukan keluarga tidak datang" Suara lembut Raihana menyadarkan pengembaraanku pada Jaman Ibnu Hazm. Pelan-pelan ia letakkan nampan yang berisi onde-onde kesukaanku dan segelas wedang jahe. Tangannya yang halus agak gemetar. Aku dingin-dingin saja. " Maâf..maaf jika mengganggu Mas, maafkan Hana," lirihnya, lalu perlahan-lahan beranjakmeninggalkan aku di ruang kerja. " Mbak! Eh maaf, maksudku D..Din..DindaHana!, panggilku dengan suara parau tercekak dalam tenggorokan. " Ya Mas!" sahut Hana langsung menghentikan langkahnya dan pelan-pelan menghadapkan dirinya padaku. Ia berusaha untuk tersenyum, agaknya ia bahagia dipanggil "dinda". " Matanya sedikit berbinar. "Te..terima kasih Di..dinda, kita berangkat bareng kesana, habis sholat dhuhur, insya Allah," ucapku sambil menatap wajah Hana dengan senyum yang kupaksakan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;Raihana menatapku dengan wajah sangat cerah, ada secercah senyum bersinardibibirnya. " Terima kasih Mas, Ibu kita pasti senang, mau pakai baju yang mana Mas, biar dinda siapkan? Atau biar dinda saja yang memilihkan ya?". Hana begitu bahagia.&lt;br /&gt;Perempuan berjilbab ini memang luar biasa, Ia tetap sabar mencurahkan bakti meskipun aku dingin dan acuh tak acuh padanya selama ini. Aku belum pernah melihatnya memasang wajah masam atau tidak suka padaku. Kalau wajah sedihnya ya. Tapi wajah tidak sukanya belum pernah. Bah, lelaki macam apa aku ini, kutukku pada diriku sendiri. Aku memaki-maki diriku sendiri atas sikap dinginku selama ini., Tapi, setetes embun cinta yang kuharapkan membasahi hatiku tak juga turun. Kecantikan aura titisan Cleopatra itu? Bagaimanaaku mengusirnya. Aku merasa menjadi orang yang paling membenci diriku sendiridi dunia ini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;Acara pengajian dan qiqah putra ketiga Fatimah kakak sulung Raihana membawa sejarah baru lembaran pernikahan kami. Benar dugaan Raihana, kami dielu-elukan keluarga, disambut hangat, penuh cinta, dan penuh bangga. " Selamat datang pengantin baru! Selamat datang pasangan yang paling ideal dalam keluarga! Sambut Yu Imah disambut tepuk tangan bahagia mertua dan bundaku serta kerabat yang lain. Wajah Raihana cerah. Matanya berbinar-binar bahagia. Lain dengan aku, dalam hatiku menangis disebut pasangan ideal.Apanya yang ideal. Apa karena aku lulusan Mesir dan Raihana lulusan terbaik dikampusnya dan hafal Al Quran lantas disebut ideal? Ideal bagiku adalah seperti Ibnu Hazm dan istrinya, saling memiliki rasa cinta yang sampai pada pengorbanan satu sama lain. Rasa cinta yang tidak lagi memungkinkan adanya pengkhianatan. Rasa cinta yang dari detik ke detik meneteskan rasa bahagia.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;Tapi diriku? Aku belum bisa memiliki cinta seperti yang dimiliki Raihana. Sambutan sanak saudara pada kami benar-benar hangat. Aku dibuat kaget oleh sikap Raihana yang begitu kuat menjaga kewibawaanku di mata keluarga. Pada ibuku dan semuanya tidak pernah diceritakan, kecuali menyanjung kebaikanku sebagai seorang suami yang dicintainya. Bahkan ia mengaku bangga dan bahagia menjadi istriku. Aku sendiri dibuat pusing dengan sikapku. Lebih pusing lagi sikap ibuku dan mertuaku yang menyindir tentang keturunan. " Sudah satu tahun putra sulungku menikah, koq belum ada tanda-tandanya ya, padahal akuingin sekali menimang cucu" kata ibuku. " Insya Allah tak lama lagi, ibu akan menimang cucu, doakanlah kami. Bukankah begitu, Mas?" sahut Raihana sambil menyikut lenganku, aku tergagap dan mengangguk sekenanya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;Setelah peristiwa itu, aku mencoba bersikap bersahabat dengan Raihana. Aku berpura-pura kembali mesra dengannya, sebagai suami betulan. Jujur, aku hanya pura-pura. Sebab bukan atas dasar cinta, dan bukan kehendakku sendiri aku melakukannya, ini semua demi ibuku. Allah Maha Kuasa. Kepura-puraanku memuliakan Raihana sebagai seorang istri. Raihana hamil. Ia semakin manis.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;Keluarga bersuka cita semua. Namun hatiku menangis karena cinta takkunjung tiba. Tuhan kasihanilah hamba, datangkanlah cinta itu segera. Sejak itu aku semakin sedih sehingga Raihana yang sedang hamil tidak kuperhatikan lagi. Setiap saat nuraniku bertanya" Mana tanggung jawabmu!" Aku hanya diam dan mendesah sedih. " Entahlah, betapa sulit aku menemukan cinta" gumamku.&lt;br /&gt;Dan akhirnya datanglah hari itu, usia kehamilan Raihana memasuki bulan ke enam. Raihana minta ijin untuk tinggal bersama orang tuanya dengan alas an kesehatan. Kukabulkan permintaanya dan kuantarkan dia kerumahnya. Karena rumah mertua jauh dari kampus tempat aku mengajar, mertuaku tak menaruh curiga ketika aku harus tetap tinggal dikontrakan. Ketika aku pamitan, Raihana berpesan, " Mas untuk menambah biaya kelahiran anak kita, tolong nanti cairkan tabunganku yang ada di ATM. Aku taruh dibawah bantal,no.pinnya sama dengan tanggal pernikahan kita". &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;Setelah Raihana tinggal bersama ibunya, aku sedikit lega. Setiap hari Akutidak bertemu dengan orang yang membuatku tidak nyaman. Entah apa sebabnyabisa demikian. Hanya saja aku sedikit repot, harus menyiapkan segalanya. Tapi toh bukan masalah bagiku, karena aku sudah terbiasa saat kuliah diMesir.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;Waktu terus berjalan, dan aku merasa enjoy tanpa Raihana. Suatu saat aku pulang kehujanan. Sampai rumah hari sudah petang, aku merasa tubuhku benar-benar lemas. Aku muntah-muntah, menggigil, kepala pusing dan perut mual. Saat itu terlintas dihati andaikan ada Raihana, dia pasti telah menyiapkan air panas, bubur kacang hijau, membantu mengobati masuk angin dengan mengeroki punggungku, lalu menyuruhku istirahat dan menutupi tubuhku dengan selimut. Malam itu aku benar-benar tersiksa dan menderita. Akuterbangun jam enam pagi. Badan sudah segar. Tapi ada penyesalan dalam hati, aku belum sholat Isya dan terlambat sholat subuh. Baru sedikit terasa, andaikan ada Raihana tentu aku ngak meninggalkan sholat Isya, dan tidak terlambat sholat subuh.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;Lintasan Raihana hilang seiring keberangkatan mengajar di kampus. Apalagi aku mendapat tugas dari universitas untuk mengikuti pelatihan mutu dosen mata kuliah bahasa arab. Diantaranya tutornya adalah professor bahasa arab dari Mesir. Aku jadi banyak berbincang dengan beliau tentang mesir. Dalam pelatihan aku juga berkenalan dengan Pak Qalyubi, seorang dosen bahasa arab dari Medan. Dia menempuh S1-nya di Mesir. Dia menceritakan satu pengalaman hidup yang menurutnya pahit dan terlanjur dijalani. "Apakah kamu sudahmenikah?" kata Pak Qalyubi. "Alhamdulillah, sudah" jawabku. " Dengan orang mana?. " orang Jawa". " Pasti orang yang baik ya. Iya kan? Biasanya pulang dari Mesir banyak saudara yang menawarkan untuk menikah dengan perempuan shalehah. Paling tidak santriwati, lulusan pesantren. Istrimu dari pesantren?". "Pernah, alhamdulillah dia sarjana dan hafal Al Quran". " Kau sangat beruntung, tidak sepertiku". " Kenapa dengan Bapak?" " Akumelakukan langkah yang salah, seandainya aku tidak menikah dengan orang Mesir itu, tentu batinku tidak merana seperti sekarang". " Bagaimana itu bisa terjadi?". &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;Kamu tentu tahu kan gadis Mesir itu cantik-cantik, dank arena terpesona dengan kecantikanya saya menderita seperti ini. Ceritanya begini, Saya seorang anak tunggal dari seorang yang kaya, saya berangkat ke Mesir dengan biaya orang tua. Disana saya bersama kakak kelas namanya Fadhil, orang Medan juga. Seiring dengan berjalannya waktu, tahun pertama saya lulus dengan predkat jayyid, predikat yang cukup sulit bagi pelajar dari Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;Demikian juga dengan tahun kedua. Karena prestasi saya, tuan rumah tempat saya tinggal menyukai saya. Saya dikenalkan dengan anak gadisnya yang bernama Yasmin. Dia tidak pakai jilbab. Pada pandangan pertama saya jatuh cinta, saya belum pernah melihat gadis secantuk itu. Saya bersumpah tidak akan menikah dengan siapapun kecuali dia. Ternyata perasaan saya tidak bertepuk sebelah tangan. Kisah cinta saya didengar oleh Fadhil. Fadhilmembuat garis tegas, akhiri hubungan dengan anak tuan rumah itu atau sekalian lanjutkan dengan menikahinya. Saya memilih yang kedua. Ketika saya menikahi Yasmin, banyak teman-teman yang memberi masukan begini, sama-sama menikah dengan gadis Mesir, kenapa tidak mencari mahasiswi Al Azhar yang hafal Al Quran, salehah, dan berjilbab. Itu lebih selamat dari pada dengan YAsmin yang awam pengetahuan agamanya. Tetpai saya tetap teguh untuk menikahinya. Dengan biaya yang tinggi saya berhasil menikahi YAsmin.Yasmin menuntut diberi sesuatu yang lebih dari gadis Mesir.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;Perabot rumah yang mewah, menginap di hotel berbintang. Begitu selesai S1 saya kembali ke Medan, saya minta agar asset yang di Mesir dijual untuk modal di Indonesia. KAmi langsung membeli rumah yang cukup mewah di kota Medan. Tahun-tahun pertama hidup kami berjalan baik, setiap tahunnya Yasmin mengajak ke Mesir menengok orang tuanya. Aku masih bisa memenuhi semua yang diinginkan YAsmin. Hidup terus berjalan, biaya hidup semakin nambah, anak kami yang ketiga lahir, tetapi pemasukan tidak bertambah. Saya minta YAsmin untuk berhemat. Tidak setiap tahun tetapi tiga tahun sekali YAsmin tidak bisa. Aku mati-matian berbisnis, demi keinginan Yasmin dan anak-anak terpenuhi. Sawah terakhir milik Ayah saya jual untuk modal. Dalam diri saya mulai muncul penyesalan. Setiap kali saya melihat teman-teman alumni Mesir yang hidup dengan tenang dan damai dengan istrinya. Bisa mengamalkan ilmu dan bisa berdakwah dengan baik. Dicintai masyarakat. Saya tidak mendapatkan apa yang mereka dapatkan. Jika saya pengin rending, saya harus ke warung.YAsmin tidak mau tahu dengan masakan Indonesia. Kau tahu sendiri, gadis Mesir biasanya memanggil suaminya dengan namanya. Jika ada sedikit letupan, maka rumah seperti neraka. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;Puncak penderitaan saya dimulai setahun yang lalu. Usaha saya bangkrut, saya minta Asmin untuk menjual perhiasannya, tetapi dia tidak mau. Dia malah membandingkandirinya yang hidup serba kurang dengan sepupunya. Sepupunya mendapat suami orang mesir. Saya menyesal meletakkan kecantikan diatas segalanya. Saya telah diperbudak dengan kecantikannya. Mengetahui keadaan saya yang terjepit, ayah dan ibu mengalah. mereka menjual rumah dan tanah, yang akhirnya mereka tinggal di ruko yang kecil dan sempit. Batin saya menangis. Mereka berharap modal itu cukup untuk merintis bisnis saya yang bangkrut. Bisnis saya mulai bangkit, Yasmin mulai berulah, dia mengajak ke Mesir. Waktu di Mesir itulah puncak tragedy yang menyakitkan. " Aku menyesal menikah dengan orang Indonesia, aku minta kau ceraikan aku, aku tidak bisa bahagia kecuali dengan lelakiMesir". Kata Yasmin yang bagaikan geledek menyambar. Lalu tanpa dosa dia bercerita bahwa tadi di KBRI dia bertemu dengan temannya. Teman lamanya itu sudah jadi bisnisman, dan istrinya sudah meninggal. Yasmin diajak makan siang, dan dilanjutkan dengan perselingkuhan. Aku pukul dia karena tak bisa menahan diri. Atas tindakan itu saya dilaporkan ke polisi. Yang menyakitkan adalah tak satupun keluarganya yang membelaku. Rupanya selama ini Yasmin sering mengirim surat yang berisi berita bohong. Sejak saat itu saya mengalami depresi. Dua bulan yang lalu saya mendapat surat cerai dari Mesir sekaligus mendapat salinan surat nikah Yasmin dengan temannya. Hati saya sangat sakit, ketika si sulung menggigau meminta ibunya pulang".&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;Mendengar cerita Pak Qulyubi membuatku terisak-isak. Perjalanan hidupnya menyadarkanku. Aku teringat Raihana. Perlahan wajahnya terbayang dimataku,tak terasa sudah dua bualn aku berpisah dengannya. Tiba-tiba ada kerinduanyang menyelinap dihati. Dia istri yang sangat shalehah. Tidak pernah meminta apapun. Bahkan yang keluar adalah pengabdian dan pengorbanan. Hanya karena kemurahan Allah aku mendapatkan istri seperti dia. Meskipun hatiku belum terbuka lebar, tetapi wajah Raihana telah menyala didindingnya. Apa yang sedang dilakukan Raihana sekarang? Bagaimana kandungannya? Sudah delapan bulan. Sebentar lagi melahirkan. Aku jadi teringat pesannya. Dia ingin agar aku mencairkan tabungannya. Pulang dari pelatihan, aku menyempatkan ke took baju muslim, aku ingin membelikannya untuk Raihana, juga daster, dan pakaian bayi. Aku ingin memberikan kejutan, agar dia tersenyum menyambut kedatanganku. Aku tidaklangsung ke rumah mertua, tetapi ke kontrakan untuk mengambil uang tabungan, yang disimpan dibawah bantal. Dibawah kasur itu kutemukan kertas Merah jambu. Hatiku berdesir, darahku terkesiap. Surat cinta siapa ini, rasanya aku belum pernah membuat surat cinta untuk istriku. Jangan-jangan ini surat cinta istriku dengan lelaki lain. Gila! Jangan-jangan istriku serongâ?¦.Dengan rasa takut kubaca surat itu satu persatu. Dan Rabbiâ?¦ternyata surat-surat itu adalah ungkapan hati Raihana yang selama ini aku zhalimi. Ia menulis, betapa ia mati-matian mencintaiku, meredam rindunya akan belaianku. Ia menguatkan diri untuk menahan nestapa dan derita yang luar biasa. Hanya Allah lah tempat ia meratap melabuhkan dukanya. Dan ya .. Allah, ia tetap setia memanjatkan doa untuk kebaikan suaminya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;Dan betapa dia ingin hadirnya cinta sejati dariku. "Rabbi dengan penuh kesyukuran, hamba bersimpuh dihadapan-Mu. Lakal hamdu ya Rabb. Telah muliakan hamba dengan Al Quran. Kalaulah bukan karena karunia-Mu yang agung ini, niscaya hamba sudah terperosok kedalam jurang kenistaan.&lt;br /&gt;Ya Rabbi, curahkan tambahan kesabaran dalam diri hambaâ?¦â?¦" tulis Raihana. Dalam akhir tulisannya Raihana berdoa" Ya Allah inilah hamba-Mu yang kerdil penuh noda dan dosa kembali datang mengetuk pintumu, melabuhkan derita jiwa ini kehadirat-Mu. Ya Allah sudah tujuh bulan ini hamba-Mu ini hamil penuh derita dan kepayahan. Namun kenapa begitu tega suami hamba tak mempedulikanku dan menelantarkanku. Masih kurang apa rasa cinta hamba padanya. Masih kurang apa kesetiaanku padanya. Masih kurang apa baktikupadanya? Ya Allah, jika memang masih ada yang kurang, ilhamkanlah padahamba-Mu ini cara berakhlak yang lebih mulia lagi pada suamiku.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;Ya Allah, dengan rahmatMu hamba mohon jangan murkai dia karena kelalaiannya. Cukup hamba saja yang menderita. Maafkanlah dia, dengan penuh cinta hamba masih tetap menyayanginya. Ya Allah berilah hamba kekuatan untuk tetap berbakti dan memuliakannya. Ya Allah, Engkau maha Tahu bahwa hamba sangat mencintainya karena-Mu. Sampaikanlah rasa cinta ini kepadanya dengan cara-Mu. Tegurlah dia dengan teguran-Mu. Ya Allah dengarkanlah doa hamba-Mu ini. Tiada Tuhan yang layak disembah kecuali Engkau, Maha Suci Engkau". Tak terasa air mataku mengalir, dadaku terasa sesak oleh rasa haru yangluar biasa. Tangisku meledak. Dalam tangisku semua kebaikan Raihana terbayang.Wajahnya yang baby face dan teduh, pengorbanan dan pengabdiannya yangtiada putusnya, suaranya yang lembut, tanganya yang halus bersimpuh memeluk kakiku, semuanya terbayang mengalirkan perasaan haru dan cinta. Dalam keharuan terasa ada angina sejuk yang turun dari langit dan merasuk dalam jiwaku. Seketika itu pesona Cleopatra telah memudar berganti cinta Raihana yang datang di hati. Rasa sayang dan cinta pada Raihan tiba-tiba begitu kuat mengakar dalam hatiku. Cahaya Raihana terus berkilat-kilat dimata. Aku tiba-tiba begitu merindukannya. Segera kukejar waktu untuk membagi Cintakudengan Raihana.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;Kukebut kendaraanku. Kupacu kencang seiring dengan air mataku yang menetessepanjang jalan. Begitu sampai di halaman rumah mertua, nyaris tangisku meledak. Kutahan dengan nafas panjang dan kuusap air mataku. Melihat kedatanganku, ibu mertuaku memelukku dan menangis tersedu- sedu. Aku jadi heran dan ikut menangis. " Mana Raihana Bu?". Ibu mertua hanya menangis dan menangis. Aku terus bertanya apa sebenarnya yang telah terjadi. "Raihanaâ? istrimu. .istrimu dan anakmu yang dikandungnya" . " Ada apadengan dia". " Dia telah tiada". " Ibu berkata apa!". " Istrimu telah meninggal seminggu yang lalu. Dia terjatuh di kamar mandi. Kami membawanya ke rumah sakit. Dia dan bayinya tidak selamat. Sebelum meninggal, dia berpesan untuk memintakan maaf atas segala kekurangan dan kekhilafannya selama menyertaimu. Dia meminta maaf karena tidak bisa membuatmu bahagia. Dia meminta maaf telah dengan tidak sengaja membuatmu menderita. Dia minta kau meridhionya" . Hatiku bergetar hebat. " Keâ?¦kenapa ibu tidak memberi kabar padaku?". "Ketika Raihana dibawa ke rumah sakit, aku telah mengutus seseorang untuk menjemputmu di rumah kontrakan, tapi kamu tidak ada. Dihubungi ke kampus katanya kamu sedang mengikuti pelatihan. Kami tidak ingin mengganggumu. Apalagi Raihana berpesan agar kami tidak mengganggu ketenanganmu selama pelatihan. Dan ketika Raihana meninggal kami sangat sedih, Jadi Maafkanlah kami".&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;Aku menangis tersedu-sedu. Hatiku pilu. Jiwaku remuk. Ketika aku merasakan cinta Raihana, dia telah tiada. Ketika aku ingin menebus dosaku, dia telah meninggalkanku. Ketika aku ingin memuliakannya dia telah tiada. Dia telah meninggalkan aku tanpa memberi kesempatan padaku untuk sekedar minta maaf dan tersenyum padanya. Tuhan telah menghukumku dengan penyesalan dan perasaan bersalah tiada terkira.Ibu mertua mengajakku ke sebuah gundukan tanah yang masih baru dikuburan pinggir desa. Diatas gundukan itu ada dua buah batu nisan. Nama dan hari wafat Raihana tertulis disana. Aku tak kuat menahan rasa cinta, haru, rindu dan penyesalan yang luar biasa. Aku ingin Raihana hidup kembali. Dunia tiba-tiba gelap semua ........&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#3333ff;"&gt;Buku : Pudarnya Pesona Cleopatra ( Novel Psikologi Islam Pembangun Jiwa )Karangan : Habiburrahman El Shirazy ( Penulis Novel best seller Ayat-ayat cinta)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30616562-5147052584298233517?l=syahroni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syahroni.blogspot.com/feeds/5147052584298233517/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30616562&amp;postID=5147052584298233517&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/5147052584298233517'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/5147052584298233517'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syahroni.blogspot.com/2007/08/raihana.html' title='Raihana'/><author><name>syahroni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09874525640202597696</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://i154.photobucket.com/albums/s273/pksejahtera/ngantuknih.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30616562.post-4347374407498639620</id><published>2007-08-24T11:25:00.000+07:00</published><updated>2007-08-24T11:32:02.945+07:00</updated><title type='text'>Tell Her You Love Her..!!</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:130%;color:#ff99ff;"&gt;Tell Her You Love Her&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Tit.. tiit … “I luv u” Setiap pagi aku menerima SMS bernada seperti itu. Atau terkadang berupa gambar yang melambangkan cinta. Bukan siapa-siapa, karena wanita yang rajin tak pernah absen mengirimiku ungkapan cinta itu tak lain adalah istriku sendiri. Kemarin kuberitahu dia bahwa tindakannya itu memalukan, untuk sebuah keluarga yang sudah memiliki dua anak, tidak usahlah ‘cinta-cinta-an’ seperti halnya orang pacaran atau pengantin baru. Tapi ia tidak menggubrisnya, bahkan ia semakin sering dengan menambah rutinitas itu pada setiap sorenya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Enam setengah bulan lalu, malah dia melakukan satu seremoni yang bagiku hanyalah buang-buang uang saja dan tak selayaknya ia melakukan itu. Malam itu sesampainya aku di rumah, kudapati rumahku hanya diterangi oleh lampu yang remang-remang. Rupanya istriku mengganti lampu ruangan makan kami, agar terkesan lebih romantis, katanya. Sementara dua anakku sudah terlelap menikmati mimpinya, kulihat beberapa batang lilin menyala diatas meja makan yang diatasnya sudah tersedia hidangan penuh selera yang menjadi kesukaanku. Dengan gaun malamnya, ia terlihat begitu cantik. Aku baru ingat, hari itu adalah ulang tahun ketiga pernikahan kami.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Bahkan satu bulan sebelumnya, ia mengajakku keluar bersama anak-anak. Kami makan di sebuah restoran yang cukup bagus. Ia yang membayar semuanya, katanya. Pikirku, dari mana ia mendapatkan uang, toh ia tak bekerja. Akhirnya kuketahui itu uang yang ia sisihkan dari jatah bulanan yang kuberikan. Hanya saja bagiku, sekedar merayakan ulang tahunku tidak perlu repot-repot dan mahal seperti ini. Cukup dengan membeli makanan di pasar dan dimakan bersama-sama, selesai, yang penting kita bersyukur kepada-Nya bahwa kita masih diberikan kekuatan dan kesabaran dalam mengemban amanah-Nya sampai usia kita bertambah hari itu. Yang kuheran, malam sebelumnya tepat pukul 00.01 WIB ketika detik pertama pada tanggal kelahiranku, sebuah kecupan hangat mendarat di keningku. Kubuka perlahan mataku dan kudapatkan senyumannya yang manis. Malam itu ia menghadiahiku sebuah jam tangan yang didalam bungkus kadonya terdapat sebuah kartu ucapan bertuliskan: “Take My Heart In Your Arm”.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;O ya, sekedar memberitahu, handphone yang kupakai sekarang ini adalah handphone hadiah darinya pada saat ulangtahun pernikahanku enam setengah bulan yang lalu itu. Aku sempat menolaknya, karena handphone-ku sebelumnya juga masih bagus. Dengan sedikit senyum ia menghulurkan sebungkus kado cantik itu. Didalamnya, kutemukan kembali sebuah kartu bertuliskan sebuah pesan (harap) singkat: “Keep In Touch, Please …”. Lucunya, aku lupa bertanya, bagaimana cara ia mendapatkan barang semahal itu. Ah mungkin karena aku sedang terkagum-kagum saja kepada istriku itu, yang membuat aku lupa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;SMS terakhir yang aku terima pagi ini, masih sama isinya. Namun entah kenapa hari ini aku menitikkan air mata. Kuperhatikan kembali rangkaian kata-kata dalam pesan itu, padahal setiap hari aku membacanya. I-L-U-V-U … kuperhatikan satu persatu huruf yang terangkai singkat itu, namun titik air dari mataku semakin bertambah. Aku jadi teringat dengan handphone hadiah darinya, teringat dengan makan malam istimewa nan romantis saat ulang tahun pernikahanku enam setengah bulan yang lalu, jam tangan hadiah darinya saat ulangtahunku, semua perhatian, cinta dan kasih sayangnya kepadaku. Ooh …&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Tiba-tiba mataku menatap lingkaran merah di satu tanggal pada kalender mejaku. Disitu tertulis, “Ultah istriku”. Ya Allah … aku hampir saja melupakannya kalau besok adalah hari ulang tahunnya. Sementara hari sudah sore, aku bingung harus menyiapkan hadiah apa untuknya, padahal uangku sudah habis, tak mungkinlah jika aku meminta kepadanya untuk membeli hadiah untuknya, jelas nggak surprise. Akhirnya, aku nekat menelepon beberapa teman dan karibku, atau siapapun yang bisa kupinjam uangnya. Aku ingin memberinya sesuatu. Namun, apa daya, tak satupun dari mereka bisa meminjamkannya karena memang selain mendadak, bukan tanggal yang tepat bagi siapapun untuk meminjam uang di tanggal tua. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Aku lemas, hari sudah terlalu malam bagiku untuk mengetuk pintu orang kesekian untuk kupinjami uangnya. Lagipula toko-toko mulai tutup, kalaupun aku mendapatkan uangnya, sudah terlambat untuk membeli sesuatu. Langkahku gontai, aku malu jika pulang tak membawa apa-apa. Aku menyesal, rupanya kesibukan dan sifat egoisku yang selama ini menutupi semua perhatian dan cinta yang diberikannya, hingga tak sekalipun aku membalasnya. Sambil berjalan, lalu terbetik sebuah ide kecil dibenakku …&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Aku pulang, kudapati rumahku sudah sepi, istri dan kedua anakku sudah terlelap. Aku tak ingin membangunkan mereka. Belum juga mataku merapat karena masih membayangkan betapa menyesalnya aku yang telah mengabaikan perhatian dan kasih sayangnya selama ini, bahkan tak sepatah kata ‘terima kasih’ pun aku ucapkan untuk semua cintanya itu. Satu jam kemudian, istriku terbangun untuk menunaikan sholat malamnya. Biasanya ia membangunkan aku (atau sebaliknya jika aku bangun terlebih dulu) untuk sholat bersama. Namun ia tak segera, karena kuyakin matanya langsung menatap setangkai bunga mawar merah yang kuletakkan disamping bantal tidurnya. Sementara aku masih berpura-pura terlelap, namun mataku sesekali menangkap senyuman di bibirnya ketika ia membaca kertas kecil yang kuikatkan ditangkai bunga itu, “Maafkan abang dik, yang telah melupakan perhatian dan cinta adik. Bunga ini memang tidak akan mampu membalas semua yang telah adik berikan … with luv …”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;***&lt;br /&gt;Saudaraku, berapapun usia pernikahan anda, tetaplah perbaharui cinta berdua dengan senantiasa memberikan perhatian dan kasih sayang. Sehingga kelak, cita-cita berdua sampai di surga-Nya bukanlah sekedar impian. Dengan cinta dan perhatian yang tulus kepada pasangan anda, segala cobaan, ujian seberat apapun akan mampu diatasi bersama, selamanya, tanpa harus berakhir dengan tangis dan penyesalan. Sehingga juga dengan itu, waktu yang anda punya tak habis terpakai untuk menyelesaikan semua persoalan, dan anda bisa lebih memfokuskan harap dan do’a semoga Allah tersenyum juga mencurahkan cinta-Nya karena kasih dan sayang setiap hamba kepada pasangannya. (Bayu Gautama, With Love)&lt;br /&gt;(baitijannati.wordpress.com)&lt;br /&gt;__________________&lt;br /&gt;sumber : eramuslim.com&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30616562-4347374407498639620?l=syahroni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syahroni.blogspot.com/feeds/4347374407498639620/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30616562&amp;postID=4347374407498639620&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/4347374407498639620'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/4347374407498639620'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syahroni.blogspot.com/2007/08/tell-her-you-love-her.html' title='Tell Her You Love Her..!!'/><author><name>syahroni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09874525640202597696</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://i154.photobucket.com/albums/s273/pksejahtera/ngantuknih.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30616562.post-7512099350656561038</id><published>2007-08-24T01:51:00.000+07:00</published><updated>2007-08-23T11:58:15.669+07:00</updated><title type='text'>Bila Bosan Melanda Rumah Tangga</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;color:#3333ff;"&gt;Bila Bosan Melanda Rumah Tangga&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Rasa bosan pasti pernah singgah dalam kehidupan rumah tangga Anda. Bahkan mungkin suatu waktu akan datang kembali. Perasaan bosan itu ibarat gelapnya malam yang memang harus Anda lalui untuk kemudian Anda menikmati indahnya pagi dan hangatnya mentari.Rasa bosan dalam kehidupan berumah tangga adalah wajar, mengingat memang tidak ada yang sempurna dalam kehidupan di dunia ini. Maka, setinggi apapun prestasi, kebaikan, atau keistimewaan, selama masih ada di dunia, pasti memiliki kelemahan dan kekurangan. Artinya, seistimewa apapun pasangan hidup Anda, pasti punya kekurangan. Akibatnya, kebosanan-kebosanan menyergap kehidupan rumah tangga Anda. Tiba-tiba Anda merasa bosan pada keadaan rumah, bosan terhadap penampilan pasangan, bosan terhadap keadaan anak-anak, atau bosan menghadapi segala permasalahan rumah tangga. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Rumah tangga yang sudah disergap kebosanan biasanya diwarnai dengan sikap yang serba tidak maksimal. Suami tidak maksimal mengelola ke-qawaman-nya dalam rumah tangga sehingga berimbas kepada sikap istri yang juga tidak maksimal dalam melayani suami, juga dalam menjaga amanah rumah dan anak-anak. Bisa jadi, suami-istri pun tidak maksimal mengekspresikan rasa cinta kasihnya. Akibatnya, muncul ketegangan atau bahkan sikap apatis, suami-istri berjalan sendiri-sendiri mengikuti idealisme masing-masing. Rasulullah SAW mewanti-wanti agar jika muncul rasa bosan atau jenuh, pelampiasan yang dipilih hendaknya tidak keluar dari kebenaran sebagaimana sabda beliau ini: &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;“Setiap amal itu ada masa semangatnya, dan pada setiap masa semangat itu ada masa futur (bosan). Barangsiapa yang ketika futur tetap berpegang kepada sunnahku, maka sesungguhnya ia telah memperoleh petunjuk dan barangsiapa yang ketika futur berpegang kepada selain sunnahku, maka sesungguhnya ia telah tersesat.” (HR al-Bazaar) &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Penyebab Munculnya Rasa BosanRasa bosan dalam kehidupan rumah tangga berkaitan dengan faktor internal dan eksternal. Secara internal, rasa bosan seorang suami ataiu istri berkaitan dengan apresiasi dirinya terhadap kondisi rumah tangganya. Mungkin seorang suami melihat keadaan rumah yang tidak rapi setiap pulang kerja. Atau istri mendapati suami pulang kerja dengan setumpuk permasalahan kantor yang kemudian menjadi pekerjaan rumah. Tidak ada waktu untuk bercengkerama atau sekedar ngobrol sehingga rumah tangga rasanya berjalan seperti angina lalu, tanpa ruh. Atau suami menginginkan istri siap jika dia memerlukan teman diskusi pekerjaan kantor. Di sisi lain suami tidak peduli pada pekerjaan rumah tangga istri yang tidak henti-hentinya. Artinya, di satu sisi suami atau mengharapkan pasangannya memahami keadaannya namun di pihak lain tidak ada itikad yang memudahkan harapan itu bisa terealisasi.&lt;br /&gt;Secara eksternal, sebab-sebab munculnya rasa bosan berasal dari hal-hal di luar diri. Mungkin memang sudah saatnya Anda mengubah posisi tempat tidur atau mengganti gorden kamar Anda. Mungkin saatnya juga Anda mengganti warna cat rumah dengan warna yang lebih segar. Anda juga mungkin sudah saatnya mencoba menu makanan baru atau mengganti penampilan di depan suami Anda. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Ada tiga hal yang diindikasikan menjadi penyebab munculnya rasa bosan untuk Anda kenali:&lt;br /&gt;1. Anda melakukan kesalahan berulang-ulang.Bisa jadi istri memasak terlalu asin dan itu terjadi berulang kali untuk masakan kesukaan sang suami. Istri kembali memakai baju warna gelap yang tidak disukai suami. Atau suami selalu menyimpan baju-baju kotor di belakang pintu sehingga istri harus sering razia baju kotor. Dengan demikian, Anda berdua sudah terperosok dua kali pada lubang yang sama. Akibatnya, Anda berdua merasa bosan dengan keadaan yang terus berulang, sementara Anda berdua tidak menghendaki keadaan seperti itu terjadi. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;2. Beban Anda memang berat dan tidak pernah henti.Mungkin istri beraktivitas kegiatan sosial atau bahkan juga bekerja sehingga ketika sampai di rumah ingin suasana yang sedikit santai untuk mengendorkan urat saraf, sementara suami datang dengan segudang permasalahan kantor dan tuntutan pelayanan dari istri. Atau mungkin kondisi ekonomi rumah tangga kurang mencukupi sehingga suami atau istri harus bekerja keras. Kendati begitu ternyata gaji ternyata gaji berdua tidak cukup untuk membayar rekening-rekening tagihan. Fisik lelah dan pikiran jenuh, akhirnya tidak ada waktu lagi untuk sekedar bermanis-manis dengan pasangan. Yang ada adalah ketegangan demi ketegangan yang lama kelamaan menimbulkan kebosanan-kebosanan dalam menghadapi permasalahan hidup. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;3. Idealisme Anda terlalu tinggiApapun yang tidak seimbang akan berakhir pada kebosanan. Harapan yang terlalu tinggi terhadap pasangan akan menimbulkan kekecewaan jika ternyata pasangan tidak mampu memenuhi harapan Anda. Misalnya saja, Anda menginginkan suami selalu bersemangat dalam menyelesaikan setiap permasalahan karena bagi Anda suami ideal adalah suami yang selalu tegar menghadapi masalah rumah tangga. Namun, kenyataannya, suami Anda malah down. Atau Anda mengharapkan istri Anda bisa berbisnis seperti istri-istri lain yang bisa menambah income bulanan dengan berbisnis busana muslim. Kenyataannya istri tidak berbakat dagang sehingga tidak balik modal. Akhirnya, Anda patah arang, lalu malah tidak semangat lagi mengejar harapan tersebut. Akhirnya Andapun bosan mengejar sesuatu yang memang tidak bisa Anda paksakan kepada pasangan Anda. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Kebosanan yang Melahirkan Kekuatan BaruTidak sedikit orang yang menjadikan kebosanan sebagai antiklimaks yang mengawali sikap atau perilaku buruk. Mereka berdalih mencari kompensasi rasa bosannya itu dengan mengerjakan hal-hal negative dengan dalih untuk mencari suasana baru. Padahal jika disikapi denga baik, kebosanan akan memunculkan kreativitas yang melahirkan kekuatan baru. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Berikut tips-tips yang bisa Anda simak:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;* Perbarui niat. Setelah sekian lama berumah tangga, ada saatnya Anda berdua menekan tombol pause untuk merenung. Mungkin karena kesibukan urusan kantor atau rumah, Anda berdua tidak sempat saling mengingatkan pada niat semula menjalani rumah tangga sebagai ibadah. Anda berdua perlu mengukur kembali keikhlasan Anda dalam menghadapi berbagai problematika rumah tangga. Keihklasan adalah sumber kekuatan jiwa dan fisik sehingga Anda akan kuat menjalani kondisi apapun dalam hidup.&lt;br /&gt;* Susunlah perencanaan dan manajemen rumah tangga Anda. Kebosanan banyak datang karena tidak adanya perencanaan dan manajemen yang baik dalam menata aktivitas rumah tangga. Akibatnya, tenaga, pikiran, waktu, dan dana tidak terpakai maksimal untuk hal-hal yang penting.&lt;br /&gt;* Pahami keutamaan-keutamaan amal. Allah akan memberikan ganjaran untuk pekerjaan yang dilakukan dengan dasar ikhlas dan benar. Lelahnya suami mencari nafkah dihitung sebagai fi sabilillah. Peluh, kelelahan, dan kesulitan dalam mencari nafkah akan memperoleh pahala besar. Pekerjaan istri mengurus rumah tangga dengan benar dan ikhlas akan mengantarkannya pada surga. Jadi, hadirkan dalam diri kita kenikmatan surga yang dijanjikan Allah kepada hamba-Nya yang beramal saleh.&lt;br /&gt;* Ajaklah pasangan Anda melakukan ibadah sunnah berdzikir, beribadah, dan mendekatkan diri kepada Allah ketika kita diterpa kegelisahan dan rasa bosan adalah di antara kebiasaan yang dilakukan salafussaleh. Allah akan menyertai orang-orang yang menjalankan amalan-amalan sunnah setelah menjalankan amalan-amalan wajib.&lt;br /&gt;* Bercerminlah pada orang lain. Anda berdua bisa bertanya kepada orang-orang tua atau yang lebih berpengalaman tentang kiat-kiat mereka mengatasi kelelahan atau kebosanan dalam menjalani cobaan-cobaan hidup. Uraian mereka akan memacu semangat Anda dalam mengatasi kebosananTips-tips di atas memang bukan hal yang mudah untuk direalisasikan. Semuanya membutuhkan kesungguhan, keseriusan, dan kerja keras. Namun, jika dikerjakan akan menjadi solusi bagi rasa antara Anda dan pasangan Anda. InsyaAllah.&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sumber: Prayoga.net &amp;amp; baitijannati.wordpress.com&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dari Majalah Safina, Memandu Kalangan Muda Berkeluarga&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30616562-7512099350656561038?l=syahroni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syahroni.blogspot.com/feeds/7512099350656561038/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30616562&amp;postID=7512099350656561038&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/7512099350656561038'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/7512099350656561038'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syahroni.blogspot.com/2007/08/bila-bosan-melanda-rumah-tangga.html' title='Bila Bosan Melanda Rumah Tangga'/><author><name>syahroni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09874525640202597696</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://i154.photobucket.com/albums/s273/pksejahtera/ngantuknih.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30616562.post-5273514539458172561</id><published>2007-08-23T11:15:00.000+07:00</published><updated>2008-11-19T14:20:27.114+07:00</updated><title type='text'>Indahnya Berumah Tangga</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_W_Ey7thhhOw/Rs0NHRsKFKI/AAAAAAAAAAs/2JifVSVZXvM/s1600-h/crown.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5101748371539498146" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 144px; CURSOR: hand; HEIGHT: 127px" height="267" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_W_Ey7thhhOw/Rs0NHRsKFKI/AAAAAAAAAAs/2JifVSVZXvM/s320/crown.jpg" width="222" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Indahnya Berumah Bangga&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;Oleh : Ameeratul &lt;span class=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span class=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#6666cc;"&gt;Ketika melihat pasangan yang baru menikah, saya suka tersenyum. Bukan apa-apa, saya hanya ikut merasakan kebahagiaan yang berbinar spontan dari wajah-wajah syahdu mereka. Tangan yang saling berkaitan ketika berjalan, tatapan-tatapan penuh makna, bahkan sirat keengganan saat hendak berpisah. Seorang sahabat yang tadinya mahal tersenyum, setelah menikah senyumnya selalu saja mengembang. Ketika saya tanyakan mengapa, singkat dia berujar “Menikahlah! Nanti juga tahusendiri”. Aih…Menikah adalah sunnah terbaik dari sunnah yang baik itu yang saya baca dalam sebuah buku pernikahan. Jadi ketika seseorang menikah, sungguh ia telah menjalankan sebuah sunnah yang di sukai Nabi. Dalam buku tersebut dikatakan bahwa Allah hanya menyebut nabi-nabi yang menikah dalam kitab-Nya. Hal ini menunjukkan betapa Allah menunjukkan keutamaan pernikahan. Dalam firmannya, &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#6666cc;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#6666cc;"&gt;“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan Dia menjadikan rasa kasih sayang diantaramu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kalian yang berfikir.” (QS. Ar-Rum: 21).&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#6666cc;"&gt;Menikah itu Subhanallah indah, kata Almarhum ayah saya dan hanya bisa dirasakan oleh yang sudah menjalaninya. Ketika sudah menikah, semuanya menjadi begitu jelas, alur ibadah suami dan istri. Beliau mengibaratkan ketika seseorang baru menikah dunia menjadi terang benderang, saat itu kicauan burung terdengar begitu merdu. Sepoi angin dimaknai begitu dalam, makanan yang terhidang selalu saja disantap lezat. Mendung di langit bukan masalah besar. Seolah dunia milik mereka saja, mengapa? karena semuanya dinikmati berdua. Hidup seperti seolah baru dimulai, sejarah keluarga baru saja disusun.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#6666cc;"&gt;Namun sayang tambahnya, semua itu lambat laun menguap ke angkasa membumbung atau raib ditelan dalamnya bumi. Entahlah saat itu cinta mereka berpendar ke mana. Seiring detik yang berloncatan, seolah cinta mereka juga. Banyak dari pasangan yang akhirnya tidak sampai ke tujuan, tak terhitung pasangan yang terburai kehilangan pegangan, selanjutnya perahu mereka karam sebelum sempat berlabuh di tepian. Bercerai, sebuah amalan yang diperbolehkan tapi sangat dibenci Allah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#6666cc;"&gt;Ketika Allah menjalinkan perasaan cinta diantara suami istri, sungguh itu adalah anugerah bertubi yang harus disyukuri. Karena cinta istri kepada suami berbuah ketaatan untuk selalu menjaga kehormatan diri dan keluarga. Dan cinta suami kepada istri menetaskan keinginan melindungi dan membimbingnya sepenuh hati. Lanjutnya kemudian.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#6666cc;"&gt;Saya jadi ingat, saat itu seorang istri memarahi suaminya habis-habisan, saya yang berada di sana merasa iba melihat sang suami yang terdiam. Padahal ia baru saja pulang kantor, peluh masih membasah, kesegaran pada saat pergi sama sekali tidak nampak, kelelahan begitu lekat di wajah. Hanya karena masalah kecil, emosi istri meledak begitu hebat. Saya kira akan terjadi “perang” hingga bermaksud mengajak anak-anak main di belakang. Tapi ternyata di luar dugaan, suami malah mendaratkan sun sayang penuh mesra di kening sang istri. Istrinya yang sedang berapi-api pun padam, senyum malu-malunya mengembang kemudian dan merdu uaranya bertutur “Maafkan Mama ya Pa..”. Gegas ia raih tangan suami danmendekatkannya juga ke kening, rutinitasnya setiap kali suaminya datang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#6666cc;"&gt;Jauh setelah kejadian itu, saya bertanya pada sang suami kenapa ia berbuat demikian. “Saya mencintainya, karena ia istri yang dianugerahkan Allah, karena ia ibu dari anak-anak. Yah karena saya mencintainya” demikian jawabannya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#6666cc;"&gt;Ibn Qayyim Al-Jauziah seorang ulama besar, menyebutkan bahwa cinta mempunyai tanda-tanda. &lt;em&gt;Pertama&lt;/em&gt;, ketika mereka saling mencintai maka sekali saja mereka tidak akan pernah saling mengkhianati, Mereka akan saling setia senantiasa, memberikan semua komitmen mereka. &lt;em&gt;Kedua&lt;/em&gt;, ketika seseorang mencintai, maka dia akan mengutamakan yang dicintainya, seorang istri akan mengutamakan suami dalam keluarga, dan seorang suami tentu saja akan mengutamakan istri dalam hal perlindungan dan nafkahnya. Mereka akan sama-sama saling mengutamakan, tidak ada yang merasa superior. &lt;em&gt;Ketiga&lt;/em&gt;, ketika mereka saling mencintai maka sedetikpun mereka tidak akan mau berpisah, lubuk hatinya selalu saling terpaut. Meskipun secara fisik berjauhan, hati mereka seolah selalu tersambung. Ada do’a istrinya agar suami selamat dalam perjalanan dan memperoleh sukses dalam pekerjaan. Ada tengadah jemari istri kepada Allahi supaya suami selalu dalam perlindunganNya, tidak tergelincir. Juga ada ingatan suami yang sedang membanting tulang meraup nafkah halal kepada istri tercinta, sedang apakah gerangan Istrinya, lebih semangatlah ia.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#6666cc;"&gt;Saudaraku, ketika segala sesuatunya berjalan begitu rumit dalam sebuah rumah tangga, saat-saat cinta tidak lagi menggunung dan menghilang seiring persoalan yang datang silih berganti. Perkenankan saya mengingatkan lagi sebuah hadist nabi. Ada baiknya para istri dan suami menyelami bulir-bulir nasehat berharga dari Nabi Muhammad. Salah satu wasiat Rasulullah yang diucapkannya pada saat-saat terakhir kehidupannya dalam peristiwa haji wada’:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#6666cc;"&gt;“&lt;em&gt;Barang siapa -diantara para suami- bersabar atas perilaku buruk dari istrinya, maka Allah akan memberinya pahala seperti yang Allah berikan kepada Ayyub atas kesabarannya menanggung penderitaan. Dan barang siapa -diantara para istri- bersabar atas perilaku buruk suaminya, maka Allah akan memberinya pahala seperti yang Allah berikan kepada Asiah, istri fir’aun” (HR Nasa-iy dan Ibnu Majah ).&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#6666cc;"&gt;Kepada saudaraku yang baru saja menggenapkan setengah dien, Tak ada salahnya juga untuk saudaraku yang sudah lama mencicipi asam garamnya pernikahan, Patrikan firman Allah dalam ingatan : “…&lt;em&gt;Mereka (para istri) adalah pakaian bagi kalian (para suami) dan kalian adalah pakaian bagi mereka…” (QS. Al-Baqarah:187)&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#6666cc;"&gt;Torehkan hadist ini dalam benak : &lt;em&gt;“Sesungguhnya ketika seorang suami memperhatikan istrinya dan begitu pula dengan istrinya, maka Allah memperhatikan mereka dengan penuh rahmat, manakala suaminya rengkuh telapak tangan istrinya dengan mesra, berguguranlah dosa-dosa suami istri itu dari sela jemarinya” (Diriwayatkan Maisarah bin Ali dari Ar-Rafi’ dari Abu Sa’id Alkhudzri r.a)&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#6666cc;"&gt;Kepada sahabat yang baru saja membingkai sebuah keluarga, Kepada para pasutri yang usia rumah tangganya tidak lagi seumur jagung, Ingatlah ketika suami mengharapkan istri berperilaku seperti Khadijah istri Nabi, maka suami juga harus meniru perlakukan Nabi Muhammad kepada para Istrinya. Begitu juga sebaliknya. Perempuan yang paling mempesona adalah istri yang shalehah, istri yang ketika suami memandangnya pasti menyejukkan mata, ketika suaminya menuntunnya kepada kebaikan maka dengan sepenuh hati dia akan mentaatinya, jua tatkala suami pergi maka dia akan amanah menjaga harta dan kehormatannya. Istri yang tidak silau dengan gemerlap dunia melainkan istri yang selalu bergegas merengkuh setiap kemilau ridha suami.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#6666cc;"&gt;Lelaki yang berpredikat lelaki terbaik adalah suami yang memuliakan istrinya. Suami yang selalu dan selalu mengukirkan senyuman di wajah istrinya. Suami yang menjadi qawwam istrinya. Suami yang begitu tangguh mencarikan nafkah halal untuk keluarga. Suami yang tak lelah berlemah lembut mengingatkan kesalahan istrinya. Suami yang menjadi seorang nahkoda kapal keluarga, mengarungi samudera agar selamat menuju tepian hakiki “Surga”. Dia memegang teguh firman Allah, “&lt;em&gt;Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS. At-Tahrim: 6)&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#6666cc;"&gt;Akhirya, semuanya mudah-mudah tetap berjalan dengan semestinya. Semua berlaku sama seperti permulaan. Tidak kurang, tidak juga berlebihan.Meski riak-riak gelombang mengombang-ambing perahu yang sedang dikayuh, atau karang begitu gigih berdiri menghalangi biduk untuk sampai ketepian. Karakter suami istri demikian, Insya Allah dapat melaluinya dengan hasil baik. Sehingga setiap butir hari yang bergulir akan tetap indah, fajar di ufuk selalu saja tampak merekah. Keduanya menghiasi masa dengan kesyukuran, keduanya berbahtera dengan bekal cinta. Sama seperti syair yang digaungkan Gibran,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#6666cc;"&gt;Bangun di fajar subuh dengan hati seringan awan&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#6666cc;"&gt;Mensyukuri hari baru penuh sinar kecintaan&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#6666cc;"&gt;Istirahat di terik siang merenungkan puncak getaran cinta&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#6666cc;"&gt;Pulang di kala senja dengan syukur penuh di rongga dada&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#6666cc;"&gt;Kemudian terlena dengan doa bagi yang tercinta dalam sanubari&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#6666cc;"&gt;Dan sebuah nyanyian kesyukuran tersungging di bibir senyuman&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#6666cc;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/em&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#6666cc;"&gt;Semoga Allah selalu menghimpunkan kalian (yang saling mencintai karena Allah dalam ikatan halal pernikahan) dalam kebaikan. Mudah-mudahan Allah yang maha lembut melimpahkan kepada kalian bening saripati cinta, cinta yang menghangati nafas keluarga, cinta yang menyelamatkan. Semoga Allah memampukan kalian membingkai keluarga sakinah, mawaddah, warrahmah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#6666cc;"&gt;Semoga Allah mematrikan helai keikhlasan di setiap gerak dalam keluarga. Jua Allah yang maha menetapkan, mengekalkan ikatan pernikahan tidak hanya di dunia yang serba fana tapi sampai ke sana, the real world “Akhirat”. Mudah-mudahan kalian selamat mendayung sampai ketepian.Allahumma Aamiin.Barakallahu, untuk para pengantin muda. Mudah-mudahan saya mampu mengikuti tapak kalian yang begitu berani mengambil sebuah keputusan besar, yang begitu nyata menandakan ketaqwaan kepada Allah serta ketaatan kepada sunnah Rasul Pilihan. Mudah-mudahan jika giliran saya tiba, tak perlu lagi saya bertanya mengapa teman saya menjadi begitu murah senyum. Karena mungkin saya sudah mampu menemukan jawabannya sendiri.&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sumber: Prayoga.net &amp;amp; baitijannati.wordpress.com&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30616562-5273514539458172561?l=syahroni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syahroni.blogspot.com/feeds/5273514539458172561/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30616562&amp;postID=5273514539458172561&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/5273514539458172561'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/5273514539458172561'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syahroni.blogspot.com/2007/08/indahnya-berumah-tangga.html' title='Indahnya Berumah Tangga'/><author><name>syahroni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09874525640202597696</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://i154.photobucket.com/albums/s273/pksejahtera/ngantuknih.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_W_Ey7thhhOw/Rs0NHRsKFKI/AAAAAAAAAAs/2JifVSVZXvM/s72-c/crown.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30616562.post-7285982031444098552</id><published>2007-05-22T07:00:00.000+07:00</published><updated>2008-11-19T14:20:27.231+07:00</updated><title type='text'>"Kado untuk suamiku</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_W_Ey7thhhOw/RlI2miIj1iI/AAAAAAAAAAU/4jjdJ2qkBGQ/s1600-h/26.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5067172566370866722" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 83px; CURSOR: hand; HEIGHT: 117px" height="117" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_W_Ey7thhhOw/RlI2miIj1iI/AAAAAAAAAAU/4jjdJ2qkBGQ/s320/26.jpg" width="109" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a title="Taut Tetap ke Kado untuk Suamiku" href="http://baitijannati.wordpress.com/2007/04/11/kado-untuk-suamiku/"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:180%;color:#cc33cc;"&gt;&lt;strong&gt;Kado untuk Suamiku&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Oleh Miftakhul Jannah&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#006600;"&gt;Hari ini adalah ultah ke-8 pernikahanku dengannya। Tak seperti ultah-ultah perkawinanku sebelumnya, di mana aku selalu menyempatkan untuk membungkus kado kejutan buatnya, buat kami; kali ini tidak. Sebenarnya jauh di lubuk hati, ada terlintas juga siapa tahu kali ini Mas yang memberi kejutan untukku। Tetapi sampai malam ini ternyata tidak ada sesuatu istimewa yang Mas hadirkan. Dan aku tidak kecewa, karena aku sudah menyangka, tak akan ada apa-apa spesial yang menjadi kejutan bagi kami.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#006600;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#006600;"&gt;Sekarang aku sudah jauh memahami karakternya. Bukan orang yang romantis. Tak bisa mengungkapkan kata-kata manis secara langsung. Tak biasa memuji, tak biasa menggunakan kata-kata berbau basa-basi, semisal: tolong, maaf, â€¦ apalagi kata-kata: sayangâ€¦ (tabu kali). Ya, begitulah suamiku.&lt;br /&gt;Hal inilah yang dulu sering membuatku luka, karena belum mengertinya aku tentang dirinya. Seiring berjalannya waktu, aku mengerti, bahwa Mas bukan berarti tak sayang bila tak pernah menggunakan kata-kata yang biasa aku dengar dari kehidupanku sebelum dengannya.&lt;br /&gt;Betapa sering dulu aku menangis di setiap malam; betapa selalu bantal basah oleh linangan air mata; saat merasa dicuekin। Terkadang hati ini kesal, bila Mas begitu mudah tertidur seusai kami melakukan sunnahâ€¦॥ Sepertinya aku ini hanya sebuah barang Itu dulu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#006600;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#006600;"&gt;Seorang pemuda yang sama sekali belum pernah aku lihat dan kenal sebelumnya. Dia adalah kakak dari teman kuliahku, seorang wanita sholihah, yang juga menjadi guru tahsin-ku. Setelah melalui malam-malam sujud istikhoroh, aku mantab menerimanya. Menikah tanpa pacaran. Prosesnya lumayan cepat: tukar biodata, bertukar fikiran &amp; idealisme melalui surat, saling mengirim foto, bertemu satu kali langsung dikhitbah (dilamar); tiga bulan kemudian menikah.&lt;br /&gt;Penyesuaianku dengannya memang sangat lama। Karena aku adalah tipe orang yang tak bisa terbuka. Sangat sensitif, mudah menangis, rapuh. Sementara dia tipe orang yang sangat keras, disiplin dan tegar.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#006600;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#006600;"&gt;Bagaimanapun, ternyata Allah SWT Maha Penyayang kepada kami. Allah SWT menganugerahkan kesabaran kepadaku untuk memandang jernih masalah perbedaan karakter ini. Teringat sebuah pesan dalam sebuah buku yang pernah kubaca:&lt;br /&gt;“Jika ada surga di dunia, surga itu adalah pernikahan yang bahagia. Namun jika ada neraka di dunia, itulah rumah tangga yang penuh pertengkaran dan kecurigaan-kecurigaan yang menakutkan antara suami dan isteri” (Muhammad Fauzil Adhim)&lt;br /&gt;Dan aku ingin mendapatkan surga dunia itu।&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#006600;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#006600;"&gt;Dari karakter Mas yang semula kufikir sangat bertolak belakang denganku, kutemukan kebaikan-kebaikan luar biasa yang begitu berarti dalam केहिदुपंकू. Dia sangat telaten mengajari kedua buah hati kami dalam banyak hal। Terutama dalam sholat, membaca Al-Qurâan, hafalan, juga pelajaran sekolah. Suami juga selalu mengatakan “kamu pasti bisa, kalau berusaha”, seperti saat ia mengoreksi hafalan surat-surat Al-Qurâan-ku, dan menyemangati ketika aku berkata tak sanggup menghafalnya; lalu ketika mengajariku mengemudikan kendaraan, semula aku ketakutan hingga akhirnya aku mampu melakukannya.&lt;br /&gt;Ketika aku berhasil berkata “tidak” kepada seorang teman yang kusadari sering memanfaatkanku, aku meniru sikap tegas suamiku। Dan tiba-tiba kini aku merasa jauh lebih berani dibandingkan aku yang dulu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#006600;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#006600;"&gt;Kalau toh tak ada kata-kata manis dari bibirnya, buktinya setiap aku sakit, tangan kokohnya dengan terampil memijat-mijat badanku hingga merasa nyaman.&lt;br /&gt;Setiap aku menyadari ada suatu harapanku yang tak kuperoleh darinya, segera aku mencari kebaikan dirinya yang ternyata begitu banyak।Keinginanku mendapatkan kata-kata manis berupa pujian dan rayuan, lambat laun sirna. Aku menerima dia apa adanya. Tentunya justru aneh, bila tiba-tiba gaya bicara dan kata-katanya berubah seperti harapanku yang dulu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#006600;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#006600;"&gt;Ternyata benar jika pernikahan menjadikan kami saling melengkapi।Hari demi hari, kerapuhanku mulai berkurang. Sebaliknya, sikap keras dan ketus suami juga sedikit demi sedikit berganti menjadi tegas namun lembut. Hal ini aku ketahui dari komentar saudara-saudara kami, ketika berkumpul dalam suasana Idul Fitri yang lalu. Saudara-saudaraku berkomentar tentang aku yang tak lagi cengeng; dan saudara-saudara suami berkomentar tentangnya, yang kini makin berwibawa. Alhamdulillah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#006600;"&gt;Mungkin tulisan ini kado terindah bagi ultah perkawinan kami। &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="color:#006600;"&gt;Sumber : &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.eramuslim.com/"&gt;&lt;span style="color:#006600;"&gt;http://www.eramuslim.com/&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30616562-7285982031444098552?l=syahroni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syahroni.blogspot.com/feeds/7285982031444098552/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30616562&amp;postID=7285982031444098552&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/7285982031444098552'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/7285982031444098552'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syahroni.blogspot.com/2007/05/kado-untuk-suamiku.html' title='&quot;Kado untuk suamiku'/><author><name>syahroni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09874525640202597696</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://i154.photobucket.com/albums/s273/pksejahtera/ngantuknih.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_W_Ey7thhhOw/RlI2miIj1iI/AAAAAAAAAAU/4jjdJ2qkBGQ/s72-c/26.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30616562.post-5344085496319509890</id><published>2007-04-16T15:13:00.000+07:00</published><updated>2008-11-19T14:20:27.360+07:00</updated><title type='text'>जगह देर्मगामू, दिक्!</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_W_Ey7thhhOw/RiQRzTWUiXI/AAAAAAAAAAM/VWusYZ7NhuY/s1600-h/perempuan12.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5054184254881433970" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" height="81" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_W_Ey7thhhOw/RiQRzTWUiXI/AAAAAAAAAAM/VWusYZ7NhuY/s320/perempuan12.jpg" width="73" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Jaga Dermagamu, Dik!&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Karya Muslimah&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Dik, jangan gegabah seperti itu, pikirkan dulu masak-masak dampaknya kelak। Sayang jika kau nodai apa yang sudah dengan susah payah kau bangun dan bina selama ini. Bersabarlah, saatnya pasti akan tiba. Saat yang telah diputuskan Allah sejak kau dalam rahim ibumu. Pada hari yang dijanjikan itu, pasti akan bersua jua dirimu dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adik sudah cukup lelah bersabar, kak. Sampai kapan adik harus menunggu? Sementara detik demi detik terus berpacu, adik sudah tidak muda lagi sekarang. Semua wanita memiliki fitrah yang sama, ingin segera membina sebuah keluarga. Tapi jodoh itu kan Allah yang mengatur. Kau tidak sendiri, dik! Masih banyak saudari-saudarimu yang usianya jauh lebih tua darimu juga belum diperkenankan Allah untuk memikul amanah itu. Kau sendiri tahu kan berapa umur kakak ketika menikah...Ya, kalau pada akhirnya happy ending seperti kakak...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kak, semua saudara seperjuangan juga sudah angkat tangan membantu mempertemukan adik dengan laki-laki pilihan itu, terus apa nggak boleh kalau kemudian adik berusaha sendiri?Adikku sayang, bukan berarti kau tidak boleh mencari sendiri. Tapi kecenderungan rasa kita pada seseorang biasanya akan membutakan mata hati kita karena semua yang ada pada si dia akan terlihat begitu indah tanpa cela. Cukuplah kakak yang mengalaminya. Ingat, dik, sesal itu selalu datang diakhir cerita.Tapi laki-laki dari kantor pusat itu orang baik, kak! Dia rajin sholat, santun dan ikut pengajian rutin. Menurut teman-temanku sih begitu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman-temanmu yang mana? Teman-teman kantor yang kau bilang biasa dugem di kafe-kafe sampai pagi? Sudah berapa kali kakak bilang jauhi mereka! Dan laki-laki itu, apakah bisa disebut laki-laki baik kalau dia tak pernah absen mengirim puisi-puisi sentimentil untukmu? Jangan-jangan dia juga biasa mengirim puisi-puisi itu ke perempuan-perempuan lain. Atau gara-gara dia selalu mengirim sms untuk mengingatkanmu sholat, lalu kau anggap dia itu laki-laki baik? Ironisnya, mengapa dia tidak mengirim sms yang sama kepada teman-temanmu yang lain supaya mereka juga ingat sholat...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, pasti kakak mau bilang bahwa dia bukan laki-laki yang tepat untuk adik, kan? Kak, yang namanya laki-laki sholeh itu jauuuuh...jauh di ujung laut sana. Kalaupun dia mau berlabuh, pasti akan memilih dermaga yang bagus. Dermaga yang cantik, pintar, kaya, tinggi, putih bersih, dst...dst! Kalau seperti aku dengan tampang cuma nilai enam, IQ standar, pegawai biasa dan kulit sawo kematangan sih nggak bakal masuk hitungan. Waiting listnya kepanjangan, kak!Ya, berusaha dong menjadi dermaga yang bagus. Dermaga yang bagus kan nggak selalu dengan kriteria seperti itu. Perbaiki dermagamu dengan mempercantik akhlak, memperbanyak ibadah, meningkatkan potensi diri, dengan izin Allah pasti akan ada yang berlabuh juga.Kakak nggak ngerti sih. Siapa sih yang nggak mau berjodoh dengan laki-laki pilihan yang punya tujuan hidup sama dengan kita. Laki-laki sholeh, yang akan membimbing istri dan anak-anak ke surga...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalaulah pada akhirnya adik berjodoh dengan laki-laki yang biasa-biasa saja, bukan sesuatu yang nggak mungkin kan kalau adik yang justru membimbing dia ke arah sana?Dik, kakak sangat mengerti kegundahan hatimu, karena kakak pernah mengalami masa-masa usia krisis sepertimu. Dalam keputus-asaan, kakak mencoba mencari si dia dengan cara kakak sendiri, tabrak sana sini. Kakak pun dulu mempunyai prinsip yang sama denganmu, bertekat akan bimbing si dia menjadi laki-laki yang sholeh. Mencari-cari waktu agar sering bersama, mengenalkan si dia lebih jauh dengan Islam. Meski tak pernah dijamah, tapi itu namanya sudah berdua-duaan, berkhalwat! Toh, semua berakhir mengecewakan, si dia tak seperti yang kakak harapkan. Mudahnya berpaling ke perempuan lain, karena dengan kakak banyak yang tak bolehnya. Begitu seterusnya, beberapa bahkan ada yang sudah ikut pengajian rutin sebelum kenal dengan kakak. Mereka sempat membuat hari-hari kakak begitu berbunga-bunga, sekaligus menderita! Karena semua bunga itu semu, dan tak akan pernah menjadi buah. Kakak merasa lelah, capek! Ternyata apa yang kakak harapkan dengan melanggar takdir itu pun tak pernah membuahkan hasil. Kakak telah mencoreng muka sendiri, hina rasanya dimata Allah, dan malu dengan teman-teman seperjuangan. Tapi Allah Maha Pemurah dan Penyayang, Allah mengirimkan seorang laki-laki pilihanNya, seorang yang begitu baik untuk kakak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketahuilah dik, rasa bersalah itu tidak pernah hilang, meski si Abang ikhlas dan mau mengerti dengan story kakak sebelum menikah dengannya.Lalu adik harus bagaimana mengisi hari-hari sendiri, kak? Hampa rasanya, ilmu-ilmu yang adik terima tentang membina rumah tangga sakinah, tentang mendidik dan membina anak, semua itu hanya tinggal sebuah teori indah dalam khayal. Mubazir, karena nggak jelas kapan akan dipraktekkan. Bagaimana jika sampai akhir hayat adik ditakdirkan tetap sendiri, karena laki-laki pilihan itu tak kunjung datang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adikku sayang, percayalah pada takdir Allah dan bersabarlah. Mungkin Allah belum mengabulkan doa-doamu karena belum kau panjatkan dengan segenap kepasrahan, belum kau lepas keangkuhanmu karena kau berusaha menerjang ketetapanNya yang berlaku bagimu. Mungkin juga belum kau tinggalkan segala hal yang mendekati kemaksiatan. Itulah yang menjauhkan terkabulnya doa-doa kita,dik. Ketahuilah jika Allah memang berkehendak, jodoh adik bisa datang tanpa disangka dan diduga. Akan tetapi jika kehendak Allah sebaliknya, Insya Allah, itulah hal terbaik yang ditetapkan Allah bagi dirimu. Mungkin, Allah berkehendak memperjodohkan adik dengan bidadarinya di surga kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya terima nikahnya Muthmainnah binti Syaiful dengan mas kawin....Alhamdulillah,ya Allah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kak, hari yang dijanjikan itu akhirnya datang juga. Laki-laki pilihan itu kini mengikat janji untuk berlabuh di dermagaku...Subhanallah! Biarkan bulir-bulir bahagia itu luruh di matamu,dik. Kakak bangga, kesabaran adik pada akhirnya berbuah kebahagiaan. Kesucian dermagamu telah kau jaga dengan baik, dan hanya kau peruntukkan bagi laki-laki sholeh yang mulai saat ini akan menemanimu menempuh bahtera kehidupan, dunia akhirat. Barokallah, semoga Allah memberkatimu dan memberikan berkah atas kamu serta menyatukan kalian berdua dalam kebaikan, adikku sayang...&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Melati Salsabila, &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30616562-5344085496319509890?l=syahroni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syahroni.blogspot.com/feeds/5344085496319509890/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30616562&amp;postID=5344085496319509890&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/5344085496319509890'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/5344085496319509890'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syahroni.blogspot.com/2007/04/blog-post.html' title='जगह देर्मगामू, दिक्!'/><author><name>syahroni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09874525640202597696</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://i154.photobucket.com/albums/s273/pksejahtera/ngantuknih.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_W_Ey7thhhOw/RiQRzTWUiXI/AAAAAAAAAAM/VWusYZ7NhuY/s72-c/perempuan12.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30616562.post-117461003350477689</id><published>2007-03-23T08:26:00.000+07:00</published><updated>2007-04-17T07:36:30.860+07:00</updated><title type='text'>Doa Seorang Calon Pengantin</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/x/blogger/5395/3287/1600/809208/perempuanx3.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/x/blogger/5395/3287/320/126220/perempuanx3.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;Doa Seorang Calon Pengantin&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#3366ff;"&gt;Oleh Ekaerawati&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Kalaulah ada kisah di zaman dahulu bahwa ada satu orang di antara tiga orang yang bisa bertawasul dengan amalannya untuk bisa membuka batu yang menghimpit pintu gua, maka aku tertarik dengan tawasulnya। Demi untuk menghindari zina dengan perempuan yang diberinya uang dengan tebusan tubuhnya walaupun ia mudah melakukannya। Kalaulah ada kisah tentang pernikahan dan syarat maharnya, maka kisahUmmu Sulaim yang merelakan keIslaman Abu Tholhah adalah sungguh mengharukan। Dan juga kesederhanaan Ali ra menikahi Fathimah denganbaju besinya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Saksikanlah ya Robbi, aku pun ingin menjadi Ummu Sulim dan Fathimah। Keduanya tidak mensyaratkan emas dan berlian sebagai penebusan kehalalan calon suami menyentuh tubuhnya। Cukup dengan hafalan surat Ar-Rahman dan tafsir Ibnu kastir। Itupun masih dengan keringanan, tafsirnya boleh dicicil setelah kami menikah nanti. Saksikanlah ya Robbi. aku pun ingin mencontoh sang lelaki yang terjebak di gua tadi. Aku pun ingin bertawasul dengan upayaku untuk menghindari zina. Walapun peluang ke sana sangat mungkin. Banyak lelaki yang mengincarku sejak wajahku memancarkan pesonanya dibangku SMA. Tapi aku takut untuk pacaran. Aku bertekad bahwa cinta yang satu itu hanya kuberikan pada lelaki yang halal untuk memuaskan libidoku dan menjadi salah satu pembuka jalan menggapai surga-Mu Maka saat kuputuskan setelah hari-hari berkonsultasi dalam sujud-sujud istikharah 3 bulan yang lalu untuk mengucapkan "ya", aku berusaha untuk tidak mendapat murka-Mu, dengan berlama-lama dalam waktu atau menunda-nundanya, sehingga terjebak dalam rimba cinta tanpa status dan fitnah dunia. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Pun kuberusaha menangkis serangan kata-kata romantisnya untuk ditunda hingga saat dia mengucapkan "qobiltu nikahaha।" (kuterima nikahnya)। Maaf ya Allah, jika hari ini aku harus banjir air mata, saat aku baru bisa menjawab pertanyaan orangtuaku, "Kamu punya uang tho untuk menikah?"। "Ya insya Allah diusahakan dan mohon waktunya."Walaupun aku tahu sekarang hanya beberapa lembar puluhan ribu hasil sisa kas bon di tempat kerjaku yang kupersiapkan untuk bekal sisa bulan ini. "Pokoknya minimal 6-7 juta harus ada lho, ya", begitu suara ibu disebrang memberi batas minimal dana yang harus kusediakan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Ya Rozak aku yakin Engkau Maha kaya untuk tidak sampai membuatku merepotkan kedua orangtuaku, membebani saudara-saudaraku atau mengemis pada sesuatu selain-Mu। Aku masih percaya ya Allah। kalau pernikahan ini juga sebagai upaya menolong agama-Mu, maka hamba yakin engkau mau menolongku। Hamba masih yakin dengan hadist Qudsi yang berbunyi "Bahwa Allah malu jika tidak mengabulkan permintaan hamba-Nya yang menengadahkan tangan di sepertiga malam terakhir". Aku tidak ingin berujung pada keputusasaan. Ya Rahman॥ya Rahim. Jika memang pernikahan ini akan semakin membuat Engkau meridhaiku, maka mudahkan dan lancarkan. Dan satukanlah kami dalam jalinan kasih yang sakinah, mawaddah wa rahmah. Amien.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;"Fa maadza ba'da-lhaqq, illa-dl_dlalaal"&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30616562-117461003350477689?l=syahroni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syahroni.blogspot.com/feeds/117461003350477689/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30616562&amp;postID=117461003350477689&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/117461003350477689'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/117461003350477689'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syahroni.blogspot.com/2007/03/doa-seorang-calon-pengantin.html' title='Doa Seorang Calon Pengantin'/><author><name>syahroni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09874525640202597696</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://i154.photobucket.com/albums/s273/pksejahtera/ngantuknih.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30616562.post-116616457433566842</id><published>2006-12-15T13:24:00.000+07:00</published><updated>2006-12-15T13:36:15.303+07:00</updated><title type='text'>Untuk Ukhti Tersayang</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/x/blogger/5395/3287/1600/948459/Pond%20life.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 129px; CURSOR: hand; HEIGHT: 105px" height="131" alt="" src="http://photos1.blogger.com/x/blogger/5395/3287/320/241665/Pond%20life.jpg" width="152" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Dear Ukhti………&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;apa kabar imanmu hari ini &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;semoga selalu menapak maju&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;apa kabar hatimu hari ini&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;semoga selalu bersih dari debu juga kelabu&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;apa kabar cintamu hari ini&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;semoga selalu berpeluh rindu pada Nya...&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Ukhti..sungguh indah hidup setelah menikah&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;apa yang sebelumnya haram menjadi halal&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;semua perbuatannya mendapat pahala yang berlimpah di sisiNya&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;suka duka dilalui berdua&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;senang sedih ada yang menemani&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;tawa tangis pun bersama&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Ukhti..menikah adalah setengah dien&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;dan ia menggenapkan dien menjadi satu&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;sungguh, menikah seperti melihat dunia lain &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;yang tiada pernahdikunjungi sebelumnya&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;apa yang tidak bisa dilihat sebelum menikah kini tidak lagi&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;seakan membuka mata kanan &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;yang sebelumnya belum pernah dibuka&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;begitu luas, begitu indah, &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;hingga Rasul pun menyunnahkan suatu pernikahan ini&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;"bukan termasuk ummatku, &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;jika ia berkeinginan tidak menikah...&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;"Ukhti..menikah adalah keputusan besar&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;dari suatu perjanjian berat&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;pernah ada yang berkata..&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;"saat akad diucapkan Arsy tertinggi berguncang &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;karena suatu perjanjian berat diucapkan, &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;karena itu saat akad terjadi ada tangis disana..&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;tangis suka, tangis duka..."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Allah menjadi saksi karena &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Dia Yang Maha Melihat lagi Menatap&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;dan setiap undangan yang datang akan mendoakan pernikahan ini&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Ukhti..yang sedang menanti "terkasih"nanti-lah dengan sabar&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;sungguh, Allah Maha Tau yang terbaik untuk dirimu&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;siapkan dirimu, hatimu..&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;sangat mudah bagiNya memberikan "terkasih" untukmu ataupun tidak&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;berharap dan mintalah padaNya..&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;pemilik alam raya dan pencipta "terkasih"mu&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Ukhti..yang sedang menjelang akad&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;berdoa-lah selalu padaNya &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;penentu segalaNya...mohon petunjukNya &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;jika "terkasih" adalah yang terbaik untukmu kemudahan, &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;juga kelancaran dalam peristiwa besar nanti&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;sungguh, Allah Maha Tau yang terbaik untuk dirimu..&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;siapkan dirimu, hatimu..&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Ukhti..yang telah menikah&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;jagalah nikmatNya yang besar ini&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;hanya dengan izinNya dirimu dan "terkasih"mu bersatu, &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;tiada yang lainjadilah penyejuk hati dan pandangannya..&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;menjadi istri sholehah dambaan..&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Ukhti..bahagiamu adalah bahagiaku&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;sedihmu juga sedihku&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;tawamu, tawaku juga tangismu adalah tangisku&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;semoga Allah Yang Maha Indah,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;memudahkan langkah ini..&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;memberikan yang terbaik menurutNya&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;dan menjadikan wanita dan istri juga ibu sholehah&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#cc9933;"&gt;Kiriman : bayu eko fitri yanto&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30616562-116616457433566842?l=syahroni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syahroni.blogspot.com/feeds/116616457433566842/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30616562&amp;postID=116616457433566842&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/116616457433566842'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/116616457433566842'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syahroni.blogspot.com/2006/12/untuk-ukhti-tersayang.html' title='Untuk Ukhti Tersayang'/><author><name>syahroni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09874525640202597696</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://i154.photobucket.com/albums/s273/pksejahtera/ngantuknih.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30616562.post-116616385617457184</id><published>2006-12-15T13:18:00.000+07:00</published><updated>2006-12-15T13:24:16.230+07:00</updated><title type='text'>Ungkapan Sederhana Untuk Istri Tercinta</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/x/blogger/5395/3287/1600/964724/Margo%20lake.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 197px; CURSOR: hand; HEIGHT: 144px" height="159" alt="" src="http://photos1.blogger.com/x/blogger/5395/3287/320/2669/Margo%20lake.jpg" width="210" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;color:#996633;"&gt;Ungkapan Sederhana Untuk Istri Tercinta&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;Penulis: M. Fauzil Adzim&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#330099;"&gt;Bila malam sudah beranjak mendapati Subuh, bangunlah sejenak. Lihatlah istri Anda yang sedang terbaring letih menemani bayi Anda. Tataplah wajahnya yang masih dipenuhi oleh gurat-gurat kepenatan karena seharian ini badannya tak menemukan kesempatan untuk istirahat barang sekejap, Kalau saja tak ada air wudhu yang membasahi wajah itu setiap hari, barangkali sisa-sisa kecantikannya sudah tak ada lagi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color:#330099;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sesudahnya, bayangkanlah tentang esok hari. Di saat Anda sudah bisa merasakan betapa segar udara pagi, Tubuh letih istri Anda barangkali belum benar benar menemukan kesegarannya. Sementara anak-anak sebentar lagi akan meminta perhatian bundanya, membisingkan telinganya dengan tangis serta membasahi pakaiannya dengan pipis tak habis-habis. Baru berganti pakaian, sudah dibasahi pipis lagi. Padahal tangan istri Anda pula yang harus mencucinya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;a id="more-35"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#330099;"&gt;Di saat seperti itu, apakah yang Anda pikirkan tenang dia? Masihkah Anda memimpikan tentang seorang yang akan senantiasa berbicara lembut kepada anak-anaknya seperti kisah dari negeri dongeng sementara di saat yang sama Anda menuntut dia untuk nenjadi istri yang penuh perhatian, santun dalam bicara, lulus dalam memilih kata serta tulus dalam menjalani tugasnya sebagai istri, termasuk dalam menjalani apa yang sesungguhnya bukan kewajiban istri tetapi dianggap sebagai kewajibannya.&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#330099;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, masihkah Anda sampai hati mendambakan tentang seorang perempuan yang sempurna, yang selalu berlaku halus dan lembut? Tentu saja saya tidak tengah mengajak Anda membiarkan istri kita membentak anak-anak dengan mata membelalak. Tidak. Saya hanya ingin mengajak Anda melihat bahwa tatkala tubuhnya amat letih, sementara kita tak pernah menyapa jiwanya, maka amat wajar kalau ia tidak sabar. Begitu pula manakala matanya yang mengantuk tak kunjung memperoleh kesempatan untuk tidur nyenyak sejenak, maka ketegangan emosinya akan menanjak. Disaat itulah jarinya yang lentik bisa tiba-tiba membuat anak kita menjerit karena cubitannya yang bikin sakit.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Apa artinya? Benar, seorang istri shalihah memang tak boleh bermanja-manja secara kekanak-kanakan, apalagi sampai cengeng. Tetapi istri shalihah tetaplah manusia yang membutuhkan penerimaan. Ia juga butuh diakui, meski tak pernah meminta kepada Anda. Sementara gejolak-gejolak jiwa yang memenuhi dada, butuh telinga yang mau mendengar. Kalau kegelisahan jiwanya tak pernah menemukan muaranya berupa kesediaan untuk mendengar, atau ia tak pernah Anda akui keberadaannya, maka jangan pernah menyalahkan siapa-siapa kecuali dirimu sendiri jika ia tiba-tiba meledak. Jangankan istri kita yang suaminya tidak terlalu istimewa, istri Nabi pun pernah mengalami situasi-situasi yang penuh ledakan, meski yang membuatnya meledak-ledak bukan karena Nabi Saw. tak mau mendengar melainkan semata karena dibakar api kecemburuan. Ketika itu, Nabi Saw. hanya diam menghadapi ‘Aisyah yang sedang cemburu seraya memintanya untuk mengganti mangkok yang dipecahkan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Alhasil, ada yang harus kita benahi dalam jiwa kita. Ketika kita menginginkan ibu anak-anak kita selalu lembut dalam mengasuh, maka bukan hanya nasehat yang perlu kita berikan. Ada yang lain. Ada kehangatan yang perlu kita berikan agar hatinya tidak dingin, apalagi beku, dalam menghadapi anak-anak setiap hari, Ada penerimaan yang perlu kita tunjukkan agar anak-anak itu tetap menemukan bundanya sebagai tempat untuk memperoleh kedamaian, cinta dan kasih-sayang. Ada ketulusan yang harus kita usapkan kepada perasaan dan pikirannya, agar ia masih tetap memiliki energi untuk tersenyum kepada anak-anak kita. Sepenat apa pun ia.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ada lagi yang lain: pengakuan. Meski ia tidak pernah menuntut, tetapi mestikah kita menunggu sampai mukanya berkerut-kerut. Karenanya, marilah kita kembali ke bagian awal tulisan ini. Ketika perjalanan waktu telah melewati tengah malam, pandanglah istri Anda yang terbaring letih itu. lalu pikirkankah sejenak, tak adakah yang bisa kita lakukan sekedar untuk menqucap terima kasih atau menyatakan sayang? Bisa dengan kata yang berbunga-bunga, bisa tanpa kata. Dan sungguh, lihatlah betapa banyak cara untuk menyatakannya. Tubuh yang letih itu, alangkah bersemangatnya jika di saat bangun nanti ada secangkir minuman hangat yang diseduh dengan dua sendok teh gula dan satu cangkir cinta. Sampaikan kepadanya ketika matanya telah terbuka, “Ada secangkir minuman hangat untuk istriku. Perlukah aku hantarkan untuk itu?”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sulit melakukan ini? Ada cara lain yang bisa Anda lakukan. Mungkin sekedar membantunya menyiapkan sarapan pagi untuk anak-anak, mungkin juga dengan tindakan-tindakan lain, asal tak salah niat kita. Kalau kita terlibat dengan pekerjaan di dapur, memandikan anak, atau menyuapi si mungil sebelum mengantarkannya ke TK, itu bukan karena gender-friendly; tetapi semata karena mencari ridha Allah. Sebab selain niat ikhlas karena Allah, tak ada artinya apa yang kila lakukan. Kita tidak akan mendapati amal-amal kita saat berjumpa dengan Allah di yaumil-kiyamah. Alaakullihal, apa yang ingin Anda lakukan, terserah Anda. Yang jelas, ada pengakuan untuknya, baik lewat ucapan terima kasih atau tindakan yang menunjukkan bahwa dialah yang terkasih. Semoga dengan kerelaan kita untuk menyatakan terima-kasih, tak ada airmata duka yang menetes dari kedua kelopaknya. Semoga dengan kesediaan kita untuk membuka telinga baginya, tak ada lagi istri yang berlari menelungkupkan wajah di atas bantal karena merasa tak didengar. Dan semoga pula dengan perhatian yang kita berikan kepadanya, kelak istri kita akan berkata tentang kita sebagaimana Bunda ‘Aisyah radhiyallahu anha berucap tentang suaminya, Rasulullah Saw., “Ah, semua perilakunya menakjubkan bagiku.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sesudah engkau puas memandangi istrimu yang terbaring letih, sesudah engkau perhatikan gurat-gurat penat di wajahnya, maka biarkanlah ia sejenak untuk meneruskan istirahatnya. Hembusan udara dingin yang mungkin bisa mengusik tidurnya, tahanlah dengan sehelai selimut untuknya. Hamparkanlah ke tubuh istrimu dengan kasih-sayang dan cinta yang tak lekang oleh perubahan, Semoga engkau termasuk laki-laki yang mulia, sebab tidak memuliakan wanita kecuali laki-laki yang mulia.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sesudahnya, kembalilah ke munajat dan tafakkurmu. Marilah kita ingat kembali ketika Rasulullah Saw. berpesan tentang istri kita. “Wahai manusia, sesungguhnya istri kalian mempunyai hak atas kalian sebagaimana kalian mempunyai hak atas mereka. Ketahuilah,” kata Rasulullah Saw. melanjutkan, ‘kalian mengambil wanita itu sebagai amanah dari Allah, dan kalian halalkan kehormatan mereka dengan kitab Allah. Takutlah kepada Allah dalam mengurus istri kalian. Aku wasiatkan atas kalian untuk selalu berbuat baik.” Kita telah mengambil istri kita sebagai amanah dari Allah. Kelak kita harus melaporkan kepadaAllah Taala bagaimana kita menunaikan amanah dari-Nya apakah kita mengabaikannya sehingga gurat-gurat an dengan cepat menggerogoti wajahnya, jauh awal dari usia yang sebenarnya? Ataukah, kita sempat tercatat selalu berbuat baik untuk isti, Saya tidak tahu. Sebagaimana saya juga tidak tahu apakah sebagai suami Saya sudah cukup baik jangan-jangan tidak ada sedikit pun kebaikan di mata istri. Saya hanya berharap istri saya benar-banar memaafkan kekurangan saya sebagai suami. Indahya, semoga ada kerelaan untuk menerima apa adanya.&lt;br /&gt;Hanya inilah ungkapan sederhana yang kutuliskan untuknya. Semoga Anda bisa menerima ungkapan yang lebih agung untuk istri Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30616562-116616385617457184?l=syahroni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syahroni.blogspot.com/feeds/116616385617457184/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30616562&amp;postID=116616385617457184&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/116616385617457184'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/116616385617457184'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syahroni.blogspot.com/2006/12/ungkapan-sederhana-untuk-istri.html' title='Ungkapan Sederhana Untuk Istri Tercinta'/><author><name>syahroni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09874525640202597696</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://i154.photobucket.com/albums/s273/pksejahtera/ngantuknih.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30616562.post-116614566693171788</id><published>2006-12-15T08:14:00.000+07:00</published><updated>2006-12-15T12:59:19.466+07:00</updated><title type='text'>Dilema Hati</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/x/blogger/5395/3287/1600/933893/Field%20of%20yellow.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 85px; CURSOR: hand; HEIGHT: 79px" height="135" alt="" src="http://photos1.blogger.com/x/blogger/5395/3287/320/988097/Field%20of%20yellow.jpg" width="213" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Dilema Hati&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Bangun pagi…dini hari&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Buru-buru sampai lupa mandi&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Ingat janji mau ketemu Murobbi&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Dengan semangat tinggi…juga bawa data diri&lt;br /&gt;Dandanan rapi…aromanya serba wangi&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Sisiran gaya sepuluh jari&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Menata hati…biar tidak tampak grogi&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Terima tantangan dengan PeDe tinggi&lt;br /&gt;Terkejutnya…tiada tara…&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Saat Murobbi memberi data&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Sekumtum bunganya serba mempesona&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Hapalan Al-Qur’annya…(yuhu…)..Sungguh luar biasa&lt;br /&gt;Visi jihadnya…mengurai indah Sastra&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Visi da’wahnya…setara dengan S3&lt;br /&gt;Sedangkan diri…cuma pemateri…&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;LDK atau sekolah pagi&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Paling banternya hanya jadi MC&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Juz ‘Ammanya pun bolong sana-sini…&lt;br /&gt;Susahnya…mengukur…Potensi…di dalam hati…&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Jujur mana tahan hidup sendiri…&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Mudahkanlah segala pintu rizki…&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Dengan Ma’isyah dan A’isyah…&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Percayalah hidup jadi serba indah…&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#6600cc;"&gt;Sebuah Nasyid plesetan dari lagu “Kami Harus Kembali” - Izzatul Islam&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30616562-116614566693171788?l=syahroni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syahroni.blogspot.com/feeds/116614566693171788/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30616562&amp;postID=116614566693171788&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/116614566693171788'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/116614566693171788'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syahroni.blogspot.com/2006/12/dilema-hati.html' title='Dilema Hati'/><author><name>syahroni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09874525640202597696</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://i154.photobucket.com/albums/s273/pksejahtera/ngantuknih.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30616562.post-115932040971718158</id><published>2006-09-27T08:18:00.000+07:00</published><updated>2006-09-27T08:26:50.963+07:00</updated><title type='text'>Jodoh dan Kedewasaan Kita</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/5395/3287/1600/FL11.0.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5395/3287/320/FL11.0.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:130%;color:#3333ff;"&gt;Jodoh dan Kedewasaan Kita&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#3333ff;"&gt;by.Ahmad Muhammad Haddad Assyarkhani&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Jodoh adalah problema serius, terutama bagi para Muslimah. Kemana pun mereka melangkah, pertanyaan-pertanyaan "kreatif" tiada henti membayangi. Kapan aku menikah? Aku rindu seorang pendamping, namun siapa? Aku iri melihat wanita muda menggendong bayi, kapan giliranku dipanggil ibu? Aku jadi ragu, benarkah aku punya jodoh? Atau jangan-jangan Tuhan berlaku tidak adil? Jodoh serasa ringan diucap, tapi rumit dalam realita. Kebanyakan orang ketika berbicara soal jodoh selalu bertolak dari sebuah gambaran ideal tentang kehidupan rumah tangga. Otomatis dia lalu berpikir serius tentang kriteria calon idaman. Nah, di sinilah segala sedu-sedan pembicaraan soal jodoh itu berawal. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Pada mulanya, kriteria calon hanya menjadi 'bagian masalah', namun kemudian justru menjadi inti permasalahan itu sendiri. Di sini orang berlomba mengajukan "standardisasi"calon: wajah rupawan, berpendidikan tinggi, wawasan luas, orang tua kaya, profesi mapan, latar belakang keluarga harmonis, dan tentu saja kualitas keshalihan.Ketika ditanya, haruskah seideal itu? Jawabnya ringan,"Apa salahnya? Ikhtiar tidak apa, kan?" Memang, ada juga jawaban lain, "Saya tidak pernah menuntut. Yang penting bagi saya calon yang shalih saja." Sayangnya,jawaban itu diucapkan ketika gurat-gurat keriput mulai menghiasi wajah. Dulu ketika masih fresh, sekadar senyum pun mahal.Tidak ada satu pun dalih, bahwa peluang jodoh lebih cepat didapatkan oleh mereka yang memiliki sifat superior (serbaunggul). Memperhitungkan kriteria calon memang sesuai sunnah, namun kriteria tidak pernah menjadi penentu sulit atau mudahnya orang menikah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Pengalaman riil di lapangan kerap kali menjungkirbalikkan prasangka-prasangka kita selamaini.Jodoh, jika direnungkan, sebenarnya lebih bergantung pada kedewasaan kita. Banyak orang merintih pilu,menghiba dalam doa, memohon kemurahan Allah, sekaligus menuntut keadilan-Nya. Namun prestasi terbaik merekahnya sebatas menuntut, tidak tampak bukti kesungguhan untuk menjemput kehidupan rumah tangga. Mereka bayangkan kehidupan rumah tangga itu indah,bahkan lebih indah dari film-film picisan ala bintang India, Sahrukh Khan. Mereka tidak memandang bahwa kehidupan keluarga adalah arena perjuangan, penuh liku dan ujian, dibutuhkan napas kesabaran panjang, kadang kegetiran mampir susul-menyusul. Mereka hanya siap menjadi raja atau ratu, tidak pernah menyiapkan diriuntuk berletih-letih membina keluarga. Kehidupan keluarga tidak berbeda dengan kehidupan individu, hanya dalam soal ujian dan beban jauh lebih berat. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Jika seseorang masih single, lalu dibuai penyakit malas dan manja, kehidupan keluarga macam apa yang dia impikan?Pendidikan, lingkungan, dan media membesarkan generasi muda kita menjadi manusia-manusia yang rapuh. Mereka sangat pakar dalam memahami sebuah gambar kehidupan yang ideal, namun lemah nyali ketika didesak untuk meraih keidealan itu dengan pengorbanan. Jika harus ideal, mereka menuntut orang lain yang menyediakannya.Adapun mereka cukup ongkang-ongkang kaki. Kesulitan itu pada akhirnya kita ciptakan sendiri, bukan dari siapa pun.Bagaimana mungkin Allah akan memberi nikmat jodoh, jika kita tidak pernah siap untuk itu? "Tidaklah Allah membebani seseorang melainkan sekadar sesuai kesanggupannya." (QS Al Baqarah, 286). &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Di balikfenomena "telat nikah" sebenarnya ada bukti-bukti kasih sayang Allah SWT. Ketika sifat kedewasaan telah menjadi jiwa, jodoh itu akan datang tanpa harus dirintihkan. Kala itu hati seseorang telah bulat utuh, siap menerima realita kehidupan rumah tangga, manis atau getirnya, dengan lapang dada.Jangan pernah lagi bertanya, mana jodohku? Namun bertanyalah, sudah dewasakah aku?"&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Torehkan hadist ini dalam benak :"&lt;em&gt;Sesungguhnya ketika seorang suami memperhatikan istrinya dan begitu pula dengan istrinya, maka Allah memperhatikan mereka dengan penuh rahmat, manakala suaminya rengkuh telapak tangan istrinya dengan mesra, berguguranlah dosa-dosa suami istri itudari sela jemarinya"(Diriwayatkan Maisarah bin Ali dari Ar-Rafi' dari AbuSa'id Alkhudzri r.a) "&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;kiriman: Ragil &lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;'wong pati'&lt;/span&gt; Hidayat&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30616562-115932040971718158?l=syahroni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syahroni.blogspot.com/feeds/115932040971718158/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30616562&amp;postID=115932040971718158&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/115932040971718158'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/115932040971718158'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syahroni.blogspot.com/2006/09/jodoh-dan-kedewasaan-kita.html' title='Jodoh dan Kedewasaan Kita'/><author><name>syahroni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09874525640202597696</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://i154.photobucket.com/albums/s273/pksejahtera/ngantuknih.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30616562.post-115811687890122488</id><published>2006-09-13T07:28:00.000+07:00</published><updated>2006-12-15T13:18:11.583+07:00</updated><title type='text'>Jika Kau Jadi Istriku Nanti..ehm..ehm..</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/x/blogger/5395/3287/1600/713907/Lily%20pond.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 162px; CURSOR: hand; HEIGHT: 109px" height="136" alt="" src="http://photos1.blogger.com/x/blogger/5395/3287/320/929933/Lily%20pond.jpg" width="204" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Jika Kau Jadi Istriku Nanti..ehm..ehm..&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Jika seorang lelaki ingin menarik hati seorang wanita,biasanya yang ditebarkan adalah berjuta-juta katapuitis bin manis, penuh janji-janji untuk memikathati, "Jika kau menjadi istriku nanti, percayalah akusatu-satunya yang bisa membahagiakanmu, " atau "Jikakau menjadi istriku nanti, hanya dirimu di hatiku" dan"bla...bla.. .bla..." Sang wanita pun tersipu malu,hidungnya kembang kempis, sambil menundukkan kepala,"Aih...aih.. ., abang bisa aja." Onde mande, rancakbana !!!&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Lidah yang biasanya kelu untuk berbicara saat bertemugebetan, tiba-tiba jadi luwes, kadang dibumbui'ancaman' hanya karena keinginan untuk mendapatkan doiseorang. Kalo ada yang coba-coba main mata ama si doi,"Jangan macem-macem lu, gue punya nih!" Amboi... belumdinikahi kok udah ngaku-ngaku miliknya dia ya? Lha,yang udah nikah aja ngerti kalo pasangannya itusebenarnya milik Allah SWT.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Emang iya sih, wanita biasanya lebih terpikat denganlelaki yang bisa menyakinkan dirinya apabila ntar udah menikah bakal selalu sayang hingga ujung waktu, serta bisa membimbingnya kelak kepada keridhoan Allah SWT. Bukan lelaki yang janji-janji mulu, tanpa berbuat yang nyata, atau lelaki yang gak berani mengajaknya menikah dengan 1001 alasan yang di buat-buat. Kalo lelaki yang datang serta mengucapkan janjinya itu adalah seseorang yang emang kita kenal taat ibadah, akhlak serta budi pekertinya laksana Rasulullah SAWatau Ali bin Abi Thalib r.a., ini sih gak perlu ditunda jawabannya, cepet-cepet kepala dianggukkan, daripada diambil orang lain, iya gak? Namun realitayang terjadi, terkadang yang datang itu justru tipe seperti Ramli, Si Raja Chatting, atau malah Arjuna, SiPencari Cinta, yang hanya mengumbar janji-janji palsu, lalu bagaimana sang wanita bisa percaya dan yakin dengan janjinya?Nah...Berarti masalahnya adalah bagaimana cara kita menjelaskan calon pasangan untuk percaya dengan kita?Pusying... pusying... &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;gimana caranya ya? Ih nyantai aja, semua itu telah diatur dalam syariat Islam kok, karena caranya bisa dengan proses ta'aruf. Apa sih yang harus dilakukan dalam ta'aruf? Apa iya, seperti ucapan janji-janji seperti diatas? Ta'aruf sering diartikan 'perkenalan' , kalau dihubungkan dengan pernikahan maka ta'aruf adalah proses saling mengenal antara calon laki-laki dan perempuan sebelum proses khitbah dan pernikahan.Karena itu perbincangan dalam ta'aruf menjadi sesuatu yang penting sebelum melangkah ke proses berikutnya.Pada tahapan ini setiap calon pasangan dapat saling mengukur diri, cocok gak ya dengan dirinya. Lalu, apa aja sih yang mesti diungkapkan kepada sang calon saat ta'aruf?&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#006600;"&gt;1. Keadaan Keluarga&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Jelasin ke calon pasangan tentang anggota keluarga masing-masing, berapa jumlah sodara, anak keberapa, gimana tingkat pendidikan, pekerjaan, dll. Bukan apa-apa, siapa tahu dapat calon suami yang anak tunggal, bokap ama nyokap kaya 7 turunan, sholat dan ibadahnya bagus banget, guanteng abis, lagi kuliah diJepang (ehm), pokoknya selangit deh! Kalo ketemu tipe begini, sebelum dia atau mediatornya selesai ngomong langsung kasih kode, panggil ortu ke dalam bentar, lalu bilang "Abi, boljug tuh kaya' ginian jangan dianggurin nih. Moga-moga gak lama lagi langsung dikhitbah ya Bi, kan bisa diajak ke Jepang!" Lho? :D&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#006600;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#006600;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#006600;"&gt;2. Harapan dan Prinsip Hidup&lt;/span&gt; Warna kehidupan kelak ditentukan dengan visi misi suatu keluarga lho, terutama sang suami karena ia adalah qowwan dalam suatu keluarga. Sebagai pemimpinia laksana nahkoda sebuah bahtera, mau jalannya lempeng atau sradak-sruduk, itu adalah kemahirannyadalam memegang kemudi. Karena itu setiap calon pasangan kudu tau harapan dan prinsip hidup masing-masing. Misalnya nih, "Jika kau menjadi istrikunanti, harapanku semoga kita semakin dekat kepadaAllah" atau "Jika kau menjadi istriku nanti, mari bersama mewujudkan keluarga sakinah, rahmah,mawaddah." Kalo harapan dan janjinya seperti ini,kudu' diterima tuh, insya Allah janjinya disaksikanAllah SWT dan para malaikat. Jadi kalo suatu saat diagak nepatin janji, tinggal didoakan, "Ya Allah...suamiku omdo nih, janjinya gak ditepatin, coba deh sekali-kali dianya...," hush...! Gak boleh doakan suami yang gak baik lho, siapa tahu ia-nya khilaf kan?&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#006600;"&gt;3. Kesukaan dan Yang Tidak Disukai&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dari awal sebaiknya dijelasin apa yang disukai, atau apa yang kurang disukai, jadinya nanti pada saat telah menjalani kehidupan rumah tangga bisa saling memahami, karena toh udah dijelaskan dari awalnya. Dalam pelayaran bahtera rumah tangga butuh saling pengertian, contoh sederhananya, istri yang suka masakan pedas sekali-kali masaknya jangan terlalu pedas, karena suaminya kurang suka. Suami yang emang hobinya berantakin rumah (karena lama jadi bujangan),setelah menikah mungkin bisa belajar lebih rapi, dll. Semua ini menjadi lebih mudah dilakukan karena telah dijelaskan saat ta'aruf. Namun harus diingat, menikah itu bukan untuk merubah pasangan lho, namun juga lantas bukan bersikap seolah-olah belum menikah. Perubahan sikap dan kepribadian dalam tingkat tertentu wajar aja-kan? Dan juga hendaknya perubahan yangterjadi adalah natural, tidak saling memaksa.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#006600;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#006600;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#006600;"&gt;4. Ketakwaan Calon Pasangan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Apa yang terpenting pada saat ta'aruf? Yang mestinya menduduki prioritas tertinggi adalah bagaimana nilai ketakwaan lelaki tersebut. Ketakwaan disini adalah ketaatan kepada Allah SWT lho, bukan nilai 'KETAKutanWAlimahAN' :D Karena apabila seorang lelaki senang, ia akan menghormati istrinya, dan jika ia tidak menyenanginya, ia tidak suka berbuat zalim kepadanya. Gimana dong caranya untuk melihat lelaki itu bertakwa atau tidak? Tanyakan kepada orang-orang yang dekat dengan dirinya, misalnya kerabat dekat, tetangga dekat, atau sahabatnya tentang ketaatannya menjalankan ketentuan pokok yang menjadi rukun Iman dan Islam dengan benar. Misalnya tentang sholat 5 waktu, puasaRamadhan, atau pula gimana sikapnya kepada tetangga atau orang yang lebih tua, dan lain-lain. Apalagi bila lelaki itu juga rajin melakukan ibadah sunnah, wah...yang begini ini nih, 'calon suami kesayangan Allah dan mertua.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;'Inget lho, ta'aruf hanyalah proses mengenal, belum ada ikatan untuk kelak pasti akan menikah, kecuali kalau sudah masuk proses yang namanya khitbah. Nah kadang jadi 'penyakit' nih, karena alasan "Kan masih mauta'aruf dulu..." lalu ta'rufnya buanyak buanget,sana-sini dita'arufin. Abis itu jadi bingung sendiri,"Yang mana ya yang mau diajak nikah, kok sana-sini ada kurangnya?"Wah..., kalo nyari yang mulia seperti Khadijah, setaqwa Aisyah atau setabah Fatimah Az-Zahra,pertanyaannya apakah diri ini pun sesempurna Rasulullah SAW atau sesholeh Ali bin Abi Thalib r.a.?&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Nah lho...!!!Apabila hukum pernikahan seorang laki-laki telah masukkategori wajib, dan segalanya pun telah terencana dengan matang dan baik, maka ingatlah kata-kata bijak,'jika berani menyelam ke dasar laut mengapa terusbermain di kubangan, kalau siap berperang mengapa cuma bermimpi menjadi pahlawan?'Ya akhi wa ukhti fillah,Semoga antum segera dipertemukan dengan pasangan hidup, dikumpulkan dalam kebaikan, kebahagiaan, kemesraan, canda tawa yang tak putus-putusnya mengisi rongga kehidupan rumah tangga. Kalaupun nanti ada airmata yang menetes, semoga itu adalah air mata kebahagiaan, tanda kesyukuran kepada Allah SWT karena Ia telah memberikan pasangan hidup yang selalu bersama mengharap keridhoan-Nya, aamiin allahumma aamiin.Barakallahulaka barakallahu' alaika wajama'a bainakumafii khairin.Wallahu a'lam bishowab,&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;sumber: Kafemuslimah&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30616562-115811687890122488?l=syahroni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syahroni.blogspot.com/feeds/115811687890122488/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30616562&amp;postID=115811687890122488&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/115811687890122488'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/115811687890122488'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syahroni.blogspot.com/2006/09/jika-kau-jadi-istriku-nantiehmehm.html' title='Jika Kau Jadi Istriku Nanti..ehm..ehm..'/><author><name>syahroni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09874525640202597696</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://i154.photobucket.com/albums/s273/pksejahtera/ngantuknih.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30616562.post-115750525339669298</id><published>2006-09-06T08:02:00.000+07:00</published><updated>2006-09-06T08:14:14.133+07:00</updated><title type='text'>Mengukur Kedalaman Cinta</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;color:#3333ff;"&gt;MENGUKUR KEDALAMAN CINTA&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;             &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Menjelang perang uhud, Abdullah bin Jahsy mengajak sahabatnya, Sa'd bin Abi Waqqash untuk berdo'a. Ajakan itu disetujui oleh Sa'd. Keduanya mulai berdo'a. Sa'd berdo'a terlebih dahulu: "Tuhanku, jika nanti aku berjumpa dengan musuhku, berilah aku musuh yang sangat perkasa. Aku berusaha membunuh dia dan dia pun berusaha membunuhku. Engkau berikan kemenangan kepadaku sehingga aku berhasil membunuhnya dan kemudian mengambil miliknya (sebagai rampasan perang)." Abdullah mengaminkannya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tiba giliran Abdullah berdo'a: Tuhanku, berilah aku musuh yang gagah perkasa. Aku berusaha membunuhnya, dan ia berusaha membunuhku. Kemudian ia memotong hidung dan telingaku. Kalau nanti aku bertemu dengan-Mu. Engkau akan bertanya, 'man jada'a anfaka wa udzunaka?' (Siapa yang telah memotong hidung dan telingamu?). Aku akan menjawab bahwa keduanya terpotong ketika aku berjuang di jalan-Mu dan jalan Rasulullah (fika wa fi rasulika). Dan Engkau, ya Allah akan berkata, "kamu benar!" (shadaqta).Sa'd mengaminkan do'a Abdullah tersebut. Keduanya berangkat ke medan Uhud dan do'a keduanya dikabulkan oleh Allah. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sa'd bercerita kepada anaknya, "Duhai anakku, do'a Abdullah lebih baik daripada do'aku. Di senja hari aku lihat hidung dan telinganya tergantung pada seutas tali." Kisah ini telah melukiskan sebuah cara untuk mengukur cinta kita pada Allah. Sementara banyak orang yang berdo'a agar mendapat ini dan itu, seorang pencinta sejati akan berdo'a agar dapat bertemu dengan kekasihnya sambil membawa sesuatu yang bisa dibanggakan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ketika di padang mahsyar nanti Allah bertanya pada anda: "Dari mana kau peroleh hartamu di dunia?" Anda akan menjawab, "harta itu kuperoleh dengan kolusi dan korupsi, dengan memalsu kuitansi, dengan mendapat cipratan komisi." Allah bertanya lagi, "apa saja yang telah engkau lakukan di dunia?""Kuhiasi hidupku dengan dosa dan nista, tak henti-hentinya kucintai indah dan gemerlapnya dunia hingga aku dipanggil menghadap-Mu." Allah dengan murka akan menjawab, "kamu benar!" &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Bandingkan dengan seorang hamba lain yang ketika di padang mahsyar berkata pada Allah: "Telah kutahan lapar dan dahaga di dunia, telah kubasahi bibirku dengan dzikir, dan telah kucurahkan waktu dan tenagaku untuk keagungan nama-Mu, telah kuhiasi malamku dengan ayat suci-Mu dan telah kuletakkan dahiku di tikar sembahyang bersujud di kaki kebesaran-Mu."Dan Allah akan menjawab, "kamu benar!" Duhai.... adakah kebahagian yang lebih dari itu; ketika seorang hamba menceritakan amal-nya dan Allah akan membenarkannya. Maukah kita pulang nanti ke kampung akherat dengan membawa amal yang bias kita banggakan? Maukah kita temui "kekasih" kita sambil membawa amalan yangakan menyenangkan-Nya?&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30616562-115750525339669298?l=syahroni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syahroni.blogspot.com/feeds/115750525339669298/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30616562&amp;postID=115750525339669298&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/115750525339669298'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/115750525339669298'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syahroni.blogspot.com/2006/09/mengukur-kedalaman-cinta.html' title='Mengukur Kedalaman Cinta'/><author><name>syahroni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09874525640202597696</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://i154.photobucket.com/albums/s273/pksejahtera/ngantuknih.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30616562.post-115733457901122055</id><published>2006-09-04T08:39:00.000+07:00</published><updated>2006-09-04T08:50:03.650+07:00</updated><title type='text'>Titian Harapan</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/5395/3287/1600/sp1.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5395/3287/320/sp1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;color:#3333ff;"&gt;Titian Harapan&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;Ya Allah,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;Aku berdoa untuk seorang perempuan, yang akan menjadi bagian dari hidupku.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;Seorang yang sungguh mencintaiMU lebih dari segala sesuatu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;Seorang perempuan yang akan meletakkanku pada posisi kedua di hatinya setelah Engkau. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;Seorang perempuan yang hidup bukan untuk dirinya sendiri tetapi untukMU.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;Wajah cantik dan daya tarik fisik tidaklah penting. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;Yang paling penting adalah sebuah hati yang sungguh mencintai dan haus akan Engkau &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;dan memiliki keinginan untuk menjadi seperti Engkau. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;Dan ia haruslah mengetahui bagi siapa dan untuk apa ia hidup, &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;sehingga hidupnya tidaklah sia-sia. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;Seseorang yang memiliki hati yang bijak bukan hanya otak yang cerdas. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;Seorang perempuan yang tidak hanya mencintaiku tetapi juga menghormati aku.&lt;br /&gt;Seorang perempuan yang tidak hanya memujaku &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;tetapi dapat juga menasehati ketika aku berbuat salah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;Seorang yang mencintaiku bukan karena ketampanan tetapi karena hatiku.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;Seorang perempuan yang dapat menjadi sahabat terbaikku dalam tiap waktu dan situasi. Seseorang yang dapat membuatku merasa sebagai seorang pria ketika berada di sebelahnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;Aku tidak meminta seorang yang sempurna, &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;Namun aku meminta seorang yang tidak sempurna, &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;sehingga aku dapat membuatnya sempurna dimataMU.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;Seorang perempuan yang membutuhkan dukunganku sebagai peneguhnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;Seorang perempuan yang membutuhkan doaku untuk kehidupannya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;Seseorang yang membutuhkan senyumanku untuk mengatasi kesedihannya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;Seseorang yang membutuhkan diriku untuk membuat hidupnya menjadi sempurna.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;Dan aku juga meminta :&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;Buatlah aku menjadi seorang perempuanyang dapat membuat aku bangga dan bahagia.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;Berikan aku sebuah hati yang sungguh mencintaiMU, &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;sehingga aku dapat mencintainya dengan cintaMU, &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;bukan mencintainya dengan sekedar cintaku.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;Berikanlah sifatMU yang lembut sehingga ketampananku datang dariMU bukan dari luar diriku. Berilah aku tanganMU sehingga aku selalu mampu berdoa untuknya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;Berikanlah aku mataMU sehingga aku dapat melihat banyak hal baik dalam dirinya &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;dan bukan hal buruk saja.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;Berikan aku mulutMU yang penuh dengan kata-kata kebijaksanaanMU &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;dan pemberi semangat, sehingga aku dapat mendukungnya setiap hari.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;Berikanlah aku bibirMU dan aku akan tersenyum padanya setiap pagi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;Dan bilamana akhirnya kami akan bertemu, &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;aku berharap kami berdua dapat mengatakaan "betapa besarnya Tuhanku itu karena Engkau telah memberikan kepadaku seseorang yang dapat membuat hidupku menjadi sempurna". &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;Aku mengetahui bahwa Engkau menginginkan kami bertemu pada waktu yang tepat dan Engkau akan membuat segala sesuatunya indah pada waktu yang Kautentukan. amin &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30616562-115733457901122055?l=syahroni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syahroni.blogspot.com/feeds/115733457901122055/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30616562&amp;postID=115733457901122055&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/115733457901122055'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/115733457901122055'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syahroni.blogspot.com/2006/09/titian-harapan.html' title='Titian Harapan'/><author><name>syahroni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09874525640202597696</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://i154.photobucket.com/albums/s273/pksejahtera/ngantuknih.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30616562.post-115703597912934252</id><published>2006-08-31T21:52:00.000+07:00</published><updated>2006-08-31T21:57:24.023+07:00</updated><title type='text'>Kupinang Engkau Dengan Hamdalah</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/5395/3287/1600/build_3.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" height="108" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5395/3287/320/build_3.jpg" width="138" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="font-size:130%;"&gt;Kupinang Engkau Dengan Hamdalah&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#330099;"&gt;Di antara tanda-tanda kekuasaan Allah, ialah diciptakannya pasangan-pasanganmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung padanya. Dan Allah menjadikan di antara kalian perasaan tenteram dan kasih sayang. Pada yang demikian ada tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#330099;"&gt;Ketika tiba masa usia aqil baligh, maka perasaan ingin memperhatikan dan diperhatikan lawan jenis begitu bergejolak. Banyak perasaan aneh dan bayang-bayang suatu sosok berseliweran tak karuan. Kadang bayang-bayang itu menjauh tapi kadang terasa amat dekat. Kadang seorang pemuda bisa bersikap acuh pada bayang-bayang itu tapi kadang terjebak dan menjadi lumpuh. Perasaan sepi tiba-tiba menyergap ke seluruh ruang hati. Hati terasa sedih dan hidup terasa hampa. Seakan apa yang dilakukannya jadi sia-sia. Hidup tidak bergairah. Ada setitik harapan tapi berjuta titik kekhawatiran justru mendominasi. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#330099;"&gt;&lt;br /&gt;Perasaan semakin tak menentu ketika harapan itu mulai mengarah kepada lawan jenis. Semua yang dilakukannya jadi serba salah. Sampai kapan hal ini berlangsung? Jawabnya ada pada pemuda itu sendiri. Kapan ia akan menghentikan semua ini. Sekarang, hari ini, esok, atau tahun-tahun besok. Semakin panjang upaya penyelesaian dilakukan yang jelas perasaan sakit dan tertekan semakin tak terperikan. Sebaliknya semakin cepat /pendek waktu penyelesaian diupayakan, kebahagiaan &amp; kegairahan hidup segera dirasakan. Hidup menjadi lebih berarti &amp;amp; segala usahanya terasa lebih bermakna. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#330099;"&gt;Penyelesaian apa yang dimaksud? Menikah!&lt;br /&gt;Ya menikah adalah alat solusi untuk menghentikan berbagai kehampaan yang terus mendera. Lantas kapan? Bilakah ia bisa dilaksanakan? Segera! segera di sini jelas berbeda dengan tergesa-gesa. Untuk membedakan antara segera dengan tergesa-gesa, bisa dilihat dari dua cara : &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#330099;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#333399;"&gt;Pertama, tanda-tanda hati.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#330099;"&gt;Orang yang mempunyai niat tulus, kata Imam Ja'far, adalah dia yang hatinya tenang, sebab hati yang tenang terbebas dari pemikiran mengenai hal-hal yang dilarang, berasal dari upaya membuat niat murni untuk Allah dalam segala perkara. Kalau menyegerakan menikah karena niat yang jernih, Insya Allah hati akan merasakan sakinah, yaitu ketenangan jiwa saat menghadapi masalah-masalah yang harus diselesaikan. Kita merasa yakin, meskipun harapan &amp; kekhawatiran meliputi dada. Lain lagi dengan tergesa-gesa. Ketergesaan ditandai oleh perasaan tidak aman &amp;amp; hati yang diliputi kecemasan yang memburu. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#330099;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#330099;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#330099;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#330099;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Kedua, tanda-tanda perumpamaan.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#330099;"&gt;Ibarat orang bikin bubur kacang hijau, ada beberapa bahan yang diperlukan. Bahan paling pokok adalah gula &amp; kacang hijau. Jika gula &amp;amp; kacang hijau dimasukkan air kemudian direbus, maka akan didapati kacang hijau tidak mengembang. Ini namanya tergesa-gesa. Kalau gula baru&lt;br /&gt;dimasukkan setelah kacang hijaunya mekar ini namanya menyegerakan. Tapi kalau lupa, tidak segera memasukkan gula setelah kacang hijaunya mekar cukup lama orang akan kehilangan banyak zat gizi yang penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Kupinang Engkau dengan Hamdalah&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;Dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah bersabda :&lt;br /&gt;"&lt;em&gt;Tiga orang yang selalu diberi pertolongan Allah adalah seorang mujahid yang selalu memperjuangkan agama Allah, seorang penulis yang selalu memberi penawar &amp; seorang yang menikah untuk menjaga kehormatannya" (HR Thabrani&lt;/em&gt;) &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#330099;"&gt;&lt;br /&gt;Banyak jalan yang dapat menghantarkan orang kepada peminangan &amp;amp; pernikahan. Banyak sebab yang mendekatkan dua orang yang saling jauh menjadi suami istri yang penuh barakah &amp; diridhai Allah. Ketika niat sudah mantap &amp;amp; tekad sudah bulat, persiapkan hati untuk melangkah ke peminangan. Dianjurkan, memulai lamaran dengan hamdalah &amp; pujian lainnya kepada Allah SWT. Serta Shalawat kepada Rasul-Nya. Abu Hurairah r.a. menceritakan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda : &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#330099;"&gt;&lt;br /&gt;"&lt;em&gt;Setiap perkataan yang tidak dimulai dengan bacaan hamdalah, maka hal itu sedikit barakahnya (terputus keberkahannya)" HR Abu Daud, Ibnu Majah &amp;amp; Imam Ahmad&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;Setelah peminangan disampaikan, biarlah pihak wanita &amp; wanita yang bersangkutan untuk mempertimbangkan. Sebagian memberikan jawaban segera, sebelum kaki bergeser dari tempat&lt;br /&gt;berpijaknya, sebab menikah mendekatkan kepada keselamatan akhirat, sedang calon yang datang sudah diketahui akhlaqnya, sebagian memerlukan waktu yang cukup lama untuk bisa memberi kepastian apakah pinangan diterima atau ditolak, karena pernikahan bukan untuk sehari dua hari. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#330099;"&gt;&lt;br /&gt;Apapun, serahkan kepada keluarga wanita untuk memutuskan. Mereka yang lebih tahu keputusan apa yang terbaik bagi anaknya. Anda harus husnudzan pada mereka. Bukankah ketika meminang wanita berarti anda mempercayai wanita yang diharapkan oleh anda beserta keluarganya. Keputusan apapun yang mereka berikan, sepanjang didasarkan atas musyawarah yang lurus, akan baik dan Insya Allah memberi akibat yang baik bagi anda. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#330099;"&gt;&lt;br /&gt;Tidak kecewa orang yang istikharah &amp;amp; tidak merugi orang yang musyawarah. Maka apapun hasil musyawarah, sepanjang dilakukan dengan baik, akan membuahkan kebaikan. Sebuah keputusan tidak bisa disebut buruk atau negatif, jika memang didasarkan kepada musyawarah yang memenuhi syarat, hanya karena tidak memberi kesempatan kepada anda untuk menjadi anggota keluarga mereka. Jika niat anda memang untuk silaturrahim, bukankah masih tersedia banyak peluang untuk menyambung? &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#330099;"&gt;&lt;br /&gt;Anda telah meminangnya dengan hamdalah, anda telah dimampukan datang oleh Allah Yang Maha Besar. Dia-lah Yang Maha Lebih Besar. Semuanya kecil. Ada pelajaran yang sangat berharga dari Bilal bin Rabbah tentang meminang. Ketika ia bersama Abu Ruwaihah menghadap kabilah Khaulan, Bilal mengemukakan : "Jika pinangan kami anda terima, kami ucapkan Alhamdulillah. Dan kalau anda menolak, maka kami ucapkan Allahu Akbar." &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#330099;"&gt;&lt;br /&gt;Maka, kalau pinangan yang anda sampaikan ditolak, agungkan Allah, semoga anda tetap berbaik sangka kepada Allah &amp; juga kepada keluarganya. Sebab bisa jadi, penolakan merupakan jalan pensucian jiwa dari kedzaliman diri sendiri, bisa jadi penolakan merupakan proses untuk mencapai kematangan, kemantapan &amp;amp; kejernihan niat. Sementara ada banyak hal yang dapat mengotori niat. Bisa jadi Allah hendak mengangkat derajat anda, kecuali anda justru malah merendahkan diri sendiri. Tapi hati perlu diperiksa, jangan-jangan perasaan itu muncul karena ujub. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#330099;"&gt;&lt;br /&gt;Kekecewaan, mungkin saja timbul. Barangkali ada perasaan yang perih, barangkali juga ada yang merasa kehilangan rasa percaya diri saat itu. Ini merupakan reaksi psikis yang wajar, kecewa adalah perasaan yang manusiawi, tetapi ia harus diperlakukan dengan cara yang tepat agar ia tidak menggelincirkan ke jurang kenistaan yang sangat gelap. Kecewa memang pahit. Orang sering tidak tahan menanggung rasa kecewa, mereka berusaha membuang jauh-jauh sumber kekecewaan. Sekilas nampak tidak ada masalah, tetapi setiap saat berada dalam kondisi rawan. Perasaan itu mudah bangkit lagi dengan rasa sakit yang lebih perih. Dan yang demikian tidak dikehendaki Islam. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#330099;"&gt;&lt;br /&gt;Islam menghendaki kekecewaan itu menghilang perlahan-lahan secara wajar. Sehingga kita bisa mengambil jarak dari sumber kekecewaan dengan tidak kehilangan obyektivitas &amp; kejernihan hati, kita menjadi lebih tegar, meskipun proses yang dibutuhkan untuk menghapus kekecewaan lebih lama. Kalau anda merasa kecewa, periksalah niat anda. Dibalik yang dianggap baik, mungkin ada niat yang tidak lurus. Periksalah motif-motif yang melintas dalam batin. Selama peminangan hingga saat menunggu jawaban. Kemudian biarkan hati memproses secara wajar sampai menemukan kembali ketenangan secara mantap. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#330099;"&gt;&lt;br /&gt;Tetapi kalau jawaban yang diberikan oleh keluarga wanita sesuai harapan, berbahagialah sejenak. Bersyukurlah. Insya Allah kesendirian yang dialami dengan menanggung rasa sepi sebentar lagi akan menghapus kepenatan selama di luar rumah. Insya Allah sebentar lagi. Tunggulah beberapa saat. Setelah tiba masanya, halal bagi anda untuk melakukan apa saja yang menjadi hak anda bersamanya. Akan tiba masanya anda merasakan kehangatan cintanya. Kehangatan cinta wanita yang telah mempercayakan kesetiaannya kepada nda. Setelah tiba masanya, halal bagi anda untuk menemukan pangkuannya ketika anda risau. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#330099;"&gt;&lt;br /&gt;Selama menunggu, ada kesempatan untuk menata hati. Melalui pernikahan Allah memberikan banyak keindahan &amp;amp; kemuliaan. Wanita boleh menawarkan. Islam memberikan penghormatan yang suci kepada niat &amp; ikhtiar untuk menikah. Nikah adalah masalah kehormatan agama, bukan sekedar legalisasi penyaluran kebutuhan biologis dengan lawan jenis. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color:#330099;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Islam memperbolehkan kaum wanita untuk menawarkan dirinya kepada laki-laki yang berbudi luhur, yang ia yakini kehormatan agamanya, dan kejujuran amanahnya menjadi suaminya. Dan Khadijah r.a atas teladan bagi wanita yang bermaksud untuk menawarkan diri. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sikap menawarkan diri menunjukkan ketinggian akhlaq &amp;amp; kesungguhan untuk mensucikan diri. Sikap ini lebih dekat kepada ridha Allah &amp; untuk mendapatkan pahala-Nya, Allah pasti mencatatnya sebagai kemuliaan &amp;amp; mujahadah yang suci. Tidak peduli tawarannya diterima atau ditolak, terutama kalau ia tidak mempunyai wali. Insya Allah, jika sikap menawarkan diri dilakukan dengan ketinggian sopan santun, tidak akan menimbulkan akibat kecuali yang maslahat. Seorang laki-laki yang memiliki pengetahuan yang mendalam pasti akan meninggikan penghormatan seperti ini, kecuali laki-laki yang rendah &amp; tidak memiliki kehormatan, kecuali sekedar apa yang disangkanya sebagai kebaikan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Imam Bukhari menceritakan cerita dari Anas r.a ada seorang wanita yang datang menawarkan diri kepada Rasulullah SAW dan berkata : "&lt;em&gt;Ya Rasulullah! Apakah baginda membutuhkan daku&lt;/em&gt;?" Putri Anas yang hadir &amp;amp; mendengarkan perkataan wanita itu mencela sang wanita yang tidak punya harga diri &amp;amp; rasa malu, "&lt;em&gt;Alangkah sedikitnya rasa malunya, sungguh memalukan, sungguh memalukan&lt;/em&gt;." Anas berkata kepada putrinya : "&lt;em&gt;Dia lebih baik darimu, Dia senang kepada Rasulullah SAW lalu dia menawarkan dirinya untuk beliau!"&lt;/em&gt; (HR Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;----------------------------------------------------&lt;br /&gt;Pemateri: Sukeri Abdillah&lt;br /&gt;Ref : Kupinang Engkau dengan Hamdalah, M. Faudzil `Adhim&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30616562-115703597912934252?l=syahroni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syahroni.blogspot.com/feeds/115703597912934252/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30616562&amp;postID=115703597912934252&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/115703597912934252'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/115703597912934252'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syahroni.blogspot.com/2006/08/kupinang-engkau-dengan-hamdalah.html' title='Kupinang Engkau Dengan Hamdalah'/><author><name>syahroni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09874525640202597696</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://i154.photobucket.com/albums/s273/pksejahtera/ngantuknih.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30616562.post-115703437249224363</id><published>2006-08-31T21:16:00.000+07:00</published><updated>2006-08-31T21:26:13.053+07:00</updated><title type='text'>Jika</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/5395/3287/1600/PIC00768.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 134px; CURSOR: hand; HEIGHT: 96px" height="130" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5395/3287/320/PIC00768.jpg" width="140" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:130%;color:#009900;"&gt;&lt;strong&gt;~J I K A~&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#999900;"&gt;Jika kau merasa lelah dan tak berdaya dari usaha yang sepertinya sia-sia.....&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#999900;"&gt;Allah tahu betapa keras engkau sudah berusaha&lt;br /&gt;Ketika kau sudah menangis sekian lama dan hatimu masih terasa pedih...&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#999900;"&gt;Allah sudah menghitung airmatamu....&lt;br /&gt;Jika kau pikir bahwa hidupmu sedang menunggu sesuatu &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#999900;"&gt;dan waktu serasa berlalu begitu saja...&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#999900;"&gt;Allah sedang menunggu bersama denganmu.&lt;br /&gt;Ketika kau merasa sendirian dan teman-temanmu terlalu sibuk untuk menelepon....&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#999900;"&gt;Allah selalu berada disampingmu...&lt;br /&gt;Ketika kau pikir bahwa kau sudah mencoba segalanya &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#999900;"&gt;dan tidak tahu hendak berbuat apa lagi…. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#999900;"&gt;Allah punya jawabannya.&lt;br /&gt;Ketika segala sesuatu menjadi tidak masuk akal dan kau merasa tertekan...&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#999900;"&gt;Allah dapat menenangkanmu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#999900;"&gt;Jika tiba-tiba kau dapat melihat jejak-jejak harapan…&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#999900;"&gt;Allah sedang berbisik kepadamu.&lt;br /&gt;Ketika segala sesuatu berjalan lancar dan kau merasa ingin mengucap syukur..&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#999900;"&gt;Allah telah memberkatimu.&lt;br /&gt;Ketika sesuatu yang indah terjadi dan kau dipenuhi ketakjuban...&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#999900;"&gt;Allah telah tersenyum padamu.&lt;br /&gt;Ketika kau memiliki tujuan untuk dipenuhi dan mimpi untuk digenapi...&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#999900;"&gt;Allah sudah membuka matamu dan memanggilmu dengan namamu.&lt;br /&gt;Ingat bahwa di mana pun kau berada…kemanapun kau menghadap...&lt;br /&gt;Allah MAHA TAHU &amp;amp; MAHA MENDENGAR&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#6600cc;"&gt;whenever you're, be a good moslem&lt;br /&gt;keep Allah in your heart&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30616562-115703437249224363?l=syahroni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syahroni.blogspot.com/feeds/115703437249224363/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30616562&amp;postID=115703437249224363&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/115703437249224363'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/115703437249224363'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syahroni.blogspot.com/2006/08/jika.html' title='Jika'/><author><name>syahroni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09874525640202597696</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://i154.photobucket.com/albums/s273/pksejahtera/ngantuknih.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30616562.post-115690363776649770</id><published>2006-08-30T08:56:00.000+07:00</published><updated>2006-08-31T21:59:26.286+07:00</updated><title type='text'>Surat Cinta Terbuka</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/5395/3287/1600/wf8.0.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5395/3287/320/wf8.0.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="font-size:180%;color:#3333ff;"&gt;&lt;strong&gt;Surat Cinta Terbuka&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;color:#3333ff;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="color:#ffcc33;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#6600cc;"&gt;&lt;em&gt;Sahabat,&lt;br /&gt;Apa kabar? Semoga Allah Sang Kekasih Sejati senantiasa memayungimu dengan rahmat-Nya. Sesungguhnya, limpahan cinta-Nya kepada segenap makhluk, begitu melimpah…tiada batas. Oleh akrena itu, letakkan jemari pada jantungmu, rasakan degubnya setiap waktu. Adakah asma-Nya berdegub bersama aliran darahmu.ia telah melukis kuasa-Nya pada wajahmu sehingga tercipta sebaik-baik rupa. Letakkan jemari pada hatimu dan akalmu, rasakan pelita ilmu dan hikmah yang menyala setiap waktu sehingga tercipta dunia yang indah tiada tara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapakah Ia Sang Pencipta? Yang telah meletakkan jantung hati dalam rongganya dan meniupkan ruh-Nya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapakah Ia Sang pencipta? Yang telah meletakkan hikmah dan ilmu dalam wadahnya dan meniupkan cahaya-Nya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia sungguh tak terbandingkan dengan seseorang yang kau letakkan padanya cinta sematimu.&lt;br /&gt;Ia sungguh tak tertandingi dengan seseorang yang telah merampas rindumu setiap waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resapilah syair nasyid dari Raihan ini,&lt;br /&gt;Hatiku merayu rindu&lt;br /&gt;Kasihku pada-Mu syahdu &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#6600cc;"&gt;Munajat hamba pada-Mu&lt;br /&gt;Mengharap kasih sayang-Mu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah yang mengalir dalam nadimu saat menyandingkannya dengan-Nya? Degub nafsu dan keinginan meluap untuk memiliki, untuk menguasai, sepenuh-penuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabat,&lt;br /&gt;Cinta pada selain-Nya adalah semu belaka. Seperti fatamorgana. Benarkah ia sepenuhnya mencintaimu? Menerimamu apa adanya? Mendambamu walau engkau mengecewakannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarkah cintanya setinggu gunung menjulang? Sehingga untuk mendapatkan balas kasihmu, lautan berapi rela ia sebrangi? Benarkah janji-janjinya, bahwa ia ingin tetap berada di sisimu apapun yang akan terjadi, meskipun kecintaan telah mendatangimu, meskipun topan badai menghadangmu walau kau senantiasa menyakitinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu tidak, sebab ia sebagaimana dirimu, hanya mengingat jasad dan duniamu belaka. Ia hanya menginginkan sepenggal kesemuan yang terpancar indah dari ragamu. Percayalah, semua itu hanya angan belaka!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakah cinta sejati ada padamu dan dia tanpa karunia dari-Nya?&lt;br /&gt;Tentu tidak, sebab cinta sejati adalah cinta dalam rangka ketaatan pada-Nya. Cinta sejati adalah menyatukan rasa dalam syariat-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percayakah engaku bahwa Ia tak pernah menghianati citna kita, walau kita begitu jarang menjenguk-Nya.&lt;br /&gt;Percayakah engkau bahwa Ia selalu memberikan yang terbaik walau kita tak sejenakpun merindukan-Nya.&lt;br /&gt;Pecayakah engkau bahwa Ia selalu menatap kita penuh cinta walau kita tak sedetikpun bersujud pada-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya, kegembiraan-Nya menyambut seseorang hamba yang bertaubat. Lebih marak daripada rasa yang terpancar dari seorang pengembara yang menemukan kembali keledai dan perbekalannya, sementara ia dalam kondisi letih, lapar, dan mengantuk. Selangkah kita mendekat pada-Nya, seribu langkah Ia mendekat pada kita.&lt;br /&gt;Subhanallah !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabat,&lt;br /&gt;Inilah janji-Nya pada kita makhluknya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai anak adam, kenapa engkau tidak memperhatikan Aku? Tahukah engkau bahwa engkau berada dalam pengawasan mata-Ku dalam kesepianmu, dan kala nafsumu bergejolak. Ingatlah Aku dan mintalah kepada-Ku agar Aku cabut nafsu itu dari hatimu dan Aku pelihara engkau dari berbuat maksiat kepada-Ku dan Aku jadikan engkau benci kepada perbuatan itu. Akan aku mudahkan engkau mentaati-Ku. Akan Aku jadikan engkau cinta kepada ketaatan itu serta Aku jadikan dia indah dalam pandanganmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai anak adam, Aku hanya menyuruhmu agar supaya engkau meminta pertolongan kepada-Ku dan berpegang erat kepada tali agama-Ku, bukan untuk durhakan kepada-Ku dan berpaling dari-Ku. Dan jika tidak begitu Aku akan menjauhkan diri darimu. Aku sebenarnya tidak memerlukan engkau dan engkaulah yang memerlukan Aku. Aku telah menciptakan dunia ini dan Aku memudahkan dia untuk memenuhi keinginanmu, tidak lain supaya engkau bersiap –siap untuk menemui-Ku dan engkau membawa perbekalan darinya, agar supaya engkau jangan berpaling dari-Ku dan kekal di atas bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ketahuilah olehmu, bahwa negeri akhirat itu adalah lebih baik bagimu daripada dunia ini oleh sebab itu, janganlah engkau pilih yang lain dari yang telah Aku pilihkan untukmu, dan janganlah engkau benci menemui Aku, karena siapa saja yang benci menemui-Ku, Aku pun akan benci menemuinya, dan siapa saya yang rindu bertemu dengan-Ku, Aku pun rindu menemuinya.” (Hadits Qudsi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabat,&lt;br /&gt;Betapa indah janji cinta-Nya. Jauh sekali dari cinta syahwati yang kerap kali kita rasakan ketika melihat seseorang berwajah indah di sekitar kita. Jauh sekali dari cinta ragawi yang kadangkali lebih banyak menyakiti hati, jiwa dan raga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usia kita terbatas, Sahabat !&lt;br /&gt;Alangkah merugi jika kita memberikan cinta kita seluruhnya pada seseorang yang tak semestinya.&lt;br /&gt;Cintai manusia yang kau cintai secara sederhana&lt;br /&gt;Cintai bunga-bunga yang menawan secara sederhana.&lt;br /&gt;Cintai kehidupan yang berlimpah kenikmatan secara sederhana.&lt;br /&gt;Cintai apapun secara sederhana.&lt;br /&gt;Karena masih ada cinta yang teramat instimewa, yakni cinta pada sang pemilik CINTA, Allahu Subhanahu Wa Ta’ala.&lt;br /&gt;Teramat rugi jika kita mengabaikannya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Dedicated from. Izzatul jannah&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30616562-115690363776649770?l=syahroni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syahroni.blogspot.com/feeds/115690363776649770/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30616562&amp;postID=115690363776649770&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/115690363776649770'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/115690363776649770'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syahroni.blogspot.com/2006/08/surat-cinta-terbuka.html' title='Surat Cinta Terbuka'/><author><name>syahroni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09874525640202597696</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://i154.photobucket.com/albums/s273/pksejahtera/ngantuknih.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30616562.post-115674143794182205</id><published>2006-08-28T12:02:00.000+07:00</published><updated>2006-08-28T12:03:58.310+07:00</updated><title type='text'>Cinta</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/5395/3287/1600/love.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5395/3287/320/love.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#ff99ff;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;~C I N T A ~&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Adakah diantara desir angin membisik sebuah kata......&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;yang menelisik getar jiwayang membuat getar jantungku&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Adakah diantara pucuk-pucuk daun jambumembisik sebuah kata.....&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;tentang Cinta yang bercanda diantara kumbang dan kupu-kupu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Buatlah aku tersenyum, &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;buatlah aku tertawa dan lukiskan untukku tentang indahnya Cinta sejati&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Jangan................jangan biarkan hidupku tanpa Cinta&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;biarkan dia mendesir seperti angin&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;biarkan dia mengalir seperti air&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;biarkan kumbang dan kupu menari dalam Cinta &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;menyanyikan tembang asmara........&lt;br /&gt;Ya Rabb, penuhilah hati dan gerak nafas ini dengan cinta kepada-Mu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mencintai-Mu, walau belum sampai kehati&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Tapi aku memang akan bilang bahwa aku mencintai-Mu&lt;br /&gt;jika ada yang menawarkan satu cinta lagi kepadaku&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Meskipun sejujurnya aku tak akan sanggup berkorban demi cintaku pada-Mu, &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;aku mau berkeras bahwa aku mencintai-Mu&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Memang aku lebih banyak berpura-pura sibuk ketika Engkau memanggilku,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;tapi aku tidak sungguh-sungguh mengabaikan-Mu&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Kadang-kadang aku juga malas untuk menemui-Mu &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;disaat saat Engkau menyediakan waktu untukku, &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;tapi inginnya aku Engkau selalu ada disaat aku membutuhkan-Mu&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Aku juga sering melakukan hal-hal yang tidak Engkau sukai, &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;tapi bukan berarti aku ingin Engkau membenciku&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Engkau pasti tahu bahwa aku berusaha untuk sungguh-sungguh hanya mencintai-Mu, &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;walau sesekali aku masih tergoda cinta yang lain&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Sementara aku belum bisa mencintai-Mu seperti yang Engkau inginkan, &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;bolehkah aku meminta agar Engkau tetap mencintaiku Ya Allah?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Allah itu Tuhan yang akan tetap mencintai makhluk-Nya tanpa diminta&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Hanya kadang kita tak mengerti bentuk cinta-Nya&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Jangan meminta terlalu banyak cinta-Nya &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;karena kita tak akan sanggup menerimanya. Allahu’alam.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;al-hub fillah&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30616562-115674143794182205?l=syahroni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syahroni.blogspot.com/feeds/115674143794182205/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30616562&amp;postID=115674143794182205&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/115674143794182205'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/115674143794182205'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syahroni.blogspot.com/2006/08/cinta.html' title='Cinta'/><author><name>syahroni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09874525640202597696</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://i154.photobucket.com/albums/s273/pksejahtera/ngantuknih.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30616562.post-115387515698706890</id><published>2006-07-26T07:51:00.000+07:00</published><updated>2006-08-31T22:02:29.726+07:00</updated><title type='text'>Kriteria Calon Pasangan</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/5395/3287/1600/M10.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5395/3287/320/M10.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Kriteria Calon Pasangan&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Nabi Muhammad saw. dalam sabdanya menyebutkan untuk mengutamakan agamanya dibanding faktor-faktor lain dalam memilih jodoh( cantik, kaya, keturunan ). Tetapi beliau saw. sepertinya sangat menekankan kecocokan. Ketika seorang sahabat dari kaum Muhajirin ingin menikah dengan wanita Anshar, maka Rasulullah saw. menganjurkan untuk terlebih dahulu melihatnya. Ini berarti Rasul juga ingin adanya kecocokan - dalam segala hal, termasuk fisik - bagi yang akan menikah. Ada juga kan kasus seorang akhwat shahabiyah yang menyesal ketika sudah terlanjur menikah, tetapi tampang suaminya tidak disukainya, akhirnya mereka bercerai. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Hal memilih pasangan dengan melihat fisik sebagaimana memilih pasangan karena keturunan yang baik dan kemapanannya ( baca : kaya ) menurut saya bukan hal yang tabu. Tetapi tetap saja yang harus kita utamakan : AGAMA. Tidak saja ia beragama Islam, tetapi pemahaman dan pengamalannya benar-benar Islami. Saya setuju dengan sebuah artikel yg menyebutkan bahwa kriteria din itu bernilai 1. Yang lainnya 0( nol ). Jadi, kalau kita memilih karena si akhwat cantik, atau si ikhwan kaya, atau si dia keturunan kiyai. Itu semua bernilai 0, kalau din-nya tidak dipenuhi. Kalau din-nya dipenuhi dan sang calon ganteng atau cantik, maka nilainya bisa 10. Ditambah keturunannya baik = 100. Ditambah hartanya melimpah =1000. Idealnya begitu, tetapi tidak ada manusia yang sempurna. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Bagi yang ingin akhwat cantik atau ikhwan ganteng harus siap bila suatu saat sang pasangan menjadi keriput karena tua atau tergores wajahnya, atau mengalami luka bakar, atau resiko2 lainnya yang tidak menyenangkan. Segala sesuatunya sementara. Bagi akhwat yg menginginkan ikhwan yang bergaji tinggi, mapan. Ketahuilah, segala sesuatu bisa terjadi. Setelah menikah, bisa jadi PHK menyerang. Suami yang tidak punya iman dan tidak kreatif bisa panik dan tidak menyelesaikan masalah. Yg jelas harta itu sementara. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Bagi yg menginginkan keturunan baik, itu bagus. Karena kita tidak hanya melibatkan sang calon isteri atau suami dalam mengarungi biduk rumah tangga. Karena orangtua masing2 dan sanak saudara bisa jadi ingin nimbrung. Akan tetapi si calonlah yang nantinya lebih banyak hidup dengan kita dan lagi tidak ada yang sempurna. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Bagi yang memasang kriteria agama/din, itu bagus dan memang seharusnya. Tetapi pada perjalanannya, suami dan isteri sudah sepatutnya saling melindungi, memelihara, dan menjaga agar din-nya tumbuh dengan sempurna sehingga dapat mengantarkan keluarga berkumpul di surga. Memang yang ideal, ketika "bentuk" bertemu dengan "makna", ketika "rupa" bertemu dengan "jiwa". Tetapi itu tidak mudah, walaupun bisa karunia itu diberikan kepada seseorang. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ujian bisa menimpa kapan saja. Termasuk ketika memilih pasangan. Sekali lagi, tidak ada yang sempurna. Kekurangan pasangan kita bisa menjadi ladang 'amal bagi kita. Hidup hanya sekali, jangan salah pilih dan menyesal ! Maka ketika ujian datang, kita sudah siap dengan ilmu yang diperlukan. Agar kita tidak bengong ketika harus mencari "jawaban" atas "soal-soal". Berdoalah untuk saudara-saudara kita agar tepat sasaran dalam membidik. Agar tepat langkah. Dan ketepatan itu identik dengan ketenangan, kata Aa Gym. Jadi bukan ketergesa2an dan kepanikan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Semoga ALLAH selalu membimbing kita untuk membentuk keluarga sakinah dengan bingkai cinta kepada-Nya ( niat lurus ) dan cara yang benar sesuai syariat. Aamiin. Wallaahu a'lam. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30616562-115387515698706890?l=syahroni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syahroni.blogspot.com/feeds/115387515698706890/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30616562&amp;postID=115387515698706890&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/115387515698706890'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/115387515698706890'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syahroni.blogspot.com/2006/07/kriteria-calon-pasangan.html' title='Kriteria Calon Pasangan'/><author><name>syahroni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09874525640202597696</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://i154.photobucket.com/albums/s273/pksejahtera/ngantuknih.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30616562.post-115387472801398285</id><published>2006-07-26T07:11:00.000+07:00</published><updated>2006-08-31T22:05:58.933+07:00</updated><title type='text'>Ta'aruf Apa Pacaran..?</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/5395/3287/1600/perempuanx3.0.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5395/3287/320/perempuanx3.0.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Ta'aruf Apa Pacaran..?&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Satu bumbu kalimat yang sering dilontarkan kepada kita, " &lt;em&gt;Sudah punya pacar belum?" [ lho..?!?!?&lt;/em&gt; ]. Pacaran, merupakan perkara yang udah cukup basi untuk dibahas. Tapi kenapa juga, masih banyak orang yang pacaran. Bahkan kuantitasnya makin lama makin menjadi. Dan lebih miris lagi virus ini menjangkiti mereka yang katanya udah "ngerti" agama. Hayo..?!?!? &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Teringat, sebuah pertanyaan teman ROHIS SMA yang sedang futur waktu itu. lantaran ada ikhwan yang menembaknya, [ &lt;em&gt;wuih ternyata mati beneran&lt;/em&gt; ]. Dia pernah bertanya, " &lt;em&gt;Mang kalo mau menikah tanpa pacaran, mang bisa&lt;/em&gt; ?" Belum sempat saya menjawabnya ia memberondong lagi dengan pertanyaan yang lain " &lt;em&gt;Mang bisa kita menikah dengan orang yang ga jelas kepribadiannya?" " Mang bisa kita langsung enjoy hidup dengan seseoarng yang kita kenal asal usulnya..?" " Mang bisa..."&lt;/em&gt; Belum sempat aku menjawab, dia sudah ngeloyor pergi. Sebuah ekspresi yang sulit sekali aku melupakannya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;[ Duw..] Pacaran, kenapa dilarang?. Sudah ku katakan hal ini sudah basi untuk dibahas. Tapi ingatan itu masih terlalu jelas untuk tidak kutulis menjadi sebuah tulisan. sebuah tulisan yang tidak bermaksud untuk mendoktrin, tidak bermaksud untuk menggurui, bukan maksud hati ingin menyakiti, dan bukan maksud hati pula sok suci. Open ur eyes, open ur mind. Sungguh.. i love u coz Alloh semata, tulisan ini kutulis untukmu. Sungguh, karena aku sangat menyayangimu, kuberanikan lagi menulis ini untukmu. Sungguh, karena aku sangat menghormatimu kubiarkan lentik jari terus menari. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Teringat lagi, sebuah perjalanan makan malam keluarga bersama umi dan abi. Warung sate, langganan kami. Tiba-tiba datang seorang bapak-bapak datang menyapa, memberikan setuas senyum kecil menawannya. kami-pun tersenyum padanya. Ada perasaan laen yang kurasakan, entah apa itu, hawa yang lain. Tiba-tiba pula datang seorang perempuan berjilbab kecil memberikan senyum manisnya untuk kami, kami-pun tersenyum padanya. Sungguh suatu aib jika membuka aib keluarga, tapi insya Aloh ini bukan aib. Seperti layaknya keluarga yang lain, manisnya keindahan keluarga kurang berasa tanpa garam. Begitu juga sebuah miniatur kebahagian keluarga adakalanya juga terkoyak oleh sesuatu apapun itu, namanya juga kehidupan ada suka dan duka saling melengkapi. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ceritanya, sehabis makan malam itu abi dan umi bertengkar. Sebenarnya ga mau nguping, tapi terdengar sendiri pertengkaran itu, hanya karena kedua orang yang kami temui di Warung sate malam tadi. Usut punya usut, ternyata kedua orang itu pada waktu mudanya pernah terlibat asmara dengan umi ataupun abi, katanya seh sempat pacaran. untung saja pertengkaran kecil tadi, cuman sebentar. Kalo lama-lama pasti saya udah nangis. [ hiks hiks ] Dari sini saya berkesimpulan, mau ga mau hubungan 2 insan lain jenis, itu mampu menimbulkan kesan tersendiri. Entah itu nol koma berapa persen pasti ada kesan tersendiri, mungkin juga aku dengan kamu yang membaca tulisan ini pernah juga ada kesan. [ halah.. lha kok PD ]. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;So, boleh jadi kamu yang sekarang yang lagi pacaran, juga akan mempunyai kesan terhadap pacar kamu yang nantinya akan berefek ga baik pada keluarga yang kamu bina kelak. Teringat lagi, akan sebuah cerita seorang temen yang suka ngajak curhat, " &lt;em&gt;Pacarku ga pernah bisa memberikan kebahagian kayak pacarku yang dulu..&lt;/em&gt; " ( sambil terisak-isak ) Saya harus ngomong apa coba, kalo diajak curhatan masalah beginian. Saya bilang nyeplos aja, " &lt;em&gt;Boleh jadi pacarmu berikutnya juga bilang hal yang sama seperti itu "&lt;/em&gt; [ huu.. jahat banget seeh ]. saya juga ga nyadar juga, kata-kata sensitif itu akhirnya keluar juga, pada dasarnya saya benci pacaran, eh malah diajak curhatan beginian so hilang degh kesabarannya. Tapi ternyata ada ibrohnya juga, yups anda benar cewek tadi sekarang ga pacaran lagi [ Alhamdulillah tenan..]. Pacaran akan menimbulkan efek banding membandingkan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Belum lagi kalo pacarannya ngenes, alias menyeramkan!. Dari sisi manapun. wanitanya selalu dirugikan. Yach, kalo cuman pegang-pegangan, kalo lebih dari itu lha sangat repot. Enak aja itu cowok, menikmati keindahanmu, sedang kamu ga diberikan imbalan apa-apa, paling-paling cuman rayuan, traktiran, dan barang pemberian, heran ya.. kok mau maunya keindahan diganti dengan barang yang kenikmatannya hanya beberapa detik saja. So, apa pendapatmu selanjutnya? masih mau pacaran?. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Terus kalo ga pacaran, gimana nikahnya?. Ya ta'ruf dong. Ta'aruf artinya perkenalan. Lalu berapa seseoarang memasuki tahap ta'aruf?. Sebenarnya ga ada dalil yang pas yang menerangkan dengan jelas. Tapi klo bisa ya secepatnya. Nah, yang ingin saya tekankan tuh disininya. Kadang memaknai ta'aruf dengan pacaran Islami. Jujur, saya sendiri sebenarnya paling sebel kalo nama sesuatu ditambah-tambahin dengan embel-embel Islami untuk melegalkan sesuatu yang semestinya tidak legal. salah seorang teman pernah mengeluhkan, lha wong ta'arufnya sudah jalan selama 2 bulan eh kok ga jadi nikah seeh. Ya memang bukan jaminan, ketika ta'aruf langsung jadi nikah. Karena ada faktor x yang mungkin bercokol didalamnya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Trus ada teman lagi yang mengeluh, " &lt;em&gt;ihh ga syar'i banget seeh.. masak si ikhwan datang mulu ke kost.."&lt;/em&gt; yang lain nimpalin " Eh gapapa no, khan mereka sudah ta'ruf 3 bulan lagi mau nikah ..". Hah, jadi seperti ini potret remaja Islam kita. [ Sedih campur sebeel ] Akhi wa ukhty yang namanya ta'aruf itu tuh bukan seperti pacaran Islami. Belum halal untuk dimiliki, walaupun sudah di khitbah. Khitbah ( peminangan ) itu aja sudah yang benar-benar mendekati fase-fase nikah aja masih belum halal untuk diperlakukan sebagai suami/istri. Egh ini malah-malah baru ta'aruf sudah seperti ini. " &lt;em&gt;Ya Muqollib Al qulub tsabiit, qulubananaa fii diniik! " wahai yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati ini selalu dalam agamaMu&lt;/em&gt;. Hati sesuatu yang tidak bisa ditebak, susah dimengerti, dan susah untuk dijaga. Seeiring berlangsungnya fase ta'aruf semoga hatimu selalu terjaga, masih terhijab olehNya, masih terhijab oleh takut akan siksaNya. Huallohu 'alam saya nanti, tapi kalo sudah seperti kasus ini saya sangat benci. [ duw malah curhat..] Saya sempet kaget, ada banyak metode berta'aruf dengan calon pasangan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pernah saya berdiskusi dengan salah seoarng teman salafy [ entah salafy abu nida, atau abu isa, atau anu yahya]. Ta'aruf bisa dilakukan dengan 3 metode &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;1. &lt;em&gt;Melihat muka dan telapak tangan&lt;/em&gt;. Ini hadis yang meriwayatkan ada lh0.. Telapak tangan yang bagus seorang wanita [ ini juga kata hadist neeh ..] yang runcing jarinya, dan di pangkal kuku ada putih-putihnya. Semakin lebar putih-putih kukunya makin bagus, katanya seeh menandakan kesuburan wanita itu. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;2. &lt;em&gt;Melihat seluruh tubuhnya&lt;/em&gt;. Ya bukan calonnya yang melihat, tetapi menyuruh orang untuk melihatnya, apakah sesuai dengan keinginan atau tidak. Kalo tidak ya sudah dibatalkan, kalo sesuai ya lanjut. Tapi ada yang pernah bilang, calonnya juga gpp. [ wah pas waktu diskusi gitu, saya langsung marah-marah..! huu dasar ikhwan..! Fisik banget seeh] &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;3. &lt;em&gt;Memberikan biodata diskripsi diri&lt;/em&gt;. watak dan fisik tanpa foto. Gitu .. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Beda lagi klo teman dari tarbiyah PKS [ &lt;em&gt;hehhe bukan maksud hati menonjolkan golongan-golongan&lt;/em&gt;] hanya biar nampak aja perbedaan metode taarufnya. Setiap kader yang sudah siap nikah diberikan proposal pernikahan, jangan salah proposal nikah ini berbeda formatnya dengan proposal lembaga untuk nyari sponsorship [ hehe ]. setelah proposal nikah tadi diisi, bisa liat form proposal nikah di website ini. Nah proposal berisi biodata diri, foto dan kriteria calon yang diinginkan. Boleh diberikan kepada calonnya langsung [ klo udah punya calon dan calon udah siap nikah juga ] atau diserahkan ke murrobi untuk selanjutnya diproses. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;kalo udah beberapa proses ta'aruf, eh ternyata ga jadi melulu, maka kader tadi akan diikutkan dalam dauroh. namanya Dauroh SAMARA. Ada 3 tahap dauroh SAMARA, dari dauroh SAMARA 1-3.Selang diikutkannnya dauroh, ia akan terlibat proses ta'aruf terus. Ya namanya juga dauroh SAMARA materinya juga mengulas tentang keluarga abis degh. Metode ini juga pas ta'aruf nya ditemani orang lain, biar syetan ga muncul diantara keduanya. So pacaran, metode pra nikah yang kuno dan ga syar'i berdosa lagi. Tapi bagaimana mungkin bisa menjaga hati kalo ta'arufnya aja lama banget. Yach gimn lagi ada alasan ini alasan itu yang ga bis aditolelir, kunci nya cuman satu pren, jaga intensitas ketemu. Ga usah sering telpon-telponan, ga usah sering sms-an, klo tinggal nunggu kenikmatan sebentar lagi, kenapa harus nyuri-nyuri, kenapa ga sabar, sedang rosul saja begitu sabarnya menunggu aisyah sejak dipinang pada usia 9 tahin untuk menjadi istrinya, beliau juga manusia yang punya nafsu juga lho.. . Subhanalloh Rosululloh bisa, kenapa kita enggak. So benar-benar kita baru dalam kondisi istijrot, sedang diberi ujian kenikmatan maka janganlah lalai. Bahkan ada fenomena ngetek duluan, nembak dulu, nikahnya ntar pas abis lulus, duw lamanya, bisa tahan??. Bisa jamin kamu tidak mati dalam kondisi yang hati yang sakit karena ternodai? &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;" Sesungguhnya yang kutakutkan atas umatku adalah fitnah syahwat dan fitnah syubhat..&lt;/em&gt; " Rosululloh aja khawatir ke kita, kenapa tidak boleh aku khawatir terhadapmu. Teringat lagi orang-rang kereen yang kukagumi, 3 hari sebelum hari H walimahan, ia mengumpulkan kami sambil makan bareng dia bilang kalo 3 hari lagi ia akan menikah, kita shock abis, kenapa ia ga cerita-cerita sama sekali ketika ia mengambil keputusan besar itu. Dan darinya kami tidak mendapati zina hati secuilpun, wuih kereen, bukanlah keren karena ia modis abis, bukanlah keren karena beliau cantik abis, tapi kereen yang bisa menjaga izzahnya sampai tak pacaran hingga pernikahan. Dan setelah hari H nya subhanalloh sekali ikhwan suaminya itu perfect banget keikhwanannya, sekufu degh. Sungguh Allah Maha Tahu, siapa yang terbaik untuk hambanya. Dan usut punya usut ikhwan tadi juga ga pernah tuh namanya pacaran, kereen tho. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Semua pasti menginginkan yang masih benar-benar virgin hatinya, belum pernah menduakan-Nya, hingga akupun menginginkan orang yang menjadi pendampingku nanti adalah orang yang menjadikanku cinta pertamanya, belum pernah mencintai orang lain dan berpacaran dengan orang lain.. [ hehe .. just a dream ] &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Boleh jadi apa yang kita inginkan, tidak sama dengan apa yang kita dapatkan, semua Alloh-lah yang mengatur. Sekarang yang jadi kunci utamanya adalah perbaiki diri dulu, insya Alloh orang yang diberikan kepada kita adalah orang yang selalu memperbaiki diri, amien..! " Sesungguhnya wanita yang baik untuk lelaki yang baik " &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;kiriman dari: imel (thanks ya..)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30616562-115387472801398285?l=syahroni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syahroni.blogspot.com/feeds/115387472801398285/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30616562&amp;postID=115387472801398285&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/115387472801398285'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/115387472801398285'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syahroni.blogspot.com/2006/07/taaruf-apa-pacaran.html' title='Ta&apos;aruf Apa Pacaran..?'/><author><name>syahroni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09874525640202597696</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://i154.photobucket.com/albums/s273/pksejahtera/ngantuknih.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30616562.post-115378864401598789</id><published>2006-07-25T07:50:00.000+07:00</published><updated>2006-07-25T07:50:44.330+07:00</updated><title type='text'>Ketika Cinta Berbuah Dilema</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/5395/3287/1600/FL9.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5395/3287/320/FL9.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Ketika Cinta Berbuah Dilema&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Suatu hari Fatimah binti Rasulullah Saw, berkata kepada Sayidina Ali, suaminya. “Wahai kekasihku, sesunguhnya aku pernah menyukai seorang pemuda ketika aku masih gadis dulu.”&lt;br /&gt;“O ya,” tanggap Sayidina Ali dengan wajah sedikit memerah. “Siapakah lelaki terhormat itu, dinda?”“Lelaki itu adalah engkau, sayangku,” jawabnya sambil tersipu, membuat sayidina Ali tersenyum dan semakin mencintai isterinya. Percakapan romantis Siti Fatimah denganSayidina Ali di atas mungkin sudah menjadi hal biasa bagi para suami isteri. Tetapi tidak bagi mereka yang belum menikah. …&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Percakapan-percakapan romantis yang sering ditemukan dalam buku-buku pernikahan itu sungguh sangat imajinatif bagi para lajang yang sudah merindukan pernikahan, sekaligus juga misteri, apakah ia bisa seromantis Siti Fatimah dan Sayidina Ali?Alangkah bahagianya, seorang pemuda yang sejak lama memimpikan obrolan-obrolan romantis akhirnya sampai di terminal harapan, sebuah pernikahan suci. Apa yang selama ini menjadi imajinasinya saat itu akan ia ungkapkan kepada isterinya. “Wahai kekasihku, ada satu kata yang dari dulu terpenjara di hatiku dan ingin sekalikukatakan kepadamu, aku mencintaimu.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, kebahagiaan ini hanya milik mereka yang telah dikaruniai kemampuan untuk mengikat perjanjian yang berat (mitsaqan ghalidha), pernikahan itu. Bagi mereka yang masih harus melajang, semuanya masih hanya mimpi yang terus menggoda. Terkadang, ada pemuda yang tidak kuat melawan godaan imajinasinya. Keinginan untuk mengungkapkan cinta itu tiba-tiba sangat besar sekali. Tetapi kepada siapa perasaan itu harusdiungkapkan ? Sementara isteri belum punya, kekasih pun tidak ada. Karena kata pacaran sudah lama dihapus dalam kamus remajanya. Tapi, dorongan itu begitu besar, begitu dahsyat. Awalnya, kuat. Sampai tibalah sebuah perjumpaan. Sebuah rapat koordinasi di organisasi kemahasiswaan atau dalam tugas kelompok dari sekolah telah mempertemukan dua pesona.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Imajinasi itu kembali menari-nari. “Nampaknya, dibalik jilbabnya yang rapi ia adalahgadis yang kuimpikan selama ini.” “Oh, ketegasannya sesuai dengan penampilannyayang kalem, dia mungkin yang kuharapkan.” Dan cinta itu hadir. Tetapi, sudahkah saatnya cinta itu diucapkan ? Padahal mengikat perjanjian yang berat belumsanggup dilakukan. Lalu apa yang harus dilakukan ketika dorongan untuk mengatakan perasaan semkain besar, teramat besar ? Hingga perjumpaan dengannya jadi begitu mengasyikkan; menerima sms-nya menjadi kebahagiaan; berbincang dengannya menjadi kenikmatan; berpisah dengannya menjadi sebuah keberatan; ketidakhadirannya adalah rasa kehilangan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Indah… Tapi ini adalah musibah! Interaksi muslim dan muslimah yang semakin longgar telah menggiring mereka kepada dua dinding dilema yang semakin menyempit dan begitu menekan. Cinta terlanjur hadir. Meski indah tapi bermasalah. Mau menikah, persiapan belum cukup atau kondisi belum mendukung. Menunggu pernikahan, seminggu saja serasa setahun. Melepaskan dan memutuskan komunikasi, cinta terlanjur bersemi. Menjalani interaksi seperti biasa, semuanya membuat hati semakin merasa bersalah. Apa yang bisa dijadikan solusi? Jawabannya akan sangat panjang lebar jika yang dijadikan landasanadalah realita dan logika.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, marilah kita bicara dengan nurani dan keimanan, agar semua bisa terselesaikan dengan cepat dan tuntas. Tanyakan kepada nurani tentang keimanan yang bersemayam di dalamnya? Masihkah memiliki kekuatan untuk mempertahankan Allah sebagai nomor satu dan satu-satunya? Dengan kekuatan iman, cinta kepada Allah bisa mengeliminir cintakepada seseorang yang telah menjauhkan dari keridhaan-Nya. Cinta macam apa yangmenjauhkan diri dari keridhaan Allah? Untuk apa mempertahankan cinta yang akhirnyamembuahkan benci Dzat yang sangat kita harapkan cinta-Nya ?&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tanyakan pada keimanan dan nurani, siapa yang lebih dicintai, Allah ataukah “dia”?“Qul Aamantu Billahi tsummastaqim!” (al-Hadits)&lt;br /&gt;Wallahu a’lam.&lt;br /&gt;[eramuslim dot com] &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30616562-115378864401598789?l=syahroni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syahroni.blogspot.com/feeds/115378864401598789/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30616562&amp;postID=115378864401598789&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/115378864401598789'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/115378864401598789'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syahroni.blogspot.com/2006/07/ketika-cinta-berbuah-dilema.html' title='Ketika Cinta Berbuah Dilema'/><author><name>syahroni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09874525640202597696</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://i154.photobucket.com/albums/s273/pksejahtera/ngantuknih.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30616562.post-115378750806201124</id><published>2006-07-25T07:06:00.000+07:00</published><updated>2006-07-25T07:31:48.770+07:00</updated><title type='text'>Kita Ibarat Air</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/5395/3287/1600/wf6.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5395/3287/320/wf6.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;color:#cc9933;"&gt;Kita Ibarat Air&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#993300;"&gt;Di kaki Gunung Slamet yang dingin, suatu malam saya berbincang dengan teman-teman sesama pegiat masjid kampus. Biasanya kami lebih suka bicara tentang perkembangan politik terbaru, tapi kali ini temanya agak berbeda. Kami berbicara tentang air, kok air, apa yang menarik darinya…? Mari kita sama-sama menggalinya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color:#993300;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kita ini tak ubahnya ibarat air. Dia mengalir dengan lincahnya. Jangan coba-coba diam karena akan menggenang sehingga bisa memunculkan bau tak sedap dan mengundang berbagai macam penyakit. Begitulah kita, apalagi yang mengaku dirinya sebagai seorang muslim. Kita dituntut untuk senantiasa bergerak. Tentu saja bergerak di sini bukan hanya mengejar obsesi diri sendiri semata.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tapi, memikirkan dan berbuat untuk orang lain itu perlu seperti kata Sayyid Qutb, seorang pemikir muslim dari Mesir, beliau pernah berkata, ”Siapa yang hanya memikirkan dirinya sendiri, dia akan hidup sebagai orang kerdil dan mati sebagai orang kerdil, tapi, siapa yang mau memikirkan orang lain, dia akan hidup sebagai orang besar dan mati sebagai orang besar.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Di sinilah keberadaan kita di dunia ini mempunyai makna. Sungguh malang ketika ada atau tidaknya kita itu tidak mempunyai makna dan pengaruh sama sekali terhadap masyarakat sekitar kita. Atau bahkan, justru keberadaan kita tidak diinginkan orang karena ketika kita hadir justru menjadi biang kerok dan pembuat masalah. Jika kondisi ini menimpa kita, duh, betapa tidak ada harganya kita di mata orang lain.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Untuk itulah, keberadaan kita sesungguhnya di dunia ini adalah sejauh mana kita bisa berbuat bagi orang lain, karena inilah rahasia pribadi unggul manusia bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Pertanyaannya, apakah kita lebih sering memberikan manfaat bagi orang lain, pemberi solusi atas berbagai masalah, atau sebaliknya, tukang pembuat masalah dan pemerkeruh suasana? Ingat bahwa air bisa memberikan kesejukan, tapi juga bisa memunculkan banjir bandang.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, kita juga bisa mengamati bahwa air itu selalu menuju ke tempat tertentu. Kita pun begitu, kehidupan kita harus mempunyai orientasi yang jelas, tujuan hidup yang jelas, tak sekedar mengalir begitu saja. Dalam hal ini, persoalan waktu menjadi penting karena orang besar, waktunya adalah sebuah sejarah tersendiri. Kita semestinya pandai memanfaatkan waktu, bukan agar menjadi orang besar, tapi agar kita bisa banyak berbuat untuk sesama untuk sebuah manfaat. Untuk itulah, kita perlu merenung ulang tentang kebiasaan yang masih kita lakukan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Berapa banyak waktu yang terbuang untuk menonton televisi, jalan-jalan ke mall atau bersenang-senang menikmati massa muda. Sementara, seperti kata Hasan Al-Banna ”Kewajiban kita lebih banyak dari waktu yang tersedia”. Masihkan kita akan bermalas-malasan, sementara kita sering terlalu berbangga diri dengan identitas sebagai seorang muslim padahal jarang berjuang menyeru kebaikan apalagi mencegah kemungkaran. Duh, betapa malunya kita kepada Allah SWT ketika kita mengaku pejuang sejati.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Tak hanya sekedar itu, air ternyata juga mempunyai folosofi yang mendalam. Ketika ditahan atau dihambat dia akan terus mencari jalan lain, jalan keluarnya. Semasa dihambat itu, kekuatan air juga semakin besar. Lihat saja, misalnya ketika air dibendung, setelahnya akan menghasilkan energi yang besar. Inilah rahasia besar air yang kadang tidak kita sadari. Di dalam kehidupan keseharian kita, barangkali banyak persoalan atau bahkan konflik yang kita rasakan. Banyak orang yang memandang remeh cita-cita dan obsesi kita.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Namun, ketika kita berpikir positif atas berbagai onak dan duri yang melanda itu terkadang justru membuat kita semakin dewasa untuk menjalani kehidupan di kemudian hari. Syaratnya, tak usahlah terlalu banyak berkeluh kesah. Yang terpenting adalah tetaplah tegak berdiri, bergerak menyongsong obesesi-obsesi kita, Insyallah ketika kerja keras sudah kita lakukan, Allah pasti akan membalas dengan hasil kebaikan yang memuaskan bagi kita. Masalah hidup akan senantiasa ada, tinggal bagaimana kita mensikapinya. Dengan keluh kesah semata, atau bijaksana menghadapinya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Subhanallah, semoga setelah menuliskan ini saya akan tetap tegar menghadapi variasi seni kehidupan ini. Dan, tentu saja, saya berharap, setelah membaca goresan sederhana ini, Anda juga akan mempunyai semangat hidup yang lebih baik lagi. Salam cinta dan perjuangan…!&lt;br /&gt;......&lt;br /&gt;Teruntuk semua aktivis masjid kampus di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Yon's Revolta&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30616562-115378750806201124?l=syahroni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syahroni.blogspot.com/feeds/115378750806201124/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30616562&amp;postID=115378750806201124&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/115378750806201124'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/115378750806201124'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syahroni.blogspot.com/2006/07/kita-ibarat-air.html' title='Kita Ibarat Air'/><author><name>syahroni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09874525640202597696</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://i154.photobucket.com/albums/s273/pksejahtera/ngantuknih.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30616562.post-115335926512838836</id><published>2006-07-20T08:34:00.000+07:00</published><updated>2006-07-20T08:34:25.486+07:00</updated><title type='text'>Kriteria Pasangan Saya..Hmm..Orangnya Harus...?</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/5395/3287/1600/ngantuk%20nih...0.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5395/3287/320/ngantuk%20nih...0.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Kriteria Pasangan Saya..Hmm..Orangnya Harus...?&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc9933;"&gt;Di suatu rumah&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Percakapan tiga orang akhwat (wanita muslimah)&lt;br /&gt;A : “Ukht, tau ngga? Mbak M ahad ini akan menikah lho dengan Pak ketua kita”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;B : “Masa sih? Subhanallah, beruntung sekali mbak itu ya. Duh, padahal pak ketua kita itu kan tipe ikhwan dan calon suami idaman yang menjadi dambaan setiap akhwat. Hiks, keduluan deh.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;C : “Huss, udah ah, jangan membicarakan orang lain, ntar kita jadi ghibah ukht”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;A : “Astahgfirullah…”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;B : “Afwan ukht, ana khilaf. Hmm, daripada kita ghibah mending kita bicarain soal karakter calon suami aja. Kira-kira kalau anti, tipe calon suami idamannya seperti apa sih?”&lt;a id="more-59"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;A : Hmm…kalau ana sih ngga banyak-banyak amat, yang penting orangnya baik, sholeh, rajin, romantis, wajahnya juga lumayan lah, pintar dan harus mahir bahasa Inggris ama bahasa Arab, ilmu dan wawasannya luas, trus dia juga punya penghasilan yang tetap.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;C : “MasyaAllah, itu bukan sedikit namanya ukht, tapi bejubel wee.”&lt;br /&gt;(Mereka bertiga tertawa) Lalu percakapan terus berlanjut :&lt;br /&gt;A : “Kalau anti emang apa aja kriteria calon suaminya?”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;B : “Kalau ana sih yang penting shalih dan dia sayang dengan kita. Trus ya hampir sama dengan anti, punya penghasilan tetap, soalnya kalau ngga jelas nanti mau dikasih makan apa keluarganya? Udah itu, dia juga harus perhatian, aktivis dakwah gitu deh biar nyambung sama ana, orangnya harus punya ilmu dan wawasan yang luas. Soal wajah, ana sih ngga begitu persoalan, yang penting normal lah.&lt;br /&gt;Lalu A dan B melirik C, tanda bahwa pertanyaan tertuju pada ukhti C :&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;C : “Iya, iya, ana jawab. Kalau ana sih ngga rumit-rumit seperti antuna, cukup shalih dan memiliki orientasi dakwah ilallah.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;A : “Hah?? (mimik terkejut). Hanya itu C? Ah jangan bercanda anti, masa cuma itu?”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;B : “Iya nih, masa gitu doang. Trus kalo dia udah seperti itu, eh ternyata dia ngga punya penghasilan tetap, dia cacat, atau lebih muda atau jauh lebih tua daripada anti, anti mau juga?”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;A : “Iya tuh, gimana coba kalau seandainya dia udah menikah, anti jadi istri kedua, anti mau juga?”&lt;br /&gt;(Gubraks, C terkejut diberondong pertanyaan sebegitu banyaknya) Lalu dengan sederhana ia menjawabnya :&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;C : “Kalau semua orang berfikiran seperti antuna, melihat penghasilan, melihat tampang, melihat fisik, melihat yang lain-lain sebagai hal yang tidak substansial, maka kasihan sekali mereka-mereka yang fisiknya kurang baik, yang cacat, yang wajahnya pas-pasan, atau yang belum berpenghasilan tetap. Bisa-bisa mereka ngga bakal menikah-menikah dong?” (C malah tertawa)&lt;br /&gt;A dan B pun ber oooo ria, mengiyakan, walaupun dalam hati mereka tetap masih sulit menerima hal seperti itu. Tetapi akhirnya mereka hanya tertawa saja karena pembicaraan ini.&lt;br /&gt;Di rumah yang lain&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Percakapan antara tiga orang ikhwan (lelaki muslim)&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;E : “Akhi, antum kenapa belum menikah juga sampai sekarang? Padahal umur udah ok, penghasilan udah lumayan, tampang pun tak ada yang kurang. Kenapa? Gak ada yang mau sama antum apa? Ntar ana carikan, banyak tuh akhwat yang udah menunggu.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;F : “Hehe, antum bisa aja, bukan begitu akh. Ya antum tau sendiri lah, akhwat kan sekarang banyak yang milih-milih juga, mana ada yang mau sama ana. Antum kan tau kaki ana cacat.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;G : “Cacat ngganya antum, ngga ada hubungan dengan pernikahan. Masih banyak kok akhwat yang ngga hanya menilai fisik saja. Kalau ana sih kriteria calon istri idaman ana hmm..orangnya harus cantik, putih, sholehah, trus ya harus bisa jadi istri yang sempurna. Pinter masak, pinter jahit, pinter mijet (emang tukang pijet), pinter ngurus rumah, dll, jangan keluar rumah aja kerjanya, bisa-bisa ana ntar ngga keurus.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Akhi F terbengong&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;F : “Banyak amat kriterianya. Sama aja berarti antum menilai fisik. Emang ada akhwat yang sempurna? Kita aja yang ikhwan ngga ada yang sempurna kan? Kalau mencari calon pendamping itu jangan lihat dari segi yang tidak substansial akh, yang paling penting adalah bagaimana kita menikahi orang yang berpandangan bahwa menikah itu adalah ibadah dan dalam rangka dakwah. Bukankah rasulullah saw bersabda bahwa jika ingin memilih calon pendamping maka lihatlah dari wajah, harta, keluarga, dan jika semua itu tidak ada maka lihatlah keshalihannya. Dan shalih adalah sebaik-baik pertimbangan. Gitu akh, antum belum dapat materi tentang nikah apa? Hehe..”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;G : “Ya kalau begitu keempat-empatnya deh ana mau banget. Udah cantik, kaya, dari keluarga baik-baik, trus sholehah lagi. Wah, kalah deh bidadari, mereka bakal cemburu kalau lihat ana ama istri yang seperti itu.”E : “Antum ada-ada saja G. Ya berdoa sajalah mudah-mudahan kita diberi Allah pilihan yang terbaik. Amin.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;F dan G mengaminkan, lalu mereka bertiga pun tertawa.&lt;br /&gt;Dan suatu hari, A, B, E, dan G di tempat yang berbeda, mereka menerima sepucuk undangan merah jambu, wangi, dan indah. Mereka melihat nama yang tertera di sana adalah nama yang mereka kenal. Mereka bertasbih, nama itu C dan F. Subhanallah. Rahasia Allahlah segala yang ada di langit dan bumi.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Kisah di atas mungkin seringkali kita dapati dalam kehidupan kita sehari-hari. Bagaimana kriteria calon istri maupun calon suami yang ideal. Keinginan-keinginan dan harapan-harapan yang terkadang kurang substansial menjadi bagian dalam kriteria hidup kita. Memiliki wajah yang tampan, ilmu yang luas, punya penghasilan yang lumayan, dan sebagainya menjadi kriteria utama yang ditetapkan untuk menilai seseorang dalam pernikahan. Walaupun mungkin di antaranya itu menunjang kehidupan kita, namun tidak selamanya materi maupun fisik menjadi satu-satunya syarat dalam pernikahan. Keshalihan dan agama adalah hal yang penting. Jika seseorang shalih, maka semua itu akan berada di belakangnya. Bukankah Allah telah menggambarkan di dalam al-quran :&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui” (QS. An-nuur : 32)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Bukankah rizki itu sudah diatur Allah? Banyak kenyataan yang terjadi, bahwa ketika seseorang belum memiliki penghasilan yang mapan, setelah menikah kemudian pintu rizkinya semakin dibukakan Allah. Seperti kisah seorang sahabat yang mengadu kepada Rasulullah saw tentang kemiskinannya. Lalu Rasulullah saw menganjurkannya untuk menikah, hingga ia menikahi istri keempat dan barulah ia kemudian menjadi kaya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tetapi terkait dengan keshalihan, Hasan Al-Banna menjelaskan tentang karakter seorang muslim yang tangguh di antaranya adalah mandiri dalam perekonomian, memiliki wawasan yang luas, teratur dalam urusannya, ibadah yang shahih, akhlakul karimah, akidah yang bersih, jasmani yang kuat, jiwanya yang bersungguh-sungguh, efisien dalam waktu, dan bermanfaat bagi orang lain. Nah, ketika keshalihan sudah menancap kuat, seharusnya memang muwashofat ini menjadi karakter yang mendalam di diri setiap muslim dan muslimah. Sehingga ketika menilai seseorang maka yang langsung diucapkan adalah shalih, karena memang ketika seseorang shalih, maka 10 muwashofat itu telah ada dalam dirinya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya sekarang adalah apakah muwashofat itu sudah tertanam di dalam diri kita? Maka tak heran ketika kita ingin memilih seorang calon pendamping, maka hal-hal seperti di dalam cerita di atas itulah yang terbersit. Namun saya yakin, dan sangat yakin sekali, bahwa masih jauh lebih banyak mereka-mereka yang tidak memandang seseorang karena fisik atau materinya saja. Saya pun yakin, bahwa dalam hidup memang dibutuhkan suatu masa ketika fisik dan materi menjadi salah satu pendukung dalam sebuah pernikahan. Namun hal itu bukanlah sesuatu yang mutlak, sehingga kita menjadi orang-orang yang mendewakan fisik dan materi saja. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kalau kata Aa Gym dalam rumus 3 M nya, Mulai dari diri sendiri, mulai dari yang kecil dan mulai dari saat ini, maka kita sebagai muslim dan muslimah sebaiknya memang memulai dari sekarang untuk senantiasa memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas diri, agar kelak kita menjadi pribadi-pribadi muslim yang tangguh. Sehingga tidak berfikir panjang lagi tentang suatu pernikahan, ketika yang ada hanyalah keshalihan, dan tidak perlu lagi mengucapkan “Hmm…orangnya harus..bla bla bla….”&lt;br /&gt;Namun satu hal lagi yang harus diingat, bahwa ketika kita meningkatkan kualitas diri, tentunya kita meniatkannya karena Allah semata, bukan karena laki-laki atau wanita yang ingin kita nikahi. Dalam hadist arba’in yang pertama dikatakan&lt;br /&gt;“Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya bagi setiap orang apa yang ia niatkan. Barangsiapa hijrahnya menuju Allah dan RasulNya, ia akan sampai kepada Allah dan RasulNya. Barangsiapa hijrahnya menuju dunia yang akan diperolehnya, atau menuju wanita yang akan dinikahinya, ia akan mendapatkan apa yang dituju” (Bukhari dan Muslim)&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Jadi, ketika kita memperbaiki diri karena laki-laki atau wanita yang ingin kita nikahi maka kita hanya akan mendapatkan itu, sementara Allah tidak kita dapatkan. Namun ketika kita meniatkan semuanya karena Allah, maka bumi dan seluruh isinya akan mengikuti kita, dan Allah akan memberikan yang terbaik kepada hamba-hambaNya yang bertaqwa. Amin.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;NB : &lt;em&gt;Tiba-tiba saja muncul ide di kepala untuk menulis tentang topik ini, walaupun sebenarnya saya belum siap untuk membahas soal ini. Karena saya tahu, kita semua mungkin butuh banyak belajar dan menyadari kesalahan diri kita. Mungkin di dalam diri saya, anda, atau siapapun masih terbersit hal-hal yang seharusnya sesuai dengan yang kita harapkan. Namun suatu harapan atau keinginan yang terlalu berlebihan tidak boleh menjadi dominasi dalam hati kita sehingga suatu saat kelak akan menjadi sebuah tuntutan yang harus dipenuhi. Ketika kita terlalu banyak menuntut, maka hanya ada kekecewaan yang timbul dan akan mempengaruhi keimanan kita. So, the first thing is al-iman.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;Created by : hanan2jahid. 120506.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30616562-115335926512838836?l=syahroni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syahroni.blogspot.com/feeds/115335926512838836/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30616562&amp;postID=115335926512838836&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/115335926512838836'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/115335926512838836'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syahroni.blogspot.com/2006/07/kriteria-pasangan-sayahmmorangnya.html' title='Kriteria Pasangan Saya..Hmm..Orangnya Harus...?'/><author><name>syahroni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09874525640202597696</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://i154.photobucket.com/albums/s273/pksejahtera/ngantuknih.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30616562.post-115322917565223979</id><published>2006-07-18T20:24:00.000+07:00</published><updated>2006-07-19T13:56:30.503+07:00</updated><title type='text'>Menikah Bukan Dengan Angan-angan</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/5395/3287/1600/perempuanx3.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5395/3287/320/perempuanx3.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;color:#cc33cc;"&gt;Menikah Bukan Dengan Angan-angan &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;eramuslim&lt;/span&gt; - Siang itu Nadia minta waktu untuk konsultasi kepada guru ngajinya. Kepada Mbak Fida, begitu ia biasa memanggil guru ngajinya itu Nadia mulai mengadukan permasalahannya, bahwa sampai saat ini ia belum bisa sepenuhnya 'cinta' kepada Ahmad, suami yang baru menikahinya dua bulan lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Memangnya ada apa dengan Ahmad, Nad?", hati-hati Mbak Fida bertanya. Maka meluncurlah dari mulut Nadia, "Ya sebenarnya Mas Ahmad itu baik, tapi ada sesuatu yang bagi saya kurang, mbak. Mestinya seorang aktifis pengajian itu hidupnya teratur, tertib, nggak pernah ketinggalan sholat jama'ah di masjid, nggak absen sholat lail, tilawahnya 1 juz setiap hari, selalu bersikap lembut kepada istri, sabar, rapi, bisa jadi teman diskusi dan curhat istri, sempat ngajarin istri, nggak suka nonton tivi, bisa ngambil hati mertua, begitu kan mbak?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil membenahi buku-bukunya yang berantakan (istrinya sedang keluar rumah dan sepulangnya dari kantor Farhan mendapati rumahnya dalam keadaan 'porak poranda'), Farhan berkata pada dirinya sendiri, "aku pikir menikahi seorang perempuan berjilbab berarti urusan rumah tangga jadi beres. Mestinya istri itu bisa masak, terampil ngurus rumah, ibadahnya oke, pinter melayani suami, sabar, rajin, lembut, nyambung diajak diskusi, jago ngambil hati mertua ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nadia dan Farhan boleh jadi mewakili sosok sebagian kita yang memasuki gerbang pernikahan dengan segunung angan-angan tentang sosok pasangan ideal. Tipikal seperti ini biasanya telah memiliki idealisme sendiri tentang pasangan, jauh sebelum hari pernikahan tiba. Idealisme itu begitu menguasai pikiran dan jiwa hingga terus terbawa sampai mereka menikah, dan ketika setelah menikah ternyata pasangannya tidak sebagaimana idealismenya, mereka kecewa dan kemudian cenderung menyalahkan keadaan atau pihak lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang sah-sah saja kita memiliki idealisme, termasuk idealisme tentang kriteria pasangan. Sayangnya, kebanyakan kita menyangka bahwa sebuah idealisme dapat turun begitu saja dari langit dan menjelma di hadapan kita. Padahal dengan demikian idealisme kita itu akhirnya malah menjadi angan-angan belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idealisme tentang apapun tidak akan terwujud menjadi kenyataan jika tidak diperjuangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikanlah firman Allah SWT dalam Surat An-Nisaa' ayat 123:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pahala dari Allah itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak pula menurut angan-angan ahli kitab. Barang siapa yang mengerjakan kejahatan niscaya akan diberi balasan dengan kejahatan itu dan dia tidak mendapat pelindung dan tidak pula penolong baginya selain Allah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali kepada Nadia dan Farhan, idealisme mereka tentang kriteria pasangan telah menjadi angan-angan. Mereka mengira dengan menikahi seorang aktifis pengajian atau seorang perempuan berjilbab semua urusan menjadi beres, kehidupan rumah tangga menjadi penuh bunga harum semerbak mewangi, tidak ada kerikil apalagi ombak, pokoknya indah seperti yang dilukiskan dalam buku-buku. Angan-angan itu akan membuat mereka kecewa. Ya, sebabnya adalah seperti kata pepatah, 'tak ada gading yang tak retak' atau 'nobody's perfect' (tak ada orang yang sempurna). Tidak ada manusia yang ma'shum (terjaga dari salah dan dosa) kecuali Rasulullah SAW. Semua manusia pasti memiliki kelebihan dan kekurangan, tidak ada manusia yang pada dirinya hanya terdapat kelebihan saja, sebagaimana juga tidak ada manusia yang di dalam dirinya hanya ada kekurangan. Karena itu membayangkan pasangan kita adalah sesosok manusia tanpa cela hanya karena ia ikhwan atau berjilbab, menurut saya adalah pandangan kurang bijak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang ikhwan atau perempuan berjilbab adalah manusia biasa. Komitmen dan ketaatan mereka dalam beragama adalah suatu bentuk kesungguhan mereka dalam memproses diri menjadi Hamba Allah yang bertaqwa. Dan merupakan hal yang sangat manusiawi jika dalam menjalani proses tersebut terdapat kekurangan-kekurangan. Karenanya menjadi aktifis pengajian atau perempuan berjilba itu bukanlah berarti mereka berubah menjadi malaikat yang tidak pernah melakukan kesalahan dan tidak pula berarti mereka menjelma menjadi manusia tanpa cela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah tangga bahagia yang menjadi syurga bagi penghuninya adalah idaman setiap orang. Tetapi ia akan sekadar menjadi angan-angan bila tidak ada upaya dan perjuangan dari kedua belah pihak -suami-istri- untuk mewujudkannya. Begitu pula halnya dengan keinginan memiliki dan menjadi pasangan ideal yang diidamkan. Ia pun hanya menjadi angan-angan selama kita tidak berusaha memprosesnya menjadi kenyataan. Oleh sebab itulah pernikahan sebenarnya merupakan ladang amal dan jihad bagi orang-orang yang menjalaninya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, dari uraian diatas kita dapat menyimpulkan beberapa hal:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Harus disadari bahwa yang bernama idealisme itu tidak begitu saja turun dari langit, tetapi harus diperjuangkan. Dengan begitu ketika kita memiliki idealisme tentang pernikahan dan pasangan ideal misalnya, kita sadar bahwa untuk mewujudkannya menjadi kenyataan adalah dengan memperjuangkannya atau dengan kata lain kita siap menjadikan pernikahan kita nantinya sebagai ladang amal dan jihad kita dalam memproses diri menjadi lebih berkualitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Menyadari bahwa idealisme yang menguasai pikiran dan jiwa dapat berkembang menjadi angan-angan belaka. Menikah dengan membawanya serta hanya akan membuat kita menjadi pelamun, mudah kecewa, cenderung tidak bersyukur terhadap apa yang ada, bahkan menjadi orang yang suka menyalahkan keadaan atau pihak lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Ingatlah selalu bahwa kita menikahi pasangan kita dengan segala apa yang ada pada dirinya berupa kelebihan dan kekurangannya. Kelebihannya untuk disyukuri, kekurangannya menjadi ladang jihad kita untuk memperbaikinya karena Allah. Dengan begitu kita tidak akan mudah kecewa terhadap segala kekurangan yang terdapat pada pasangan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Terakhir, camkan kata-kata ini ... "Jangan menikah dengan angan-angan"&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30616562-115322917565223979?l=syahroni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syahroni.blogspot.com/feeds/115322917565223979/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30616562&amp;postID=115322917565223979&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/115322917565223979'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30616562/posts/default/115322917565223979'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syahroni.blogspot.com/2006/07/menikah-bukan-dengan-angan-angan.html' title='Menikah Bukan Dengan Angan-angan'/><author><name>syahroni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09874525640202597696</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://i154.photobucket.com/albums/s273/pksejahtera/ngantuknih.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30616562.post-115322856588187964</id><published>2006-07-18T20:14:00.000+07:00</published><updated>2006-07-19T14:39:17.086+07:00</updated><title type='text'>Kau Yang Ter..mmuah di Hati</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;color:#00cccc;"&gt;Kau Yang Ter..mmuah 
